Jawaban untuk STDjin (2)STDjin

 e.    Di zaman Demokrasi Parlementer,Berbagai RUU (Rancangan Undang-Undang) 
diperdebatkan diparlemen.  Kerap terjadi perdebatan antara anggota-anggota 
Fraksi Nasional Progresifdengan anggota-anggotaFraksi PKI.  Anda bisa mengikuti 
berbagai perdebatan ini dirisalah-risalah dan ikhtisar-ikhtisar parlemen.

f.      Menurut sayakebijakan ekonomi  PKI di zaman Demokrasi  Parlementer 
berdeda dengan kebijakan ekonomidi zaman Demokrasi Terpimpin, terutama setelah 
1963. SGT kerapmemberi masukan ke para tokoh PKI, termasuk Njoto dan ayah Anda, 
dalam perumusan kebijakan
ekonomi PKI, karena ia memang dianggap ahliekonomi di kalangan politikuskiri 
(Utrech, yang juga berada di DPA bersama SGT, menyatakan kepada saya, bahwa 
berbagai rumusanekonomi yang kemudian  masuk dalam pidato2 Soekarno kerap 
diutarakanSGT dalam DPA).

Jadi tidak mengherankan bahwa kebijakan-kebijakanPKI di zaman demokrasi 
terpimpoin seirama dengan apa yang SGTutarakan sejak zaman 
DemokrasiParlementer, terutama yang berkaitan dengan pengembangan modal 
domestic.  Apalagi setelah konsepsi ini masukdalam Manipol,GBHN 1963 dan masuk 
pula dalam pidato kenegaraan Bung Karno. Kesemuanya ini didukung baik secara 
sungguh-sungguh maupunsecara lip  serviceoleh semua partai dan ormas politik di 
zaman itu. Dan  kebijakan-kebijakanPKI yang Anda uraikan keluar di zaman itu 
pula.Mungkin Anda perlu memperhatikankebijakan ekonomi PKI pada tahun 50-an.   

g.   Salah satu contoh perbedaan konsep tentang “kapitalisme” antara  SGT dan 
yang dianutoleh PKI bisa dilihat dalam perdebatan antara SGT dan Sakirman di 
parlemen pada 1951 tentang RUU Pedoman Baru –yang menghendaki semua kepemilkan 
perusahaan bis dan transportasi dialihkan ketangan “golongan ekonomi lemah” – 
artinya non Tionghoa dan pengharusan semua  perusahaan barudimiliki oleh 75% 
WNI. SGT  menentang kebijakan ini berdasarkanargumentasi bahwa 
perusahaan-perusahaan  yang dimiliki para pedagangTionghoa yang sudah 
berpengalaman sejak zaman penjajahanBelanda - apapun status 
kewarganegaraan-nya, seharusnya dilindungi dan dibantu
 perkembangannya, karena ini akan membantupembangunan ekonomi nasional. 
Sakirman menentang SGT yangdianggapnya menginginkan dipertahankannya sistim 
kapitalisme yangmerugikan pembangunan ekonomi.  



 Tatiana

Seperti sudah sayaungkapkan dalam “SGT, PKI dan Sosialisme” (2) kebijakan dan 
sikapPKI  terhadap bornas dan kapital domestikditentukan oleh analisa kelas 
masyarakat Indonesia dan sifat serta tahap atautingkat revolusi. Tidak ada 
perubahan program PKI di periode demokrasiparlementer dan demokrasi terpimpin 
dalam hal persekutuan dengan borjuasi nasional.

Dalam “MasyarakatIndonesia dan Revolusi Indonesia”, tahun 1957, DNA 
menulis:“Program PKI menyatakan bahwa “kelas buruh, kaum tani, borjuasikecil, 
dan borjuasi nasional harus bersatu dalam satu front nasional”.Front nasional 
adalah gabungan antara kekuatan progresif dan kekuatan tengah. Kekuatan tengah 
pada pokoknya ialah kekuatan borjuasi nasional.”

Bahkan jauh sebelum 1957,dengan “Jalan Baru” Musso, masalah front nasional 
(artinya juga masalahpersekutuan dengan borjuasi nasional) sudah menjadi tema 
pokok dan penting yangdiperdebatkan dan dibahas oleh pimpinan PKI.


