Peta Politik Pilkada Jakarta


SENIN, 26 SEPTEMBER 2016 | 00:35 WIB

Ikhsan Darmawan
Dosen Departemen Ilmu Politik FISIP UI

https://www.tempo.co/read/kolom/2016/09/26/2393/peta-politik-pilkada-jakarta


Baru saja pada Jumat lalu drama pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta 
menyelesaikan salah satu babak yang penting, yaitu pencalonan. Sejak itu, peta 
politik akhirnya menjadi terang-benderang. Pada injury time, ternyata ada tiga 
pasangan calon yang diusung oleh tiga poros.

Poros pertama, yang mendaftar paling awal, terdiri atas empat partai, yakni 
PDIP, Partai Golkar, Partai Hanura, dan Partai NasDem. Poros ini mendukung 
calon inkumben: Ahok-Djarot.

Poros kedua, yang disebut-sebut sebagai poros Cikeas, terdiri atas Partai 
Demokrat, PPP, PKB, dan PAN. Yang mengagetkan, calon yang diusung ialah anak 
Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti, yang dipasangkan dengan Sylviana 
Murni.

Poros ketiga ialah poros Partai Gerindra dan PKS. Menjelang penutupan 
pendaftaran, poros ini akhirnya mendaulat Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebagai 
calon yang mereka usung.

Menarik untuk mendiskusikan pasangan calon di luar inkumben. Mengapa Agus 
Harimurti-Sylviana Murni? Pertama, sulit untuk dielakkan bahwa sosok Agus 
merupakan bagian dari kepentingan politik keluarga Cikeas. Menyusul adiknya, 
Ibas, yang lebih dulu terjun di dunia politik praktis, Agus juga tak 
ketinggalan diikutkan sebagai pelanjut keluarga politik SBY. Adapun Sylviana 
adalah birokrat yang telah lama berkecimpung di birokrasi DKI Jakarta.

Karena belum pernah diperhitungkan dalam survei-survei sebelumnya, sulit untuk 
menebak-nebak bagaimana peluang pasangan ini. Apalagi dengan belum adanya 
pengalaman politik praktis dari keduanya, kemungkinan besar mereka akan sulit 
bersaing.

Lantas, apa untungnya "berspekulasi" mendorong keduanya maju? Apalagi 
kedua-duanya harus melepas jabatannya di militer dan pegawai negeri sipil. 
Dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin keduanya dipersiapkan untuk 
pemilihan-pemilihan umum yang akan datang. Kalaupun tidak berhasil di pilkada 
Jakarta 2017 yang akan datang, setidaknya keduanya mendapat ekspos dari media 
nasional selama kurun waktu tertentu. Ekspos media itu menjadi salah satu modal 
politik untuk bertarung dalam pemilihan umum legislatif 2019.

Kedua, karena juga didukung oleh PPP, PKB, dan PAN, pencalonan Agus-Sylviana 
dapat dilihat sebagai strategi memecah suara pendukung bukan Ahok. Sederhana 
saja, karena di luar Partai Demokrat, ketiga partai itu adalah partai pendukung 
Jokowi. Kemenangan inkumben erat kaitannya dengan memuluskan langkah Jokowi 
dalam pemilihan presiden 2019 nanti. Lagi pula, jika secara terang-terangan 
berdiri di barisan pendukung Ahok, hal itu akan berdampak pada tergerusnya 
basis pemilih tradisional ketiga partai tersebut.

Yang tak kalah menarik juga adalah mengapa Anies-Sandiaga? Pertama, figur Anies 
merupakan antitesis dari Ahok. Pembawaannya yang tenang dan santun akan membuat 
pemilih yang tidak suka gaya meluap-luap dari Ahok memilih pasangan ini. 
Apalagi dengan pernah menjadi menteri di kabinet Jokowi, sosok Anies telah 
memiliki "nilai jual" yang patut diperhitungkan. Adapun Sandiaga adalah 
pengusaha yang memiliki jejaring bisnis yang luas.

Kedua, kemunculan Anies akan memperluas segmen pemilih pasangan ini. Ceruk 
pemilih pasangan ini menjadi tidak hanya pemilih Gerindra dan PKS yang memiliki 
ideologi Islam yang kuat, tapi juga pemilih lain di luar itu.

Ketiga, komposisi keduanya, menurut hasil survei terakhir dari sebuah lembaga 
survei, dianggap paling sedikit selisihnya dengan persentase elektabilitas 
inkumben. Dengan sisa waktu yang cukup panjang, bukan hal yang mustahil 
kandidat ini dapat bersaing ketat dengan inkumben.

Lantas, akan seperti apa dan bagaimana pilkada DKI Jakarta ke depan? Yang 
jelas, pertarungan selama lima bulan ke depan akan sengit dan tentu saja 
mengundang rasa penasaran banyak orang. Mengapa demikian? Pertama, tak seperti 
pilkada di daerah lain, untuk dapat menang di pilkada Jakarta, satu pasangan 
calon harus meraih minimal 50 persen plus satu. Dengan tiga pasangan kandidat 
seperti ini, tidak menutup kemungkinan akan terjadi lebih dari satu putaran 
pemilihan.

Kedua, meski disebut-sebut elektabilitas inkumben selama ini masih lebih tinggi 
dibanding calon lain, kecenderungan merosotnya raihan persentase elektabilitas 
Ahok belakangan ini menjadi pertanda bahwa persaingan masih terbuka lebar. 
Apalagi selama ini Ahok tidak pernah meraih persentase sangat besar (lebih dari 
70 persen) secara konsisten seperti halnya Jokowi saat di pilkada Solo dan 
Risma di pilkada Surabaya. Selain itu, terdapat data masih ada 25,7 persen 
pemilih yang belum menentukan pilihan.


Kirim email ke