Rezim pagi dele sore tempe.
--- jonathangoeij@... wrote:
dulu dan sekarang itu lain
On Friday, September 30, 2016 1:55 AM, ajeg wrote:
Ahok itu kayak adik sama saya, jangan lupa
"Ahok tuh kayak adik sama saya, jangan lupa. Begitu dia selesai
dari bupati di Belitung, dia pengin maju jadi gubernur independen
di DKI. Dia deketin tuh almarhum istri saya,"
--- jonathangoeij@...
wrote:http://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2016/09/28/beredar-foto-ahok-datangi-romo-sandyawan-saat-2012-kini-tuding-provokator-bela-bukit-duri/
Rabu, 28 September 2016 | 12:00 WIB
Romo Sandyawan Sumardi/Facebook
POJOKSATU.id, JAKARTA – Proses relokasi pemukiman warga Bukit Duri, Tebet,
Jakarta Selatan, Rabu (28/9/2016) sudah berlangsung. Sejumlah bangunan
dirobohkan.
Warga pun hanya bisa menyaksikan bangunan rumah mereka dihancurkan mobil berat
yang dikerahkan Pemprov DKI Jakarta.
Di tengah-tengah riuhnya penolakan, media sosial dihebohkan dengan beredar foto
Gubernur Ahok saat masih menjadi cawagub DKI pada 2012 mendatangi Romo
Sandyawan Sumardi yang saat ini vokal menyuarakan penolakan penggusuran yang
dilakukan Ahok terhadap warga.
Foto yang diunggah R Graal Taliawo dalam media sosial Facebook itu mengundang
ragam komentar. Puluhan orang hingga Pojoksatu.id menurunkan berita ini sudah
menshare status ini.
Graal menulis dalam postingan itu soal ironisnya kebijakan Ahok saat ini.
Dahulu dia datang, duduk, dan diskusi secara elegan dengan warga untuk bicara
masalah penataan pemukiman bukan pengusuran. Pak Sandyawan Sumardi ketika itu
belum dicap olehnya sebagai provokator. Kini dunia telah dibalik. Warga
pemilihnya digusur sedemikian rupa yang didahului dengan stigma dan cap sebagai
pemukim ilegal. Pak Sandyawan dituduhnya sebagai dalang di balik warga yang
menolak. Jahat tapi begitulah laku politisi kita.
Dia lupa bahwa pendahulunya Jokowi pernah berkomitmen untuk mengubah yang
ilegal menjadi legal dan tidak mengusur tetapi menata. Tak kalah penting dari
itu adalah komitmen untuk melibatkan warga secara aktif dalam pembangunan
Jakarta. Faktanya? Warga hanya obyek yang harus ikut apa kata dirinya.
(sta/pojoksatu)