http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/10/15/of2fsf385-pilpres-amerika-mitos-sara-mui-dan-pilkada-dki
 
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/10/15/of2fsf385-pilpres-amerika-mitos-sara-mui-dan-pilkada-dki

 Sabtu, 15 Oktober 2016, 08:50 WIB
 Pilpres Amerika, Mitos SARA, MUI, dan Pilkada DKI
 Red: Muhammad Subarkah
 

 Republika/Dadang Kurnia

 
 Ribuan massa unjuk rasa terkait pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Basuki 'Ahok' 
Tjahaja Purnama soal surah Al Maidah ayat 51 bergerak dari Masjid Istiqlal ke 
Balai Kota DKI, Jumat (14/10).
 

 Pilpres Amerika, Mitos SARA, MUI, dan Pilkada DKI
 Oleh: Denny JA, Pengamat Politik/Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI)

Dua jam lebih saya terpaku menonton debat kedua antara calon presiden Hillary 
Clinton dan Donald Trump, 10 Oktober 2016. Saya pun teringat Pilkada DKI saat 
ini.

Namun saya tak sempat menonton live. Rekaman debat mereka di Youtube yang saya 
nikmati.

Serasa saya menonton pertunjukan teater. Ada dinamika. Ada passion. Ada plot. 
Kadang saya terbawa ikut marah. Kadang tertawa. Namun di akhir acara, saya 
belajar banyak.

Kadang mereka berdua bicara rasional soal public policy yang akan mereka 
lakukan. Mereka menyebut angka dan meyakinkan betapa program mereka nanti mampu 
membawa Amerika Great Again (Trump). Atau betapa program itu sesuai dengan 
janji Amerika  untuk semua (Hillary)

Kadang mereka saling menyerang karakter masing masing lewat peristiwa masa 
silam.

Tak ketinggalan politik identitas, yang di Indonesa seolah masih ditabukan, di 
sini dibicarakan terbuka. Dengan santai saja.

Diangkat bagaimana buruknya Trump memperlakukan wanita. Bahkan sebelum debat, 
TV amerika menyiarkan video Trump yang menyatakan kata kata kepada wanita 
secara tak pantas, menghina.

Dibalas pula oleh Trump menunjukkan Bill Clinton, suami Hillary, lebih buruk 
lagi soal wanita. Ia hanya bicara, hanya kata,  tapi Bill Clinton itu aksi, 
bukan kata.

Kata Trump, Presiden Clinton lebih buruk soal wanita pada prilaku kongkretnya. 
Bahkan itu hampir membuat Bill Clinton dipecat sbg presiden.

Trump menyebut nama nama wanita yang bermasalah dengan Bill Clinton dalam 
hubungan perselingkuhan. Namun Clinton tak memperlakukan mereka dengan 
semestinya.

Hilary menyerang Trump soal Muslim, Latino, hispanic. Bagaimana etnik dan 
penganut agama ini di bawah Trump nanti terancam menjadi warga kelas dua.

Berbalik, Trump menyerang Hillary soal pengungsi Suriah yang membahayakan 
Amerika. Tak diseleksinya  pengungsi ini bisa menambah ketidak amanan Amerika, 
kriminal, drugs, dan sebagainya.

Di satu session, mereka keras sekali saling mengecam. Kata Hillary, Trump tidak 
fit menjadi presiden Amerika. Ia tak memenuhi kualifikasi itu.

Di sisi lain, Trump menyatakan HIllary tak pantas menjadi presiden Amerika. Ia 
menghilangkan ribuan email secara tidak sah. Jika ia jadi presiden, Hillary 
bisa dipenjara.

Namun toh di akhir acara, mereka saling memuji. Penonton tepuk tangan. Trump 
dan Hillary bersalaman dan tertawa bersama.

Saya membayangkan, bisakah Pilkada DKI seperti itu? Membicarakan segala hal 
secara terbuka, namun tetap dalam suasana kompetisi yang sehat, yang memang 
dibolehkan oleh demokrasi modern.

Yang belum kita lihat di Pilkada DKI, ketiga kandidat belum berdebat soal 
program. Kita belum bisa menilai di mana kekuatan dan kelemahan program masing 
masing.

Dua calon yang ada, Anies dan Agus memang mendadak menjadi calon. Mereka belum 
menyiapkan program komprehensif yang akan ditawarkan.

Soal politik identitas, soal agama, juga kurang dibicarakan secara terbuka dan 
dingin.

 

 Terus Memberlakukan SARA dengan Cara Orde Baru Agak aneh sudah 18 tahun 
reformasi, masalah agama masih dianggap seolah porno, takut dibicarakan 
terbuka, dan seolah ingin disembunyikan di bawah permadani.

Padahal membicarakan politik identitas hal yang lazim dan biasa saja dan 
dibolehkan dalam aturan demokrasi modern.

Justru karena mitos SARA dan lain-lain, percakapan agama berlangsung rada-rada 
sembunyi, di bawah permukaan.  Ini justru lebih menyusahkan untuk memverifikasi 
informasi. Justru cara ini lebih membuat agama dibicarakan dengan emosi 
berlebih.

Masing-masing calon juga belum masuk isu karakter masing- masing.

Mungkinkah Anies, misalnya menyatakan dengan santai, seperti Hillary ke Trump, 
bahwa Ahok tidak punya kualifikasi memimpin Jakarta yang beragam karena 
karakternya yang kurang menghormati agama.

Misalnya Anies berkata, jika Ahok kembali terpilih, akan lebih susah 
mengendalikan Jakarta untuk lebih stabil dan harmoni.

Atau Ahok menyatakan Anies kurang bisa dipercaya. Di Pilpres ia menyatakan ada 
mafia di balik kelompok Prabowo. Kini ia maju sebagai cagub di era Prabowo. Ia 
gagal menjadi menteri karena itu diganti di tengah jalan. Mengapa ia berpikir 
akan berhasil menjadi gubernur?

Hal yang sama dengan  Agus. Ia dikritik soal pengalamannya untuk memimpin kota 
sebesar Jakarta, misalnya.

Bisakah ketiga kandidat saling mengkritik seperti di atas, namun dalam suasana 
santai saja?

Namun tetap di akhir Pilkada, tiga tokoh ini saling menghormati dan memuji.

 

 Pilkada Sarana Matangkan Demokrasi Publik pun semakin melihat dan terinformasi 
mengenai kandidat, tak hanya program, karakter dan juga sikapnya terhadap 
politik identitas.

Kita sebagai warga negara, bisakah menyemarakkan pilkada juga dengan lebih 
santai?

Tak apa semua tim sukses mengangkat semua isu untuk menang dan kalah. Isu 
agama, etnik atau yang disebut politik identitas juga hal yang lazim 
dimobilisasi untuk meraih kemenangan.

Demokrasi membolehkan itu, sejauh tidak masuk ke dalam wilayah kriminal. Jika 
kita berkomitmen dengan demokrasi, mengapa kita melarang hal yang dibolehkan 
oleh demokrasi?

Namun di akhir Pilkada, bisakah kita menjadi lebih matang sebagai warga negara? 
Dan memahami, pilkada adalah sarana yang lebih mematangkan demokrasi kita, 
mematangkan ruang publik kita.

 


 

 

Kirim email ke