Mau barengan Kasih juga boleh.

2016-09-22 17:25 GMT+02:00 Jonathan Goeij jonathango...@yahoo.com
[GELORA45] <GELORA45@yahoogroups.com>:

>
>
> Ha ha ha masak mau kontribusi pakai syarat siapa ikut baru ikut. Tapi ini
> memang ide yg baik bisa dibuat online menampung mereka yg mau ikut
> membantu. Cuman.... apakah nanti kampung susun ini tidak digusur Ahok lagi?
> Tahun lalu diberitakan Ahok menyetujui kampung susun ini, tapi kok kemudian
> tetap main gusur?
>
> Ahok Setujui Gagasan Kampung Susun dari Ciliwung Merdeka - Kompas.com
> <http://megapolitan.kompas.com/read/2015/09/26/21295451/Ahok.Setujui.Gagasan.Kampung.Susun.dari.Ciliwung.Merdeka>
>
> Ahok Setujui Gagasan Kampung Susun dari Ciliwung Merdeka - Kompas.com
> By Kompas Cyber Media
> Kampung Susun Manusiawi merupakan hunian vertikal di Kampung Pulo yang
> didesain seperti rumah susun dengan model...
>
> <http://megapolitan.kompas.com/read/2015/09/26/21295451/Ahok.Setujui.Gagasan.Kampung.Susun.dari.Ciliwung.Merdeka>
>
>
> ---In GELORA45@yahoogroups.com, <djiekh@...> wrote :
>
> Kalau Jonathan kasih, saya ikut.
> Dulu di pekerjaan, saya bilang pada kepala perusahaan untuk pasang pipa
> KOH dengan kran langsung masuk reaktor. Dia maunya ngirit sekali, supaya
> perusahaan di bawah dia kelihatan untungnya naik sekali.
> Saya ingatkan bahayanya operator kalau ambil KOH cair dengan ember dan
> dituangkan peerlahan-lahan dalam reaktor dengan pengaduk berputar. Kalau
> muncrat matanya bisa buta.
> Dia bilang, supaya operatornya disuruh pakai kacamata pengaman. Saya
> bilang, masih bisa tangan dan mukanya kebakar kecipratan KOH.
> Dia bilang, pengaduknya dihentikan. Saya bilang tidak bisa,
> persenyawaannya rusak karena concentrasi KOH setempat yang tinggi sekali.
> Dia bilang, wah mahal sekali. Bisa habis 1500 gulden (waktu itu).
> Ya, saya jadi jengkel, saya bilang, sudah, pasang saja, nanti saya yang
> bayar.
> Wah, dia terkejut, terus telpon kepala bagian teknik supaya datang,
> ngukuri dan pasang afsluiter ( keran KOH ).
> Ada satu monteur yang dengari waktu saya omong dengan kepala perusahaan.
> Setelah kepala perusahaan pergi, monteurnya tertawa, bilang,"Je heb hem
> goed aangepakt ".
> Saya tanya berapa ongkosnya menurut kamu. Dia bilang, paling 300 gulden.
> Saya bilang, apalagi 300 gulden, kok dia persoalkan. Nanti saya bayar.
> Monteurnya tertawa, bilang, wah dia tidak akan berani minta kamu yang
> bayar. Kan dia akan ditertawai semua orang, Apalagi kalau Perusahaan Pusat
> tahu.
> Eh, ya, benar, besoknya semua sudah selesai dipasang, dan dia tidak nagih
> ongkos pada saya..
> Waktu direktur internasional datang, direkturnya bilang ya perusahaan
> untungnya bagus, tetapi jangan terlalu ngirit, sampai perusahaan sudah lama
> tidak dicat dan tidak punya kebun di depan. Jelek untuk image perusahaan.
>
> 2016-09-22 16:26 GMT+02:00 Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45] <
> GELORA45@yahoogroups.com>:
>
> bung Djie mau ikut kontribusi?
>
> ---In GELORA45@yahoogroups.com, <djiekh@...> wrote :
>
> Bagaimana kalau Jaya Suprana mengumpulkan pengusaha-pengusaha temannya
> untuk bangun rumah susun seperti sarannya. Diongkosi sendiri, untuk Kasih
> contoh pada Basuki "bagaimana seharusnya".
