Siauw Giok Tjhan, PKI dan Sosialisme (1)
Dalam salah satu jawaban kepada Chan, sayamenyinggung pendapat Siauw Tiong Djin dalam beberapa tulisannya, antara lain, “Riwayat Seorang Pejuang Patriot…..; “Sumbangsih SGT dan Baperki”, “Legacy Siau Giok Tjhan-100 Tahun”. Berikut adalah reaksi yang sayapostingkan. Tatiana:BTW, ada point dalam buku itu yang menurut saya masih harus dibuktikan apakahsesuai dengan kenyataan. Point yang saya maksud adalah yang mempertentangkanSGT dengan pimpinan/politikus PKI. Yangsaya maksud adalah paragraph berikut: “Dalam hal inil Siauwsecara gamblang memperjuangkan dipertahankannya system kapitalisme yangmenjamin tumbuhnya modal domestic, yang pada umumnya berada dikelola oleh parapengusaha Tionghoa. Banyak pengusaha yang terlibat dalam pengelolaan modaldomestic ini kemudian menjadi pendukung Baperki. Bahkan sebagian besar anggotaBaperki terdiri dari para pengusaha kecil menengah. Prinsip ini dengansendirinya bertentangan dengan paham komunisme dan di dalam berbagai perdebatandi parlemen, Siauw kerap bertentangan dengan para politikus PKI.” Pertama, untuk bisa menerima dan percaya bahwa memang betul diparlemen sering terjadi pertentanganantara Siauw dan para politikus PKI, berkaitan dengan pengusaha kecil danmenengah dan kapitalisme, Tiong Djin harus menunjukkan bukti. Orang bisa tanya,mana bahan referensinya. Ini adalah masalah serius! Menyangkut politikus PKIketika itu. Tidak bisa orang membuat pernyataan begitu tanpa dasar dan buktikongkrit. Nah, kelihatan di sini betapa penting meneliti masalahnya sebelummengeluarkan pernyataan. Salah satu ajaran Mao adalah tanpa penyelidikantentang masalahnya, kamu tidak punya hak untuk bicara tentang masalah itu. Kamubaru punya hak bicara tentang suatu hal kalau kamu sudah menyelidikinya dengandalam dan baik. Kedua, orang juga dapat menanyakannya kepada Tiong Djin, apabetul SGT ketika itu menganggap atau mengkarakterisasi sistim ekonomi Indonesiasebagai kapitalisme (secara gamblang memperjuangkan dipertahankannya sistimkapitalisme?). Kapan dan di mana SGT menyatakan hal itu? Ketiga, PKI menganggap tahap revolusi Indonesia ketika ituadalah Revolusi nasional demokratis. Tujuan revolusi inmediate bukanlahsosialisme, melainkan pemerintahan koalisi (pemerintahan demokrasi rakyat) dimana borjuasi nasional bukan musuh revolusi. Di bawah ini pernyataan M.HLukman dalam “Adjakan PKIKepada Kaum Pengusaha Nasional (Laporan tambahan Wakil Ketua I CC PKI kepadaSidang Pleno I CC PKI, disampaikan pada tanggal 11 Februari 1963). “Politik Partai kita mengenai kaum pengusaha nasionalsudah cukup jelas. Hal ini dinyatakan di dalam Program Umum Partai kita yangberbunyi sbb: “Ekonomi Indonesia, disampingmengutamakan ekonomi sector negara sebagai sector yang memimpin, tidakseharusnya menentang industri dan perdagangan yang diselenggarakan oleh kaumkapitalis nasional, melainkan harus dengan konsekwen menentang ekonomi kaumimperialis dan feodal. Ekonomi kaum kapitalisnasional justru harus dikembangkan, dan untuk ini syaratnya adalahdihapuskannya sistim ekonomi imperialis dan feodal. Proteksi dan fasilitetharus diberikan kepada kapitalis-kapitalis nasional, terutamaindustrialis-industrialis nasional, untuk berkembang dalambatas-batasyang tak dapat menguasai kehidupan rakyat dan negara, dan di samping ituekonomi individuil Rakyat pekerja harus dibantu”. Dengan programini berarti bahwa Partai kita, sebagai Partai klas buruh, dengan tegas menetapkan bahwadalam tingkat revolusi nasional dan demokratis sekarang, klas kapitalisnasional bukan saja tidak menjadi sasaran revolusi, tetapi malahan dilindungi.Dengan perkataan lain, klas kapitalis nasional bukan saja tidak merupakankekuatan yang harus dimusuhi, tetapi malahan merupakan kekuatan