Pada Sabtu, 1 Oktober 2016 19:43, "Mohammad Kasim [email protected] 
[perhimpunanpersaudaraan]" <[email protected]> menulis:
 

        
TAG

   
   -    
News

    
   -    
Nasional


"Bapak Menangis di Depan Saya Mendengar Jutaan Rakyatnya Dibunuh Setelah G30S"
Sabtu, 1 Oktober 2016 | 19:03 WIB   
   - 
    
   - 
    
   - 
    
   - 
    
   - 
660SharesKristian ErdiantoSukmawati Soekarnoputri, putri dari Presiden Pertama 
RI Soekarno, saat ditemui di kantor PARA Syndicate, Jakarta Selatan, Jumat 
(30/9/2016).JAKARTA, KOMPAS.com - Jakarta, Kamis, 30 September 1965. Tepat 51 
tahun yang lalu, umur saya masih 14 tahun.Malam itu tidak ada yang berbeda 
dengan malam-malam sebelumnya. Saat itu bapak sedang tidak di rumah.Dia sedang 
menghadiri sebuah acara, kalau tidak salah Hari Teknik Nasional. Sebagai 
seorang Presiden Republik Indonesia sudah menjadi keharusan beliau menyampaikan 
pidato.Setelah acara itu Bapak tidak pulang ke Istana. Kebiasaan Bapak pada 
hari Jumat sampai Minggu, dia akan pulang ke rumah istri ketiganya, Ibu Hartini 
di Bogor.Tidak ada sesuatu apapun yang mengejutkan. Semua berjalan seperti 
biasa. Sampai pada pagi harinya, Jumat 1 Oktober 1965, saya sedang bersiap akan 
berangkat ke sekolah.Tiba-tiba pengasuh saya memanggil. "Putri, hari ini tidak 
boleh sekolah karena kabar dari Detasemen Kawal Pribadi ada jenderal yang 
diculik," kata dia.Sejak kecil saya dipanggil dengan nama Putri oleh pengasuh 
saya, bukan dengan nama asli, Sukmawati.Suasana pagi itu begitu sepi dan 
mencekam. Saya mengintip dari jendela, tidak ada satu pun ajudan Bapak yang 
berkumpul di Istana.Saya justru melihat di pagar Istana ada sekumpulan tentara 
siap tempur dengan seragam PDL (Pakaian Dinas Lapangan)."Kok aneh," pikir saya, 
karena hari itu tidak ada perayaan kenegaraan apapun."Ah mungkin karena ada 
jenderal yang diculik."Kemudian saya melihat ada seorang tentara membawa pistol 
di halaman istana, juga ada truk tentara.Aneh, padahal tidak boleh ada truk dan 
senjata api di lingkungan istana. Hanya ajudan bapak saja yang boleh membawa 
senjata di Istana.Keadaan semakin mencekam. Di dalam istana hanya ada kakak 
saya Rahmawati dan adik saya Guruh.Tidak lama kemudian seorang ajudan menyuruh 
kami berkemas untuk meninggalkan Istana. Kami diantar ke rumah Ibu di Jalan 
Sriwijaya.Saat keluar dari Istana, memang banyak tentara tak dikenal berjaga di 
depan pagar. Dari rumah, kami diminta untuk menemui Bapak di kawasan Halim.Kami 
akhirnya bertemu. Saya melihat ekspresi bapak saat itu sangat berbeda. Ekspresi 
yang tidak pernah saya lihat sejak peristiwa percobaan pembunuhan Bapak pada 30 
November 1957 di Perguruan Cikini.Siang hari itu, wajah Bapak kusut. Ada 
kesedihan dan kekalutan. Perasaan saya mengatakan ada sesuatu yang tidak benar 
sedang terjadi.Saat berada di Halim, saya melihat Bapak ditemani oleh para 
panglima tentaranya, kecuali Jenderal Ahmad Yani saja yang tidak hadir di 
situ.Kemudian bapak menyuruh saya untuk menemui Ibu yang sedang berada di 
Bandung. Setelah hari itu hidup saya berjalan seperti biasa.Tahun 1967, kami 
sekeluarga harus keluar dari Istana. MPRS mengeluarkan Ketetapan No. 
XXXIII/MPRS/1967 yang isinya pencabutan kekuasaan Presiden Soekarno atas segala 
kekuasaan pemerintah negara dan mengangkat pengemban Supersemar sebagai 
presiden, yakni Soeharto.Setelah itu, Bapak dikenai tahanan kota dan menetap di 
Wisma Yaso (sekarang Museum Satria Mandala, Jakarta) sampai akhir 1967.Pada 
awal 1968, Soekarno dikenai tahanan rumah dan dibatasi aktivitasnya, termasuk 
untuk bertemu keluarga.Bapak pernah mengatakan kepada saya bahwa dia sangat 
merasa kesepian. Banyak menteri yang masih setia kepadanya diciduk oleh 
Pemerintah.Hanya Ibu Hartini yang diperbolehkan mendampingi di rumah tahanan. 
Saya hanya bisa menjenguk ketika tim investigasi dari Angkatan Darat tidak 
datang ke rumah tananan untuk melakukan pemeriksaan.Betapa hancurnya hati 
seorang Bung Karno, setelah apa yang sudah dia berikan kepada bangsanya, malah 
dijadikan sebagai tahanan politik.(Baca: Pemerintah Wajib Minta Maaf kepada 
Korban Kasus HAM 30 September)Suatu hari saya menjenguk Bapak. Dia sudah malas 
keluar untuk jalan-jalan keliling kota, kebiasaannya sejak dulu. Hari itu dia 
hanya tidur-tiduran saja di sofa.Tiba-tiba, dia menangis tersedu sambil memeluk 
saya. Saat itu saya tidak terlalu paham kenapa Bapak menangis.Belakangan saya 
baru mengetahui, Bapak menangis karena mendengar kabar yang tidak baik setelah 
1 Oktober 1965. Terjadi pembunuhan massal terhadap rakyatnya yang dituduh 
memiliki paham komunisme.Bapak juga menangis karena dia digulingkan begitu saja 
oleh bangsanya sendiri dan jutaan rakyat yang dia cintai dibunuh untuk 
melanggengkan sebuah kekuasaan. Memang tragis, akhir hidup seorang pendiri 
bangsa.*Cerita ini disusun dari penuturan Putri Presiden pertama RI Sukmawati 
Soekarnoputri saat ditemui Kompas.com di Kantor PARA Syndicate, Jalan Wijaya, 
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (30/9/2016). Kompas TVMenteri Yasonna 
Bantah PKI Bakal Bangkit


Page:
   
   - 1
   - 2
   - Show All

| Penulis | : Kristian Erdianto |
| Editor | : Krisiandi |

Apakah Anda ingin men-share artikel ini?0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10Sangat Tidak 
InginSangat Ingin

   
   - Terpopuler
    
   - Terkomentari
+ indeks   
   - 1Fadli Zon: Sudah Bukan Rahasia Jokowi di Belakang Ahokdibaca 83.299 kali
   - 2"Bapak Menangis di Depan Saya Mendengar Jutaan Rakyatnya Dibunuh Setelah 
G30S"dibaca 30.736 kali
   - 3Video Porno di Videotron hingga Kemesraan Jokowi-Ahok, Ini 5 Topik Hangat 
Kemarindibaca 9.348 kali
   - 4Enam Peserta Upacara Hari Kesaktian Pancasila Pingsandibaca 5.442 kali
   - 5"Buruh Rokok Diupah Rendah, tetapi Pengusaha Rokok Jadi Orang 
Terkaya"dibaca 5.051 kali
   
   - News
   - Nasional
   - Regional
   - Megapolitan
   - Internasional
   
   - Olah Raga
   - Sains
   - Edukasi
   - Infografis
   - Surat Pembaca
   
   - Ekonomi
   - Bola
   - Tekno
   - Entertainment
   - Otomotif
   - Health
   
   - Female
   - Travel
   - Properti
   - Foto
   - Video
   - Forum
   
   - Indeks Berita
   - Indeks Headlines
   - Indeks Berita Pilihan
   - Indeks Topik Pilihan
   - Indeks Terpopuler
   - Indeks Terkomentari
   
   - About Us
 -    
   - Advertise
 -    
   - Policy
 -    
   - Pedoman Media Siber
 -    
   - Career
 -    
   - Contact Us
 -    
   - Site Map
©2008 - 2015 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights 
Reserved.   
   - 
    
   - 
    
   - 
 
   
   - 
  #yiv7466341189 -- #yiv7466341189ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189ygrp-mkp #yiv7466341189hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-mkp #yiv7466341189ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-mkp .yiv7466341189ad 
{padding:0 0;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-mkp .yiv7466341189ad p 
{margin:0;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-mkp .yiv7466341189ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-sponsor 
#yiv7466341189ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189ygrp-sponsor #yiv7466341189ygrp-lc #yiv7466341189hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189ygrp-sponsor #yiv7466341189ygrp-lc .yiv7466341189ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7466341189 #yiv7466341189actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7466341189
 #yiv7466341189activity span {font-weight:700;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv7466341189 #yiv7466341189activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7466341189 #yiv7466341189activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv7466341189 #yiv7466341189activity span 
.yiv7466341189underline {text-decoration:underline;}#yiv7466341189 
.yiv7466341189attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv7466341189 .yiv7466341189attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv7466341189 .yiv7466341189attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7466341189 .yiv7466341189attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7466341189 .yiv7466341189attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv7466341189 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv7466341189 .yiv7466341189bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7466341189 
.yiv7466341189bold a {text-decoration:none;}#yiv7466341189 dd.yiv7466341189last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7466341189 dd.yiv7466341189last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7466341189 
dd.yiv7466341189last p span.yiv7466341189yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv7466341189 div.yiv7466341189attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv7466341189 div.yiv7466341189attach-table 
{width:400px;}#yiv7466341189 div.yiv7466341189file-title a, #yiv7466341189 
div.yiv7466341189file-title a:active, #yiv7466341189 
div.yiv7466341189file-title a:hover, #yiv7466341189 div.yiv7466341189file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7466341189 div.yiv7466341189photo-title a, 
#yiv7466341189 div.yiv7466341189photo-title a:active, #yiv7466341189 
div.yiv7466341189photo-title a:hover, #yiv7466341189 
div.yiv7466341189photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7466341189 
div#yiv7466341189ygrp-mlmsg #yiv7466341189ygrp-msg p a 
span.yiv7466341189yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7466341189 
.yiv7466341189green {color:#628c2a;}#yiv7466341189 .yiv7466341189MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv7466341189 o {font-size:0;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189photos div {float:left;width:72px;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7466341189
 #yiv7466341189reco-category {font-size:77%;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189reco-desc {font-size:77%;}#yiv7466341189 .yiv7466341189replbq 
{margin:4px;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189ygrp-mlmsg select, #yiv7466341189 input, #yiv7466341189 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189ygrp-mlmsg pre, #yiv7466341189 code {font:115% 
monospace;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-mlmsg #yiv7466341189logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-msg 
p#yiv7466341189attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189ygrp-reco #yiv7466341189reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-sponsor 
#yiv7466341189ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189ygrp-sponsor #yiv7466341189ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189ygrp-sponsor #yiv7466341189ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv7466341189 #yiv7466341189ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7466341189 
#yiv7466341189ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv7466341189 

   

Kirim email ke