Coba bandingkan keprihatinan bung legowo dan bung marco ini dengan keprihatinan 
jonathan yang selalu bashing Jokowi dengan mengatakan: 
bakar2 kapal orang itu manusiawi ya????” 

 

Hati2 bung dengan orang2 humanis seperti jonathan ini!

Bisa2 kalian2 ini dimasukkan keneraka oleh jonathan karena mau membenahi laut 
Indonesia!

 

Salam

Nesare

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, October 10, 2016 5:32 AM
To: '[email protected]' [email protected] [temu_eropa] 
<[email protected]>; Chalik Hammid 
<[email protected]>; Sunny <[email protected]>; RKB 
<[email protected]>; GELORA_In <[email protected]>; 
Sheila Kartika [email protected] [PERS-Indonesia] 
<[email protected]>; [email protected]; 'Chan CT' 
[email protected] <[email protected]>; Nasional-List 
<[email protected]>; Roeslan <[email protected]>; Lusi.D 
<[email protected]>; NESARE <[email protected]>; Yoseph T Taher 
<[email protected]>; GELORA_In <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Re: [temu_eropa] Ilegal fishing merugikan Indonesia 
$20milyar/tahun (Rp 260T/tahun)

 

  

MASALAH PENCURIAN IKAN  (PENANGKAPAN IKAN ILLEGAL ) dan KEAMANAN MARTIIM

dan SOUVERIGNTY ( KEDAULATAN ) PERAIRAN R.I.

 

NAH JIKA PEMERINTAH SUDAH TAHU DAN MENDENGAR SENDIRI  >  BAGAIMANA GENTINGNYA 
MASALAH PERIKANAN - dan MASALAH PENCURIAN  dan atau PENANGKAPAN IKAN ILLEGAL 
disekitar kawasan LAUTAN NUSANTARA INDONESIA serta BETAPA BESAR RIZIKO dan 
KERUGIAN yang diakibatkannya  bagi NEGARA (R.I. ) ...maka PAK PRESIDEN 
Ir.JOKOWI  sekarng mempunyai ALASAN DAN BUKTI NYATA untuk Tanpa Ragu memeberi 
TUGAS yang KONGKRET DAN TEGAS  kepada  MENTERI MARITIM  > Jendral Pensiuna 
LUHUT PANDJAITAN  agar benar2 dan dengan Tuntas MENJAGA KEMANAN PERAIARAN , 
PELYAEAN DAN PELABUHAN NUSANTARA  ( Bukan untuk Business Militernya ) ...  dan 
dalam  HAL JIKA TIDAK ADA HASILNYA YANG NYATA  dan atau Tidak menunjukkan 
Kesanggupannya yang Significant untuk MENGGULUNG PENANGKPAN IKAN ILLEGAL dan 
MEMPERKECIL AKIBAT KERUGIAN bagi NEGARAyang disebabkan oleh Pencurian 
Penangkapan illegal  yg berkelanjutan    (sebagai Menteri Maritim), maka Pak 
Presiden selaku Kepala Pemerintah juga mempunyai SERIBU ALASAN dan memunyai 
WEWENANG  DAN hAK hUKUM untuk melaksanakan RESUFFEL  pada MENTERI MARITIM 
TERKIAT...

 ( Note: Sebagai seorang Jendral Pensiunan > Gajihnya akan jauh lebih besar 
dari 1OO KEPALA BAGIAN dikantor2  atau di Perusahan2 , oleh karenanya Jendarl2 
Peniunan susda Tidak harus bekerja  lagi / terutama sudah smaa sekali TIDKA 
HARUS memegang Jabatan Penting di RESORT2  KEMENTRIAN SIPIL ( NON MILITER)  
yang membutuhkan AHLI2 PROFESSIONAL YANG BERPENGALAMAN DIRESORT TERKAIT yang 
lebih2 Sifat Kegiatan Resort terkait tsb  justru sifatnya NON MILITER ....