yang dapat danharus diajak membantu menyelesaikan tuntutan-tuntutan Revolusi Agustus sampaike akar-akarnya. Terus terang, saya tidak melihat perbedaan ataupertentangan pandangan antara SGT denganPKI dalam hal pengusaha nasional atau borjuasi nasional. Siapapun boleh mengkritik dan menghujatpimpinan PKI. Yang saya tolak adalah pemalsuan dan pemutarbalikkan. Kemudian masih ada lagi hal yang anehdalam buku ini. Di satu pihak Tiong Djin menyatakan “Program ekonomi Siauw menganjurkan dipertahankannya sistim kapitalismeyang memungkinkan pengembangan modal domestik untuk pembangunan ekonominasional. Paham ini jelas bertentangan dengan paham komunisme”. Tiong Djin lupabahwa Mao tsedong menerapkan dan menggunakan mekanisme ekonomi kapitalis,dengan kata lain kapitalisme Negara dari tahun 1949 sampai tahun 50-an. Begitujuga Lenin dengan kebijakan NEP-nya. Sudah tentu kapitalisme Negara yangditerapkan di bawah kontrol Negara dan partai klas proletar TIDAK SAMA dengankapitalisme yang diterapkan Negara-negara borjuis. Tapi di bagian lain saya temukan “ Ia tetap teguhberpendirian bahwa sosialisme adalah jalan keluar yang harus ditempuhIndonesia. Dalam konteks ini ia menekankan bahwa sosialisme yang terwujud harusbersandar kepada system pemerintahan yang demokratis dengan program yangmenciptakan kemakmuran merata.” Gimana ini? Apa yang diperjuangkan SGT seumur hidupnya? Sosialisme atauKapitalisme? Yang saya khawatirkan adalah Tiong Djin menggunakanfigure SGT untuk mengajukan dan membela pendirian dan pandangan pribadinya sendiriyang anti-sosialis, anti-komunis, anti-PKI dan pro-kapitalis. Dan sikappro-kapitalis ini juga jelas dengan gamblang tercermin dalam diri Chan. Dibawah ini adalah jawaban Chan dan juga bantahan saya kepada jawabannya itu. Chan: Maksudnya, Perdebatan Siauw dgn sementara tokohPKI di DPR yang berlangsung di zaman Demokrasi Parlementer (1949 – 1959). Sedang di zaman Demokrasi Terpimpin (1959-1965), tentu program ekonomi PKI jugasudah berubah. Program ekonomi PKI yang keluar seirama dengan GBHN tentangdomestic capital sebagaimana yang dicanangkan SGT itu. Kalau sudah masuk dalamGBHN bagaimana tidak didukung oleh PKI?! Tatiana: Soal bersekutu denganborjuasi nasional SAMA SEKALI tidak adahubungannya dengan GBHN. Itu adalahkonsekwensi dari ANALISA KELAS sebuahmasyarakat setengah jajahan setengah feodal seperti Indonesia dan juga Tiongkoksebelum pembebasan tahun 1949. Anda mengaku seorang Marxis, tapi selalumenghindari Analisa Kelas, tidak pernahbisa menjawab pertanyaan/permintaan saya untuk membuat analisa kelas dalammasyarakat Tkk sekarang untuk mengetahui siapa musuh dan kawan revolusi , yangmenurut anda di Tkk sekarang masih “Revolusi Demokrasi Baru”. Dalam masyarakat setengahjajahan setengah feudal, kelas borjuasi nasional BUKAN SASARAN REVOLUSI (sudah berpuluh kali saya ajukan halini). Kaum bornas adalah sekutudan masuk dalam Front Persatuan Nasional. Mao menerapkan kebijakanini dalam periode Revolusi DemokrasiBaru. Oleh karena itu, adanyadukungan kaum kapitalis nasional Tkk kepada Mao dalam periode RDB bukanlahsesuatu yang aneh (anda pernah menyinggung nama seorang kapitalis Tkkyang mendukung Mao dalam RDB). PENYAKIT SERIUS yang andaderita adalah anda ngotot(tapi tanpa argumentasi!) tidak mau mengakui bahwa Mao sudah menyelesaikan RDB padatahun 50-an, dan sudah maju menuju revolusi Sosialis melalui gerakan kolektivisasi dipedasaan sampai komune rakyat, sedangkan Liu-Deng ingin terus mempertahankan tani dengansebidang tanah kecilnya dan dikembangkan melalui ekonomi pasar untuk menujukapitalisme.!!!! Buktinya adalah perlawanannya kepada gerakan koperasi (dengan membubarkan 200.000koperasi dalam waktu dua bulan) dankomune rakyat. Dan pada tahun 1962, Liu Shaoqi mengklaim “the peasants have gainednothing from the collective economy in the last few years.”