>
>
> 2016-09-22 5:47 GMT+02:00 'Chan CT' SADAR@... [GELORA45] <GELO
> r...@yahoogroups.com <GELORA45@yahoogroups.com>>:
>
> Ooouuh, maaf bung Jaya, atas kelancangan saya mengajukan pemikiran atau
> komentar yang lepas dan jauh dari lapangan, ketidak tahuan saya akan
> keadaan konkrit sebenarnya. Dan oleh karenanya saya juga tidak mungkin
> mengajukan strategi-taktik perjuangan konkrit, itu hanya bisa diajukan oleh
> kawan-kawan yang langsung dilapangan, yang mengetahui keadaan konkrit lebih
> detail.
>
> Sebenarnya saya hanya mengajukan prinsip umum berjuang saja, pada saat
> kita lemah musuh kuat, yaa, jangan dilawan dengan bentuk perjuangan “keras
> lawan keran”, pasti kalahnya dan kalau tidak kebetulan bisa jatuh KORBAN
> yang tidak diperlukan. Karena tidak akan menang dan akan berakhir dengan
> KEKALAHAN juga! Tergusur, sudah PASTI! Warga Bukit Duri tidak akan mungkin
> dibiarkan terus bertahan, meninggali rumah kumuhnya itu, ... setelah
> dikeluarkan SP3, bagaimanapun juga harus keluar dan pindah dari rumah-rumah
> kumuh yang mereka tinggali sekarang itu!
>
> Menghadapi kenyataan begini, Romo Sandyawan hendak gunakan pengadilan,
> menyatakan SP3 tidak sah. Bagaimana hasilnya, apakah pengadilan bisa cepat
> mengambil keputusan atau tidak untuk menunda penggusuran? Saya tidak tahu.
> Syukurlah kalau jalan HUKUM ini bisa ditempuh dan dimenangkan, ...
> penundaan penggusuran. Lalu sampai kapan? Tentu akan sulit kalau sampai
> membatalkan rencana/program pembenahan DKI-Jakarta yang kata Ahok sudah
> sangat mendesak itu.
>
> Nah, dalam pemikiran saya, seandainya saya dalam posisi warga Bukit Duri,
> karena tidak ada jalan pilihan lain, yaaa nurut saja perintah naik ke
> RUSUN. Sedang, perjuangan mereka TUNTUTAN dan KEADILAN yang diharapkan itu,
> mestinya boleh dan bisaa saja diteruskan sekalipun sudah naik RUSUN, ...!
> Ini setelah menghadapi kenyataan, Ahok, Gubernur DKI-Jakarta sudah dengan
> tegas menyatakan program pembenahan tidak bisa ditunda lagi, HARUS
> DIJALANKAN! Sosialisasi sudah dianggap CUKUP! Jadi setelah dikeluarkan SP3,
> yaa harus pindah kalau tidak hendak digusur dengan kekerasan!
>
> Mudah-mudahan saja tokoh-tokoh, pejuang-pejuang Warga Bukit Duri bisa
> menemukan kebijakan yang paling baik untuk mencapai kedamaian, menang
> bersama, menghindari penggusuran kekerasan dan mendapatkan penyelesaian
> sebaik-baiknya setelah pindah ke RUSUN! Menikmati kehidupan yang lebih
> manusiawi dan nyaman, ...
>
> Salam,
> ChanCT
>
>
> *From:* Jaya Suprana <semarsuprana@...>
> *Sent:* Thursday, September 22, 2016 10:32 AM
> *To:* Chan CT <sadar@...>
> *Cc:* GELORA_In <GELORA45@yahoogroups.com>
> *Subject:* Re: Bukit Duri Digusur, Jaya Suprana Siap Pasang Badan
>
> Karena Pak Chan menulis email bukan pribadi kdp saya namun menembuskannya
> ke komunitas GELORa45 maka saya juga menembuskan email ini ke GELORA45)
> Sayang, kembali pak Chan menghakimi tanpa mengetahui duduk-permasalahan
> yang dihakiminya.
> Pertama : saya bukan tokoh apalagi tokoh pembela rakyat ! Saya sekadar
> rakyat biasa yang merasa iba terhadap nasib sesama rakyat tergusur.