Lain lagi masalahnya,kalau kita bicara tentang penerapan kongkrit , 
pengejawantahan dari  garis bersekutu dengan kaum borjuasi nasionalyang 
diterjemahkan dalam undang-undang dan kebijakan ekonomi kongkrit. Ya 
sudahbarang tentu dapat terjadi perdebatan dan pertentangan pendapat antara 
tidaksaja SGT dan PKI tapi juga dengan partai-partai lainnya.  Karena itu sudah 
menyentuh keadaan kongkrit  di mana kaum pengusaha nasional hidup, berdagang, 
berproduksi dan  menjalankan ekonomi. Ini tidak saya bantah,karena memang 
normal. 


Bagi saya tidak pentingsiapa yang memberi masukan kepada siapa. Anda bilang SGT 
memberi masukan, OK .Tidak saya bantah. Memang Lukman bukan ahli ekonomi. 
Pendidikannyapun dia terima di tanah pembuangan Boven Digul, dengan 
guru-gurunya orang-orang yang dibuang juga. Saya sama sekali tidak tahu apa 
yang dibicarakan SGT denganM.H. Lukman setiap kali bertemu (yang jelas bukan 
untuk kasih sumbangan supayaLukman bisa beli sepatu baru untuk anaknya, bukan? 
Karena anaknya baru dibeliinsepatu baru kalau yang lama sudah bolong. ….I’m 
joking!).  Namun saya tahu ada satu prinsip yang dipegangoleh semua partai 
komunis (yang bukan revisionis), yaitu politik adalahpanglima. Dalam soal 
ekonomi pun, tetap politik yang memimpin. 


Jadi saya tidak mencampuradukkan masalah garis atau panduan dengan penerapan 
kongkrit dalam lapangan.


Bagi saya jelas baik PKI maupun SGT, kedua-duanya melakukan: 1) analisakelas 
masyarakat Indonesia guna menetapkan siapa kawan dan siapa musuhrevolusi. 
2)Dari analisa itu sampai pada kesimpulan sifat atau karaktermasyarakat 
Indonesia, yaitu setengah jajahan setengah feodal (SGT: struktur masyarakat 
Indonesiamemiliki elemen-elemen feodalisme, kolonialisme dan kapitalisme). 3) 
Maka sifatrevolusi Indonesia adalah nasional demokratis . Ini ditunjukkan dalam 
kutipan pidatoSGT, 12 Juni 1961 yang ada kirim: (6)  Pidato SGT, 12 Juni 1961: 
“…dalam tingkat nasional-demokratis sekarangini kaptitalisme belum menjjadi 
sasaran revolusi, karena dalambatas-batas tertentu, sampai-pun modal domestic, 
yaitu modal milikperseorangan, termasuk orang asing yang menetap di Indonesia,
 diberikesempatan berkembang secara sehat untuk menguntungkan kelajuanrevolusi 
untuk memasuki tingkatselanjutnya…”.  4)Sosialisme a laIndonesia tanpa 
penghisapan oleh manusia adalah tingkat selanjutnya.


Itulah garis besar revolusi Indonesia yang sama-sama didukung dandiperjuangkan 
realisasinya oleh PKI dan SGT. Bahwa ada perbedaan danpertentangan pendapat 
dalam penerapan garis besar , itu adalah sesuatuyang  NORMAL.  Karena dari 
teori atau prinsip sampai kepenerapan praktek kongkrit, masih panjang lagi 
jalannya.



STDjin:

 Saya ketengahkan pula dalam tulisan2 sayabahwa massa Baperki
 sebagianbesar adalah pedagang-pedagang Tionghoa. Konsepsi
 “kapitalisme” yang didukung oleh SGT seiramadengan jati diri mereka.
 Komunismeyang dikenal pada tahun 50-an tidak begitu “cocok” dengan  sikap 
massa Baperki.
 
Menyatakan demikina bukan berarti sayamenyatakan bahwa SGT dan
 Baperkianti Komunisme atau anti PKI. Banyak data yang mendukung
 pengertian bahwa PKI sering membela Baperki(Hanya saja agak aneh,
 justruketika Harian Republik, Terompet Baperki, pada tahun
 1960,dilarang terbit oleh pemerintah karenamembela PKI dalam poeristiwa 
Madiun. PKI ternyata memilih jalan DIAM, tidakmembela!). 



Tatiana

Apayang anda maksud dengan “Komunisme yang dikenal pada tahun 50-an…..”? Dan 
apa“konsepsi kapitalisme yang didukung SGT seirama dengan jati diri mereka”?


