http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20160930214045-241-162521/aidit-dalam-wajah-sejarah-yang-kalah/
 
http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20160930214045-241-162521/aidit-dalam-wajah-sejarah-yang-kalah/

  
 Aidit dalam Wajah Sejarah yang Kalah Prima Gumilang, CNN Indonesia
 Sabtu, 01/10/2016 12:42 WIB
 
 

 
 Lukisan Galam Zulkifli yang diturunkan karena berisi wajah DN Aidit. (Dok. 
Galam Zulkifli)
 
 Jakarta, CNN Indonesia -- Papan kulit papirus berdimensi 200 cm x 600 cm itu 
dipenuhi wajah. Galam Zulkifli menggambar Bapak Proklamator Indonesia, Soekarno 
dan Mohammad Hatta, dengan ukuran yang tampak lebih besar dibanding ratusan 
wajah lainnya.

Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Pramoedya Ananta Toer, K.H. Abdurrahman Wahid, 
hingga Inul Daratista pun bersanding dalam satu lukisan yang sama. The 
Indonesian Idea, judul lukisan yang dipamerkan di Terminal 3 Ultimate Bandara 
Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

Tapi lukisan itu tak bertahan lama. Empat hari setelah dipajang pada peresmian 
terminal, 9 Agustus 2016, lukisan itu ramai diperbincangkan. Pada 12 Agustus 
2016 siang, lukisan itu lantas diturunkan.

Hanya gara-gara satu wajah yang nyaris tak disadari ada di sana. Itu adalah 
wajah Dipa Nusantara Aidit, atau lebih dikenal dengan sebutan DN Aidit.

Tokoh Partai Komunis Indonesia itu diapit pendiri Nahdlatul Ulama K.H. Hasyim 
Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan. Gambar wajah Aidit 
sebenarnya tidak lebih besar dari ukuran dagu Hasyim Asy’ari di sebelahnya.

Ukuran wajah yang berada di tengah, paling bawah kanvas itu sama besar dengan 
sejumlah tokoh pemberontak lainnya. Sejajar dengan pemimpin Darul Islam 
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, pemimpin PKI 1948 Musso, dan tokoh DI/TII 
Sulawesi Abdul Kahar Muzakkar.

 Pilihan Redaksi
 Oey Hay Djoen: Cerita Soal 'Tahanan Politik 001' 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150929175436-20-81654/oey-hay-djoen-cerita-soal-tahanan-politik-001/
 Genjer-genjer: Dendang Tercela Lagu Stigma 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150929183655-20-81667/genjer-genjer-dendang-tercela-lagu-stigma/
 Kisah Tapol G30S: Mengubah Buru Menjadi Pulau 'Surga' 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150930094147-20-81752/kisah-tapol-g30s-mengubah-buru-menjadi-pulau-surga/
 Bingkai Peristiwa '65 Dulu dan Sekarang 
http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20160930205434-241-162510/bingkai-peristiwa-65-dulu-dan-sekarang/
Mengalah pada Kegaduhan

Jumat siang itu, lukisan sempat ditutupi kain putih sebelum akhirnya 
diturunkan. Galam sempat berpesan kepada kuratornya Chris Darmawan sebelum 
lukisan itu ditanggalkan, pihak penyelenggara seharusnya bisa menjelaskan 
secara logis, ilmiah dan terbuka ke publik tentang makna karya itu.

Namun Angkasa Pura II selaku penyelenggara pameran lukisan punya pertimbangan 
lain. Karya itu tetap diturunkan untuk menghindari kontroversi di tengah 
publik. Bahkan hingga kini, Galam mengaku belum pernah berkomunikasi lagi 
dengan Angkasa Pura II.

Humas Angkasa Pura II Agus Haryadi mengatakan pihaknya telah menjelaskan ke 
publik secara komprehensif mengenai lukisan tersebut. Dia menyebutnya lukisan 
seribu wajah yang menggambarkan perjalanan bangsa Indonesia melalui 
representasi tokoh-tokoh pada zamannya.

Agus menilai, Indonesia tidak serta-merta menjadi seperti yang sekarang. Ada 
proses panjang yang menyertainya. Mulai dari perdebatan bentuk negara, 
ideologi, hingga dasar negara. Hingga akhirnya Indonesia merdeka dengan tokoh 
sentralnya Soekarno-Hatta. Semuanya dilukiskan. Wajah Bung Karno dan Bung Hatta 
dibikin paling dominan.

 Lukisan yang dipamerkan di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta. (Dok. 
Galam Zulkifli)

“Yang ada di lukisan itu bukan hanya Aidit, tapi ada juga tokoh yang menurut 
kami bukan pahlawan. Mereka mau enggak mau memang bagian dari perjalanan bangsa 
Indonesia hingga menjadi seperti ini,” kata Agus.

