Membaca ceramah Ketua PKJ terasa adanya penjelasan yang kurang dan justru bagian yang perlu, misalnya masalah ekonomi pasar pada periode sejarah kapitalisme apa yang dimaksud, karakter pertukaran antara permintaan dan penawaran yang mengalami distorsi akibat tidak adanya keseimbangan potensi ekonomi bagi peserta konkurensi yang menjurus ke arah terwujudnya sistim perekonomian monopoli. Dalam tulisan Fuwa Tetsuro ini tidak satu patah kata imperialisme yang saya jumpai. Padahal periode imperialisme ini merupakan ciri sejarah tingkat masyarakat kapitalisme sekarang ini yang mendominasi kehidupan masyarakat perekonomian kita sekarang.
Untuk membantu menambah pengertian, saya turunkan terjemahan Karya Lenin masalah: Oligarki Pengganti Demokrasi. Juga dlm format pdf. Lusi.- Mulai Lenin: OLIGARKI PENGGANTI DEMOKRASI Tahun 1916 Lenin sibuk dengan pembedaan hubungan antara ekonomi dalam kapitalisme periode persaingan bebas dan pada masa imperialisme. Secara sistim perekonomian, imperialisme (atau »zaman« kapital finans – ini bukan masalah istilah) adalah tingkat perkembangan tertinggi kapitalisme, yakni suatu tingkat, dimana produksi menjadi sangat besar dan diproduksi secara besar-besaran, hingga persaingan bebas diganti dengan monopoli. Inilah hakekat perekonomian imperialisme. Monopoli ini menemukan perwujudannya baik dalam bentuk trust, sindikat maupun juga dalam konsentrasi kapital bank dsb. Monopoli perekonomian – inilah inti seluruh masalah. Bangunan atas politik terhadap kegiatan ekonomi baru, terhadap kapitalisme monopoli (imperialisme adalah kapitalisme monopoli) merupakan titikbalik dari demokrasi ke arah politik reaksioner. Persaingan bebas sesuai dengan demokrasi. Politik reaksioner sesuai dengan monopoli. »Kapital finans tidak menginginkan kebebasan, melainkan kekuasaan«, yang dikatakan Rudolf Hilferding dalam bukunya »Kapital finans« sepenuhnya benar. (…) Baik di bidang politik luarnegeri maupun di bidang politik dalamnegeri dalam keadaan yang sama imperialisme berusaha keras melakukan pelanggaran terhadap demokrasi untuk menuju ke arah yang reaksioner. Dalam arti ini tidak dapat disangkal, bahwa imperialisme pada pokoknya adalah »negasi« atas demokrasi, atas demokrasi secara keseluruhan, samasekali bukanlah sekedar hanya sebagai suatu tuntutan demokratisasi, yakni hak menentukan sendiri nasion, (...) Supaya monopoli menjadi monopoli sepenuhnya, konkurensi harus dilancarkan tidak hanya dari pasar dalam negeri (dari pasar negara bersangkutan), tetapi juga pasar dari luar, harus juga dipaksakan dari luar. Apakah »dalam era kapital-finans« ada suatu kemungkinan secara ekonomi untuk memaksakan konkurensi ke suatu negara asing? Tentu ada: Alat ini adalah ketergantungan finansial dan pemborongan sumber bahan mentah dan selanjutnya juga semua perusahaan dari para pesaingnya. Trust Amerika adalah perwujudan tertinggi kegiatan perekonomian imperialisme atau kapitalisme monopoli. Untuk melenyapkan pesaingnya trust tidak membatasi kegiatannya hanya dengan usaha perekonomian saja, tetapi selalu melakukan tindakan politik dan bahkan cara-cara kriminal. (…) Trust meruntuhkan kredit konkurennya dengan bantuan bank-bank (tuan-tuan trust sekaligus penguasa bank-bank: jual beli saham), trust mencegah penyediaan material konkuren mereka (tuan-tuan trust sekaligus menjadi tuan-tuan keretaapi: jual-beli saham), dalam waktu tertentu trust menurunkan harga kredit dibawah harga ongkos produksi dan untuk itu mengeluarkan jutaan biaya demi membangkrutkan para konkurennya dan memborong perusahaan dan sumber bahan mentahnya (tambang, tanah dsb). Ini adalah analisa hakekat perekonomian kekuasaan trust dan ekspansinya. Ini adalah hakekat jarus ekspansi: memborong perusahaan, pabrik