Sayangnya, pada 1 Oktober 65 pagi hari itu, Presiden Soekarno membiarkan
pembangkangan yang dilakukan oleh Soeharto atas dirinya, ketika beliau
memanggil Pranoto Reksosamudra, di jawab dengan kasar oleh
Soeharto. Sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia, Bung Karno seharusnya waktu itu melakukan Hukum Militer
yaitu Sapta Marga dan Sumpah Prajurit dengan memecat Soeharto dari
segala kedudukannya sebagai militer. Ya, sayangnya disitu.......! Bung
Karno kurang tegas, dikentutin dan ditantang Soeharto begitu rupa, ya
rapopo....... malahan berucap "kalau diambil tindakan, kasihan rakyat
dan Indonesia bakal terpecah belah".........Dan menunggu "komando" Bung
Karno yang tak kunjung keluar, 3 juta rakyat dibantai Soeharto, ratusan
kalau tidak ribuan para prajurit, perwira dan petinggi ABRI dilenyapkan
oleh Soeharto dan Sarwo Edhi Wibowo/RPKAD. Dan akhirnya.......Soeharto
lenggang kangkung menuju Istana Negara........setelah menahan dan
membunuh pelan-pelan Bapak Bangsa, Pemimpin Rakyat Indonesia: Bung
Karno. Bayangkan......Soeharto, ex. Sersan KNIL, tentara Kolonialis
Belanda (mana ada tentara kolonialis yang membela rakyat!), menjadi
Presiden Republik Indonesia........sampai 32 tahun .....!!! Opo ora
heibat.......???
------ Original Message ------
From: "'Chan CT' [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>
To: "GELORA_In" <[email protected]>
Sent: Sunday, 2 Oct, 2016 At 11:21 AM
Subject: [GELORA45] "Bapak Menangis di Depan Saya Mendengar Jutaan
Rakyatnya Dibunuh Setelah G30S"
"Bapak Menangis di Depan Saya Mendengar Jutaan Rakyatnya Dibunuh
Setelah G30S"
http://nasional.kompas.com/read/2016/10/01/19031381/.bapak.menangis.di.depan.saya.mendengar.jutaan.rakyatnya.dibunuh.setelah.g30s.?page=all
<http://nasional.kompas.com/read/2016/10/01/19031381/.bapak.menangis.di.depan.saya.mendengar.jutaan.rakyatnya.dibunuh.setelah.g30s.?page=all>
Sabtu, 1 Oktober 2016 | 19:03 WIB
clip_image001
Kristian ErdiantoSukmawati Soekarnoputri, putri dari Presiden Pertama
RI Soekarno, saat ditemui di kantor PARA Syndicate, Jakarta Selatan,
Jumat (30/9/2016).
JAKARTA, KOMPAS.com - Jakarta, Kamis, 30 September 1965. Tepat 51 tahun
yang lalu, umur saya masih 14 tahun.
Malam itu tidak ada yang berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Saat itu
bapak sedang tidak di rumah.
Dia sedang menghadiri sebuah acara, kalau tidak salah Hari Teknik
Nasional. Sebagai seorang Presiden Republik Indonesia sudah menjadi
keharusan beliau menyampaikan pidato.
Setelah acara itu Bapak tidak pulang ke Istana. Kebiasaan Bapak pada
hari Jumat sampai Minggu, dia akan pulang ke rumah istri ketiganya, Ibu
Hartini di Bogor.
Tidak ada sesuatu apapun yang mengejutkan. Semua berjalan seperti biasa.
Sampai pada pagi harinya, Jumat 1 Oktober 1965, saya sedang bersiap
akan berangkat ke sekolah.
Tiba-tiba pengasuh saya memanggil. "Putri, hari ini tidak boleh sekolah
karena kabar dari Detasemen Kawal Pribadi ada jenderal yang diculik,"
kata dia.
Sejak kecil saya dipanggil dengan nama Putri oleh pengasuh saya, bukan
dengan nama asli, Sukmawati.
Suasana pagi itu begitu sepi dan mencekam. Saya mengintip dari jendela,
tidak ada satu pun ajudan Bapak yang berkumpul di Istana.
Saya justru melihat di pagar Istana ada sekumpulan tentara siap tempur
dengan seragam PDL (Pakaian Dinas Lapangan).