Sudahtentu pedagang tionghoa memiliki ciri-ciri khususnya yang berhubungan 
dengansifat-sifat etniknya sendiri. Lain lagi pedagang Jawa, atau pedagang Arab 
ataupedagang Melayu. Masing-masing memiliki kekhususan yang berhubungan 
dengansifat etniknya. Bagaimana sifat etnik yang berbeda ini mempengaruhi 
praktekkongkritnya dalam berdagang dan berusaha? Ini subjek yang tidak saya 
ketahui,karena memang tidak pernah mempelajarinya. Namun dari segi hubungan 
produksi,pasti ada ciri sama dari para pengusaha dan pedagang berbagai grup 
etnikitu.Misalnya, jelas yang dicari semua pengusaha dan pedagang adalah profit 
dandari situ dapat mengakumulasi modal. Cara mereka untuk mendapat profit , 
caramenghadapi kompetisi/persaingan , marketing dan sebagainya bisa berlainan, 
tapitetap tujuannya adalah mencari keuntungan.


Kapitalismesebagai sistim ekonomi mempunyai ciri pokok/dasar sama yang 
mengidentifikasinya sebagai kapitalisme (misalnya,kepemilikan pribadi atas 
means of production, penghisapan manusia oleh manusia,tenaga kerja manusia 
sebagai barang dagangan. Dari tiga ciri pokok ini dapatditarik ciri-ciri 
sampingannya).Sejak revolusi Oktober 1917, timbul apa yangdinamakan kapitalisme 
Negara. Secara garis besar ada dua macam kapitalisme:yaitu kapitalisme Negara 
dan kapitalisme yang diterapkan di negeri-negeri sepenuhnya borjuis. Dalam 
kategorikapitalisme yang diterapkan di negeri-negeri borjuis bisa terdapat 
macam-macamkapitalisme yang berbeda-beda definisinya. Tapi dari segi hakekat 
dan intinya,sebenarnya hanya ada dua macam kapitalisme.


Sayajuga merasa aneh, apa latar belakangnya sehingga PKI mengambil sikap 
“diam”terhadap pemberangusan itu. Harus tahu keadaan kongkrit dan latar 
belakang darikeputusan itu, baru bisa menghakiminya. Tanpa menyelidiki duduk 
perkaramasalahnya, saya tak punya hak untuk bicara dan mengajukan pendapat.



Tiong Djin



 h.    Ttg PerkawinanKapitalisme dan Sosialisme:  Betul, SGT tidak
 secaraeksplisit menggunakan istilah “perkawinan”.  Akan tetapi
 berbagaitulisan dan pidatonya tidak bisa tidak memiliki konotasi dan
 mendukungistilah “perkawinan” tersebut. 


Tatiana

Jadi sebenarnya  “perkawinan sosialisme dan kapitalisme”  adalah interpretasi 
dan  asumsi anda  sendiri. Secara subjektif  anda melihat dalam tulisan dan 
pidato SGT“tidak bisa tidak memiliki konotasi dan mendukung istilah “perkawinan 
“ tsb”.  Ada baiknya untuk mengklarifikasi danpencerahan, ditampilkan tulisan 
SGT yang membuat anda mengafirmasi “tidak bisatidak….”. . Lagi pula, seperti 
sudah saya ajukan dalam tulisan saya  bahwa pada tahun 50-an orang tidak 
bicaratentang “perkawinan atau kombinasi sosialisme dengan kapitalisme”.  
Istilah ini muncul  bersama dengan reform kapitalis DengXiaoping  yang 
membongkar seluruhstruktur sosialis yang dibangun  rakyatTkk di bawah pimpinan 
Mao.  Bagaimanaanda bisa bilang “. Siauw sudah sejak tahun 50-anmencanangkan 
konsep perkawinan sosialisme dan kapitalisme “?  Sekarang anda mengakui 
bahwamemang SGT tidak secara explicit menggunakan istilah “perkawinan”. Tapi 
andamasih berkutat dengan mengatakan “…tidak bisa tidak memiliki konotasi 
danmendukung istilah “perkawinan” tsb.”.  . Karena ada orang yang membantah 
(yaitu saya)maka tunjukkan tulisan dan pidato  yangberisi “konotasi” dan 
“dukungan” terhadap perkawinan sosialisme dankapitalisme.