Tapi media massa punya bingkai tersendiri untuk memotret kasus itu. Menurut 
Agus, informasi yang diberikan tidak proporsional. Parsial.

“Foto itu di-crop, di-zoom, yang difoto hanya Aidit. Jadi seolah-olah 
terinformasi hanya gambar Aidit yang ada di situ, tanpa memberitahu latar 
belakangnya,” ujar Agus.

Sayangnya, berita miring soal lukisan seribu wajah itu telanjur jadi viral di 
media sosial. Angkasa Pura II tak ingin lukisan itu menimbulkan polemik 
berkepanjangan. Mereka akhirnya mengalah pada kegaduhan segelintir orang yang 
tak paham sejarah.

“Kami ambil cara lain. Daripada bikin gaduh, akhirnya kami turunkan saja. 
Walaupun kami bisa menjelaskan maknanya. Itu tidak ada unsur pidana atau apa 
pun, apalagi subversif,” kata Agus.

Agus mengaku pihaknya sempat dihampiri aparat keamanan. Namun ketika itu 
lukisan telah diturunkan. “Kami repot didatangi aparat,” ujarnya.

Dia membantah proses penurunan lukisan atas desakan aparat keamanan. “Enggak 
ada. Penurunan itu inisiatif kami saja,” tuturnya. Agus mengatakan, lukisan itu 
kini disimpan di tempat yang aman di dalam bandara.

 Empat ratus wajah dengan latar ideologi dan praksis (kerja) di atas kanvas 
adalah ikhtiar untuk menaikkan yang terinjak, memunculkan yang hilang, dan 
menyatukan yang terserak.Galam ZulkifliMerangkum Tokoh dari Titik Peristiwa

Pada hari yang sama, sekitar pukul 10, Galam baru saja bangun tidur. Sang 
pelukis belum menyadari karyanya menjadi polemik. Hanya ada banyak pesan masuk 
di telepon selularnya. Salah satunya dari kurator lukisan Chris Darmawan.

Chris mengonfirmasi kebenaran adanya wajah Aidit dalam lukisan itu, sambil 
menyertakan tautan berita yang menjadi viral di media sosial. Dia juga meminta 
Galam mengecek lini masa Twitter di mana lukisannya banyak diperdebatkan.

Pelukis asal Yogyakarta itu lalu balik menghubungi Chris. Galam membenarkan 
adanya wajah Aidit dalam lukisan itu. Dia sempat membaca berita dan segera 
memahami persoalannya.

“Banyak orang mengira saya menyisipkan Aidit,” kata Galam kepada 
CNNIndonesia.com.

Galam menilai, sebagian besar orang yang mempersoalkan Aidit dalam lukisannya 
tak memahami sejarah. Mereka hanya melihat karyanya setengah-setengah. 
Menurutnya, lukisan harus dipandang secara utuh, konsep maupun konteksnya. 

“Saya heran juga, banyak sekali dari kita yang buta sejarah, bukan saya 
memvonis, tapi saya menyadari kok kita enggak paham sejarah,” ungkapnya. 

Dia menjelaskan, konteks visual lukisan tersebut menjelaskan sejarah Indonesia, 
sejak awal masa pergerakan pada abad ke-20 hingga saat ini. Banyak tokoh ikut 
mewarnai proses menjadi Indonesia, baik sebagai pahlawan maupun pemberontak. 

Galam mengatakan, lukisannya menggambarkan setiap titik peristiwa dalam sejarah 
Indonesia melalui tokoh sentralnya. Tjokroaminoto misalnya, menandai awal masa 
pergerakan nasional. Proklamasi Kemerdekaan RI dilukiskan melalui tokoh 
Soekarno-Hatta. 

“Tokoh itu sebagai representasi peristiwa. Karena ini lukisan, saya harus 
memvisualisasikannya dengan wajah,” jelasnya.

Begitu pula dengan sejumlah peristiwa pemberontakan. Pada peristiwa Gerakan 30 
September 1965, Galam tidak hanya menggambar pahlawan revolusi yang menjadi 
korban. Dia juga menampilkan Aidit untuk mewakili tokoh antagonisnya. 

“Tapi dikesankan saya hanya melukis Aidit, padahal kalau kita mendalami 
sejarah, hampir semua pemberontakan yang ada di Indonesia ada semua di lukisan 
itu,” ujar Galam.

Kartosoewirjo, Kahar Muzakkar, Musso, Andi Aziz, Ventje Sumual, merupakan tokoh 
pemberontakan di Indonesia yang juga dia goreskan dalam lukisan tersebut.

