Suar Suroso:
YI DAI YI LU
JALAN SUTERA ABAD 21
DAN STRATEGI LENIN
MEMBANGUN SOSIALISME LIWAT KOEKSISTENSI
DAN PERSAINGAN DAMAI DENGAN KAPITALISME
Bagai naga raksasa menggeliat angkat kepala, perkembangan ekonomi Tiongkok
mempesona dunia. Para penganut Marxisme berkecamuk memperdebatkan masalah
Tiongkok. Yang diperdebatkan adalah: Tiongkok itu membangun sosialisme atau
kapitalisme. Ada yang menilai: dengan tokohnya Deng Xiaoping menjunjung
revisionisme, Tiongkok telah mencampakkan Marxisme. Tiongkok bukan membangun
sosialisme, tapi kapitalisme. Bahkan ada yang menilai Tiongkok telah jadi
imperialis..
XI Jinping tampil dengan gagasan YI DAI YI LU, JALAN SUTERA ABAD 21. Gagasan
ini bertolak belakang dengan gagasan Samuel P.Huntington BENTROKAN-BENTROKAN
BERADABAN Sebagai kelanjutan Perang Dingin yang belum usai, dengan membenarkan
gagasan bentrokan-bentrokan peradaban, Amerika Serikat bebas memilih salah satu
pihak yang berlawanan di satu negeri. Memilih yang menguntungkannya.. Maka
berlarut-larutlah konflik di banyak negeri di Timur Tengah. Irak meledak-ledak,
Siria menyala, demikian pula Libia, dan lain-lain. Muncullah Al Qaida, ISIL
yang bertujuan membangun Khalifah Islam Sedunia. Negeri-negeri Arab yang
beragama Islam yang damai itu jadi bergolak tak habis-habisnya. Tak ada kampung
halaman yang tenteram, maka jutaan pengungsi meninggalkan negerinya
mengungsi.Terdapat lebih dari enampuluh juta pengungsi. Krisis pengungsi
terhebat dalam sejarah dunia, melanda Eropa. Kekacaubalauan, teror
bersimaharajalela, karena konflik antar berbagai golongan. Inilah sumber utama
dari krisis pengungsi. Menghapuskan konflik-konflik ini, merajut jaringan
kerjasama, menciptakan suasana damai membangun ekonomi tiap negeri adalah jalan
keluar fundamental untuk mengatasi krisis pengungsi ini.
Yi Dai Yi Lu adalah gagasan merajut jaringan kerjasama, melawan bentrokan,
adalah realisasi koeksistensi antar negeri yang berbeda sistim sosial dan
politiknya. Dalam realisasinya, Tiongkok mempelopori pembentukan Bank Investasi
Infrastruktur Asia, dengan dana utama dari Tiongkok..Tiongkok membantu
pembangunan infrastruktur negeri-negeri Asia, Afrika dan Amerika Latin.
Membangun jaringan lalu-lintas Asia Timur, Tengah sampai Eropa. Proyek raksasa
membangun koridor jalan raya, jalan kereta api dan jaringan listrik Pakistan,
dari Kashgar di Xinjiang Barat sampai kota pelabuhan Gwarda di Selatan Pakistan
dekat Teluk Persia. Di Indonesia membangun jalan kereta api cepat
Jakarta-Bandung. Jalan Keretaapi Tiongkok-Thailand, Tiongkok–Laos. Proyek jalan
kereta api Brazilia-Peru sepanjang 5.000 km. Dan berbagai proyek infrastruktur
di Afrika..
Gagasan raksasa Yi Dai Yi Lu ini sesuai dengan ajaran Lenin mengenai jalan
koeksistensi dan kompetisi damai. Lenin yakin, bahwa Sosialisme bisa menang
atas kapitalisme liwat jalan ini. Dalam pedatonya 6 Desember 1920 di depan
pekerja-Partai organisasi Moskow Lenin mengemukakan:” Saya yakin bahwa
kekuasaan Sovyet akan melampaui dan mengungguli kekuatan kapitalis dan
kemenangan kita adalah melebihi kemenangan ekonomi belaka”
Di kala Winston Churchil bermaksud “mencekik negara Bolsyewik semenjak
kelahirannya”, Lenin mengemukakan politik luarnegeri koeksistensi damai dengan
negara-negara kapitalis. Kampanye anti Sovyet yang digalakkan Churchill,
Clemenceau dan Wilson berakhir dengan kebangkrutan. Di kala John Foster Dulles
sibuk melaksanakan Doktrin Truman membangun SEATO, aparat Perang Dingin
merealisasi the Policy of Containment – pembendungan dan pembasmian Komunisme
sejagat; – Zhou Enlai, Jawaharlal Nehru dan U Nu tampil dengan gagasan Lima
Prinsip Koeksistensi Damai, yang kemudian berkembang jadi Dasa Sila Bandung
hasil Konferensi Bandung di bawah pimpinan Bung Karno. Sejarah mencatat tujuh
dasawarsa Uni Sovyet berjaya sebagai negara sosialis, Uni Republik-Republik
Sovyet Sosialis (URSS), hidup berdampingan dengan negara-negara kapitalis
sedunia. Semua negara sosialis menjalankan politik luar negeri koeksistensi
damai. Sampai saat kehancurannya di bawah pimpinan Gorbacyov, Uni Sovyet tetap
berpegang pada politik luarnegeri koeksistensi damai.
