http://sp.beritasatu.com/politikdanhukum/setneg-tegaskan-tak-miliki-dan-mengetahui-laporan-akhir-tpf-munir/117151

Setneg Tegaskan, Tak Miliki dan Mengetahui Laporan Akhir TPF Munir
Rabu, 12 Oktober 2016 | 9:55

 Munir. [Google] 


Berita Terkait

  a.. Kasus Munir Bukan Kasus Biasa Yang Hanya Menyangkut Individu 
  b.. Nama Munir Dijadikan Nama Jalan di Belanda 
  c.. Jokowi-JK Didesak Buka Kasus Munir 
  d.. Pertanggungjawaban Kasus Munir Ada di Megawati, Bukan Jokowi
[JAKARTA] Menyikapi putusan Majelis Komisioner Komisi Informasi Publik (KIP) 
yang dibacakan dalam sidang sengketa antara Komisi untuk Orang Hilang dan 
Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dan Kementerian Sekretariat Negara 
(Kemsetneg) perihal gugatan membuka laporan akhir Tim Pencari Fakta (TPF) kasus 
meninggalnya aktivis Munir, Kemsetneg menegaskan bahwa tidak memiliki, 
menguasai dan mengetahui keberadaan dokumen laporan yang dimaksud.

Hal itu ditegaskan oleh Asisten Deputi Hubungan Masyarakat Kemsetneg, Masrokhan 
dalam siaran pers yang diterima oleh media, pada Selasa (11/10).

“Perlu kami sampaikan, bahwa Kemensetneg tidak memiliki, menguasai, dan 
mengetahui keberadaan dokumen Laporan Akhir Tim Pencari Fakta Kasus 
Meninggalnya Munir (Laporan TPF),” jelas Masrokan dalam siaran pers.

Bahkan, Masrokan menegaskan bahwa dalam amar putusannya Majelis Komisioner KIP 
juga telah menguatkan fakta persidangan, yaitu Kemsetneg tidak memiliki, 
menguasai, dan mengetahui keberadaan dokumen dimaksud. Hanya saja, untuk 
langkah lebih lanjut, dia masih menunggu salinan putusan majelis KIP.

“Hal ini sesuai dengan bukti dan fakta persidangan yang disebutkan dalam 
pertimbangan Majelis Komisioner KIP bahwa Kemsetneg tidak menguasai dokumen 
tersebut. Jadi Kemsetneg tidak mungkin mengumumkan Laporan TPF yang tidak 
dikuasainya,” tambahnya.

Sebagaimana diberitakan, dalam amar putusannya Majelis Komisioner KIP yang 
diketuai oleh Evi Trisulo dengan anggota Dyah Aryani dan Yhannu Setiawan 
menyatakan pemerintah Republik Indonesia harus segera mengumumkan secara resmi 
informasi hasil penyelidikan TPF kasus meninggalnya Munir kepada masyarakat.

"Memerintahkan kepada termohon untuk mengumumkan informasi berupa pernyataan 
sebagaimana yang tertuang dalam tanggapan atas keberatan informasi publik 
melalui media elektronik dan non elektronik yg dikelola termohon. Memerintahkan 
kepada termohon untuk menjalankan sesuai UU KIP berkekuatan hukum tetap," kata 
Evi saat membacakan putusan dalam sidang, Senin (10/10).

Sebagaimana diketahui, dalam Keppres No 111 tahun 2004, tentang pembentukan Tim 
Pencari Fakta kasus meninggalnya Munir, disebutkan bahwa pemerintah harus 
mengumumkan hasil penyelidikan kepada masyarakat.

Namun, dalam keterangan tertulis mantan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi 
yang dibacakan dalam persidangan, memang menyebutkan tidak mendapatkan salinan 
dokumen hasil kerja atau laporan TPF Munir. Seperti diketahui, Munir meninggal 
pada 7 September 2004 dalam penerbangan dengan pesawat Garuda Indonesia dari 
Jakarta ke Amsterdam, Belanda. Hasil autopsi menemukan pegiat HAM itu meninggal 
akibat racun arsenik.

Kemudian, guna menungkap kasus kematian tersebut, Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono membentuk TPF. Tetapi hasil laporan TPF itu tak pernah diumumkan.

Walaupun akhirnya sejumlah pihak dibawa ke meja hijau karena diduga bertanggung 
jawab, antara lain pilot garuda Polycarpus Budihari Prijanto, mantan Direktur 
Garuda Indra Setiawan, Direktur V Badan Intelejen Negara BIN Muchdi 
Purwoprandjono.

Tetapi, yang berhasil dihukum adalah Pollycarpus dengan vonis penjara selama 14 
tahun di pengadilan negeri, kemudian ditingkat banding hukumannya ditambah 
menjadi 20 tahun. Di tingkat kasasi hukumannya kembali dikurangi menjadi 14 
tahun dan mendapatkan pembebasan bersyarat pada November 2014 lalu.

Sedangkan, Muchdi PR bebas dari jerat hukuman karena sejumlah saksi mencabut 
kesaksian yang telah mereka sampaikan dalam penyidikan. Hanya saja, hingga 12 
tahun berlalu, belum ditemukan siapa dalang ataupun motif dari pembunuhan 
aktivis HAM tersebut. [N-8]

Kirim email ke