Written byJ61Thursday, September 22, 2022 18:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/lawan-prabowo-anies-ahy-hanya-boneka/
Lawan Prabowo, Anies-AHY Hanya “Boneka”?
Wacana duet Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Pilpres 2024 
semakin menguat. Namun, pasangan kandidat tersebut tampaknya memiliki celah 
politik besar untuk dieksploitasi, termasuk dinilai masih belum pantas jika 
melawan Prabowo Subianto. Benarkah demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Mendekati Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, sebuah foto bersama di antara 
politisi dianggap memiliki makna tertentu belakangan ini. Satu di antaranya 
ialah yang bermuara pada wacana duet capres-cawapres Anies Baswedan dan Ketua 
Umum (Ketum) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Ya, foto di sebuah acara resepsi pernikahan anak dari Ketua Komisi VII DPR RI 
Sugeng Suparwoto memperlihatkan Anies-AHY diapit oleh Ketum Partai NasDem Surya 
Paloh, Presiden PKS Ahmad Syaikhu, serta Jusuf Kalla (JK).

Tangkapan gambar itu kemudian secara otomatis masuk ke meja analisis politik 
yang cukup menarik. Pasalnya, Partai NasDem, Partai Demokrat, dan PKS telah 
saling melakukan pertemuan dan santer dikabarkan akan berkoalisi di 2024.

Selain dikarenakan elektabilitasnya, Anies menjadi nama capres teratas 
berdasarkan pemungutan suara di Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai NasDem 
pada Juni lalu.

Bak memastikan keselarasan maksud dan tujuan, Anies sendiri telah menyatakan 
siap maju sebagai calon presiden dalam Pemilu 2024. Dia mengatakan ketiadaan 
kendaraan politik membuatnya memiliki ruang lebih besar untuk berkomunikasi 
dengan semua partai politik (parpol).

“Saya siap maju sebagai presiden jika ada partai yang menominasikan saya,” 
begitu kata Anies seperti dikutip dari Reuters dalam sebuah wawancara di 
Singapura, 15 September 2022.

  
Analisis politik kemudian bertebaran yang mana kebanyakan menyambut baik wacana 
duet Anies-AHY.

Salah satunya dikemukakan oleh Direktur Eksekutif Institute for Democracy and 
Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam.

Umam smencoba menelaah orang-orang kuat yang akan menyokong duet Anies-AHY. 
Apabila benar-benar terwujud, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), JK, dan Surya 
Paloh dinilai akan menjadi backing politik mumpuni bagi pasangan tersebut.

Menurut Umam, SBY memiliki peran sebagai ayah biologis dan ideologis AHY, Jusuf 
Kalla sebagai mentor politik Anies, sementara Surya Paloh disebutnya sebagai 
king maker.

Gabungan Partai NasDem, Partai Demokrat, dan PKS sendiri juga memenuhi syarat 
dan cukup kuat untuk bertarung di 2024. Total 28,50 persen suara dan 163 kursi 
parlemen menjadi bukti sahih kekuatan koalisi di atas kertas.

Akan tetapi, jika telaah kritis dilakukan, duet Anies-AHY kiranya cenderung 
dilebih-lebihkan atau overrated.

Terlebih, di kubu seberang, Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang telah 
memastikan keikutsertaan di pertarungan tampak masih bukan lawan sepadan bagi 
keduanya. Benarkah begitu?

SBY-JK-Paloh Tak Solid?
Merespons wacana duet Anies-AHY, Direktur Eksekutif Parameter Indonesia 
Politik, Adi Prayitno menilai keduanya mewakili wajah oposisi dari partai 
politik non-pemerintahan.

Dia menambahkan, saat berbicara nama di luar kekuasaan Presiden Joko Widodo 
(Jokowi) memang hanya dua figur itu yang paling mungkin dipasangkan.

Cukup banyak analis politik tanah air yang memiliki respons serupa dengan 
Prayitno, padahal keabsahan realita sesungguhnya mungkin saja tidak demikian. 
Mengapa?

