Iwa ini orang teknik bukan orang bisnis.

Mestinya dia buka dulu data dan informasinya kenapa ngomong begini begitu. 
Kalau hanya ngomong doang ya gampang saja.

Saya jadi pengin lihat apa dia punya data dan informasi yang menunjang idenya 
ini “Peleburan PGN-Pertamina Tidak Efisien”. Sama ibaratnya prof. DR. IR. 
Sontoloyo Msc ngomong peleburan pertamina dan BNI tidak efisien. Begitu juga 
merger antara pertamina, Adhi Karya dan Astra agro lestari tidak feasible. 
Aneh2 saja kalau orang sudah pengin ngomong. Didunia bisnis diseluruh dunia 
yang namanya merger acquisition itu gak ada aturannya. Teorinya selalu bilang 
harus yang menciptakan synergy yang baik. Ini teorinya tokh. Prakteknya gak 
segampang itu. Synergi itu angan2. Banyak perusahaan yang tidak berkaitan sama 
sekali bisa berhasil merger acquisitionnya. Yang sama2 bagus dan berkaitan juga 
ada yg gagal. private investors yang punya duit jual beli perusahaan tanpa 
punya keahlian dalam bidang teknikal perusahaan yg dijual belikan tetapi 
mengerti bagaimana menjalankan perusahaan itu sehingga bisa dijual untung 
setelah dibeli dengan harga murah dan diperbaiki managementnya. Ini masalah 
management bukan masalah harus begini begitu kedua perusahaan yang akan merger 
acquisition itu!!!!!

 

Iwa: "Misalnya, Pertamina fokus di BBM, Pertagas dan PGN dilebur khusus 
mengenai gas, listrik ya fokusnya di PLN, karena itu semua kan fundamental 
menyangkut hajat hidup orang banyak.

Iwa: melanjutkan, pemerintah sebaiknya merubah aturan yang tidak pro terhadap 
hajat hidup orang banyak. Perusahaan BUMN semestinya menjalankan dua fungsi, 
yakni mengejar profit sekaligus menangani wilayah sosial.

Nesare: ini kan kelihatan jalan pikirannya alias asumsinya kenapa dia bilang  
pertamina focus di BBM dan pertagas dan PGN di gas. Silahkan berwacana. Tetapi 
ketika orang ngomong merger acquisition itu jangan dilupakan aspek bisnis 
organisasinya. Masalah BUMN terutama pertamina itu korupsi dan kepentingan 
politik ketimbang masalah bagaimana seharusnya mengurus orang banyak itu. Sudah 
kapitalisme jangan malu2 utk cari duit. Kalau memang masalahnya adalah 
ideology, ya urus dan rombak dulu Pancasila dan UUD 45 yg bisa2 bikin NKRI 
roboh. Jangan muluk2 pake’ istilah rakyat banyak sedangkan permasalahan didepan 
mata adalah pertamina jadi sapi perah dan sarang korupsi.

 

Iwa: "Perusahaan BUMN, seperti Pertamina sebaiknya dibagi, ada yang khusus 
profit center yang dibutuhkan untuk pendapatan negara, kemudian dibuatkan juga 
Pertamina yang menangani wilayah sosial," tuntas Iwa.

Nesare: nah kalau ini membingungkan. Koq bisa satu perusahaan disuruh dibagi2 
utk cari duit dan social. Perusahaan ya 1 cari: for profit atau non profit. Yg 
bisa dilakukan pertamina dibikin perusahaan utk cari duit dan perusahaan lain 
utk social. Tetapi kalau 1 perusahaan ya gak bisa either for profit atau non 
for profit. Terus istilah profit center itu sendiri dalam bisnis sudah salah 
artinya. Profit center itu dalam suatu perusahaan adalah bagian yang 
menghasilkan duit seperti sales, marketing, trading dll. Lawannya adalah cost 
center seperti: accounting, tax, R/D dll. Ini repotnya kalau sudah professor 
campur bhs Indonesia dengan bhs inggris bikin orang jadi bingung maksudnya.

 

Nesare

 

 

From: GELORA45@yahoogroups.com [mailto:GELORA45@yahoogroups.com] 
Sent: Sunday, October 16, 2016 2:03 PM
To: GELORA45@yahoogroups.com
Subject: [GELORA45] Peleburan PGN-Pertamina Tidak Efisien

 

  

 

Peleburan PGN-Pertamina Tidak Efisien 
<http://www.jurnas.com/artikel/8302/Peleburan-PGN-Pertamina-Tidak-Efisien/> 

        
        
 <http://www.jurnas.com/artikel/8302/Peleburan-PGN-Pertamina-Tidak-Efisien/> 

         
<http://www.jurnas.com/artikel/8302/Peleburan-PGN-Pertamina-Tidak-Efisien/> 
Peleburan PGN-Pertamina Tidak Efisien 

Kepala Pusat Kajian Energi Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Ir. 

        


 <http://www.jurnas.com/artikel/8302/Peleburan-PGN-Pertamina-Tidak-Efisien/> 
View on www.jurnas.com 

Preview by Yahoo 

        
                                                

 


Peleburan PGN-Pertamina Tidak Efisien


Ahmad Diriyat | 11 Okt 2016 | 21:36 WIB

  <http://www.jurnas.com/images/view/-iwa%20garniwa.jpg> Diskusi Migas (Ahmad 
Diriyat)

Kepala Pusat Kajian Energi Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Ir. Iwa 
Garniwa menentang usulan pembentukan holding BUMN sektor Migas, khususnya 
rencana penggabungan antara PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dengan PT 
Pertamina (Persero).

Menurut Iwa, penggabungan PGN dan Pertamina hanya akan menyebabkan pembengkakan 
biaya di masing-masing managemen. Dari pada menggabungkan, lebih baik 
pemerintah fokus membesarkan dua BUMN ini di bidang usahanya masing-masing.

"Misalnya, Pertamina fokus di BBM, Pertagas dan PGN dilebur khusus mengenai 
gas, listrik ya fokusnya di PLN, karena itu semua kan fundamental menyangkut 
hajat hidup orang banyak. Fokus saja terhadap masing-masing itu, efisiensienkan 
masing-masing itu," kata Iwa dalam diskusi 'Revisi UU Migas untuk Kedaulatan 
Energi demi terbentuknya Holding Energy Nasional' yang digelar PB HMI di 
Cikini, Jakarta, Selasa (12/10).

Iwa melanjutkan, pemerintah sebaiknya merubah aturan yang tidak pro terhadap 
hajat hidup orang banyak. Perusahaan BUMN semestinya menjalankan dua fungsi, 
yakni mengejar profit sekaligus menangani wilayah sosial.

"Perusahaan BUMN, seperti Pertamina sebaiknya dibagi, ada yang khusus profit 
center yang dibutuhkan untuk pendapatan negara, kemudian dibuatkan juga 
Pertamina yang menangani wilayah sosial," tuntas Iwa.

 

 



Kirim email ke