dan sumber bahan mentah. Hanya kapital-finans besar suatu negeri yang selalu mempunyai kemampuan untuk memborong konkurennya juga yang di lain negeri, negeri yang bebas, dan juga hal ini selalu dilakukannya. Yang semacam ini secara ekonomis benar-benar direalisasi. »Aneksasi« ekonomi benar-benar »bisa direalisasi« tanpa perubahan politik dan sangkut paut dengan kita. (…) Menentukan nasib sendiri suatu nasion adalah simbol untuk kemerdekaan nasion. Imperialisme berusaha melanggar hal ini, karena aneksasi politik sering lebih mudah dilaksanakan tanpa gangguan (lebih mudah menyuap pegawai negeri untuk mendapatkan konsesi, meloloskan undang-undang yang menguntungkan dsb.) - sama seperti usaha imperialisme untuk mengganti demokrasi dengan oligarki. Republik adalah suatu bentuk yang mungkin dari bangunan-atas politik masyarakat kapitalisme, dan bahkan dalam hubungan-hubungan bentuk demokrasi moderen yang paling demokratis (…) Bagaimana jenis karakter kontradiksi antara imperialisme dan demokrasi? (…) Itu adalah masalah hubungan kegiatan ekonomi terhadap politik; mengikuti hubungan keseimbangan perekonomian dan bobot perekonomian imperialisme terhadap suatu kondisi politik. (…) Sesungguhnya imperialisme »secara logika« berantagonis dengan seluruh demokrasi politik. Keterangan: Wladimir Iljitsch Lenin: Tentang karikatur atas Marxisme. Ditulis pada bulan Agustus sampai Oktober 1916. Pertama kali disiarkan 1924 sesuai manuskrip, dibandingkan dengan suatu salinan mesintulis yang sudah dikoreksi, di Swesda (Bintang) No.1 dan 2. Disini dikutip dari: W. I. Lenin: Werke, Band 23. Dietz Verlag, Berlin 1968, halaman 34–38 Selesai. Lusi 26.09.2016 Beginn der weitergeleiteten Nachricht: Datum: Thu, 22 Sep 2016 17:02:49 +0200 Von: "Lusi D." <[email protected]> An: "Chan CT" <[email protected]> Betreff: Re: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1) Terimakasih atas artikelnya Fuwa Tetsuro. Saya akan pelajari sebelum memberikan pendapat. Lusi. Rang Thu, 22 Sep 2016 21:17:46 +0800 schrieb "Chan CT" <[email protected]>: > Ada baiknya kalau bung baca saja sendiri bagaimana ketua PK Jepang, > Fuwa Tetsuro itu menjelaskan: > http://www.gelora45.com/activity/LeninDanEkonomiPasar.pdf > > > -----原始郵件----- > From: Lusi D. > Sent: Thursday, September 22, 2016 5:08 PM > To: Chan CT ; [email protected] > Cc: Tatiana Lukman ; [email protected] ; GELORA_In ; Daeng ; > Mitri ; Mang Broto ; Roeslan ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Ronggo A. ; > Lingkar Sitompul ; Jonathan Goeij ; Hsin Hui Lin ; Wuting301 ; > Marsiswo Dirgantoro Subject: Re: [GELORA45] Re: [temu_eropa] Re: > Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1) > > Ikut nimbrung sedikit. > > Bung Chan bisa menjelaskan lebih lanjut pengertian "memadukan ekonomi > sosialis dan ekonomi-pasar itu"? Hakekatnya apa yang dikatakan ekonomi > sosialis dan apa yang dimaksudkan dengan ekonomi pasar, sesuai > pengertian yang bung terima dari penjelasan Fuwa Tetsuro itu? > > Saya kutip alinea yang saya maksud sbb.: > > "> Satu-satunya andalan saya pernyataan ketua PK Jepang? Hehehee, ... > > Tapi, anda tidak mampu membantah kenyataan yang diajukan Fuwa > > Tetsuro, bahwa Lenin lah orang komunis pertama didunia ini yang > > meneliti hubungan ekonomi sosialis dan ekonomi pasar! Yang pasti > > Fuwa Tetsuro, sekalipun anda tuduh REMO, tidak memfitnah bahwa > > Lenin telah membuat kesimpulan keharusan memadukan ekonomi sosialis > > dan ekonomi-pasar itu!"? > > Salam > Lusi.