Pada Minggu, 9 Oktober 2016 18:26, "'Tsasando' [email protected] 
[wahana-news]" <[email protected]> menulis:
 

     
http://nasional.sindonews.com/read/1145225/144/seminar-nasional-negara-terlibat-pembantaian-massal-1965-1966-1475776869
    SeminarNasional, Negara Terlibat Pembantaian Massal 1965-1966 Hasan 
Kurniawan Jum'at,  7 Oktober 2016  −  01:01 WIB    JAKARTA - Peristiwa 
pembantaian massal terhadap anggota dan simpatisanPartai Komunis Indonesia 
(PKI) dan mereka yang dianggap berhaluan kiri diIndonesia pada 1965-1966, 
dilakukan oleh negara dengan melibatkan masyarakat. 

Hal ini diungkapkan peneliti senior di Indo Survey dan Strategi Karyono 
Wibowodalam seminar nasional, "Mengapa Pembantaian Massal Terjadi? 
MengungkapKejahatan Manusia Terbesar Abad ke-XX."

"Yang memulai pembantaian massal 1965-1966 adalah negara. Kalaupun 
adaketerlibatan dari kelompok masyarakat, karena ada provokasi dari 
tentara,"katanya, di Auditorium Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) 
Jakarta, Kamis(6/10/2016). 

Menurutnya, negara harus meminta maaf bukan hanya kepada para korban 
dankeluarganya, tetapi juga kepada rakyat Indonesia, karena telah 
melakukanpembiaran atas tragedi itu. Selanjutnya, negara harus memberikan 
kompensasiterhadap mereka. 

"Negara terlibat, dan negara harus meminta maaf kepada korban dan 
rakyatIndonesia. Negara juga harus merehabilitasi nama baik korban, dan 
memberikankompensasi kepada mereka," terangnya. 

Lebih jauh, dia melihat peristiwa pembantaian massal di Indonesia pada1965-1966 
sebagai akibat dari perang dingin yang terjadi antara kubu kapitalisyang 
diwakili Amerika Serikat (AS) dan kubu sosialis yang diwakili Uni Soviet. 

"Indonesia adalah korban dari perang dingin. Sasaran utama dari Gerakan 
30September (G30S) adalah menggulingkan Soekarno. G30S terjadi karena 
adanyakepentingan neokolonialisme dan neoimperialisme," tegasnya. 

Dia menambahkan, dalam banyak buku sejarah, masalah pembantaian massal 
sudahbanyak diulas. Namun, tidak ada kata sepakat mengenai berapa jumlah 
korbandalam pembantaian itu. Dari yang paling kecil 78.000 jiwa, 500.000 jiwa, 
hinggatiga juta. 

Dalam seminar itu, sejarawan Peter Kesenda juga berkesempatan hadir. 
Lebihdalam, dia mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang menjadi 
pendorongterjadinya pembantaian massal di Indonesia. Salah satunya adalah 
propagandamiliter. 

"Negara telah melakukan fitnah yang sangat keji dengan mengatakan jenazahpara 
jenderal disayat, matanya dicongkel dan kelaminnya dipotong. Padahal 
hasilautopsi terhadap jenazah para jenderal tidak ada luka sayatan 
itu,"terangnya.     Sejaktersebarnya propaganda militer itu, pembunuhan terjadi 
di mana-mana, mulai dariAceh, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera. 
Jumlah korban di daerah itusangat banyak. Tetapi ironisnya di Jawa Barat justru 
sedikit. 

"Konflik horisontal di wilayah pedesaan dipicu oleh masalah tanah antaraPKI 
yang tidak punya tanah dengan tuan tanah yang diwakili para kiai di 
pondokpesantren. Korbannya bukan hanya PKI, tetapi loyalis Soekarno dan 
orangTionghoa," jelasnya. 

Dia menggambarkan peristiwa yang terjadi saat itu sangat mengerikan. 
Saattinggal di Surabaya, dia suka melihat banyak karung dihanyutkan. Pada masa 
itudia sempat bertanya kepada temannya tentang isi karung itu. 

"Saat itu saya bertanya kepada teman saya, siapa yang membuangkarung-karung itu 
dan apa isinya. Lalu teman saya itu menjawab bahwakarung-karung itu berisi 
mayat PKI dan saya diminta tidak membahas masalah itulagi," bebernya. 