[See “Struggle Between the TwoRoads in China's Countryside”, by the Editorial Departments of "RenminRibao," "Hongqi" and "Jiefangjun Bao", in PekingReview, No. 49, December 1, 1967, p.15. ] Juga sudah berpuluh kalisaya katakan bahwa anda berpihak kepada Liu-Deng dan menyalahkan Mao karena anda anggap “terburu-buru” membawa Tkk ketahap revolusi sosialis. DiIndonesia, masyarakatnya juga setengah jajahan setengah feudal, oleh karena itudalam ANALISA KELAS, BORJUASI NASIONAL bukan sasaran revolusi nasionaldemokratis. PKI menetapkan tahaprevolusi nasional demokratis di Indonesia bukan setelah 1959!!! Sejak PKI mengkarakterisasimasyarakat Indonesia sebagai setengah jajahan setengah feudal, dengansendirinya watak revolusinya adalah nasional dan demokratis, bukan sosialis. Tidak ada perubahanprogram dalam kaitannya dengan sifat revolusi. Baca baik-baik tulisan DNA dalam“Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia”, tahun 1957: “Program PKI menyatakan bahwa “kelas buruh, kaum tani, borjuasikecil, dan borjuasi nasional harus bersatu dalam satu front nasional”.Front nasional adalah gabungan antara kekuatan progresif dan kekuatan tengah. Kekuatan tengah pada pokoknya ialah kekuatan borjuasi nasional.” Jadikebijakan bersekutu dengan bornas bukan diciptakan oleh SGT. Membolehkanborjuasi nasional/modal nasional /modal domestik berkembang untuk mengembangkanekonomi nasional bukanlah politik ekonomi yang ditemukan SGT. Dan jugabukan PKI yang menemukan. Adalah Mao yang dengan jelas dan gamblang meletakkan garis Revolusi nasional demokratisdi mana kaum bornas dikategorisasi sebagai sekutu Revolusi. Dan sebelum Mao, Leninjuga mengkarakterisasi Revolusi 1917 sebagai revolusi borjuis demokratis di manatugas pokok revolusi adalah melakukan penyitaaan tanah bagi kaum tani untukmengakhiri kepemilikan tanah oleh tuan tanah/feodalisme. Berikut kata-kata Lenin dalam “FourthAnniversary of the October Revolution” :” The direct and immediate object of the revolutionin Russia was a bourgeois-democratic one,namely, to destroy the survivals of medievalism and sweep them away completely,to purge Russia of this barbarism, of this shame, and to remove this immenseobstacle to all culture and progress in our country”. Saya kutip ini untuk menekankan lagi bahwa apa yang sayatulis adalah berdasarkan pada teori dan fakta sejarah. Jadi bukan “kreasisubjektif otak saya sendiri”. Anda sangat meremehkanteori dan mengejek saya yang anda anggap hanya bicara soal teori saja. Tidakkahanda sadar bahwa tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan revolusioner. Buktinya banyaksekali gerakan di dunia ini, seperti misalnya yang terjadi di Mesir dan Tunisia:berbulan-bulan rakyat turun ke jalan dan bertahan dengan pengorbanan sangat besar, ditumpas. Dan tidak ada lagi kelanjutannya.Di Tkk sendiri, karena yang membimbing sekarang adalah fikiran revisionis DengXiaoping, FMTT hanya sebagai polesanbibir saja (pura-pura mendukung FMTT, menurut pak Wertheim), maka gerakan yangada juga bukan gerakan revolusioner, melainkan gerakan reaksioner aliasrevisionis yang mengembalikan Tkk ke jaman penindasan dan penghisapan. Teori revolusioner jugaberasal dari praktek. Tapi bagi anda HANYA ada SATU praktek, yaitu sistim dan masyarakat Tkksekarang yang selalu anda banggakan. Kembali ke soal kapitalisnasional di Soviet Uni. Dipaksa untuk menghadapi perang sipil, kaum Bolshevikmenerapkan kebijakan War Communism. Setelah selesai Perang sipil, diambil NEP sebagailangkah mundur strategis untukmenghidupkan kembali ekonomi yang hancur dan kelaparan yang melanda seluruh negeri. Ini artinya mengembangkan ekonomi nasional melalui kapitalisme