From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] Sent: Tuesday, September 27, 2016 2:53 AM
http://sp.beritasatu.com/ekonomidanbisnis/mochtar-riady-dunia-alami-revolusi-industri-ke-4/116935 Mochtar Riady: Dunia Alami Revolusi Industri ke-4 Kamis, 22 September 2016 | 12:20 Chairman Lippo Group Mochtar Riady [merdeka] Berita Terkait a.. Mochtar Riady: Perusahaan Keluarga Maju bila Ikuti Perubahan Zaman b.. Mochtar Riady Ingin Malang Lebih Maju c.. Mochtar Riady: E-Wallet Akan Gantikan Uang Kontan d.. Mochtar Riady: RI Masuki Era Ekonomi Digital e.. 'Saya Dilahirkan di Batu, Malang, Tapi Nasib Saya Tidak Malang' [JAKARTA] Berkembangnya era teknologi informasi (TI) harus disikapi secara cepat dan tepat oleh Pemerintah maupun dunia usaha. Pertumbuhan TI yang tak bisa ditahan ini, dikatakan Chairman Lippo Group Mochtar Riady mampu menjadi stimulan bagi suatu negara untuk terus maju. Ambil contoh Tiongkok yang kini telah menyalip negara adidaya Amerika Serikat, oleh karena kemampuannya di bidang teknologi. Dalam sambutannya di kantor BeritaSatu Media Holdings, Kamis (22/9), Mochtar menyatakan, Pemerintah dan dunia usaha harus responsif terhadap perubahan teknologi. Adapun, kemajuan suatu negara tergantung erat dengan langkah-langkah yang diambil pemerintah. Begitupun dengan perusahaan keluarga yang akan bisa terus maju generasi dari generasi asalkan mau mengikuti perubahan zaman. Pasalnya, saat ini dunia ini sedang mengalami industri revolusi yang ke-4, yakni nano technology, digital technology, dan biotechnology. Hal ini melukiskan bahwa sebuah negara ataupun perusahaan kalau tidak mengikuti perubahan tersebut maka secara otomatis, alami akan hilang di dalam kompetisi dunia ini. Apalagi, Indonesia saat ini sedang mengalami persaingan bebas dan ketatnya di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan demikian, artinya untuk membangun infrastruktur dari sebuah negara dan perusahaan dibutuhkan sensitifitas terhadap perubahan zaman khususnya teknologi dan keinginan pasar. “Kalau Pemerintah dan dunia bisnis tidak alert pada perubahan teknologi, politik dunia, dan ekonomi dunia maka dia akan tergeser. Kita sedang menghadapi perubahan industri yang ke-4 yakni informasi teknologi atau digital teknologi, nano teknologi, bioteknologi. Perubahan dari ketiga ini sangat dahsyat,” tegasnya. Lebih lanjut, menurutnya, bisnis yang mengikuti zaman tidak akan masuk kategori sunset industry. Namun, sunset factory tidak bisa terhindari karena perkembangan teknologi. “Saya pernah ditanya oleh pimpinan Sritex, ia bertanya bisnis apa yang harus dilakukan?. Oleh karena bisnisnya tekstil, maka saya tanya apakah ada orang yang tidak pakai baju. Saya berusia 88 tahun dan saya masih terus butuh pakaian yang bagus. Maka, tekstil industri bukan sunset industry, tapi sunrise tergantung pengusahanya bisa melihat kebutuhan masyarakat dan perubahan dalam teknologi ini apa tidak,” jelasnya. Mochtar yang dijuluki Manusia Ide karena ide-idenya yang revolusioner inipun mengambil contoh di industri keuangan, dalam hal ini alat pembayaran, yakni e-Payment. Dimulai dari sistem barter, penemuan alat pembayaran tunai dan kini digital merupakan penemuan terhebat manusia. Bahkan, ia memprediksi di masa depan, mesin ATM akan menjadi barang rongsokan dan kantor cabang akan menjadi beban dari bank. “Perubahan yang drastis ini menjelaskan kalau perusahaan tidak sadar akan perubahan teknologi, maka (bisnis, Red) tidak mungkin bisa berkesinambungan,” katanya. Selain itu, di masa depan, mobil juga diprediksinya tidak akan membutuhkan bahan bakar minyak lagi, melainkan baterai seiring kemajuan teknologi. Hal tersebut kini kilas balik bisa dilihat bahwa 150 tahun yang lalu segala industri tidak bisa terlepas dari dinamo motor, sekarang semuanya bergantung dengan chip. Di bidang elektronik, sambung Mochtar juga sudah terjadi perubahan besar. Di mana, empat perusahaan teknologi besar Jepang diambil alih oleh Tiongkok lima bulan terakhir. “Pertanyaan saya kenapa perusahaan yang canggih dan kuat hanya dalam 20 tahun ini dijual ke perusahaan asing khususnya Tiongkok. Pada tahun 1991, cadangan devisa Tiongkok US$ 200 juta, tidak ada jalanan yang baik, listrik tidak terang, kotanya jorok. Tapi dalam waktu 25 tahun ini Tiongkok berubah, bahkan infrastruktur modern kini ada di Tiongkok, sampai akhirnya perusahan Tiongkok bisa take over perusahaan raksasa Jepang. Pertanyaan kedua, bagaimana perusahan Tiongkok bisa menghidupkan perusahaan Jepang yang sudah collapse. Saya ingat waktu saya kecil, ada 10 keluarga yang terkaya di Malang, namun keturunan dari keluarga ini saya tidak tahu. Di Jakarta ada 20 keluarga terkaya sekarang pun tidak ada, keluarga demikian, perusahaan demikian. Ada pepatah Tiongkok, kaya tidak pernah melewati tiga generasi. Itu benar menurut saya, karena perusahan atau keluarga, tidak sensitif pada perubahan teknologi, politik, dan ekonomi,” jelas Mochtar. [O-2]
