KEMBALIKAN UUD’45 ASLI PUNG…! 
Luhut Panjaitan: Pemilu Langsung Perlu Di Evaluasi 
ByTim 
Redaksi0https://bergelora.com/kembalikan-uud45-asli-pung-luhut-panjaitan-pemilu-langsung-perlu-di-evaluasi/

Luhut Panjaitan. (Ist)
JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar 
Pandjaitan menyarankan agar sistem penyelenggaraan pemilihan umum (Pemilu) 
langsung dievaluasi.

Menurut Luhut, perlu ada pembicaraan mengenai apakah perlu mengembalikan sistem 
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai lembaga tertinggi negara.

Seperti diketahui, sebelum Reformasi, MPR berhak memilih presiden dan wakil 
presiden dengan suara terbanyak.

“Ya saya kira itu [mengembalikan sistem MPR] bisa dibicarakan, bisa diomongin. 
Biarlah rakyat itu, atau politisi kita dengan jernih melihat mana sih yang 
terbaik dengan kondisi sekarang ini,” ujar Luhut saat berbincang dengan Rocky 
Gerung dalam kanal YouTube RGTV channel ID, Rabu (21/9/2022).

Luhut mencontohkan Amerika Serikat (AS), yang menggunakan sistem pemilu 
electoral college. Menurutnya, AS, yang tingkat pendidikan masyarakatnya lebih 
baik daripada Indonesia, tak menggunakan sistem pemilihan secara langsung.

Oleh sebab itu, jelasnya, tak ada salahnya memikirkan ulang sistem pemilu di 
Indonesia.

“Amerika aja kan tidak ada, rekrut. Kita super maju. Dengan tingkat pendidikan 
kita yang menurut saya masih kalah dari mereka [AS] ya. Saya kira perlu 
dievaluasi, karena apa? Tanpa kita sadari, kita juga mendidik rakyat kita untuk 
juga menerima barang itu [pemilu langsung]. Itu kan sebenarnya kita enggak 
sadari,” ucap lulusan George Washington University tersebut.

Luhut mengatakan, para pendiri bangsa atau the founding fathers saja sempat 
mengubah sistem pemerintahan dengan mengangkat Soekarno menjadi presiden seumur 
hidup.

Dia juga mencontohkan Jerman, yang mana tidak ada pembatasan masa jabatan 
kanselir, jika memang selama empat tahun sekali terus terpilih.

Meski begitu, dia mengingatkan, ide tersebut perlu disesuaikan dengan situasi 
Indonesia sekarang.

“Saya hanya terus berpikir, the founding fathers kita dulu kok bilang tanpa 
batas. Tapi itu apakah cocok? Ya mungkin perlu kita adakan penyesuaian di 
sana-sini. Kita liat di tempat lain di mana, seperti di Jerman,” jelasnya

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Luhut juga berharap agar publik tak 
langsung menolak ide tersebut, apalagi langsung marah. Sebagai masyarakat 
intelektual, lanjutnya, perbedaan ide ataupun gagasan harus dihargai. (Web 
Warouw)

YANG PENTING JOKOWI AJA PUNG…!.
Luhut Ungkap Alasan Kenapa Orang Luar Jawa Susah Jadi Presiden 
ByTim 
Redaksi0https://bergelora.com/yang-penting-jokowi-aja-pung-luhut-ungkap-alasan-kenapa-orang-luar-jawa-susah-jadi-presiden/

Menko Marves, Luhut Panjaitan. (Ist)
JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar 
Panjaitan menyarankan bagi tokoh yang ingin jadi presiden namun bukan bersuku 
Jawa, sebaik melupakan impiannya.

Menurutnya, saat ini tak mungkin tokoh non-Jawa terpilih jadi presiden, meski 
dia tak menampik beberapa puluh tahun mendatang keadaan bisa berubah.

“Kalau Anda bukan orang Jawa, pemilihan langsung hari ini, saya enggak tahu 25 
tahun lagi, sudah lupain deh. Enggak usah kita memaksakan diri kita. Sakit 
hati, yang bikin sakit hati ya kita sendiri,” ujar Luhut saat berbincang dengan 
Rocky Gerung dalam kanal YouTube RGTV channel ID, Rabu (21/9/2022).

Dia mengatakan, fakta antropologi masyarakat Indonesia saat ini masih sangat 
berorientasi kesukuan. Sebagai informasi, berdasarkan sensus penduduk pada 2010 
lalu, mayoritas atau sekitar 40,22 persen masyarakat Indonesia bersuku Jawa.

Oleh sebab itu, Luhut menyarankan para tokoh non-Jawa yang ingin jadi presiden 
harus membaca fakta antropologi tersebut sebelum nantinya kecewa.

“Ya antropologi. Anda scientific, Anda enggak baca itu, ya maaf, Anda bodoh 
atau apa itu,” jelasnya.

Secara pribadi, Luhut mengakui bahwa kesempatan dirinya terpilih menjadi 
presiden juga sangat tipis. Apalagi, lanjutnya, dirinya termasuk dual 
minoritas, baik dari suku maupun agama.

“Termasuk saya, saya sudah Batak, Kristen lagi. Ya jadi saya bilang, ya sudah 
cukup itu. Kita sudah tahu, ngapain kita menyakiti diri saya. Istri saya juga 
bilang, ‘kamu ngapain sih Pa? Memang enggak mau? Syukur lah, haleluya’ dia 
bilang,” ungkapnya. (Wrb Warouw)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/BEC98CC82C404B2EAD57688BAF396A39%40A10Live.

Reply via email to