Ini Temuan Ombudsman Soal Sumber Lambatnya Layanan Visa di Bandara
Andi Saputra - detikNews
Jumat, 23 Sep 2022 08:54 WIB
Kantor Ombudsman Republik Indonesia (Foto: Ari Saputra)

Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Imigrasi mempercepat layanan 
visa, baik visa wisata atau visa kerja. Salah satunya adalah untuk mendorong 
investasi sehingga meningkatkan perekonomian.
Usai arahan itu, Ombudsman Republik Indonesia (ORI) lalu melakukan sejumlah 
penelusuran. Anggota ORI Jemsly Hutabarat melakukan sidak di Bandara I Gusti 
Ngurah Rai, Bali, pada 20 September 2022.

"Saat itu dalam waktu hampir bersamaan ada 6 penerbangan dengan total penumpang 
sekitar 2 ribu orang. Pihak Imigrasi sudah siap saat itu," kata Jemsly 
Hutabarat saat berbincang dengan detikcom, Jumat (23/9/2022).


Baca juga:
Imigrasi Upayakan agar Bayar VoA Bisa Gesek Semua Jenis Kartu

Jemsly kemudian mencatat hal pertama yang dilakukan wisatawan asing itu mencari 
Rupiah di money changer untuk pembayaran Visa on Arrival. Belum lagi ada 
masalah bila si turis tidak membawa uang pas.

"Ini harusnya disosialisasikan oleh pihak maskapai atau agen turis agar 
wisatawan membawa uang pas buat pembayaran agar tidak ada penumpukan. Ini bukan 
tugas Imigrasi," ucap Jemsly.


Kalau pun ada yang membayar pakai kartu, terjadi penumpukan di pembayaran. 
Sebab harus memasukkan PIN untuk menggesek.

"Kenapa sih nggak sekalian pembayaran online? Jadi sebelum datang, mereka sudah 
membayar dari negara masing-masing. Katanya ada masalah soal aturan pembayaran 
ini. Kenapa sih kita membuat rumit kayak gini?" ujarnya.

Soal metode pembayaran itu juga bukan kewenangan Imigrasi tapi diatur oleh 
Kementerian Keuangan. Setelah masuk meja cap paspor, Imigrasi sudah membuka 16 
jalur. Tiap jalur ada 4 meja, tapi hanya 2 meja yang ada komputernya.

"Saya tanya kepada Kantor Imigrasi, kenapa 2 meja dibiarkan kosong? Kepala 
Kantor Imigrasi menerangkan bila Imigrasi sudah menyiapkan sistem software. 
Tapi untuk pengadaan komputernya bukan kewenangan Imigrasi, itu di kewenangan 
Angkasa Pura," kata Jemsly.

Baca juga:
WNA Sambut Baik Imigrasi Pangkas Layanan Kitas 2 Hari Langsung Jadi

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya:

Padahal, kata Jemsly, bila 16 jalur dijadikan 4 komputer, maka tentu lebih 
cepat pelayanan visa wisatawan asing. Bila Imigrasi inisiatif membeli 
komputernya, maka dikhawatirkan Imigrasi melakukan maladmnistrasi.

"Ini bukan saya membela Imigrasi, tapi memang seperti itu adanya. Imigrasi kan 
adanya di ujung," ucapnya.

Setelah selesai semua, wisatawan asing lalu menuju pengambilan bagasi. Saat 
ini, kata Jemsly, Bea Cukai modern dalam pencegahan dan penangkalan 
barang-barang terlarang.

"Dulu kan ditandai koper yang dicurigai dengan memberi mencoret menggunakan 
kapur. Kini sudah modern, bisa terlacak dengan alat," tutur Jemsly.

Dari temuan itu, maka Jemsly menilai permasalahan pelayanan di bandara bukan 
permasalahan Imigrasi semata. Tetapi kerja bersama dari berbagai instansi.

"Kalau di luar negeri, ada satu otoritas yang mengelola sehingga tidak tumpang 
tindih. Kalau di Indonesia kan ya tahu sendiri. Harusnya di bawah satu 
pengelolaan," ujar Jemsly.

Baca juga:
Bukan Cuma di Imigrasi, UU Ini Juga Sumber Lamanya Izin Tinggal Terbit

Temuan Ombudsman senada dengan pernyataan Sekjen Association of the Indonesian 
Tours and Travel Agencies (ASITA), M Rachmad. Saat ini, Imigrasi sudah 
menerbitkan layanan visa online/e-Visa. Namun setelah calon wisatawan apply 
dokumen, ada tahapan lain yaitu soal pembayaran visa. Masalahnya, pembayaran 
ini harus menggunakan Rupiah sebab sistem e-Visa belum menerima mata uang asing 
sehingga terjadi kendala di bandara kedatangan.

"Calon wisatawan atau agen harus mencari Rupiah dulu. Kalau visa on arrival, 
harus antri di money changer di bandara sehingga menjadi antre," kata M Rachmad.

Rachmad membandingkan dengan di Turki. Di negara itu, visa dilakukan dengan 
menggunakan seluruh mata uang dari seluruh negara di dunia. Sehingga wisatawan 
datang berbondong-bondong ke Turki dan meraup pendapatan dari bisnis wisata 
dari pengurusan visa berkali-kali lipat dari Indonesia.

"Jadi calon wisatawan sambil ngopi di kafe atau tiduran bisa mengajukan visa ke 
Turki memakai kartu kredit atau pembayaran digital lain," ucapnya.

Sebagaimana diketahui, masalah pelayanan visa disentil oleh Presiden Jokowi.

"Ini yang begini-begini ini bermanfaat sekali bagi rakyat kita. Kita harus 
mulai betul-betul, Pak Menteri, mengubah ini, Pak. Ganti itu kalau kira-kira 
memang tidak punya kemampuan untuk reform seperti itu, ganti semuanya dari 
dirjen sampai bawahnya, ganti, akan berubah. Kalau tidak, tidak akan berubah," 
tutur Jokowi.

(asp/fas)

Baca artikel detiknews, "Ini Temuan Ombudsman Soal Sumber Lambatnya Layanan 
Visa di Bandara" selengkapnya 
https://news.detik.com/berita/d-6307416/ini-temuan-ombudsman-soal-sumber-lambatnya-layanan-visa-di-bandara.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5148EB24EAB4455689A4FEB1A66E6A97%40A10Live.

Reply via email to