"Kok aneh," pikir saya, karena hari itu tidak ada perayaan kenegaraan
apapun.
"Ah mungkin karena ada jenderal yang diculik."
Kemudian saya melihat ada seorang tentara membawa pistol di halaman
istana, juga ada truk tentara.
Aneh, padahal tidak boleh ada truk dan senjata api di lingkungan istana.
Hanya ajudan bapak saja yang boleh membawa senjata di Istana.
Keadaan semakin mencekam. Di dalam istana hanya ada kakak saya Rahmawati
dan adik saya Guruh.
Tidak lama kemudian seorang ajudan menyuruh kami berkemas untuk
meninggalkan Istana. Kami diantar ke rumah Ibu di Jalan Sriwijaya.
Saat keluar dari Istana, memang banyak tentara tak dikenal berjaga di
depan pagar. Dari rumah, kami diminta untuk menemui Bapak di kawasan
Halim.
Kami akhirnya bertemu. Saya melihat ekspresi bapak saat itu sangat
berbeda. Ekspresi yang tidak pernah saya lihat sejak peristiwa
percobaan pembunuhan Bapak pada 30 November 1957 di Perguruan Cikini.
Siang hari itu, wajah Bapak kusut. Ada kesedihan dan kekalutan. Perasaan
saya mengatakan ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi.
Saat berada di Halim, saya melihat Bapak ditemani oleh para panglima
tentaranya, kecuali Jenderal Ahmad Yani saja yang tidak hadir di situ.
Kemudian bapak menyuruh saya untuk menemui Ibu yang sedang berada di
Bandung. Setelah hari itu hidup saya berjalan seperti biasa.
Tahun 1967, kami sekeluarga harus keluar dari Istana. MPRS mengeluarkan
Ketetapan No. XXXIII/MPRS/1967 yang isinya pencabutan kekuasaan
Presiden Soekarno atas segala kekuasaan pemerintah negara dan
mengangkat pengemban Supersemar sebagai presiden, yakni Soeharto.
Setelah itu, Bapak dikenai tahanan kota dan menetap di Wisma Yaso
(sekarang Museum Satria Mandala, Jakarta) sampai akhir 1967.
Pada awal 1968, Soekarno dikenai tahanan rumah dan dibatasi
aktivitasnya, termasuk untuk bertemu keluarga.
Bapak pernah mengatakan kepada saya bahwa dia sangat merasa kesepian.
Banyak menteri yang masih setia kepadanya diciduk oleh Pemerintah.
Hanya Ibu Hartini yang diperbolehkan mendampingi di rumah tahanan. Saya
hanya bisa menjenguk ketika tim investigasi dari Angkatan Darat tidak
datang ke rumah tananan untuk melakukan pemeriksaan.
Betapa hancurnya hati seorang Bung Karno, setelah apa yang sudah dia
berikan kepada bangsanya, malah dijadikan sebagai tahanan politik.
(Baca: Pemerintah Wajib Minta Maaf kepada Korban Kasus HAM 30 September
<http://nasional.kompas.com/read/2015/09/28/15200611/Pemerintah.Wajib.Minta.Maaf.kepada.Korban.Kasus.HAM.30.September>
)
Suatu hari saya menjenguk Bapak. Dia sudah malas keluar untuk
jalan-jalan keliling kota, kebiasaannya sejak dulu. Hari itu dia hanya
tidur-tiduran saja di sofa.
Tiba-tiba, dia menangis tersedu sambil memeluk saya. Saat itu saya tidak
terlalu paham kenapa Bapak menangis.
Belakangan saya baru mengetahui, Bapak menangis karena mendengar kabar
yang tidak baik setelah 1 Oktober 1965. Terjadi pembunuhan massal
terhadap rakyatnya yang dituduh memiliki paham komunisme.
Bapak juga menangis karena dia digulingkan begitu saja oleh bangsanya
sendiri dan jutaan rakyat yang dia cintai dibunuh untuk melanggengkan
sebuah kekuasaan. Memang tragis, akhir hidup seorang pendiri bangsa.
*Cerita ini disusun dari penuturan Putri Presiden pertama RI Sukmawati
Soekarnoputri saat ditemui Kompas.com di Kantor PARA Syndicate, Jalan
Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (30/9/2016).
Kompas TVMenteri Yasonna Bantah PKI Bakal Bangkit