Dan dengan tangguh Republik Rakyat Tiongkok menjunjung tinggi politik
luarnegeri koeksistensi damai. Mengutamakan kerjasama, menghindari bentrokan
antar negara. Walaupun diserang dengan tembakan roket NATO dalam Perang Kosovo
yang menyasar Kedutaan Besar Tiongkok di Beograd, Tiongkok tidak melakukan
pembalasan dengan roket. Insiden pesawat tempur Amerika yang menyasar hingga
jatuhnya pesawat tempur Tiongkok di Laut sekitar kepulauan Hainan, dan pesawat
tempur AS rusak serta terpaksa mendarat di daerah Tiongkok; Tiongkok tidak
melakukan pembalasan dengan tindakan militer.. Di awal abad ke 21, Tiongkok
tampil dengan politik luarnegeri kerjasama antar negara besar berdasarkan lima
prinsip koeksistensi, tanpa konfrontasi dan saling menguntungkan. Dalam keadaan
saling mengakui adanya perbedaan-perbedaan, berlangsung kerjasama Tiongkok
Amerika Serikat. Tiongkok menggalang kerjasama dengan negara di semua benua,
membangun organisasi-organisasi kerjasama regional Organisasi Kedrjasama
Shanghai, kerjama dengan ASEAN, membangun BRICS, masuk APEC..Bantuan luarnegeri
Tiongkok serta investasi kapital swasta Tiongkok di banyak negeri adalah
kerjasama saling menguntungkan, tidaklah sama dengan ekspor kapital yang
dilakukan kaum imperialis oligarkho-finans di masa lampau.
Kini, di ufuk Timur jagat raya, Tiongkok bangkit membangun sosialisme berciri
Tiongkok. Pada saat Tiongkok memulai pelaksanaan penggantian semboyan Revolusi
Besar Kebuayaan Proletar (RBKP), perjuangan klas sebagai poros diganti dengan
pembangunan ekonomi sebagai tugas utama, yaitu melaksanakan “Kaige Kaifang”,
Profesor Bao Yu Ching pengamat Tiongkok dari Amerika meramalkan bahwa dengan
kaige kaifang dipimpin Deng Xiaoping, Tiongkok akan jadi tergantung pada
luarnegeri di bidang moneter dan tekhnologi. Kenyataan telah membantah ramalan
ini. Tidak ada ketergantungan Tiongkok pada luarnegeri di bidang moneter dan
tekhnologi.
Dari negeri miskin dan terbelakang di pertengahan abad ke-20, kini Tiongkok
diakui menjadi negeri terbesar kedua di bidang ekonomi mengungguli Jepang.
Tiongkok memiliki cadangan valuta asing sebanyak lebih dari tiga trlyun dollar
AS, mata uang Tiongkok Ren Min Bi telah jadi, salah satu mata uang yang
konvertibel diakui IMF di samping dollar AS, Euro, Poundsterling dan Yen
Jepang. 600 juta rakyat Tiongkok telah dibebaskan dari kemiskinan. Dengan
kemampuan sendiri Tiongkok telah membangun pesawat antariksa yang mengorbitkan
awak pesawat antariksa, mengirim pesawat tak berawak Kelinci Giok mendarat
untuk penelitian di permukaan bulan dan mengorbitkan Tian Gong II (Istana
Langit kedua) yang mengorbit bumi. Menghasilkan dan mengeksport kereta api
tercepat ke berbagai negeri. Menghasilkan dan mempergunakan superkomputer
tercepat di dunia. Mengorbitkan pesawat antariksa untuk komunikasi kwantum.
Telah membangun antenne parabolis terbesar di dunia dengan diameter
permukaannya sepanjang 500 meter untuk kepentingan observasi antariksa demi
riset ilmiah
Ada yang menilai, bahwa kemajuan Tiongkok ini adalah hasil dari penghisapan
belaka. Sistim perekonomian Tiongkok dianggap menyebabkan Rakyat pekerja
Tiongkok telah dihisap. Ini dianggap bersumber dari ajaran Deng Xiaoping yang
menyatakan “jadi kaya itu adalah mulia” Mendorong orang jadi kaya berarti
mendorong melakukan penghisapan. Ungkapan Deng Xiaoping telah divulgairkan.