Negara di bawah kontrolKediktaturan Proletariat. So Pleasssssse,JANGANMEMALSU SEJARAH !!!Jangan memutar balik sejarah!! JANGAN IKUT- IKUT SUHARTO MEMALSU SEJARAH!!!Kalian benci kepada pimpinanPKI, itu hak anda. Saya sama sekali tidak tersinggung atau marah. Anda maukultus kepada SGT, itu juga hak anda. Saya tidak peduli. Tapi memalsu fakta untuk menghujat PKI akanselalu saya lawan!!! Afirmasianda tentang “perdebatan SGT dengan sementara tokoh PKI di DPRyang berlangsung di zaman Demokrasi Parlementer (1949 – 1959)” sama sekali tidak didukung olehfakta sejarah, kesaksian atau bahan referensi. Secara subjektif (karenamau berpikir pakai otak sendiri) andamengarang bahwa ada perubahan dalam program PKI. Tak pernah terlintas dalam benak anda untuk membuat ANALISA KELAS masyarakatIndonesia dan konsekwensinya bagi karakterisasi Revolusi Indonesia, bukan? SELAMAtidak bisa mengajukan bukti yang dapat dipercaya, siapapun dapat mengatakanbahwa anda memalsu fakta sejarah, hanya ingin “membersihkan” SGT dari tuduhan“komunis”. Rupanya bagi kalian mendapatnama “komunis” adalah sebuah NODA. Maka itu merasa perlu menjauhkan SGT dari PKI. Bahkan mempertentangkannya!!! SILAHKAN,ASAL TANPA MEMUTAR BALIK FAKTA SEJARAH. Ingat Tjiptaning yang menulis "Saya Bangga Jadi Anak PKI"? Masing-masing punya kebanggaannya sendiri, bukan? Chan: Nampak jelas anda dalam membaca buku kurang jeli atau tidak gunakan otak sendiri menganalisa maknatulisan itu. Tatiana: Anda tetapmenuduh saya tidak gunakan otak sendiri . Jadi argumentasi yang saya ajukanuntuk membantah tuduhan tsb. sama sekali anda lewatkan, tidak anda jawab. Bacabaik-baik sekali lagi jawaban saya yang berkaitan dengan tuduhan kepada saya “Andaterpaku dengan apa yang tertera dalam buku-buku teori, bagaimana yang tertulisdinyatakan oleh Lenin tanpa BERANI berpikir sendiri, sedang saya lebih sukagunakan otak sendiri dan berusaha menemukan kebenaran sesuai kenyataan yangdihadapi, apa yang diucapkan hanyalah bahan pertimbangan saja! Saya tetapberpendapat kebenaran teori itu lahir dan dibuktikan dalam PRAKTEK!” Ini jawaban saya. Tatiana: Jelas, kita bukan hanya berbeda,tapi bertentangan, tidak saja dalam metode berpikir tapi juga dalam pendiriankelas dan keberpihak-an. Semua orang yang pernah berdebat dengan anda, tahubahwa anda selalu berpihak kepada kaum majikan, kaum pemodal, terutama kaumpemodal Tiongkok (tidak heran karena tanah leluhur, bukan? Makanya modalnya-punjadi “berbeda” dengan modalnya orangbule, lebih “manis” dan “berkemanusiaan”!!!) Anda pernah juga bilang susah berdiskusidengan saya, karena saya mengutip kata-kata orang lain, dan tidak pakai otaksendiri. Sekarang anda tambahkan “tidak berani berpikir sendiri.” Pernahkah anda mengajukan pertanyaanmengapa orang yang menulis sebuah research, sebuah penelitian, selalumenyertainya dengan deretan buku-buku dan artikel sebagai referensi? Dan untukapa deretan referensi itu? Mengapa penulis membutuhkan membaca puluhan buku,artikel dan mencari segala macam informasi dalam segala bentuk???Mengapa tidakmenulis dari otaknya sendiri saja tanpa konsultasi penelitian atau researchorang lain??? Bayangkan seandainya saya menulis danmembuat pernyataan tanpa menghadirkan bukti-bukti yang juga ditemukan olehpuluhan peneliti itu? Akankah itu membuat anda percaya begitu saja padapernyataan dan afirmasi saya? Tidakkah saya akan dikatakan :”ah itu kan hanyapikiran subjektifnya sendiri?” Tahukah anda mengapa anda merasa “susah”menghadapi saya dalam perdebatan ini? Karena argumentasi saya jitu, kenasasaran, masuk akal dan so overwhelming!!! Dan argumentasi itu didukung olehbanyak peneliti. Bukan pikiran subjektif saya saja atau “ngobos” seperti yanganda tuduhkan! Anda sudah dibikin KO oleh argumentasi-argumentasi