Written byJ61Sunday, September 25, 2022 14:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ridwan-kamil-pasti-menang-di-dki/
Ridwan Kamil Pasti Menang di DKI?
Mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 2024 dianggap menjadi 
pilihan tepat bagi Ridwan Kamil (RK) dibandingkan menjadi calon presiden 
(capres) ataupun calon wakil presiden (cawapres). Bahkan, RK tampaknya bisa 
menang mudah. Benarkah demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Meski kerap masuk bursa capres maupun cawapres 2024, peluang Gubernur Jawa 
Barat Ridwan Kamil (RK) dianggap sangat kecil untuk menang, bahkan untuk 
diusung oleh partai politik. Nasibnya dinilai akan lebih baik jika berani 
mempromosikan diri sebagai Gubernur di DKI Jakarta.

Rilis terbaru survei Charta Politika, misalnya, menempatkan nama Ridwan Kamil 
sebagai sosok dengan elektabilitas tertinggi kedua setelah Sandiaga Uno sebagai 
cawapres.

Sebelumnya, Kang Emil, sapaan akrabnya, beberapa kali juga masuk ke daftar 
tokoh yang memiliki elektabilitas cukup baik sebagai capres 2024.

Meski begitu, predikat cukup baik masih belum cukup saat elektabilitas RK belum 
mampu bersaing  dengan tiga nama capres lain yang belakangan semakin mengerucut 
dalam bursa, yakni Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ketua Umum Partai 
Gerindra Prabowo Subianto, serta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Satu yang menilai peluang RK sangat kecil untuk maju sebagai capres maupun 
cawapres 2024 adalah Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi 
Prayitno.

Menurutnya, posisi cawapres pun masih belum pasti dikarenakan RK masih harus 
bersaing dengan nama-nama besar lain seperti Sandiaga, Agus Harimurti 
Yudhoyono, hingga Erick Thohir.

  
“Secara elektabilitas, nama Emil bukan the one and only. Masih banyak opsi-opsi 
lain yang diperhitungkan oleh partai politik (parpol),” tegas Adi.

Serupa, pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin 
mengatakan bahwa tidak mudah bagi RK untuk diusung oleh parpol, baik sebagai 
capres maupun cawapres.

Di saat yang sama, Ujang melihat RK justru memiliki kesempatan yang lebih besar 
apabila ingin kembali maju sebagai orang nomor satu di Jawa Barat untuk periode 
kedua.

Namun, terdapat satu skenario yang kiranya jauh lebih baik bagi karier politik 
jangka panjang RK dibandingkan saran Ujang, yaitu dengan mengadu nasib di 
Jakarta pada 2024 sebagai suksesor Anies.

Lantas, mengapa jalan terjal seolah merintangi RK untuk menjadi RI-1 maupun 
RI-2 di 2024? Dan seberapa besar peluang Ridwan Kamil di Pilgub DKI Jakarta 
2024?

RK Terlalu Pintar?
Hingga detik ini, nama RK hampir selalu ada dalam setiap rilis bursa 
capres/cawapres 2024 sejumlah lembaga survei. Akan tetapi, berbeda dengan Anies 
yang misalnya menjadi capres terkuat di Rakernas Partai NasDem, RK belum 
sekalipun digaungkan oleh parpol manapun.

Inilah yang membedakan RK dengan kandidat lain, yakni ketiadaan kendaraan 
politik yang benar-benar tampak serius menyokongnya.

Terlebih, jika berbicara cawapres. Preseden Ma’ruf Amin yang menjadi cawapres 
di detik-detik akhir pada Pilpres 2019, membuat pemilihan kandidat RI-2 seolah 
kurang begitu memerhatikan elektabilitas dan hal spesifik lain.

  
Selain itu, belakangan juga muncul fenomena politik baru di masyarakat yang 
melihat bahwa kandidat tanpa parpol seolah lebih baik dibanding kandidat yang 
berasal dari parpol.

Fenomena itu kerap diistilahkan dengan deparpolisasi. Berbeda dengan orang yang 
tidak percaya politik yaitu apolitis, saat deparpolisasi terjadi, kepercayaan 
terhadap politik masih ada.
Akan tetapi, ketidakpercayaan muncul terhadap sistem kepartaian yang dirasa 
tidak mempunyai efek bagi masyarakat.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan 
deparpolisasi terjadi antara parpol dan pemilih yang disebabkan oleh dua hal, 
yakni afeksi psikologis dan rasional.

Deparpolisasi seolah menihilkan peran parpol dalam demokrasi yang terjadi di 
dunia perpolitikan Indonesia.

Pasca Reformasi, akibat dari deparpolisasi ini, tingkat kedekatan pemilih 
dengan partai politik merosot tajam. Pemilih semakin sinis terhadap parpol 
karena tidak menyalurkan kepentingan mereka.

Muaranya, yang dicari pemilih dalam sebuah kontestasi elektoral kerap kali 
hanya calon pemimpin yang populer dengan elektabilitas yang tinggi.

RK yang notabene bukan berasal dari parpol, mungkin saja dilihat oleh parpol 
berpotensi menajamkan fenomena deparpolisasi.

Tak hanya itu, sosoknya yang tampak cerdas boleh jadi menimbulkan keengganan 
parpol untuk mengusungnya karena impresi kurang bisa berkompromi, terutama di 
level kepemimpinan nasional.

Lalu, jika 2024 bukan waktu yang tepat bagi RK untuk menjadi capres maupun 
cawapres, apakah titian politik menjadi DKI-1 adalah yang paling ideal baginya?