- > > > > > > Am Thu, 22 Sep 2016 16:26:48 +0800 > schrieb "Chan CT" <[email protected]>: > > > Hahahaa, ... rupanya saya sedang berhadapan dengan seorang radikalis > > yang udah gak ketolongan lagi! Bagaikan binatang jalang > > meraung-raung dalam sekarat, gunakan berbagai jurus menyerang PKT > > dan berusaha membusukkan dengan segala berita/tulisan tanpa peduli > > lagi darimana sumbernya! Sungguh heibat penyataan, peduli amat dari > > Falungong, pokoknya bisa digunakan untuk menyerang dan menjelekkan > > PKT! > > > > Tanpa disadari lagi, dimana PENDIRIAN anda kalau begitu? Atau memang > > begitu ekstrimnya anda jadi tidak lagi peduli ternyata sejalan > > dengan Falungong, begundanya AS itu untuk menghujat PKT? > > Sampai-sampai begitu senangnya seperti mendapatkan “SENJATA” ampuh > > menembak saya sampai KO, tidak berkutik lagi? Padahal saya tetap > > saja duduk tenang dibelakang meja computer, lari pun tidak. > > Hehehee, ... > > > > Begitu PERCAYAnya apa yang dinyatakan Falungong “deMaoisasi” seperti > > itulah kenyataan yang ada. Padahal itu FITNAH yang sama sekali tidak > > berdasar! Tanpa berani melihat KESALAHAN dari praktek nyata yang > > telah terjadi, ... bahwa Lenin, Stalin dan Mao betapapun genius yang > > harus kita akui, tetap adalah MANUSIA normal saja yang bisa berbuat > > KESALAHAN! Bukan DEWA-DEWA yang tidak mungkin berbuat kesalahan. > > Dan, pada saat mengkritik kesalahan tertentu, jangan diangkat > > menjadi menegasi semua ajarannya bahkan menjadi anti Lenin, anti > > Mao! > > > > Satu-satunya andalan saya pernyataan ketua PK Jepang? Hehehee, ... > > Tapi, anda tidak mampu membantah kenyataan yang diajukan Fuwa > > Tetsuro, bahwa Lenin lah orang komunis pertama didunia ini yang > > meneliti hubungan ekonomi sosialis dan ekonomi pasar! Yang pasti > > Fuwa Tetsuro, sekalipun anda tuduh REMO, tidak memfitnah bahwa > > Lenin telah membuat kesimpulan keharusan memadukan ekonomi sosialis > > dan ekonomi-pasar itu! > > > > Tapi ngomong-ngomong, ... mbak Tatiana, sekarang ini didunia hanya > > Korea Utara saja yang tidak REMO, ya? Lalu bagaimana melihat video > > kehebatan Kim Jung Un dikerumuni perempuan-perempuan Korea begitu, > > bagaimana perasaan anda sebagai perempuan melihat video itu??? > > Begitukah seorang Marxis sesungguhnya didunia ini? Kalau begitu, > > biarlah saya dibilang remo saja, ketimbang dibilang Marxis modelnya > > kayak Kim Jung Un itu! Hahahaa, ... > > > > Salam, > > ChanCT > > > > > > > > From: mailto:[email protected] > > Sent: Wednesday, September 21, 2016 10:07 PM > > To: [email protected] ; GELORA_In > > Cc: Daeng ; Mitri ; Mang Broto ; Roeslan ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; > > Ronggo A. ; Lusi.D ; Lingkar Sitompul ; Jonathan Goeij ; Hsin Hui > > Lin ; Wuting301 ; Marsiswo Dirgantoro Subject: [GELORA45] Re: > > [temu_eropa] Re: Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan > > Bareng (1) > > > > > > > > Ha....ha....ha.. Udah kepojok, KO, nggak berkutik, picek lagi dan > > terus ngotot berpikir pakai dengkul!!!Falungong kek, falingging kek, > > emangnya gue pikirin!! Yang jelas "demaoisasi" tidak ada hubungannya > > dengan falunggong atau falingging...."demaoisasi" adalah bukti dari > > pengkhianatan terhadap Mao dan Fikirannya yang selalu anda coba > > sembunyikan!!!! Ah, ini mah cuma bukti yang sangat kecil sekali yang > > menguatkan seluruh argumentasi yang saya ajukan sejak perdebatan > > yang dimulai tiga tahun yang lalu. Bukti ilmiah sudah diberikan oleh > > penelitian /research para profesor dan sejarawan seperti Wertheim, > > Pao yuching, Mo Bogao, Dong Pinghan, Maurice Meisner, Ming Qili, W. > > Huttington, Hongsheng Jiang, Joseph Ball, Joel Andreas, dan oleh MAO > > TSEDONG sendiri yang sudah sejak awal mengingatkan akan BAHAYA > > restorasi kapitalis oleh kaum revisionis yang dikepalai oleh > > ¨¨Chrushchov Tiongkok yang tidur di samping kita¨¨¨¨!!! Itulah > > canang yang dikeluarkan Mao