Dan ingat juga  bahwa kebebasan kepada modal domestik untukberkembang diberikan 
pada tahaprevolusi nasional demokratis!! Jadibukan pada tahap revolusi 
sosialis. Ini penting diingat !!Janganmencampur adukkan kedua tahap itu. SGT 
dengan jelas juga mengatakan “ dalam tingkatnasional-demokratis  sekarangini 
kaptitalisme belum menjjadi sasaran revolusi, karena dalam batas-batas 
tertentu, sampai-pun modal domestic, yaitumodal milik perseorangan, termasuk 
orang asing yangmenetap di Indonesia, diberi kesempatan berkembang secara sehat 
untukmenguntungkan  kelajuan revolusi untuk memasuki tingkatselanjutnya…”.  


Kata-kata SGT di atas dengan jelasmenunjukkan, pertama SGT tahu akantahap 
revolusi ketika itu, yaitu tingkat nasional-demokratis. Kedua SGT juga tahu 
bahwa pengembangankapitali domestic bertujuan untuk mendorong revolusi masuk ke 
tingkatberikutnya.

Apa tingkat selanjutnyaitu? Itulah tingkat sosialis!. Jadi jelas SGT sama 
sekali tidak mencampuradukkan kedua tingkat atau tahap Revolusi. Selesai 
tingkat nasional demokratis,baru bisa melangkah ke tingkat sosialis. Artinya 
TIDAK ADA PERKAWINAN antarakapitalisme dan sosialisme. Apalagi kalau 
kapitalisme yang dimaksudadalah kapitalisme yang melanggengkan dan mensucikan 
kepemilikan pribadi atasalat produksi dan penghisapan manusia oleh manusia. Ini 
juga kekurangan anda ketikabicara tentang SGT yang “memperjuangkan 
kapitalisme”. Anda tidak menjelaskanKapitalisme yang bagaimana yang 
diperjuangan SGT. Kapitalisme yang dimaksudoleh SGT bukanlah kapitalisme yang 
mengabadikan kepemilikan pribadi atas alatproduksi dan penghisapan manusia oleh 
manusia., melainkan kapitalismeNegara.  


Jadi anda menggunakanistilah “perkawinan sosialisme dan kapitalisme” dan 
mengatakan itu adalahkonsep SGT yang sudah dicanangkan  sejaktahun 50-an, tanpa 
menampilkan penjelasan dan bukti-bukti adalah tidak tepatkarena tidak sesuai 
dengan kenyataan dan fakta sejarah. Apalagi pimpinanrevisionis PKT 
mempropagandakan teori “perkawinan sosialisme dan kapitalisme” untuk 
membenarkan restorasikapitalis dan pembongkaran sosialisme.  Dalam kenyataan 
dan prakteknya di Tkk, tidakada perkawinan sosialisme dan kapitalisme. Untuk 
membangun kapitalisme, Deng Xiaopingharus membongkar dulu Komune Rakyat dan 
kehidupan kolektif di pedesaan danmenghapus dari konstitusi RRT hak mogok 
buruh, sistim kerja 8 jam, statuspekerja tetap seumur hidup,  pendidikandan 
pelayanan kesehatan gratis dan semua hak demokratis yang dicapai dalamRBKP. 
Kalau memang menginginkan sosialisme hidup berdampingan dengankapitalisme, 
mengapa harus mengambil langkah-langkah di atas ? Berkali-kalisaya minta 
S.Suroso dan Chan untuk menyebut dan menunjukkan unsur-unsursosialis dalam 
sistim ekonomi dan sosial sekarang, tidak pernah dijawab. PernahChan menjawab 
planifikasi. Saya balik jawab, Suharto juga pakai planifikasi.Buktinya 
Repelita. Apakah rejimnya Suharto juga sosialis yang hidup bersamadengan 
kediktaturan militer fasis?

 Dengan pernyataan anda bahwa SGT sejak tahun50-an sudah mencanangkan konsep 
“perkawinan sosialisme dan kapitalisme” , itudapat diinterpretasikan 
seolah-olah SGT mendukung “sosialisme dengan ciri Tkk”yang menerapkan konsep 
“perkawinan” tersebut.

 Kesandan interpretasi yang tidak benar inilah yang saya ungkapdan coba 
meluruskannya. JUSTRU  karena itulah sayamengkhawatirkan anda  telah 
memelesetkandan memelintir pandangan SGT.  Jadi bukanasal “menuduh”. Saya punya 
alasan dan argumentasi. Karena dalam pidato-pidatoSGT  yang Tiong Djin ajukan 
di bawah ini,dan juga dari komentar dan tulisan mereka yang dimuat dalam 
“Sumbangsih SGT danBaperki”  SGT sama sekali tidak bicaratentang hubungan 
antara politik/kebijakan yang memberi ruang kebebasan danperkembangan kepada 
kaum kapitalis domestik alias bornas dengan tahapselanjutnya dari Revolusi 
Indonesia, yaitu tahap sosialisme . 