Yang dimaksudkan Deng Xiaoping adalah: penduduk Tiongkok yang besar jumlahnya
itu tak mungkin jadi kaya serentak, “Biarkanlah sebahagian jadi kaya dahulu
dengan jalan yang sah, yang lain menyusul kemudian” .Adanya penghisapan dalam
masyarakat Tiongkok adalah kenyataan yang tak perlu dibantah. Dalam masyarakat
tahap awal sosialisme, masih berlaku sistim kerja-upahan. Tenaga kerja jadi
barang dagangan. Maka tak bisa tidak terjadi nilai lebih. Penghisapan barulah
lenyap apabila nilai lebih sudah dilenyapkan, yaitu dijalankan prinsip
distribusi sosialis: “bekerja menurut kemampuan, menerima menurut hasil kerja”
Kini, di Tiongkok, ini masih jauh panggang dari api.
Dalam salah satu pedatonya, Perdana Menteri Li Keqiang menyatakan bahwa
“ekonomi Tiongkok telah masuk dalam ekonomi global” Ini dianggap bukti Tiongkok
sudah terjerumus dalam kubu kapitalis. Koeksistensi dan kompetisi damai antara
dua sistim menyebabkan jalin berjalinnya pelaksanaan langkah kapitalisme dan
sosialisme. Masing-masing diuji keunggulannya..Menghindari suasana jalin
berjalin ini, berarti mengisolasi diri. Ini adalah sumber kebangkrutan ekonomi
Tiongkok di masa lampau. Keterbelakangan Tiongkok di masalalu disebabkan oleh
terisolasinya Tiongkok dari dunia luar. Oleh karena itu, melepaskan diri dari
isolasi adalah satu satunya jalan yang harus ditempuh Tiongkok. Untuk keluar
dari isolasi, harus memasuki semua badan organisasi internasional, semua badan
kerjasama regional. Mulai dari PBB sampai semua organisasi internasional yang
ada. Untuk masuk WTO Tiongkok berunding tigabelas tahun, baru diloloskan
Amerika.
Pimpinan Tiongkok menyatakan bahwa Tiongkok berada dalam tahap awal
sosialisme. Atas dasar pelaksanaan Empat Prinsip Dasar ajaran Deng Xiaoping,
yaitu 1. menempuh jalan sosialisme, 2. menjalankan diktatur proletariat 3. di
bawah pimpinan Partai Komunis, dan 4. dengan ideologi pembimbing
Marxisme-Leninisme, Fikiran Mao Zedong. maka di Tiongkok diberlakukan sistim
kerjasama multi-partai di bawah pimpinan PKT. Dalam perkembangannya, ideologi
pembimbing yang diberlakukan sekarang adalah: Marxisme-Leninisme, Fikiran Mao
Zedong, Teori Deng Xiaoping, Fikiran Penting Tiga Mewakili, dan Pandangan
Ilmiah Tentang Perkembangan.
YI Dai Yi Lu gagasan Xi Jinping menjunjung tinggi Teori Deng Xiaoping. Teori
Deng Xiaoping bukanlah ungkapan “Kucing Hitam Kucing Putih”, sebagaimana
sementara orang memvulgairkannya. Serentetan gagasan baru, yang belum ada dalam
literatur Marxis, antara lain: Empat Prinsip Dasar ditampilkan Deng Xiaoping
untuk pembangunan sosialisme berciri Tiongkok. Deng Xiaoping bukan merevisi
apalagi mencampakkan Marxisme, Fikiran Mao Zedong, tapi memperkayanya. Untuk
memahaminya perlu dipelajari karya-karya Deng Xiaoping serta praktek Kaige
Kaifang, pembangunan sosialisme di bawah pimpinan PKT di Tiongkok.
Dalam tahap awal sosialisme, masyarakat Tiongkok tidak lepas dari penyakit dan
sampah masyarakat pasar, berbagai kekurangan dan maslahat. Sekian puluh juta
rakyat masih hidup dalam kemiskinan. Masih ada pengangguran, pemecatan,
pelacuran, pencurian, perampokan, penipuan, korupsi, bunuh diri karena tekanan
hidup. Berlangsung proses penuaan penduduk. Rencana Lima Tahun ke-XIII
memaparkan usaha mengatasi semuanya ini untuk mencapai kehidupan yang cukup
sejahtera pada tahun 2020.
Sosialisme berciri Tiongkok adalah sesuatunya yang baru dalam sejarah
sosialisme. Oleh karena itu akan terdapat perkembangan maju terus menerus,
memperkaya khazanah ilmiah Marxisme.
25-9-2016
*****
YI DAI YI LU.doc
Description: MS-Word document