ketika RBKP. Bagi Chan, semua para > > peneliti yang saya sebut di atas adalah orang-orang penganggur dan > > hanya iseng-iseng saja bikin research!!! Oooo, jelas wong Chan itu > > seorang genius yang sudah bikin teori baru untuk mengukur negeri > > yang gimana yaRIMAKASIH ATAS KIRIMAN ARTIKELNYA ng bisa dibilang > > SOSIALIS !!! TAK PEDULI APA MODE OF PRODUCTIONNYA!!!Sedangkan > > referensi ( sampai sekarang SATU-SATUNYA referensi) yang digunakan > > Chan adalah kata-katanya pemimpin Partai Komunis Jepang > > revisionis!!!! Ha...ha...ya nggak heran apa yang ada dikepalanya > > orang-orang REMO, sejak Berstein sampai Khrustjov, Liu shaoqi, > > Deng, dan murid kerdilnya Chan!!!! > > > > > > > > On Wednesday, September 21, 2016 3:37 PM, "'Chan CT' > > [email protected] [temu_eropa]" <[email protected]> > > wrote: > > > > > > > > > > > > Inilah orang-orang penganggur yang keisengan menggunakan tulisan > > kelompok Falungong sebagai dasar pemikiran untuk menyerang PKT! > > > > > > From: Tatiana Lukman > > Sent: Wednesday, September 21, 2016 8:06 PM > > To: yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD > > Cc: Daeng ; Mitri ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Roeslan ; > > Rachmat Hadi-Soetjipto ; Ronggo A. ; Lusi.D ; Lingkar Sitompul ; > > Jonathan Goeij ; Hsin Hui Lin ; Chan CT ; Wuting301 Subject: Program > > Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1) > > > > Kalau baru sekarang orang sadar akan adanya "demaoisasi", orang itu > > kesiangan bangunnya!!! Ingat tuh hasil penelitian dan kesimpulan > > prof. Wertheim yang sejak Deng xiaoping naik panggung sudah bilang > > PKT "pura-pura mendukung Fikiran Mao Tsedong". Pernyataan siapa yang > > sesuai dengan kenyataan? Pernyataannya Chan atau prof. Wertheim? > > Boleh terus melempar dan mengobral segala macam ejekan dan julukan > > peyoratif kepada saya. Tidak masalah!Kenyataan akan terus > > membelejeti orang-orang seperti Chan sebagai pengkhianat usaha > > sosialisme dan renegat!!! Jangan membelokkan tema ke Falonggong. > > Itu bukan tema perdebatan saya. Tema perdebatan saya dengan Chan > > adalah masalah PKT yang sudah lama mengkhianati FMTT dan membongkar > > struktur sosialisme dan kepalsuan pemakaian kata "sosialisme dengan > > ciri Tkk" untuk menutupi KAPITALISME BRUTAL yang telah melahirkan > > elit Tkk yang hidup dalam kemewahan yang sangat memuakkan dan > > ratusan juta buruh dan tani dan rakyat jelata yang menderita > > penghisapan dan penindasan para kabir dan komprador yang merangkap > > anggota dan kader PKT. > > > > > > Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1) > > By Erabaru - > > > > 17/09/2016 > > Isi pidato Wang Qangjiang, kepala Biro Riset Pembangunan Partai > > pada Akademi Partai Pusat PKT, menyangkal Marxisme dan menyangkal > > ajaran Mao Zedong, menandakan teori Marxisme dan pemikiran Mao > > Zedong yang sejalan dengan PKT telah ditinggalkan oleh para > > akademisi partai, ideologi komunis pun telah usang. (internet) 9 > > September 2016, adalah peringatan 40 tahun meninggalnya sang > > diktator PKT Mao Zedong. Para pengikut Mao (faksi ekstrem kiri dari > > Partai Komunis Tiongkok/PKT-red.) sebelumnya sudah melakukan > > persiapan membuat suatu pergerakan pada peringatan 40 tahun > > meninggalnya Mao, untuk melawan aksi pemberantasan korupsi “memukul > > macan” yang dilancarkan oleh pemerintahan Xi Jinping dalam rangka > > meringkus Jiang. Akan tetapi, serangkaian kegiatan peringatan oleh > > pengikut Mao di dalam negeri dihentikan oleh pihak kepolisian, dan > > diberi peringatan. Pemerintah Beijing tidak mau melihat pemberitaan > > apa pun terkait Mao, bahkan kegiatan terkait di luar negeri pun > > dilarang. Selain itu, media massa