 
Beberapa gelombang respons positif terhadap wacana duet Anies-AHY agaknya 
terbelenggu dalam sebuah bias konfirmasi.

Konsep confirmation bias atau bias konfirmasi dijelaskan oleh Raymond S. 
Nickerson dalam Confirmation Bias: A Ubiquitous Phenomenon in Many Guises 
sebagai kecenderungan untuk menafsirkan informasi yang hanya mendukung 
keyakinan pribadi yang ia anggap paling benar, bahkan meskipun faktanya kerap 
berkebalikan.

Dalam konteks ekspektasi terhadap Anies-AHY sebagai antitesis pemerintahan saat 
ini, nyatanya eksistensi oposisi cenderung begitu lemah dan abu-abu. Ini 
kemudian meninggalkan dua pertanyaan, yakni apakah Anies-AHY benar-benar 
representasi oposisi saat ini? Serta apakah keduanya mampu mendobrak dominasi 
politik kekuasaan yang tengah di atas angin?

Dan Slater dalam Party Cartelization, Indonesian-Style: Presidential 
Power-Sharing and The Contingency of Democratic Opposition menilai kekuatan 
oposisi dalam demokrasi Indonesia dihalangi oleh pembagian kekuasaan dengan 
praktik pembentukan koalisi yang sangat fleksibel, di mana partai-partai 
mengungkapkan kesediaan untuk berbagi kekuasaan eksekutif dengan siapapun.

Secara sederhana, Slater menyebut praktik ini dengan istilah kartelisasi 
politik ala Indonesia.

Slater menambahkan kata ‘ala Indonesia’ dikarenakan menurutnya, praktik 
kartelisasi politik tersebut berbeda dengan teori kartelisasi politik yang 
pernah diungkapkan oleh Richard S Katz dan Peter Mair yang merujuk pada 
fenomena kartelisasi parpol di Eropa.

Perbedaan tersebut menurut Slater, terjadi lantaran parpol-parpol di Indonesia 
secara internal tidak disiplin, tidak kooperatif, dan cenderung hanya mengejar 
patronase.

Namun, terlepas dari perbedaan-perbedaan tersebut, pada intinya, kartelisasi 
politik merupakan pembentukan koalisi besar demi menghalangi kompetisi atau 
lahirnya kompetitor.

Tendensi itu kiranya makin kentara terlihat sejak Prabowo Subianto dirangkul 
Jokowi ke kekuasaan. Tidak melulu suaranya redup di tengah kekuatan politik 
kekuasaan yang begitu kuat, Partai Demokrat dan PKS agaknya tidak jarang turut 
larut dalam irama politik kubu rival sebagai bentuk hakikat dari oportunisme 
politik.

Bahkan, salah satu penyokong potensial wacana duet Anies-AHY, yakni Partai 
NasDem, masih menopang politik kekuasaan saat ini. Terlepas dari intrik dengan 
PDIP yang bisa saja bagian dari dramaturgi daya tawar politik.

Selain itu, tidak ada jaminan pula bahwa mentor kuat di balik Anies-AHY (SBY, 
JK, dan Paloh) punya soliditas yang benar-benar seirama. Adagium “tidak ada 
kawan maupun lawan abadi” kiranya dapat menjadi refleksi.

Apalagi jika konsesi kekuasaan harus dibagi secara tepat jika berhasil menang 
di akhir laga, yang mana dalam politik hal itu kerap kali tidak berjalan mulus.

Dalam skenario Anies-AHY, Partai NasDem sebagai parpol pemegang persentase 
terbesar namun tak memiliki kader dalam usungan duet capres-cawapres, bisa saja 
menimbulkan gejolak pembagian konsesi. Terutama saat kubu SBY dan JK punya 
klaim lebih dalam peran sebagai mentor politik langsung Anies dan AHY.