 
RK Menang Telak?
Dalam dunia politik, timing atau momentum menjadi hal yang cukup esensial untuk 
menganalisis mengapa sebuah aksi-reaksi para aktor politik dikemukakan, 
sebagaimana halnya yang dijabarkan Luis Rubio dalam publikasinya yang berjudul 
Time in Politics.

Menurut Rubio, timing sangat esensial dalam komunikasi dan manuver politik. 
Preferensi timing yang dipilih dapat menentukan perbedaan output yang cukup 
signifikan dari sebuah interaksi politik.

Sementara itu, dalam Political Timing: A Theory of Politicians’ Timing of 
Events, John Gibson menyatakan bahwa momentum tertentu dalam politik dapat 
digunakan untuk memaksimalkan benefit politik atau meminimalkan risiko dan 
biaya sang aktor politik.

Dalam konteks RK, momentum untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta di tahun 2024 
kiranya juga dapat dimaksimalkan demi karier politiknya. Mengapa demikian?

Pertama, tahun 2024 dan Jakarta agaknya menjadi momentum dan tempat yang paling 
tepat bagi batu loncatan karier politik RK. Dengan berkiprah di ibu kota yang 
merupakan sentral perhatian politik nasional, RK tampaknya bisa mencuri 
perhatian lebih.

Terutama untuk membangun citra terbaik sebelum mantan Wali Kota Bandung itu 
naik kelas ke level nasional di tahun 2029.

Kedua, RK masih memiliki panggung politik hingga tahun depan untuk memberikan 
impresi positif sebelum promosi ke ibu kota.

Ketiga, menjadi Gubernur DKI Jakarta di 2024 juga kiranya dapat menjadi 
momentum tepat bagi RK untuk memperbanyak modal politiknya.

Terkait hal itu, Kimberly L. Casey dalam Defining Political Capital, 
menjabarkan bahwa modal politik dapat dipetakan menjadi tujuh modal, yakni 
modal institusional, modal sumber daya manusia (SDM), modal sosial, modal 
ekonomi, modal kultural, modal simbolik, dan modal moral.

Sementara itu, Richard D. French dalam Political Capital menjabarkan bahwa 
kalkulasi jangka panjang serta berkesinambungan terhadap modal politik, 
terutama atas aset-aset potensial yang dimiliki aktor politik menjadi sangat 
penting.
French mengedepankan pertimbangan variabel siklus ekspektasi khalayak dan 
siklus pengaruh dalam pertimbangan modal secara politik dari setiap aktor yang 
ada di dalamnya.

Dibandingkan menjadi capres/cawapres di 2024, RK kiranya memang cenderung lebih 
tepat untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta dengan modal politik yang ia miliki 
saat ini.

Dengan latar belakang profesional sebagai arsitek dan perencanaan wilayah 
perkotaan, RK juga belum lama ini diakui sebagai sosok yang paling mumpuni 
untuk memimpin ibu kota.

Hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) beberapa 
waktu lalu menyatakan RK sebagai tokoh yang paling memahami isu di Jakarta 
berdasarkan survei kepada para ahli tata kota. Survei itu sendiri dilakukan 
CSIS pada 29 Maret hingga 12 April 2022 lalu.

Dia mengalahkan nama-nama lainnya seperti Erick Thohir, Tri Rismaharini, 
Sandiaga Uno, hingga Ahmad Sahroni dalam survei CSIS.

Selain itu, mengingat parpol yang bisa saja resisten terhadapnya di level 
nasional, RK barangkali bisa mulai membangun kepercayaan di level ibu kota 
dengan sisi lain karakteristiknya, yakni fleksibilitas di hadapan entitas 
politik.

Ya, dalam Pilgub Jabar 2018, RK menjadi kandidat dengan parpol pengusung 
terbanyak dengan haluan politik paling beragam. Tercatat ada enam parpol 
multi-ideologi yang mengusungnya, yaitu Partai NasDem, PPP, PKB, Partai Hanura, 
PSI, dan Partai Berkarya.

Tak hanya itu, menariknya, survei CSIS yang menasbihkan RK di posisi teratas 
tokoh paling memahami isu Jakarta tadi dipaparkan di diskusi publik yang 
digelar Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta pada 22 Agustus lalu.

Dengan pemetaan itu, RK bisa saja menjadi kandidat yang paling banyak diusung 
parpol pada Pilgub DKI Jakarta 2024. Bukan tidak mungkin dirinya bisa menang 
telak, terutama saat melihat potensi sosok rival.

Ya, dengan kalkulasi sokongan parpol di atas, praktis RK hanya tinggal 
berhadapan dengan Ahmad Riza Patria yang santer jadi andalan Partai Gerindra di 
Pilgub DKI Jakarta 2024.

Partai Golkar yang tampak masih bimbang dengan nihilnya popularitas Bupati 
Tangerang Ahmed Zaki yang telah diberi amanat partai untuk bertarung di 
Jakarta, bisa saja berubah haluan dengan menyokong RK.

Pun demikian dengan Partai Demokrat. Ketiadaan kader, jika AHY maju sebagai 
capres/cawapres mungkin bisa membuat partai bintang mersi juga mendukung RK.

Oleh karena itu, Pilgub DKI Jakarta tampaknya tidak akan kalah pamor dari 
Pilpres dalam pesta demokrasi dua tahun mendatang. Menarik untuk ditunggu 
kelanjutannya. (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4899EDAE23D94897978E59F64D174638%40A10Live.

Reply via email to