http://health.detik.com/read/2016/10/15/161643/3321565/1202

/cerita-ibu-yang-20-tahun-membawa-anaknya-berobat-tapi-tak-ada-perkembangan


 Cerita Ibu yang 20 Tahun Membawa Anaknya


 Berobat Tapi Tak Ada Perkembangan

*Rahma Lillahi Sativa* - detikHealth
Sabtu, 15/10/2016 16:16 WIB
Cerita Ibu yang 20 Tahun Membawa Anaknya Berobat Tapi Tak Ada PerkembanganIlustrasi (Foto: Getty Images)
*Berita Lainnya*

 *


               Mengharukan! Kisah Bocah 4 Tahun yang Terima Donor
               Ginjal dari Gurunya
               
<http://health.detik.com/read/2016/10/09/090323/3316428/1202/mengharukan-kisah-bocah-4-tahun-yang-terima-donor-ginjal-dari-gurunya>

 *


               Begini Rasanya Hidup dengan 8 Kepribadian
               
<http://health.detik.com/read/2016/10/07/200544/3315966/1202/begini-rasanya-hidup-dengan-8-kepribadian>

 *


               Mengharukan! Kisah Ayah dengan Kanker yang Sambut
               Kelahiran Anaknya
               
<http://health.detik.com/read/2016/10/06/163302/3314944/1202/mengharukan-kisah-ayah-dengan-kanker-yang-sambut-kelahiran-anaknya>

 *


               Pesan Survivor Kanker Payudara: Jangan Coba-coba Obati
               Diri Sendiri
               
<http://health.detik.com/read/2016/10/05/140553/3313932/1202/pesan-survivor-kanker-payudara-jangan-coba-coba-obati-diri-sendiri>

 *


               Menyentuh! Perjuangan Bocah dengan Leukemia Tempuh 400
               Km untuk Berobat
               
<http://health.detik.com/read/2016/10/04/205953/3313438/1202/menyentuh-perjuangan-bocah-dengan-leukemia-tempuh-400-km-untuk-berobat>

*Yogyakarta,* Titik Hariyanti tak tahu-menahu mengapa putrinya, Anti tak bertingkah seperti anak-anak seusianya. Sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak, Anti juga tak membaur dan bermain dengan teman-temannya.

Begitu pula dengan kemampuan akademisnya. Meski sudah dua tahun menjadi siswa SD, Anti juga tak kunjung bisa menulis, apalagi mengikuti pelajaran dengan baik. Oleh sang guru Anti kemudian diarahkan untuk masuk ke Sekolah Luar Biasa (SLB).

Walaupun demikian, selama 10 tahun mengenyam bangku SLB, Anti juga tak menunjukkan perkembangan yang berarti.

"Nggak tahu ABC, arah utara selatan juga nggak tahu," tuturnya kepada detikHealth usai Sarasehan Memperingati Hari Kesehatan Jiwa Nasional 2016 di RS Jiwa Grhasia, Jumat (14/10/2016).

Keseharian Anti juga tak bisa dijalaninya seorang diri. Sebagai caregiver utama, Titik masih harus memandikan Anti yang saat ini sudah menginjak usia 31 tahun. "Kalaupun mandi sendiri yang dibersihin ya hanya satu sisi," paparnya.

Soal makanan, Anti juga cenderung pilih-pilih sehingga Titik tak bisa sembarangan memberinya makan. Misal untuk lauk seperti bandeng atau lele, ia cenderung menghindari karena ada durinya. Begitu pula dengan buah, semisal pisang, Anti masih bisa mengupas kulitnya tetapi ia pernah terluka ketika mengupas mentimun, sehingga menjadi trauma. Kini ia selalu memakannya dalam keadaan utuh.

"Makannya juga susah. Senengannya ya cuma teh panas sama lotis (rujak buah, red)," imbuh Titik

Namun yang menjadi ganjalan terbesar di benak Titik adalah apa penyakit kejiwaan yang dialami putri sulungnya itu, dan mengapa setelah 23 tahun berobat Anti tak juga sembuh. "Potong kuku nggak bisa, BAB kadang masih di celana, diajari nyuci baju malah tambah kotor," lanjutnya.

Anti juga dikenal mudah marah bila diberitahu sesuatu, diajak bicara pun belum tentu nyambung. "Kalau dia lebih nggak bisa diem. Kalau diminta duduk ya nggak lama, maunya gerak terus," ujar Titik.

/Baca juga/: Kisah Walsilah, Urus Sendiri Anaknya yang Alami Gangguan Saraf Otak <http://health.detik.com/read/2016/10/14/190347/3321253/1202/kisah-walsilah-urus-sendiri-anaknya-yang-alami-gangguan-saraf-otak?l992205755>

Untuk menyembuhkan Anti, ibu tiga anak itu mengaku sudah membawa sang buah hati ke berbagai tempat, mulai dari pengobatan tradisional sampai modern seperti di Yogyakarta, Purwokerto hingga Jakarta. Ia bahkan pernah kena tipu saat membawa Anti ke sebuah tempat pengobatan tradisional, sebab uangnya habis untuk 'mahar' tetapi Anti tak pernah sembuh.

"Jadi ya ke mana-mana ya ke Grhasia. Kalau ada tayangan di TV, kalau ada info dari orang ya saya coba semua," katanya.

Tak terhitung berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan Titik untuk mengobati Anti, apalagi ia mencari nafkah seorang diri. Sang suami yang mengetahui keadaan putrinya justru tak mau ikut merawat hingga ia memilih untuk bercerai.

"Makanya saya sangat sedih. Pokoknya saya merasa nggak ada gunanya," tutur wanita yang bekerja sebagai pedagang di pasar itu.

Anggota keluarga Titik yang lain juga tak banyak yang peduli. Namun ia paling menyayangkan kedua putranya yang juga adik dari Anti. Wanita berusia 49 tahun itu bahkan sampai mengaku trauma punya anak laki-laki karena mereka kurang peduli terhadap kakaknya sendiri.

"Adiknya ini yang satu Angkatan Udara, yang kecil juga sarjana, tapi nggak /gemati/ (peduli, red) sama kakaknya. Malah tetangga atau teman-teman di paguyuban ini yang lebih peduli daripada di rumah," akunya lagi.

Titik pun harus pandai-pandai mengatur waktu agar bisa terus mendampingi Anti. Untuk itu aktivitasnya di pasar diupayakan tak lebih dari jam 10 pagi, atau bila memang ia harus bepergian jauh, ia selalu mengajak Anti.

"Padahal saya sendiri juga sakit asma, anak saya juga sakit asma. Sebenarnya yang saya takutkan itu kalau kambuh kan ngeri. Kadang kalau dadanya sudah sesek sekali saya sering kepikiran, duh kalau saya meninggal gimana anak saya," tuturnya.

Di balik ketegaran Titik, ia pun mengakui butuh dukungan. Untungnya sejak dua bulan terakhir, Titik memilih berumah tangga lagi. Ibu yang tinggal di Mindi, Sleman itu mengatakan butuh teman untuk merawat Anti dan juga mencarikannya nafkah.

/Baca juga/: Caregiver bagi Orang dengan Gangguan Jiwa Juga Butuh 'Teman Sharing' Lho <http://health.detik.com/read/2016/10/14/171437/3321164/763/caregiver-bagi-orang-dengan-gangguan-jiwa-juga-butuh-teman-sharing-lho>(*lll/vit*)







Kirim email ke