itu. Sudahtentu anda tidak mau mengakui hal ini. Oleh karena itu anda sering menyerangpribadi saya, melewatkan begitu saja semua argumentasi dan pertanyaan saya danmengalihkannya ke hal-hal yang tidak sustansial!! Mengapa Siauw Tiong Djin memerlukanmewawancarai begitu banyak orang, termasuk professor Wertheim, untuk menulisbuku tentang Siauw Giok Tjhan??? Di buku itu juga ada daftar referensinya.Mengapa dia perlu mengatakan kadang-kadang, menurut si anu….. Mengapa dia tidakmenulis dari otaknya sendiri saja. Tidak beranikan dia berpikir sendiri, pakaiotak sendiri ???Padahal yang dia tulis hanyalah tentang ayahnya sendiri. Buat apa wawancara dan referensi itu? Semua argumentasi di atas sama sekalitidak anda bantah. Saya tambahkan. Apakah yang ada katakan “sedang saya lebih suka gunakan otaksendiri” adalah termasuk memalsu faktasejarah dan/atau menganggap pikiran subjektif anda sebagai satu fakta dan kebenaran? Itulahmengapa saya selalu mengatakan bahwa anda adalah orang yang sangat angkuh dansombong tapi kosong karena menganggap pendapat sendirilah yang benar, walaupun tidak didukung oleh fakta atau argumenttasiyang masuk akal. Chan: Kalimat itu dikutipsaat STDjin menjelaskan kondisi BAPERKI dimasa NASAKOM, setelah memasuki tahun60-an, saat itu yang dinamakan negeri sosialis didunia ini, memang tidak adalagi model memadukan ekonomi sosialis dan ekonomi pasar, termasuk Mao diTiongkok. Jadi, tidak salah dikatakan Program ekonomi Siauw yang tetapmenganjurkan dipertahankannya sistim kapitalisme ketika itu bertentangan denganpaham komunisme. Tatiana: Pada tahun 60-an tidak ada sistimyang mengklaim dirinya sebagai perpaduan ekonomi sosialis dan ekonomi pasar.Ketika itu sistim yang ada di Tkk adalahsosialisme. Dan di Soviet Uni, Partai komunisnya sudah didominasi oleh kaumrevisionis Khrushchov, dan secara ekonomi, restorasi kapitalisme sedangberjalan. Yang saya persoalkan bukanlah “sistimkapitalisme bertentangan dengan paham komunisme”. Tak seorangpun yang membantahkapitalisme bertentangan dengan paham komunisme! Yang saya persoalkan dan tanyakan adalah kalimat Tiong Djin sbb:” “Dalam hal inil Siauw secara gamblang memperjuangkan dipertahankannyasystem kapitalisme yang menjamin tumbuhnya modal domestic, yang pada umumnyaberada dikelola oleh para pengusaha Tionghoa”. Kemudian di bagian lain ia tulis lagi: “Program ekonomi Siauwmenganjurkan dipertahankannya sistim kapitalisme yang memungkinkan pengembanganmodal domestik untuk pembangunan ekonomi nasional”. Berkaitan dengansoal itu SUDAH saya ajukan pertanyaan “orangjuga dapat menanyakannya kepada Tiong Djin, apa betul SGT ketika itu menganggap atau mengkarakterisasi sistimekonomi Indonesia sebagai kapitalisme (“secara gamblang memperjuangkandipertahan-kannya sistim kapitalisme?). Kapan dan di mana SGT menyatakan halitu? Pertanyaan ini TIDAK anda jawab. Berkaitan denganitu, kemudian saya tampilkan kutipan tulisan M.H. Lukman yang dengan JELAS DANGAMBLANG memperlihatkan bahwa PKI juga tidak ingin menghapuskan kapitalismenasional pada tahap revolusi nasional demokratis. Oleh karena itu jelas antaraSGT dan PKI tidak ada pertentangan pendapat dan pengertian dalam hal borjuasinasional alias kapitalis nasional, alias pemilik modal domestik. Sengaja sayaulang-ulang dan pakai nama yang berbeda, supaya JELAS DAN GAMBLANG bagi andasehingga tidak lagi memutar balik! Jadi bantahananda di atas TIDAK ADA ISINYA alias KOSONG alias SAMA SEKALI TIDAK KENA SASARAN ! Renungkan sendiri siapa yangberpikir dan menganalisa pakai otak dan akal sehat dan didukung oleh faktasejarah dan mengajukan referensi. Dan siapa yang mengklaim dirinya berpikirpakai otak tapi semua pernyataannya sama sekali tidak didukung oleh fakta danreferensi apapun. Bersambung….