 

2016-10-10 11:03 GMT+02:00 [email protected] <mailto:[email protected]>  [temu_eropa] 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >:

  

Jokowi hari ini (Senin, 10/10) di Simposium Kejahatan Perikanan Internasional 
di Jogya, "Illegal fishing telah mengakibatkan kerugian ekonomi Indonesia 
sebesar 20 miliar dolar Amerika per tahun. Termasuk mengancam 65 persen terumbu 
karang kita." $20 milyar AS itu sama dengan Rp 260 Triliun... Tahun 2016 ini 
APBN untuk pendidikan saja cuma Rp 150 T....!!

 

http://politik.rmol.co/read/2016/10/10/263823/Jokowi:-Kejahatan-Pencurian-Ikan-Berdampak-Besar-

 


Jokowi: Kejahatan Pencurian Ikan Berdampak Besar


POLITIK  SENIN, 10 OKTOBER 2016 , 14:15:00 WIB | LAPORAN: WAHYU SABDA KUNCAHYO

 <http://rmol.co/images/berita/normal/321711_02141010102016_ikan.jpg> 

Net

RMOL. Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan bahwa kegiatan pencurian ikan 
atau illegal fishing di laut suatu negara sebagai kejahatan transnasional yang 
berdampak besar. Dampaknya tidak hanya dirasakan sebatas pada industri 
perikanan namun juga mencakup kondisi lingkungan hidup.

 

"Laut adalah sumber pendapatan bagi 520 juta penduduk dunia dan sumber pangan 
bagi 2,6 miliar orang. Praktik illegal fishing telah mengurangi stok ikan dunia 
sebesar 90,1 persen," ujarnya saat membuka Simposium Kejahatan Perikanan 
Internasional di Gedung Agung Istana Kepresidenan Yogyakarta, Senin (10/10).
 
Menurut Jokowi, pencurian ikan juga bisa terkait dengan kejahatan lain seperti 
penyelundupan barang dan manusia, peredaran narkoba, dan pelanggaran terhadap 
perlindungan alam. Menurutnya, kejahatan tersebut telah berkembang menjadi 
kejahatan transnasional yang serius dan terorganisir.

"Karena itu, sangat penting bagi kita untuk memerangi kejahatan trans nasional 
yang terorganisasi tersebut dengan kolaborasi global," katanya.

Data Food and Agriculture Organization (FAO), pada 2014, Indonesia berada di 
peringkat kedua sebagai produsen ikan laut terbesar di dunia dengan jumlah 
tangkapan mencapai 6 juta ton atau setara 6,8 persen total produksi dunia untuk 
ikan laut. Namun, Jokowi meyakini bahwa data itu masih berada di bawah potensi 
maksimal Indonesia. Pencurian ikan yang terjadi di banyak wilayah laut 
Indonesia menjadi faktor penghambat utama.

"Illegal fishing telah mengakibatkan kerugian ekonomi Indonesia sebesar 20 
miliar dolar Amerika per tahun. Termasuk mengancam 65 persen terumbu karang 
kita," jelasnya.

Untuk itu, pemerintah berkomitmen terus melakukan upaya pemberantasan pencurian 
ikan dengan belajar dari keberhasilan negara lain dalam upaya penanganan 
pencurian ikan di perairan. Terlihat dari tindakan tegas pemerintah dengan 
melakukan penangkapan kapal asing yang melakukan penangkapan ikan di perairan 
Indonesia. Hingga saat ini, sebanyak 236 kapal asing pencuri ikan telah 
ditenggelamkan.

Simposium Kejahatan Perikanan Internasional sendiri diselenggarakan selama 
10-11 Oktober 2016 dengan membahas berbagai masalah seperti pencurian ikan, 
perdagangan manusia, kejahatan narkoba. Sebanyak 46 perwakilan negara turut 
hadir dalam simposium di antaranya Australia, Austria, China, India, Ghana, 
Nigeria, Afrika Selatan hingga Vietnam. Perhelatan serupa pertama kali digelar 
di Afrika Selatan yang diikuti oleh perwakilan dari 36 negara.

Turut hadir mendampingi Presiden Jokowi di antaranya Menko Bidang Pembangunan 
Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, Menteri Kelautan dan Perikanan 
(KKP) Susi Pudjiastuti, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Kapolri Jenderal 
Tito Karnavian, serta Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X. [wah] 
 

 



Kirim email ke