> Kedua : pasang badan hanya akan saya lakukan apabila sekali lagi : apabila
> pemerintah memaksakan penggusuran terhadap warga Bukit Duri padahal Majelis
> Hakim PN Jakut dan PTUN Jaksel sedang memproses kasus Bukit Duri secara
> hukum yang apabila penggusuran dipaksakan dilakukan berarti pelanggaran
> hukum, keadilan dan HAM. Apabila penggusuran tidak dilakukan pasti saya
> tidak sudi bersusah-payah pasang badan.
> Ketiga : saya sudah menempuh berbagai cara mulai dari menghubungi LBH,
> Komnas HAM, Menhukham, Mensos, Panglima TNI, Mendagri sampai Presiden  dll
> di mana semua tidak membenarkan penggusuran secara paksa terhadap rakyat
> apalagi thdp kawasan yg masih dalam proses hukum, namun sekaligus semua
> juga menyatakan bahwa Pemerintah Daerah memang memiliki kekebalan kebijakan
> berdasar UU Otonomi Daerah. Saya juga sudah menulis serial tulisan di
> berbagai media yg prinsipnya memohon agar Bukit Duri jangan digusur di
> samping memohon langsung secara pribadi ke Gubernur Jakarta bahkan berdoa
> kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi sebenarnya saya sudah menempuh segala
> cara yg dalam jangkauan kemampuan saya demi menunda penggusuran Bukit Duri
> selama masih dlm proses hukum. Sampai saat ini minimal ada hasilnya yaitu
> penggusuran BELUM BENAR-BENAR DILAKSANAKAN. Namun setiap saat penggusuran
> dapat saja segera dilaksanakan apabila pemerintah Jakarta menghendaki sebab
> kekuasaan berada di tangan mereka.
> Pada dasarnya warga Bukit Duri melalui jalur hukum akibat memiliki
> *harapan *yg sama dgn pak Chan yaitu menyelesaikan perbedaan pendapat
> secara damai . Maka sekarang saya justru memohon kepada pak Chan agar
> apabila pak Chan yg arif bijaksana merasa memiliki strategi yang tepat
> untuk menyelesaikan masalah Bukit Duri maka saya mohon petunjuk langsung
> dari pak Chan bagaimana kita dapat menyelesaikan masalah penggusuran thdp
> Bukit Duri tanpa mengorbankan pihak mana pun juga.
> Trims dan hormat dari jaya suprana
>
>
>
>
> *jaya suprana*
>
> Pada 22 September 2016 09.03, Chan CT <sadar@...> menulis:
>
> Saya tetap TIDAK bisa mengerti tokoh-tokoh atau pejuang-pejuang yang
> katanya pembela RAKYAT, hanya bisa ber-GAGAH-GAGAH-an, Siap pasang badan!
> Tapi, tidak satupun yang cerdik bijaksana menemukan strategi-taktik
> perjuangan untuk memenangkan TUNTUTANNYA. Apa dikira dengan gagah berani
> pasang badan begitu, lalu bisa memenangkan tuntutan dan mempertahankan hak
> rakyat kecil, TETAP tinggal di Bukit Duri itu? Bukankah disaat kekuatan
> kita masih sangat kecil sedang lawan yang dihadapi adalah pemerintah yang
> berkuasa dengan kekuatan maha dahsyat, kita harus menemukan taktik dan
> bentuk perjuangan yang bijaksana untuk memenangkannya. Bukan keras lawan
> keras, BERTAHAN mati-matian tanpa peduli jatuhnya KORBAN! Itu namanya
> membenturkan kepala pada batu! Yang PASTI bocor kepala kita dan KALAH!