STDjin:

 Saya kutipberbagai pidatro SGT sejak zaman Demokrasi Parlementer:



 (1)  Sambutan SGT pada Simposium EkonomiBaperki, 26 September 1954:
 “…Hendaknya pemerintah tidak memasalahkansiapa yang mengadakan
 industrialisasi tetapi lebih mementingkansumbangan modal warga
 negaraketurunan asing dalam pembangunan ekonomi nasional. Semua
 modaldomestic yang tidak merupakan eksploitasi dan drainage yang
 bisamenimbulkan kolonialisme di bidang ekonomi, harus
 dikembangkan...” 

 (2) Pidato SGT di Pacet, 9 Januari 1955: “… ketentuan-ketentuian yg
 patutdiperhatikan adalah pasal2 37 dan 38 UUD, yang dapat dikatakan
 menjadidasar ekonomi nasional yang sesungguhnya. ….Pasal 37 dapat disimpulkan 
berartimodal perseorangan (Kapitalisme) tidak  dihapuskan, melainkandibatasi , 
supaya tidak mencapai tingkat kekuasaanmonopoli yang membahayakan kepentingan 
rakyat…”



(3) Uraian SGT pada kongres baperki di Malang 21 Marert 1955 tentang
 Konstituante: “… Harus ada pasal dalam UUDyang menjamin adanya
 kesempatan untuk setiap warga negara untukberkembang , tetapi
 terbatassehingga tidak menjadi kekuatan monopoli yang merugikan
rakyat terbanyak.  UUD itu harus menentukanbahwa pembangunan ekonomi 
nasionalberdasarkan pada kekuatan perusahaan pokok milik negara dibantu 
olehperusahaan2  milik koperasi rakyat dan perusahaan2 milik modal 
perseorangan…” 

 (4) SGT pada 21 Mei 1959, sebagai wakil ketua seksi ekonomi DPR
 (jadisebelum Dekrit 5 Juli 1959) “….Tulang punggung Sosialis ala
 Indonesiaadalah kekuatan produksi perusahaan2 modal negara dibantu
 olehkekuatan produksi perusahaan2 modal perseorangan …”. 

 (5) Pidato SGT 13 Maret 1961: “…Bahwa dalam tahap sekarang ini
 kapitalisme masih diakui adanya, malahandianjurkan untuk tumbuh
 sehatuntuk pembangunan Indonesia…” 

 (6) Pidato SGT, 12 Juni 1961: “…dalam tingkatnasional-demokratis
 sekarangini kaptitalisme belum menjjadi sasaran revolusi, karena
 dalambatas-batas tertentu, sampai-pun modal domestic, yaitu modal
 milik perseorangan,termasuk orang asing yang menetap di Indonesia,
diberi kesempatan berkembang secara sehat untukmenguntungkan kelajuan revolusi 
untuk memasuki tingkat selanjutnya…”.  

 Jelaskapitalisme yang dimaksud adalah kapitalisme yang berkaitan
 denganmodal domestik bukan modal-modal Multi-National Corporations.
SGT selalu beragumentasi bahwa pengembanganmodal domestik ini sangat penting 
untuik pembangunan ekonomi nasional karenapara pemilik modal ini menetapdi 
Indonesia dan keuntungan yang merekla peroleh akan dipergunakan 
untukmengembangkan usahanya di Indonesia. Sedangkan Multi National Corporations 
bukan saja tidak mementingkanpembangunan nasional Indonesia, ia bahkan siap 
merugikannya demi menciptakan keuntungan yang akan dikirim keluarIndonesia.    

Tatiana:

Dalam semua kutipan pidato SGT di atas, samasekali tidak saya temukan  hal-hal 
yangbertentangan dengan garis PKI dan juga dengan pendapat pribadi yang tetap 
sayapegang sampai detik ini. Saya malah merasa lega karena kutipan-kutipan 
itujustru memperkuat keyakinan saya berkaitan dengan garis strategi dalam 
tahaprevolusi nasional demokratis yang dijalankan SGT dan PKI.

Senantiasa,

TL

  • [GELORA45] Jawaban untuk... Tatiana Lukman jetaimemuc...@yahoo.com [GELORA45]

Kirim email ke