Dia berharap, dengan seminar ini peristiwa kelam serupa tidak akan terjadi 
dimasa yang akan datang dengan cara memaafkan tetapi tidak melupakan. Tetapi 
maafsaja tidak cukup, harus ada proses hukum untuk menuntaskan peristiwa itu. 

Senada dengan dua pembicara sebelumnya, perwakilan dari KontraS Tioria Pretty 
Syang juga hadir menyatakan, sebagai negara hukum Indonesia harus bersikap 
besardengan menyelesaikan kasus pembantaian massal di tahun 1965-1966. 

"Berbicara tentang pembantaian massal 1965-1966, kita tidak berbicaratentang 
mendukung PKI dan lainnya, tetapi berbicara Indonesia sebagai negarahukum. 
Untuk itu, penyelesaian hukum kasus pembantaian massal harusdituntaskan," 
tegasnya. 

Permintaan maaf oleh negara memang diperlukan. Namun maaf saja tidak 
cukup.Harus ada langkah-langkah selanjutnya, seperti pemulihan hak-hak politik 
korbandan keluarganya, dan pemberian kompensasi terhadap korban. (san)   
#yiv6392274847 #yiv6392274847 -- #yiv6392274847ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847ygrp-mkp #yiv6392274847hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-mkp #yiv6392274847ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-mkp .yiv6392274847ad 
{padding:0 0;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-mkp .yiv6392274847ad p 
{margin:0;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-mkp .yiv6392274847ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-sponsor 
#yiv6392274847ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847ygrp-sponsor #yiv6392274847ygrp-lc #yiv6392274847hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847ygrp-sponsor #yiv6392274847ygrp-lc .yiv6392274847ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv6392274847 #yiv6392274847actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv6392274847
 #yiv6392274847activity span {font-weight:700;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv6392274847 #yiv6392274847activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv6392274847 #yiv6392274847activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv6392274847 #yiv6392274847activity span 
.yiv6392274847underline {text-decoration:underline;}#yiv6392274847 
.yiv6392274847attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv6392274847 .yiv6392274847attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv6392274847 .yiv6392274847attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv6392274847 .yiv6392274847attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv6392274847 .yiv6392274847attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv6392274847 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv6392274847 .yiv6392274847bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv6392274847 
.yiv6392274847bold a {text-decoration:none;}#yiv6392274847 dd.yiv6392274847last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6392274847 dd.yiv6392274847last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6392274847 
dd.yiv6392274847last p span.yiv6392274847yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv6392274847 div.yiv6392274847attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv6392274847 div.yiv6392274847attach-table 
{width:400px;}#yiv6392274847 div.yiv6392274847file-title a, #yiv6392274847 
div.yiv6392274847file-title a:active, #yiv6392274847 
div.yiv6392274847file-title a:hover, #yiv6392274847 div.yiv6392274847file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv6392274847 div.yiv6392274847photo-title a, 
#yiv6392274847 div.yiv6392274847photo-title a:active, #yiv6392274847 
div.yiv6392274847photo-title a:hover, #yiv6392274847 
div.yiv6392274847photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv6392274847 
div#yiv6392274847ygrp-mlmsg #yiv6392274847ygrp-msg p a 
span.yiv6392274847yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv6392274847 
.yiv6392274847green {color:#628c2a;}#yiv6392274847 .yiv6392274847MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv6392274847 o {font-size:0;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847photos div {float:left;width:72px;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv6392274847
 #yiv6392274847reco-category {font-size:77%;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847reco-desc {font-size:77%;}#yiv6392274847 .yiv6392274847replbq 
{margin:4px;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847ygrp-mlmsg select, #yiv6392274847 input, #yiv6392274847 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847ygrp-mlmsg pre, #yiv6392274847 code {font:115% 
monospace;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-mlmsg #yiv6392274847logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-msg 
p#yiv6392274847attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847ygrp-reco #yiv6392274847reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-sponsor 
#yiv6392274847ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847ygrp-sponsor #yiv6392274847ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847ygrp-sponsor #yiv6392274847ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv6392274847 #yiv6392274847ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv6392274847 
#yiv6392274847ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv6392274847 

   

Kirim email ke