Saat menyodorkan lukisan itu, Galam meminta pihak penyelenggara menyimak video 
presentasi proyeknya. Dalam video itu dijelaskan profil tokoh yang masuk dalam 
lukisan. Galam berharap melalui video itu, konteks dan konsep penyusunan karya 
dapat dijelaskan dengan klir.

“Empat ratus wajah dengan latar ideologi dan praksis (kerja) di atas kanvas 
adalah ikhtiar menaikkan yang terinjak, memunculkan yang hilang, dan menyatukan 
yang terserak,” tulis Galam dalam video tersebut.

“Lewat ‘jalan cahaya’ sebagai metode visual, simulasi dari ilusi itu 
menyadarkan kita betapa anugerah keragaman ide ini rapuh, goyah. Salah satu 
merawatnya adalah menampilkannya secara adil, berani, dan nondiskriminatif.”

 Lukisan jika dilihat menggunakan lampu ultraviolet. (Dok. Galam Zulkifli)

Peran Aidit yang Dikecilkan

Tak ada sedikit pun di benak Galam untuk menyebarkan ide komunisme atau 
mengampanyekan PKI dalam lukisannya. The Indonesian Idea mewadahi banyak wajah, 
ratusan tokoh.

“Kecuali kalau saya hanya menggambar Aidit saja dengan simbol komunisnya, tentu 
sangat tendesius sekali,” ucap Galam.

Hal yang sama, kata Galam, juga dilakukan para penulis buku pelajaran sejarah 
yang memunculkan cerita Aidit dalam peristiwa G30S. Atau seorang pembuat film 
sejarah yang menampilkan sosok Aidit dalam cuplikan filmnya meski hanya sekilas.

“Saya sama sekali enggak kepikiran, kecuali di situ hanya Aidit. Saya dalam 
posisi netral mengungkapkan sejarah,” kata Galam.

Keberadaan Aidit bukan didasari pertimbangan yang disengaja. Galam mengaku 
telah melakukan proses riset yang cukup panjang. Dia menemukan fakta sejarah 
bahwa pada era itu banyak tokoh, baik pahlawan maupun pemberontak, terlibat 
aktif dalam pendirian Republik. 

Berdasarkan risetnya, mau tidak mau tokoh PKI itu masuk dalam lukisan. Dalam 
sejarahnya, Aidit adalah salah satu pemuda yang ikut mendesak kelompok tua 
segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Namun peristiwa G30S membuat Aidit dan partainya jatuh, bahkan dibumihanguskan. 
Sebagai ketua partai, Aidit dituduh bertanggung jawab atas tewasnya para 
jenderal TNI Angkatan Darat di Jakarta. Peran Aidit pun dikecilkan.

“Jadi kalau di lukisan itu wajah Aidit kecil, dalam fakta sejarah yang saya 
temukan memang dia dikecilkan keberadaannya, tetapi tidak dihilangkan. Karena 
saya temukan di pelajaran sekolah juga ada, ketika peristiwa G30S nama Aidit 
muncul,” jelas Galam.

Besar dan kecilnya ukuran wajah dalam lukisan menjadi salah satu pertimbangan 
Galam untuk menunjukkan peranan tokoh. Ada tokoh yang memang wajahnya dibuat 
paling dominan. Menyusul ukuran Soekarno dan Hatta, ada para presiden RI. 

“Saya tidak memanipulasi sejarah itu dengan membuat karya yang seharusnya besar 
saya kecilkan, atau yang kecil saya besarkan,” jelasnya.

Karya itu merupakan kewenangan pelukis seutuhnya. Pihak Angkasa Pura bahkan 
tidak mempersoalkan isi lukisan tersebut. “Masalah karya apa yang saya buat, 
mereka enggak urus. Saya bilang ingin buat karya tentang sejarah Indonesia,” 
katanya.

Awalnya Galam ingin melukis sejarah Indonesia sejak masa Gajah Mada. Namun 
waktu yang tersisa untuk menyelesaikan karya itu tak mencukupi. Dia hanya punya 
waktu tiga bulan sebelum akhir Mei 2016. Pada awal Juni, rencananya akan 
dipamerkan. 

Pameran molor dari rencana awal. Bandara mengalami kendala teknis lantaran 
belum selesai infrastrukturnya. Barulah pada 9 Agustus karya itu dipamerkan. 
Hanya bertahan empat hari, lukisan karya pelukis kelas dunia itu dicopot.

“Kalau orang yang paham sejarah, mungkin justru kritiknya ada beberapa tokoh 
yang kurang dimasukkan, bukan justru meniadakan tokoh yang sudah ada,” ucap 
Galam, yang tak bisa melakukan apa-apa ketika lukisannya pun ‘ditiadakan.’ (rsa)
 

 

 

Kirim email ke