Susi: Program Penanggulangan Banjir Jakarta Justru Mengundang Banjir yang Lebih 
Besar
Rabu, 5 Oktober 2016 | 9:20

http://sp.beritasatu.com/home/susi-program-penanggulangan-banjir-jakarta-justru-mengundang-banjir-yang-lebih-besar/117071
 

Susi Pudjiastuti. [www.cnnindonesia.com] 



Berita Terkait

§  Ahok: Bangunan Bersertifikat di Kemang Tak Bisa Digusur, Kecuali Dibayar

§  400 KK Terlindung dari Banjir Berkat Water Pond Milik Kemang Village

§  Ahok: Bangunan Resmi di Bibir Kali Jadi Masalah Normalisasi Krukut

§  DKI Akan Ambil Lahan Kali Krukut dengan Konsinyasi

§  Ahok: Krukut Memang Kali Paling Bermasalah

[JAKARTA] Menteri Perikanan dan Kelautan, Susi Pudjiastuti mengaku tak heran 
dengan banjir yang masih terus melanda Jakarta. Sebagai seorang yang 
berkecimpung di bidang lingkungan, Susi menilai program-program penanggulangan 
banjir yang dicanangkan Pemprov DKI justru mengundang banjir yang lebih besar.

"Kalau kita orang lingkungan hidup dengan (melihat) pembangunan Jakarta ini 
terutama tata kelola air, kita sih bilang Jakarta banjir ya tidak aneh. Wong 
memang the way it's designed and constructed right now adalah it's a flood in 
program," kata Susi dalam diskusi publik "Kebijakan Reklamasi: menilik tujuan, 
manfaat, dan efeknya" di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (4/10).

Susi memaparkan, program normalisasi sungai justru meluruskan daerah aliran 
sungai (DAS). Akibatnya, air sungai dari hulu mengalir dengan cepat ke hilir. 
Selain itu, sisi sungai ditanggul yang membuat air sungai tidak meresap ke 
tanah. Sementara proyek reklamasi di pantai utara Jakarta yang merupakan bagian 
proyek penanggulan banjir Jakarta National Capital Integrated Coastal 
Development (NCICD) atau giant sea wall (tanggul laut raksasa) justru 
menjauhkan air sungai dengan laut.

"Sungai diluruskan, ditanggul, jadi air tidak ke mana-mana. Kencang dari hulu 
ke hilir, nah di pinggir direklamasi. Jadi air dipercepat turun ke bawah, 
pantainya dijauhin. It's flood in project. Bukan membendung, mempercepat air 
hulu, lalu memperlambat air keluar dari daratan Jakarta," jelasnya.

Hal ini, kata Susi diperparah dengan disedotnya air tanah Jakarta yang membuat 
pori-pori tanah semakin keropos. Akibatnya, permukaan tanah Jakarta semakin 
menurun yang membuat air laut masuk.

"Sehingga air laut masuk. Jadi dua. Satu banjir dari naiknya air laut, kedua 
cepatnya turun dari hulu karena dipercepat, penyodetan, pelurusan. Jadi tidak 
ada komprehensif pembangunan water set di mana DAS diperbaiki, sungai 
direnaturalisasi, dikembalikan belok-belok supaya lambat lagi. Kalau (DAS) 
dilurusin erosinya juga akan lebih kencang. Sedimentasi tidak keluar karena 
kanan kirinya ditanggul. Jadi ke mana itu lumpur yang menaikkan permukaan dasar 
sungai?. Permukaan dasar sungai naik, memangnya air berkurang setiap tahun? 
Tidak. Air tetap sama tiap tahun datangnya. Tapi permukaan dasar sungai naik 
berarti daya tampung air kurang. Tanggulnya ditinggiin lagi dan suatu saat 
tidak kuat, jebol. Banjir bandang. Itu yang terjadi," paparnya.

Lebih jauh, Susi menilai, reklamasi 17 pulau di pantai utara Jakarta yang 
merupakan bagian dari proyek National Capital Integrated Coastal Development 
(NCICD) atau giant sea wall (tanggul laut raksasa) belum tentu menjadi solusi 
banjir Jakarta. Hal ini lantaran proyek reklamasi dilakukan tanpa lebih dulu 
membangun bendungan untuk menyimpan kelebihan air di Jakarta.

"Saya dengarnya mau bangun bendungan, bendungannya belum jadi. Bendungan kan 
untuk menyimpan kelebihan air Jakarta untuk ditampung sebagai salah satu air 
minum, air tawar Jakarta, tetapi bendungan belum jadi, pulau-pulau reklamasi 
sudah terjadi. Jadi ya tempat airnya ke mana?" ungkapnya.

Susi menegaskan, pernyataannya ini sebagai pribadi bukan sebagai Menteri 
Kelautan dan Perikanan.

"Itu satu pendapat saya sebagai orang yang peduli kepada lingkungan, bukan 
sebagai menteri, komentar saja tentang Jakarta banjir," kata Susi.

Sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi menyatakan, reklamasi di pantai 
utara Jakarta bukan hanya kewenangan Pemprov DKI. Menurutnya, proyek ini 
seharusnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat karena total luas 17 pulau yang 
direklamasi mencapai 5.100 hektar. Apalagi, reklamasi ini juga bersinggungan 
dengan kepentingan Jawa Barat dan Banten. Untuk itu, Susi menilai tepat kajian 
mengenai reklamasi ini dilakukan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan 
Nasional (Bappenas). Dengan kewenangan berada di pemerintah pusat, dampak 
lingkungan, sosial, ekonomi, dan lainnya akibat dari reklamasi teluk Jakarta 
dapat dikaji secara komprehensif dan terintegrasi.

"Mosok iyo Jakarta dibilang bukan kawasan strategis nasional. Jakarta ini Ibu 
Kota Indonesia dan 17 pulau itu besar sekali 5.100 hektar. Memang kalau dibikin 
per pulau kecil di bawah 500 haektar yang izinnya tidak sampai ke pusat, tetapi 
kalau 17 pulau dijumlahin ya jadi 5.100 hektar. dan dampaknya seperti itu apa. 
Itulah amdal yang komprehensi sangat dibutuhkan. dan ini melibatkan tiga 
provinsi. Jawa Barat, Banten dan Jakarta karena tanah yang dipakai nguruk dari 
Banten," paparnya.

Susi menegaskan, pihaknya berupaya mematuhi instruksi Presiden Joko Widodo 
mengenai reklamasi ini. Presiden, kata Susi, menyatakan reklamasi tidak boleh 
merusak lingkungan, merugikan nelayan dan harus sebesar-besarnya untuk 
kepentingan umum serta tidak ada aturan yang ditabrak. Selain itu, Presiden 
mengingatkan agar proyek reklamasi ini dikendalikan oleh pemerintah bukan oleh 
pihak swasta.

"Jadi saya pikir sudah betul bahwa urusan yang misalnya urusan Jakarta ini 
dibawa satu proyek yang ditangani (pemerintah) pusat dan Presiden juga pesan 
harusnya menjadi government driven bukan private driven," tegasnya. [F-5]


Kirim email ke