Variabel lain terkait potensi masuknya PKS dalam koalisi penyokong Anies-AHY 
juga bisa saja menjadi bumerang. Itu dikarenakan, karakteristik konservatif PKS 
boleh jadi akan memantik antipati pemilih akibat dampak minor polarisasi di 
Pilpres 2019.

Selain itu, Anies-AHY kemungkinan masih belum cukup kuat untuk melawan Prabowo 
di Pilpres 2024 karena memiliki celah inheren. Apakah itu?
 
Prabowo vs SBY-JK?
Ya, kalkulasi komprehensif mengenai calon lawan Anies-AHY di Pilpres 2024 
menjadi satu hal yang wajib dilakukan. Satu yang telah memastikan diri adalah 
Prabowo Subianto yang sejauh ini kuat dugaan akan diusung koalisi Partai 
Gerindra dan PKB, belum termasuk parpol lain.

Jefferson Ng dalam How Indonesia’s Defense Ministry Has Changed Under Prabowo 
Subianto menyiratkan bagaimana kuatnya posisi politik Prabowo saat ini. Setelah 
diajak masuk kabinet dan menempati posisi strategis di bidang pertahanan, Ng 
menilai kapabilitas politik dan pemerintahan Prabowo semakin sempurna.

Tiga variabel kunci, yakni sumber daya pribadi, jaringan internal-eksternal, 
dan koneksi eksekutif telah diakuisisi oleh mantan Panglima Kostrad itu.

Dan, memang, tidak berlebihan kiranya jika mengatakan Prabowo sebagai legenda 
hidup militer paling dihormati dan politisi paling berpengaruh saat ini di 
Indonesia.

Kekuatan Prabowo jamak dinilai hampir mustahil untuk dikalahkan jika mendapat 
sokongan politik PDIP di Pilpres 2024 mendatang.

Sebagai lawan yang sangat tangguh, Prabowo juga merupakan aktor politik yang 
tak membutuhkan mentor seperti SBY, JK, dan Paloh. Dengan kata lain, Prabowo 
tampak bukanlah boneka politik.

Hal itu juga yang membuat Anies-AHY memiliki celah.

Ya, preseden minor Presiden Jokowi yang hanya dianggap “boneka politik” PDIP 
dan Megawati Soekarnoputri kiranya bisa saja menimpa duet Anies-AHY.

Dennis R. Young dalam tulisannya Puppet Leadership: An Essay in honor of Gabor 
Hegyesi, menjelaskan konsep puppet leader atau pemimpin boneka memiliki dua 
elemen fundamental.

Pertama, terdapat penarik tali (string-pullers), yakni kelompok atau individu 
kuat yang mengontrol tindakan dan keputusan pemimpin tanpa dianggap 
melakukannya. Selama ini string-pullers kerap disebut sebagai oligarki.

SBY-JK, plus Paloh, bisa saja menjadi penarik tali semacam ini di balik duet 
Anies-AHY.

Kedua, kandidat puppet leader bersedia untuk berkompromi di bawah kondisi 
tersebut jika nantinya terpilih.

Kecenderungan itu kiranya dapat diamati dari bagaimana tindak-tanduk kompromi 
politik Presiden Jokowi untuk menjaga stabilitas kekuasaannya.

Di titik ini, persoalan ke depan kiranya bukan lagi soal Anies-AHY, tetapi 
lebih seperti kilas balik di tahun 2004 saat SBY-JK berduet.

Namun, impresi negatif puppet leader kiranya justru mungkin saja berbalik dan 
akan menyulitkan Prabowo.

Prabowo yang seolah akan berhadapan dengan “reinkarnasi” SBY-JK, plus Paloh, 
boleh jadi akan kerepotan jika kubu Anies-AHY benar-benar memiliki strategi 
jitu membendung segala kesaktian sang legenda Kopassus itu.

Oleh karena itu, akan sangat menarik kiranya untuk menantikan Pilpres 2024 jika 
Prabowo nantinya akan benar-benar berhadapan dengan duet Anies-AHY. (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/512CC2A4EF354395A090019FAE1BAD2D%40A10Live.

Reply via email to