http://internasional.kompas.com/read/2016/09/21/08431371
/eni.lestari.pejuang.buruh.migran.di.panggung.dunia
Eni Lestari, Pejuang Buruh Migran di Panggung
Dunia
Rabu, 21 September 2016 | 08:43 WIB
*
*
*
*
<http://internasional.kompas.com/read/2016/09/21/08431371/eni.lestari.pejuang.buruh.migran.di.panggung.dunia#komentar>
*
<http://internasional.kompas.com/read/2016/09/21/08431371/eni.lestari.pejuang.buruh.migran.di.panggung.dunia#>
6041
Shares
Macau Daily Times Eni Lestari saat berpidato di Sidang Majelis Umum
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, AS, Selasa (20/9/2016).
Indonesia kembali mendapat tempat di panggung internasional, dam kali
ini berkat kehadiran Eni Lestari di panggung Sidang Majelis Umum
Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Seperti dilaporkan /Voice of America,/ Rabu (21/9/2016), aktivis pekerja
migran Indonesia diundang berpidato dalam pertemuan KTT Pengungsi dan
Migran di forum Sidang MU PBB di New York.
Eni bekerja sebagai asisten rumah tangga di Hongkong sejak 1999.
Seperti kebanyakan buruh migran lainnya, ia terpaksa meninggalkan
mimpinya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena
harus membantu ekonomi keluarganya ketika krisis melanda Indonesia pada
akhir 1990-an.
Dalam wawancara /Voice of America/, Eni menyatakan ia menjadi aktivis
karena sebagai buruh migran ia merasa hak-haknya diekploitasi bahkan
sebelum berangkat bekerja ke Hong Kong.
Menurut Eni, ia perlu berjuang mewakili nasih 244 juta buruh migran di
seluruh dunia.
“Semua migran pasti mengalami eksploitasi, bahkan sampai buruk sekali,
jadi korban /trafficking/, ditipu. Saya juga termasuk korbannya. Saya
dibayar tidak sesuai standar dan tidak dikasih hari libur,” ujarnya.
Perempuan asal Kediri, Jawa Timur ini dipilih berpidato setelah melalui
seleksi yang ketat, dari 400 orang yang mengajukan diri, ia terpilih
bersama delapan orang lainnya.
Ini bukan kali pertama Eni bicara di PBB, namun ini pertama kalinya ia
bicara dalam tingkat sidang umum.
Walaupun mendapat kesempatan berbicara di panggung internasional Eni
tidak merasa bangga.
Ia justru berharap kehadirannya di sidang umum PBB tahun ini bisa
membuka mata masyarakat dan mempertanyakan sistem di Indonesia yang
menyebabkan perempuan-perempuan Indonesia tidak punya masa depan di
negerinya sendiri.
“Kami tampil di summit ini karena putus asa, karena bicara dengan
pemerintah di level nasional, baik pemerintah negara asal maupun
pemerintah negara tujuan, belum tentu mereka mau mendengar,” ujarnya.
Meskipun tidak berharap PBB bisa menyelesaikan masalah ekploitasi buruh
migran, Eni yang telah menjadi aktivis selama 15 tahun ini mengaku akan
terus melanjutkan perjuangannya.
Sebagai ketua International Migrants Alliance, Eni akan menindaklanjuti
rencana PBB terkait rancangan sejumlah kesepakatan internasional terkait
nasib migran.
Ia juga mendesak pemerintah RI untuk memperlakukan buruh migran
selayaknya manusia, bukan hanya data atau angka apalagi hanya sebagai
sumber devisa.
Menurut catatan Departemen Ketenagakerjaan RI, saat ini ada enam juta
lebih TKI di seluruh dunia.
Editor : Pascal S Bin Saju Sumber: VOA Indonesia <http://voaindonesia.com>,