> Akhirnya. juga PASTI akan tergusur juga dan warga Bukit Duri yang tidak
> hendak naik kerusun entah harus tinggal dimana, …! Lalu, tidak jelas apakah
> pak Jaya juga akan ikutan bareng tidur di kolong jembatan? Karena rumah
> elite nya tidak mungkin cukup menampung warga yang digusur itu! Hehehee, …
>  Cobalah berembuk sebaik-baiknya, untuk menemukan bentuk perjuangan bisa
> diteruskan setelah semua pindah di RUSUN, bahkan kekurangan yang masih
> terjadi di RUSUN itu, sebagaimana tuntutan mereka juga bisa bersama-sama
> diatasi dan menemukan jalan keluar yang lebih baik. Dengan demikian
> mengurangi jatuh KORBAN, penderitaan warga-miskin yang tidak perlu, sedang
> kehidupan warga Bukit Duri bisa terangkat lebih baik, hidup sebagai manusia
> layaknya! Mudah-mudahan saja bisa, … mencapai penyelesaian secara damai
> dan kedua belah pihak mencapai kemenangan bersama! Pihak DKI Jakarta bisa
> meneruskan program pembenahan ibukota Jakarta sebagai rencana, sedang
> kesejahteraan rakyat kecil juga terangkat dengan lebih baik! Salam,ChanCT 
> Bukit
> Duri Digusur, Jaya Suprana Siap Pasang Badan
> RABU, 21 SEPTEMBER 2016 | 23:00 WIB
> [image: clip_image001]
> Jaya Suprana. ANTARA/Hendra Nurdiyansyah
> *TEMPO.CO <http://tempo.co/>*, *Jakarta* - Jaya Suprana, pendiri Museum
> Rekor Indonesia (MURI) siap pasang badan berdiri di depan buldozer apabila
> terjadi penggusuran terhadap warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Ia
> berani nekad untuk menghilangkan ketakutan warga Bukit Duri dari kabar
> penggusuran yang kian gencar dengan keluarnya Surat Peringatan ketiga  dari
> Pemerintah Kota Jakarta Selatan.
>
> "Waktu itu warga ketakutan dan saat itu saya berupaya menghibur dan saya
> mengatakan saya siap kalau betul digusur saya berdiri di depan buldozer.
> Masalah itu nanti dilindes atau tidak, saya tidak peduli," kata Presiden
> Direktur PT Jamu Jago  saat dihubungi di Jakarta, Rabu 21 September 2016.
>
> Jaya  Suprana mengaku memiliki hubungan emosional dengan warga Bukit Duri
> sejak perkenalannya dengan Sandyawan Sumardi, Direktur Ciliwung Merdeka.
> "Saya memiliki hubungan batin dengan warga Bukit Duri cukup lama," ujar
> dia.
> Sandyawan Sumardi, sejak tahun 2000, semakin intensif melalui kegiatan
> seni. "Melalui Ciliwung Merdeka, kami mengadakan konser rakyat untuk
> rakyat," Jaya Suprana berujar.
>
> Hubungan itu makin erat ketika Pemda menggusur Kampung Pulo, Jakarta
> Timur. Jaya Suprana megaku terlambat mengetahui kabar penggusuran itu.
> "Saat penggusuran terjadi saya belum sadar. Sekarang warga Bukit Durilah
> yang belum tergusur."
>
> *Baca Juga:* Sandyawan Anggap Surat Penertiban Bukit Duri Ilegal
>
> Jaya Suprana meminta penggusuran ditunda lantaran masih ada proses gugatan
> yang masih berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Pengadilan
> Tata Usaha Negara. "Penggusuran tidak boleh dilakukan sebelum ada keputusan
> pengadilan," katanya.
>
> Sebelumnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengirimkan surat pernyataan
> ketiga untuk warga Bukit Duri, Jakarta Selatan. Direktur Ciliwung Merdeka,
> Sandyawan Sumardi, mengatakan surat tersebut ditolak warga Bukit Duri.
> "Surat itu sudah keluar, tetapi kami tidak menerima karena kami menolak,"
> kata Sandyawan saat dihubungi di Jakarta, Rabu 21 September 2016.
>
> Sandyawan mengatakan pada pertemuan warga di Mesjid Bukit Duri, Selasa 20
> September 2016, warga bertekad untuk melawan. Ia merencanakan perlawanan.
> "Warga akan tetap melawan, meskipun berbeda dengan perlawanan warga Kampug
> Pulo. Mungkin kami melawan dengan lebih berkebudayaan," kata dia. Sebabnya,
> warga Bukit Duri, lebih sedikit ketimbang warga Kampung Pulo.
>
> *Simak Pula:* Sandiaga ke Rumah Susun, Ahok Akan Tetap Gusur Bukit Duri
>
> Selain itu, Sandyawan mengatakan pengiriman SP3 adalah ilegal. Sebab,
> gugatan warga Bukit Duri masih berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta
> Pusat. Sidang terakhir terhenti karena kuasa hukum memerlukan pertimbangan
> dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota Jakarta Selatan.
>
> *ARKHELAUS W*
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke