Tampilkan pesan asli Pada Sabtu, 1 Oktober 2016 21:26, "Mohammad Kasim
[email protected] [perhimpunanpersaudaraan]"
<[email protected]> menulis:
DAFTAR / MASUKCari
- Home
- Politik
- Nasional
- Ekonomi
- Internasional
- Olahraga
- Teknologi
- Hiburan
- Gaya Hidup
- Infografis
- Fokus
- Lainnya
Home / Nasional / Berita Peristiwa
Laporan Khusus
Lapisan Dusta di Balik Legenda Kekejaman Gerwani
Yuliawati, Gilang Fauzi & Anggi Kusumadewi, CNN IndonesiaJumat, 30/09/2016
13:37 WIBMassa antikomunis memberangus segala hal berbau PKI dan Gerwani
pasca-G30S. (AFP Photo)Jakarta, CNN Indonesia -- Sainah, seorang gadis 17
tahun, menjadi sorotan media dua bulan setelah peristiwa penculikan dan
pembunuhan tujuh perwira Angkatan Darat pada 30 September 1965.
Sainah disebut-sebut sebagai anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang
melakukan Tarian Harum Bunga di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
“Tarian Bunga Harum itu merupakan tarian perangsang jang kotor, sehingga
menimbulkan kelakuan-kelakuan asusila di antara para peserta gerakan Kontrev
G30S di Lubang Buaja,” bunyi petikan berita harian Kompas, Senin 13 Desember
1965.
Pers ketika itu mengutip keterangan dari Ketua Tim Pemeriksa dan Interogasi
Jawa Barat, Mayor Danamiharja. Menurut Danamiharja, Sainah bergabung di Lubang
Buaya atas permintaan Pelda Angkatan Udara bernama Jusuf.
Sainah disebut dijanjikan honorarium Rp100 ribu. Ia bersama teman-teman
perempuan lainnya ditugaskan menari telanjang bulat setiap hari. Tarian itu
dikenal dengan nama Tari Harum Bunga.
“Kalau tarian serupa ini diadakan, maka berbondong-bondonglah 400 orang
laki-laki sebagai ‘penonton’. Maka timbullah ‘pergaulan bebas’, di mana tiap
wanita diharuskan melajani tiga sampai empat orang laki-laki.”
Tarian Bunga Harum itu semacam puncak propaganda yang disebarkan secara resmi
oleh aparat ketika itu. Kabar itu berembus cepat, setelah sebelumnya Gerwani
juga disebut menyiksa tujuh perwira AD –menusuk-nusuk mereka dengan pisau dan
menyileti alat vital para korban.
|
Baca juga:
Melacak Misteri di Balik Imajinasi Kengerian Gerwani |
| Harian Kompas melaporkan tentang Tarian Bunga Harum yang disebut dilakukan
oleh perempuan Gerwani. (Dok. Istimewa) |
Sejumlah perempuan dari Gerwani, menurut penelitian profesor dan antropolog
Universitas Amsterdam Saskia Eleonora Wieringa, memang berada di Lubang Buaya
menjelang aksi dari kelompok yang menamakan diri Gerakan 30 September.
Namun, Gerwani sebagai organisasi tak pernah terbukti terlibat dalam aksi
penyiksaan dan pembunuhan para perwira AD.
Latihan Ganyang Malaysia
Tanggal 30 September 1965, Suharti Suwarto, seorang anggota Gerwani berpaham
komunis garis keras, datang ke kantor pusat Gerwani. Dia mengatakan, perlu
sejumlah perempuan untuk latihan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) di Lubang Buaya.
Dwikora ialah bagian dari kebijakan konfrontasi Malaysia oleh pemerintah
Sukarno. Saat itu Presiden Sukarno menentang niat Federasi Malaya untuk
menggabungkan Brunei, Sabah, dan Sarawak karena menganggapnya sebagai boneka
Inggris.
Sejak Juli 1965, Lubang Buaya menjadi lokasi latihan Ganyang Malaysia bagi
sukarelawan Dwikora, mulai anggota PKI, Pemuda Rakyat, Sentral Organisasi Buruh
Seluruh Indonesia (SOBSI), Buruh Tani Indonesia, sampai Gerwani.
Namun pada 30 September itu, para pengurus Gerwani di kantor pusat heran dengan
permintaan Suharti untuk menyediakan tenaga untuk latihan Dwikora.
"Menurut mereka, hal itu belum pernah dibahas dalam rapat. Meski demikian
Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat Gerwani, Sulami, menyanggupi permintaan
Suharti," kata Saskia seperti tertulis dalam buku Penghancuran Gerakan
Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI.
Sulami pun menjemput empat anggota Gerwani dan mengirim mereka ke Lubang Buaya.
Namun sehari sesudah mengirim sukarelawan ke Lubang Buaya, 1 Oktober 1965,
Sulami kaget mendengar kabar tentang upaya kudeta yang dilakukan G30S.
|
Baca juga:
Meniti Lorong Waktu Lubang Buaya, Pusat Petaka 30 September |
| Salah satu diorama di Museum Pengkhianatan PKI yang memperlihatkan peristiwa
saat jasad jenderal Angkatan Darat dimasukkan ke dalam sumur di Lubang Buaya.
(CNN Indonesia/Gilang Fauzi) |
Para gadis Gerwani yang datang dari Lubang Buaya, tiba di kantor dan
kebingungan mendengar cerita pembunuhan para jenderal AD.
Seorang sukarelawan bernama Siti Arifah, kepada Saskia pada Februari 1983,
menceritakan peristiwa yang ia lihat di Lubang Buaya.
“Saya menyaksikan para serdadu membunuh beberapa orang jenderal, kemudian saya
lari pulang. Saya ditangkap pada jam sembilan pagi, lalu ditahan di penjara
selama dua minggu. Saya diinterogasi dan dicambuki. Mereka memaksa kami
telanjang bulat dan menari-nari di depan mereka,” kata Siti seperti dituturkan
dalam buku karya Saskia.
Setelah peristiwa itu, beredarlah berbagai dongeng tentang kekejaman dan aksi
tak senonoh yang dilakukan Gerwani. Para perempuan Gerwani diterpa isu
melakukan tarian telanjang dan menyileti kemaluan para perwira.
Desas-desus itu disusul dengan aksi aparat menanggapi anggota Gerwani hingga ke
pelosok daerah. Mereka yang melarikan diri, hidup dalam buronan. Banyak yang
akhirnya tertangkap dan dipenjara.
Para tahanan politik perempuan itu lantas menghadapi penyiksaan dan pemerkosaan.
Sejumlah lokasi penyiksaan yang terkenal antara lain Penjara Bukit Duri di
Jakarta Selatan, dan bekas sekolah Tionghoa di Jalan Gunung Sahari, Jakarta
Pusat, yang kemudian dikenal dengan sebutan “rumah setan.”
|
Baca juga:
Kisah Getir Aktivis Gerwani dan Sidang Subversif |
Pelacur
Saat itu terdapat tiga perempuan di Lubang Buaya yang selalu mendapat
pemberitaan di media, yakni Sainah, Emy, dan Atikah Djamilah. Para perempuan
itu, menurut penghuni penjara Bukit Duri, dipaksa mengaku melakukan berbagai
kekejaman di Lubang Buaya.
Emy misalnya, ialah pelacur yang disiksa untuk mengaku sebagai anggota Gerwani.
Dia masuk ke penjara Bukit Duri dan bergabung dengan tahanan politik pada 1967.
“Dia buta huruf, dan diminta memberikan cap jempol dari berita acara
pemeriksaan yang tak diketahui isinya,” kata Sri Sulistyawati, mantan tahanan
politik Bukit Duri.
Isi surat pernyataan itu memberitakan bahwa dia adalah Ketua Gerwani Jakarta
dan ambil bagian dalam penyiksaan kelamin pada jenderal di Lubang Buaya.
Padahal, kata Sri, Emy merupakan pelacur yang biasa berdiam di Halim
Perdanakusuma, Jakarta Timur. Emy akhirnya dilepaskan pada 1979.
“Selama di penjara, para anggota Gerwani mengajari Emy baca tulis dan
menjelaskan kepadanya apa dan bagaimana Gerwani itu,” kata Sudjinah, salah satu
pengurus DPP Gerwani, dalam buku Saskia.
Sudjinah yang menghadapi sidang pengadilan atas tuduhan subversif pernah
mengajukan kisah Emy kepada hakim. Dia juga bercerita tentang para perempuan
mengaku Gerwani yang membuat kesaksian setelah mendapat siksaan kejam.
Namun, semua yang dikatakan Sudjinah tak diindahkan.
Selain Emy, Jamilah juga dipublikasikan sebagai anggota Gerwani yang terlibat
memutilasi para jenderal.
Jamilah dikenal sebagai Srikandi Lubang Buaya. Pengakuannya bahwa dia
memutilasi alat vital para perwira AD ditulis beberapa media, antara lain
Angkatan Bersenjata dan Sinar Harapan yang terbit pada 5 dan 6 November 1965.
Dalam laporan itu, Jamilah mengatakan melakukan perbuatan itu atas perintah
pimpinan Gerwani berinisial S dan Sas.
Sejak muncul berita-berita itu, demonstran mahasiswa ramai berteriak “Gerwani
Cabo,” “Gantung Gerwani,” dan “Ganyang Gerwani.”
|
Baca juga
Kiamat Gerwani: Diburu Dibinasakan dari Pusat hingga Daerah |
| Salah satu surat kabar memberitakan aksi demonstrasi anti-PKI dan Gerwani
pasca-G30S. (Dok. Istimewa) |
Pada 2011, Gramedia menerbitkan buku berjudul Aku Bukan Jamilah dengan kata
pengantar dari Koesalah Toer, adik kandung Pramoedya Toer. Buku itu berisi
pengakuan Jemilah, yang namanya selama itu disebut sebagai Jamilah.
Jemilah adalah gadis kampung asal Pacitan, Jawa Timur. Ia bercerita, baru saja
menikah dengan pria bernama Haryanto dan tinggal di Jakarta sejak 1965. Suami
Jemilah adalah aktivis SOBSI.
Baru beberapa bulan Jemilah menikah, meletus peristiwa G30S. Jemilah pun
berencana pulang kampung.
Namun di tengah perjalanan menuju terminal bus, kendaraan yang ditumpanginya
dicegat tentara. Ketika itu tentara sedang mencari seseorang bernama Atikah
Jamilah.
Atikah Jamilah itulah yang menurut militer mencungkil mata para jenderal.
Jemilah lalu dibawa ke kamp dan diinterogasi. Lewat berbagai penyiksaan, dia
terpaksa mengaku sebagai Atikah Jamilah.
Setelah itu berbagai media menyantap rekayasa informasi atas nama Jamilah.
Lihat Focus: Gerwani di Pusaran Misteri 1965
Sukarno Geram, Soeharto Mendongeng
Bertebarannya kabar tidak masuk akal mengenai perbuatan asusila dan kekejian
yang dituduhkan kepada aktivis Gerwani, membuat Presiden Sukarno geram.
Dia berupaya meredam gejolak fitnah lewat siaran radio. “Adakah rakyatku sudah
begitu bodohnya dan percaya tentang kabar omong-kosong yang menyatakan beberapa
ratus wanita telah memotong buah zakar para jenderal dengan sebuah pisau silet?”
Namun, pernyataan Sukarno itu tak ada hasilnya. Pun meski dia berusaha
membendung gelombang kekerasan dengan mengumumkan hasil autopsi para jenderal.
Hanya satu media yang memuat hasil autopsi itu: Sinar Harapan pada 13 Desember
1965.
Hasil visum et repertum oleh Tim Autopsi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat
(RSPAD) Gatot Subroto atas jenazah tujuh perwira menunjukkan mereka tewas
karena tertembak. Visum menyatakan tak ada luka sayatan pada kelamin para
korban.
Prof. Dr. Arif Budianto, ahli forensik Universitas Indonesia yang tergabung
dalam tim autopsi, membantah sejumlah laporan soal penyiletan alat vital yang
diberitakan oleh Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata, dua harian di bawah
militer.
“Kami periksa penis-penis para korban dengan teliti. Jangankan terpotong,
bahkan luka iris saja sama sekali tidak ada. Kami periksa benar itu, dan saya
berani berkata itu benar. Itu faktanya,” kata Arif kepada Majalah D&R edisi 3
Oktober 1998 seperti dikutip dari bukuSiapa Dalang G30S?
“Soal mata yang dicongkel, memang kondisi mayat ada yag bola matanya copot,
tapi itu karena sudah lebih dari tiga hari terendam, bukan karena dicongkel
paksa. Saya sampai periksa dengan saksama tepi mata dan tulang-tulang sekitar
kelopak mata, apakah ada tulang yang tergores. Ternyata tidak ditemukan,” ujar
Arif.
Pemberitaan media-media kala itu, menurut Arif, membuat tim autopsi ketakutan
karena mereka tak menemukan fakta yang sama.
Hasil autopsi tak berpengaruh apapun.
Pada saat bersamaan, Jenderal Soeharto berpidato seolah berita bohong atas
Gerwani adalah kebenaran. Ia, di hadapan 30 ribu orang perempuan, memberikan
peringatan tentang pentingnya meluruskan moral kaum perempuan.
“Mereka telah meninggalkan kepribadian kita, karena mereka telah merusak
kepribadian kaum wanita Indonesia. Wanita sebagai ibu memiliki peranan khusus
dalam mendidik anak-anak. Generasi muda kita harus diselamatkan agar tidak
terjerumus ke dalam kerusakan moral kaum kontrarevolusioner,” kata Soeharto
seperti dikutip dari Berita Yudha, 9 November 1965.
|
Baca juga:
Gerwani, Srikandi yang Ditumpas Orde Baru |
Gencarnya pemberitaan fitnah soal Gerwani menimbulkan ketakutan sekaligus
kemarahan di tengah masyarakat.
“Rakyat secara psikologis dipersiapkan untuk melakukan pembunuhan terhadap para
tetangganya atau siapapun yang ditengarai anggota PKI atau ormasnya,” kata
Saskia.
Akibat kemarahan yang dibentuk rangkaian kabar bohong itu, sekitar setengah
hingga satu juta orang mati terbunuh di seantero Indonesia.
Sementara jumlah tahanan politik mencapai lebih dari 20 ribu orang, dengan
hanya 800 di antaranya yang menjalani persidangan.
Sukarno yang dianggap tak mampu melindungi massanya kehilangan separuh
pengaruh, dan kehancuran PKI dan ormasnya melapangkan jalan Soeharto menuju
kekuasaan.
Rezim baru berdiri di atas darah dan dusta. (yul/agk)
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Gerwani di Pusaran Misteri 1965Artikel Terkait
- Jumat, 30/09/2016 10:01
Gerwani, PKI, dan Kemelut Politik di Belakang Sukarno
- Kamis, 29/09/2016 16:07
Kisah Getir Aktivis Gerwani dan Sidang Subversif
- Kamis, 29/09/2016 14:39
Meniti Lorong Waktu Lubang Buaya, Pusat Petaka 30 September
- Kamis, 29/09/2016 12:57
Kiamat Gerwani: Diburu Dibinasakan dari Pusat hingga Daerah
Artikel Lainnya
- Sabtu, 01/10/2016 22:00
Ahok Bakal Cabut Videotron di Jakarta
- Sabtu, 01/10/2016 11:37
Pemerintah Minta Jangan Saling Menyalahkan soal 1965
- Sabtu, 01/10/2016 10:23
Wiranto: 1965 Negara Bahaya, Tak Bisa Dinilai Hukum Masa Kini
- Sabtu, 01/10/2016 08:45
Jokowi Pimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila
17 KOMENTARFokus
-
'Serangan' Luhut di Teluk Jakarta
-
Terlupakan di Lahan Tambang
-
Bara di Hutan Riau
-
Gerwani di Pusaran Misteri 1965
-
Ketua DPD Diringkus KPK
-
Impian Jakarta Bebas Macet
Terpopuler
- Sabtu, 01/10/2016 22:00 WIB
Ahok Bakal Cabut Videotron di Jakarta
- Sabtu, 01/10/2016 20:13 WIB
Kemacetan Parah Tol Jakarta Cikampek Berangsur Pulih
- Sabtu, 01/10/2016 11:37 WIB
Pemerintah Minta Jangan Saling Menyalahkan soal 1965
- Sabtu, 01/10/2016 06:46 WIB
Asvi Warman: Lewat Buku, Sejarah Kelam 1965 Disesatkan
- Sabtu, 01/10/2016 15:34 WIB
Agus Widjojo dan Malam Penculikan 1965
CNN Video
-
Gerwani, yang Musnah Diterpa Badai Fitnah
-
Transjakarta vs Mobil Pribadi, Adu Cepat Tembus Macet
-
Mengintip Kemajuan Pembangunan MRT Jakarta
-
Mereklamasi Tambang, Melindungi Lingkungan
-
Ihwal Tambang Kaltim: Perizinan Hingga Pengawasan
-
Bandara Soetta Belum Siap Antisipasi Virus Zika
-
-
-
-
Home Politik Nasional Ekonomi Internasional Olahraga Teknologi Hiburan Gaya
Hidup Infografis Fokus© 2016 Trans Media, CNN name, logo and all associated
elements (R) and © 2016 Cable News Network, Inc. A Time Warner Company. All
rights reserved. CNN and the CNN logo are registered marks of Cable News
Network, Inc., displayed with permission.Tentang Kami|Redaksi|Pedoman Media
Siber|Karir|DisclaimerCNN U.S. | CNN International | CNN en ESPAÑOL | CNN Chile
| CNN México | العربية | 日本語 | Türkçe #yiv9690147690 #yiv9690147690 --
#yiv9690147690ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-mkp #yiv9690147690hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-mkp #yiv9690147690ads
{margin-bottom:10px;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-mkp .yiv9690147690ad
{padding:0 0;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-mkp .yiv9690147690ad p
{margin:0;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-mkp .yiv9690147690ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-sponsor
#yiv9690147690ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9690147690
#yiv9690147690ygrp-sponsor #yiv9690147690ygrp-lc #yiv9690147690hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9690147690
#yiv9690147690ygrp-sponsor #yiv9690147690ygrp-lc .yiv9690147690ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9690147690 #yiv9690147690actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9690147690
#yiv9690147690activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9690147690
#yiv9690147690activity span {font-weight:700;}#yiv9690147690
#yiv9690147690activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv9690147690 #yiv9690147690activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9690147690 #yiv9690147690activity span
span {color:#ff7900;}#yiv9690147690 #yiv9690147690activity span
.yiv9690147690underline {text-decoration:underline;}#yiv9690147690
.yiv9690147690attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv9690147690 .yiv9690147690attach div a
{text-decoration:none;}#yiv9690147690 .yiv9690147690attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9690147690 .yiv9690147690attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9690147690 .yiv9690147690attach label a
{text-decoration:none;}#yiv9690147690 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv9690147690 .yiv9690147690bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9690147690
.yiv9690147690bold a {text-decoration:none;}#yiv9690147690 dd.yiv9690147690last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9690147690 dd.yiv9690147690last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9690147690
dd.yiv9690147690last p span.yiv9690147690yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv9690147690 div.yiv9690147690attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv9690147690 div.yiv9690147690attach-table
{width:400px;}#yiv9690147690 div.yiv9690147690file-title a, #yiv9690147690
div.yiv9690147690file-title a:active, #yiv9690147690
div.yiv9690147690file-title a:hover, #yiv9690147690 div.yiv9690147690file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9690147690 div.yiv9690147690photo-title a,
#yiv9690147690 div.yiv9690147690photo-title a:active, #yiv9690147690
div.yiv9690147690photo-title a:hover, #yiv9690147690
div.yiv9690147690photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9690147690
div#yiv9690147690ygrp-mlmsg #yiv9690147690ygrp-msg p a
span.yiv9690147690yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9690147690
.yiv9690147690green {color:#628c2a;}#yiv9690147690 .yiv9690147690MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv9690147690 o {font-size:0;}#yiv9690147690
#yiv9690147690photos div {float:left;width:72px;}#yiv9690147690
#yiv9690147690photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9690147690
#yiv9690147690photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9690147690
#yiv9690147690reco-category {font-size:77%;}#yiv9690147690
#yiv9690147690reco-desc {font-size:77%;}#yiv9690147690 .yiv9690147690replbq
{margin:4px;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9690147690
#yiv9690147690ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9690147690
#yiv9690147690ygrp-mlmsg select, #yiv9690147690 input, #yiv9690147690 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9690147690
#yiv9690147690ygrp-mlmsg pre, #yiv9690147690 code {font:115%
monospace;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-mlmsg #yiv9690147690logo
{padding-bottom:10px;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-msg
p#yiv9690147690attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9690147690
#yiv9690147690ygrp-reco #yiv9690147690reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-sponsor
#yiv9690147690ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9690147690
#yiv9690147690ygrp-sponsor #yiv9690147690ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9690147690
#yiv9690147690ygrp-sponsor #yiv9690147690ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv9690147690 #yiv9690147690ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9690147690
#yiv9690147690ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv9690147690