Aapakah tidak ada ayat demikian dan apakah dilarang untuk dikemukakan?

From: mailto:[email protected] 
Sent: Friday, October 7, 2016 8:41 AM
To: undisclosed-recipients:
Subject: [ppiindia] Ahok dan Kampanye SARA di Pilkada Jakarta

  
Ahok dan Kampanye SARA di Pilkada Jakarta

Sabtu, 24 September 2016 06:00 Risalah Redaksi
<http://www.nu.or.id/post/3/risalah-redaksi/>

[image: Ahok dan Kampanye SARA di Pilkada Jakarta]

Ilustrasi (antara)

Pilkada serentak pada bulan Februari 2017 akan diselenggarakan di 101
daerah, tetapi yang membetot perhatian publik di seluruh Indonesia adalah
pilkada DKI Jakarta dengan tokoh utamanya, Basuki Cahaya Purnama yang akrab
disebut Ahok, petahana yang ingin maju lagi sebagai gubernur untuk periode
2017-2022.

Hal yang menarik adalah posisi Ahok sebagai non-Muslim di tengah-tengah
penduduk Jakarta yang mayoritas Muslim dan latar belakangnya yang berdarah
Tiongkok serta karakternya yang lugas ketika berbicara yang di luar
kebiasaan politisi yang mengedepankan kesantunan dalam berbicara dan
bersikap. Posisi kantor media massa arus utama yang sebagian besar berada
di Jakarta juga menyebabkan segala pernak-pernik mengenai pilkada Jakarta
mudah diakses dan “digoreng”.

Sebagai sebuah kontestasi politik untuk merebut hati rakyat Jakarta,
pihak-pihak yang bersaing berusaha untuk menampilkan citra dirinya dengan
sebaik-baiknya sementara pihak lawan digambarkan sebagai calon yang tidak
layak untuk memimpin Jakarta. Media massa menjadi alat yang ampuh untuk
membangun opini dari masing-masing pihak.

Dalam konteks ini, tim sukses pihak petahana ingin menonjolkan prestasi
yang telah dicapai selama pemerintahannya. Karena itu, isu yang diangkat
adalah sikap Ahok yang antikorupsi, birokrasi yang kini lebih tertata, dan
tentu saja keberaniannya dalam mengatasi berbagai tantangan di ibukota yang
memang keras. Bagi yang ingin menjegalnya, maka isu yang diangkat soal isu
gaya bicaranya yang dianggap tidak sopan, reklamasi pantai Jakarta,
penggusuran, dan lainnya. Berkampanye dan berpromosi untuk memenangkan
kandidat yang diusung merupakan hal yang sah-sah saja. Semua kecap adalah
nomor satu, tidak ada kecap nomor dua.

Di luar perdebatan baik atau buruknya kebijakan yang diambil Ahok selama
saat ini, sayangnya masih saja ada kampanye hitam dengan menggunakan isu
SARA. Beberapa waktu lalu ada demo di Bundaran Hotel Indonesia (HI) di
Jakarta untuk mengampanyekan “jangan memilih pemimpin kafir”. Dalam
perbincangan-perbincangan informal di warung atau pertemuan-pertemuan
kecil, juga sering dibahas identitasnya sebagai keturunan Tiongkok yang
berkuasa di tanah Betawi.

Undang-Undang Dasar Indonesia dan UU serta peraturan turunannya memberikan
hak kepada seluruh warga negara Indonesia untuk memilih atau dipilih, apa
pun agamanya, dari mana pun asalnya. Sistem demokrasi yang dianut ini
bertujuan untuk memilih pemimpin terbaik dari berbagai calon yang ada.
Karena itulah, dalam negara yang demokrasinya yang sudah matang, rakyat
menilai calon pemimpin dari kapasitasnya untuk mengelola pemerintahan.
Karena itu jugalah, Sadiq Khan, seorang Muslim bisa menjadi walikota
London, sekalipun Muslim merupakan penduduk minoritas di Inggris.

Bagi kelompok-kelompok yang selama ini mengampanyekan “jangan pilih
pemimpin kafir” mereka ternyata juga membangga-banggakan terpilihnya Sadiq
Khan. Pada satu sisi, mereka berharap negara lain menggunakan asas
pluralitas sehingga memungkinkan Muslim bisa terpilih menjadi pemimpin,
tetapi di sisi lain mereka tidak rela digunakannya asas pluralitas ini jika
ada pemimpin non-Muslim yang terpilih di daerah yang didominasi Muslim. Ini
menunjukkan sebuah sikap yang tidak konsisten dan mau menang sendiri.

Masyarakat juga harus hati-hati terhadap partai politik yang suka “menjual
ayat” untuk kepentingan pragmatisme politik jangka pendek. Satu saat mereka
menggunakan dalil bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin saat calon
yang mereka usung laki-laki, tetapi di daerah lain mereka mendukung calon
perempuan karena potensi kemenangannya besar. Pada daerah lain, ketika
calon non-Muslim memiliki potensi besar terpilih, mereka menggunakan ayat
yang membolehkan non-Muslim memimpin, tetapi dalam kasus Jakarta, mereka
menggunakan ayat lainnya yang melarang Muslim memilih pemimpin kafir.
Ayat-ayat suci Al-Qur’an digunakan sekehendak hatinya sesuai dengan
kepentingan yang dibawa.

Penggunaan isu-isu SARA untuk tujuan jangka pendek guna memenangkan calon
tertentu jelas-jelas berpotensi merusak keragaman dan harmoni sosial yang
selama ini sudah berjalan dengan baik di Indonesia. Para pendiri bangsa
telah berkorban dan bersusah payah mendirikan bangunan Indonesia dengan
segala keanekaragaman yang ada di dalamnya. Kita bisa melihat contoh-contoh
dari bangsa lain yang dilanda konflik tak berkesudahan karena adanya
sekat-sekat sosial yang dibangun atas kepentingan sempit kelompok tertentu.

Fenomena penggunaan isu SARA dalam pilkada ini tidak hanya terjadi di
Jakarta, tetapi juga terjadi di daerah pemilihan lainnya, yang sayangnya
kurang terekspos secara nasional, pada daerah-daerah yang jauh dari
jangkauan media atau yang isunya kurang seksi untuk dipublikasikan secara
nasional. Dengan tidak adanya pengawasan publik, tentu saja penggunaan
isu-isu SARA ini berjalan dengan baik untuk meraih kemenangan. Tak heran,
kualitas kepemimpinan di sebagian besar daerah di Indonesia kurang baik.
Politik dinasti di mana ayah digantikan oleh anaknya untuk menjadi bupati
atau walikota, banyaknya korupsi pemimpin daerah yang ditangkap karena
korupsi menjadi petunjuk bahwa sistem demokrasi yang masih sekadar
formalitas dan penggunaan isu-isu SARA ini telah menyengsarakan rakyat.

Jika pemimpin yang terpilih hanya memiliki kualitas medioker, yang paling
dirugikan tentu rakyat yang harus menderita selama lima tahun ke depannya
karena pemimpinnya tidak mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang
kompleks. Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar jika bupati dan
walikotanya merupakan orang terbaik pada tingkatannya, gubernurnya juga
orang paling kompeten, dan presidennya juga orang terbaik dari yang
terbaik. Tantangan dalam menghadapi persaingan dunia begitu nyata, tak bisa
jika menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada orang yang kualitasnya
asal-asalan. (Mukafi Niam)

Sumber:

http://www.nu.or.id/post/read/71447/ahok-dan-kampanye-sara-
di-pilkada-jakarta

-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

[Non-text portions of this message have been removed]



Kirim email ke