From: B.DORPI P. 
Sent: Thursday, October 13, 2016 6:38 AM


http://ekbis.rmol.co/read/2016/10/13/264196/Dua-Tahun-Jokowi-JK,-Efisiensi-Dan-Efektivitas-Pergerakan-Logistik-Menurun-

KAMIS, 13 OKTOBER 2016 , 01:36:00 WIB


Dua Tahun Jokowi-JK, Efisiensi Dan Efektivitas Pergerakan Logistik Menurun
LAPORAN: ALDI GULTOM 


RMOL. Kinerja efisiensi dan efektivitas pergerakan logistik Indonesia dua tahun 
terakhir merosot tajam. Hasil Indeks Logistik Global atau Logistics Performance 
Index (LPI) 2016 yang dirilis Bank Dunia menunjukkan Indonesia menempati 
peringkat ke-63 dari 160 negara yang dipantau, dengan skor 2,98. 


     
"Sangat menyedihkan, dua tahun terakhir Indeks Logistik Global kita merosot 10 
peringkat. Padahal alokasi anggaran untuk infrastruktur sudah kita dukung untuk 
ditingkatkan dengan sangat besar. Pemerintah harus bekerja lebih baik karena 
ini akan berkaitan dengan harga-harga barang untuk rakyat," ujar Wakil Ketua 
Fraksi PKS di DPR RI Bidang Ekonomi dan Keuangan, Ecky Awal Mucharam, dalam 
keterangan tertulis, Rabu (12/10).

Dia menjelaskan, LPI merupakan indeks yang penting untuk mengukur dan 
menentukan kinerja efisiensi dan efektivitas pergerakan logistik yang memiliki 
hubungan dengan pelayanan pengiriman logistik (supply chain) dan ekspor suatu 
negara. Indeks ini dibangun berdasarkan hasil survei yang dilakukan kepada 
1.051 orang profesional dalam industri logistik negara-negara di wilayah 
operasinya. 

Baik capaian skor maupun peringkat, LPI Indonesia menurun drastis jika 
dibandingkan dengan tahun 2014 saat skor Indonesia mencapai 3,08 dan berada di 
peringkat ke-53. Sementara itu, di ASEAN, untuk tahun 2016 Indonesia berada di 
posisi ke-4 setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand tetapi dengan jarak skor 
yang cukup jauh.

"Artinya selama dua tahun ini tingkat efisiensi dan efektivitas logistik 
terutama pergerakan barang di Indonesia pada Pemerintahan Jokowi-JK mengalami 
penurunan. Mestinya pemerintahan sekarang mengambil langkah serius terkait hal 
ini. Pemerintah telah berbicara besar terkait masalah logistik ini dan 
menjadikannya prioritas. Tetapi faktanya kinerjanya memburuk," tegas Anggota 
Komisi XI DPR RI ini.

Laporan Bank Dunia tersebut memberikan enam ukuran dan parameter penilaian 
komponen LPI, yang terdiri dari efisiensi pengurusan bea dan cukai, kualitas 
infrastruktur perdagangan dan transportasi, kemudahan mengatur pengiriman 
barang internasional dengan harga kompetitif, kompetensi dan kualitas pelayanan 
logistik, kemampuan pelacakan dan penelusuran barang, dan ketepatan waktu 
pengiriman barang atau jasa.

"Kalau kita dekomposisi, telah terjadi penurunan di empat komponen LPI 
Indonesia yaitu pelayanan di bea dan cukai, infrastruktur, logistik, dan 
ketepatan waktu. Padahal alokasi anggaran untuk infrastruktur sudah kita dukung 
dengan sangat besar. Tercatat bahwa alokasi Anggaran infrakstruktur di APBN 
pada tahun 2014 sebesar Rp 206,7 triliun dan pada tahun 2016 mencapai Rp 290,3 
triliun," urai Ecky.

Menurut Ecky, harus diakui juga telah terjadi penurunan LPI di beberapa negara 
ASEAN seperti Thailand dan Malaysia. Namun jika dibandingkan dengan beberapa 
negara ASEAN yaitu Singapura, Malaysia dan Thailand secara berturut-turut 
berada di peringkat 5, 32, dan 45, sedangkan Indonesia berada di peringkat 63. 
Indonesia memiliki nilai 2,98 jika dibandingkan dengan Singapura 4,14, Malaysia 
3,43, dan Thailand 3,26.

"Maka dapat dilihat bagaimana lemahnya posisi dan daya saing logistik Indonesia 
di antara tiga negara dalam satu wilayah ASEAN. Pemerintah perlu memiliki 
kebijakan dan roadmap yang jelas dalam membangun basis industri dan produksi 
kuat yang salah satunya disokong oleh supply chain yang efektif dan efisien. 
Hal ini sangat penting dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negari ataupun 
ekspansi produksi berupa ekspor yang berdaya saing ke luar negara," terang Ecky.

Ecky sebelumnya juga mempertanyakan penurunan Indeks Daya Saing Global 
Indonesia. Dalam Laporan Indeks Daya Saing Global (Global Competitiveness 
Report) 2016-2017 yang dirilis Forum Ekonomi Dunia (WEF), daya saing Indonesia 
merosot dari peringkat ke-37 tahun lalu menjadi peringkat ke-41 tahun 2016 dari 
138 negara. 

Tahun sebelumnya peringkat daya saing ekonomi Indonesia dalam Global 
Competitiveness Report 2015-2016 juga turun dari peringkat ke 34 menjadi 
peringkat 37 dari 140 negara. 


[ald]











Kirim email ke