| 
Lalu Hening…
5/6/20160 Comments Ayah saya adalah pengusaha tailor. Para tukang jahit yang 
dipekerjakan ayah saya di rumah rata-rata berasal dari Klaten dan Solo. Di 
tahun 80an, saat saya masih di bangku SD, saya mendapati ruangan paling 
belakang - yang biasanya hanya ramai dengan suara banyak mesin jahit - 
tiba-tiba riuh dengan pembicaraan soal tubuh-tubuh yang dibantai dan 
dilemparkan ke sungai yang membuatnya berubah merah. 

“Tentara yang bantai orang-orang itu.”
“Ora mung tentara. Wong-wong sipil sing dikongkon tentara yo akeh sing mateni.”*
“Iya, mereka dianggap PKI, lalu dibunuhi kayak ayam. Diputus kepalanya lalu 
dibuang ke kali.” 

Horor sekali cerita mereka.

Saya tak tahu apa yang membuat mereka mulai bicara tentang kisah horor itu. 
Saya menduga pemicunya adalah film Pengkhianatan G30S/PKI yang baru saja 
diluncurkan di bioskop lalu beberapa saat kemudian dijadikan tayangan di TVRI. 
Saya ingat saya dan murid-murid lain dibawa guru untuk menonton film itu di 
gedung pertunjukan. Saya juga ingat beberapa kali saya terpaksa menutup mata 
dengan tangan karena adegan-adegannya yang penuh darah dan kekejaman. 

Saya ingat saya yang masih kecil itu kemudian memandang PKI sebagai sesuatu 
yang membangkitkan rasa ngeri. Salah satu tetangga saya, Pak X, yang saya 
dengar ada sangkut-pautnya dengan PKI, suka saya amati diam-diam seolah-olah 
setiap detiknya akan ada kemungkinan ia mengeluarkan sesuatu yang tajam dan 
akan membunuh semua orang dengan kejam. Yang saya herankan, kedua orangtua saya 
kok biasa-biasa saja setiap bertemu dengan Pak X. Malah mereka sering mengobrol 
selayaknya kawan akrab. Ketika saya tanyakan kepada orangtua saya kenapa 
berteman dengan Pak X yang katanya orang PKI, jawaban mereka tidak panjang, 
“Memangnya kenapa kalau orang PKI? Pak X orang baik.” 

Saya bingung.

Ketika saya dengar cerita horor tentang sungai merah di ruang belakang itu, 
yang sebagian diceritakan oleh mereka yang katanya melihat sendiri, saya tak 
tahan untuk tidak bertanya,

“Jadi yang jahat sebenarnya siapa sih?”

Mereka yang mendengar pertanyaan saya hanya saling memandang satu sama lain. 
Tak ada jawaban jelas. Beberapa saat kemudian ruangan pun hening dari suara 
orang bercakap-cakap. Hanya suara mesin jahit yang terus berbunyi. 

Dan pertanyaan saya di tahun 80an itu adalah satu dari pertanyaan awal yang 
kemudian bertumpuk-tumpuk di tahun-tahun berikutnya tentang benar tidaknya 
sejarah buatan Orde Baru tentang PKI dan 1965. 

Sari Safitri Mohan
#1965setiaphari #living1965

* Terjemahan bahasa Jawa: “Tidak cuma tentara. Orang-orang sipil yang disuruh 
tentara juga banyak yang membunuh.” |

Kirim email ke