ofisial PKT serempak membisu soal > > pemberitaan terkait topik Mao. Untuk itu agenda Xi Jinping memilih > > hari yang sama dengan hari wafatnya Mao, melakukan inspeksi > > besar-besaran di sekolah almamaternya yakni Akademi 81 dan > > menyampaikan pidato penting di sekolah tersebut. Ini membuat para > > fans Mao sangat terpukul, serangkaian fenomena ini menjelaskan, > > gerakan demaoisasi oleh pemerintahan Xi Jinping yang tadinya hanya > > di balik layar kini sudah bergeser menjadi di depan panggung. > > Menilik kembali dari awal menjabatnya Xi Jinping sebagai pemimpin > > tertinggi sejak Kongres Nasional PKT ke-18, orientasi yang ditempuh > > adalah menggulingkan Jiang bersamaan dengan itu menghapus pengaruh > > Mao (de-maoisasi). Dan fenomena lain yang muncul adalah, setiap > > kali aksi anti-korupsi “memukul harimau” yang digalakkan Xi dan > > Wang (Wang Qishan, tangan kanan Xi Jinping dalam pemberantasan KKN) > > telah mencapai tahap krusial, kubu Jiang dan para pengikut Mao > > selalu berusaha menghalangi upaya pemerintah Xi. Kubu Jiang juga > > berusaha mengacau, menjegal berbagai upaya reformasi yang > > diterapkan Xi dan Li (PM Li Keqiang) atau merusak dan mengacaukan > > tatanan hukum pada pemerintahan Xi dan Wang, atau menyerang dan > > menghambat aksi pemberantasan korupsi “memukul harimau” untuk > > menggulingkan Jiang. Baik kubu Jiang maupun pengikut Mao dengan > > berani nekad mengusung arwah Mao untuk melawan pemerintahan Xi > > Jinping, karena Mao Zedong adalah leluhur PKT, adalah asal muasal > > kediktatoran, korupsi, dan kekacauan. Mao Zedong semasa hidup, > > menerapkan teori ekstrim kiri seperti “revolusi”, dan “Perjuangan > > Kelas (konflik antar kelas)” serta serangkaian metode ekstrim untuk > > menutupi ambisi pribadinya demi menjadi kaisar turun temurun. > > “Revolusi Kebudayaan” yang dilakukan Mao di masa itu, adalah > > menggalang massa muda mudi yang lugu untuk menggulingkan pihak > > berkuasa yang berhaluan paham kapitalis, dan bersumpah melindungi > > kelangsungan Dinasti Merah”, yang realitanya guna menutupi segala > > kejahatan yang dilakukan Mao akan terungkap (seperti programnya > > Lompatan Besar ke Depan yang gagal total dan menimbulkan bencana > > kelaparan terparah dalam sejarah, Red.) jika Mao kehilangan > > kekuasaannya dan dijadikan penjahat sejarah. Kondisi Jiang Zemin > > dan para anteknya sekarang, persis seperti posisi Mao pada saat > > itu, maka itu arwah Mao pun diusung, untuk membuat kekacauan, > > menjegal, bahkan mereka tidak segan-segan melakukan aksi teror dan > > upaya pembunuhan serta kudeta untuk merebut kekuasaan tertinggi > > dari Xi Jinping, agar kejahatan Jiang Zemin berikut para > > pengikutnya tidak terungkap. Mao Zedong adalah politisi yang paling > > berambisi dalam sejarah PKT, juga seorang diktator besar, dan > > sumber segala korupsi dan kebobrokan. Teori ekstrim kirinya beserta > > perilaku tidak berperikemanusiaannya, telah menjadi pedoman bagi > > pengikutnya yakni Jiang Zemin, menjadi cadar, sekaligus jimat dan > > tameng bagi Jiang Zemin. Jadi, hanya dengan pemberantasan korupsi > > “memukul harimau” dan menggulingkan Jiang tanpa melenyapkan > > pengaruh Mao, tidak akan sempurna, tidak akan tuntas, juga tidak > > mungkin bisa mewujudkan Impian Tiongkok (yang digagas Xi) dan > > kebangkitan kebangsaan Tiongkok. Itu sebabnya pada Januari tahun > > ini, sebuah patung Mao Zedong setinggi 36 meter di provinsi Henan > > yang belum genap sehari dirampungkan pengerjaannya, sudah > > diperintahkan untuk dibongkar. Ini mungkin menjelaskan intensitas > > pemerintahan Xi Jinping. (Ran Shazhou/sud/whs) > >
Lenin: Oligarkhi Pengganti Demokrasi - 092411-in.pdf
Description: Adobe PDF document
