Memang benar komunisme di Tiongkok telah mati, yang hanyalah nama partai 
komunis dengan ekonomi kapitalisme dan pemerintahan authoritarian.
---http://aceh.tribunnews.com/2016/10/16/komunis-telah-mati-di-tiongkok
Citizen Reporter

Komunis Telah Mati di Tiongkok
Minggu, 16 Oktober 2016 13:07

OLEH MAKMUR IBRAHIM MHum, Kepala Kantor Regional XIII BKN Aceh, melaporkan dari 
Beijing, TiongkokSEBAGAI ibu kota Republik Rakyat Tiongkok (RRT), melihat 
Beijing sama dengan sedang membaca narasi yang mengisahkan dinamika 
perkembangan dan kemajuan yang sedang digapaiTiongkok.Selama di Beijing saya 
rasakan betapa transformasi Tiongkokdalam dua dasawarsa terakhir ini begitu 
dahsyat menggeliat.Dari sejumlah sumber yang saya peroleh ternyata fenomena 
kemajuan Tiongkok tidak hanya terjadi di Bejing, tapi juga merata di 
tempat-tempat lain di seluruh Tiongkok.Infrastruktur seperti jalan raya juga 
tak kalah mengagumkan. Jalan raya antarkota umumnya berjalur empat. Di wilayah 
kota, jalan-jalan utama umumnya lima sampi enam lajur untuk satu arah yang 
dipenuhi mobil-mobil baru. Tak sedikit di antaranya adalah mobil mewah buatan 
Eropa, Jepang, dan Korea.Jika dilihat dari segi ini saja seolah tidak ada lagi 
bekas komunis diTiongkok. Ideologi ini tampaknya kini tinggal hanya dalam 
dokumen dan retorika pemimpin partai dan pejabat pemerintah.Tiongkok memang 
negara komunis, tapi dalam praktik sehari-hari rakyat Tiongkok adalah penganut 
kapitalisme. Sepertinya, ideologi komunisme sudah bangkrut seiring runtuhnya 
Tembok Berlin, bubarnya Uni Soviet, dan Pakta Warsawa. Tiongkoksebagai negeri 
komunis kini lebih lihai bicara dan mempraktikkan pertumbuhan ekonomi ketimbang 
negara kapitalis sendiri seperti Amerika dan Eropa. Melihat kondisi ini saya 
yakin, sepertinya komunis telah mati di Tiongkok.Dalam konteks ini, lanskap 
keseharian Tiongkok adalah liberalisme ekonomi yang melebihi kapitalisme di 
negeri asalnya di Eropa dan Amerika yang justru sedang tersengal-sengal 
menghadapi krisis seperti di Yunani, Italia, Spanyol, Portugal, dan dalam batas 
tertentu Amerika Serikat sendiri.Dengan kepesatan pembangunan di berbagai lini 
sementara krisis keuangan dan ekonomi melanda Eurozone, misalnya, tidak heran 
jika negara Barat, Amerika Serikat, dan Eropa, merasa sangat terancam. Berbagai 
literatur tentang Cina atau Tiongkoksedikitnya dalam satu dasawarsa terakhir 
banyak bicara tentang ancaman Cina yang tengah bangkit. Seperti yang kita 
ketahui, berbagai tekanan dilakukan Barat untuk memperbaiki posisiekonomi 
mereka vis-à-vis Cina, misalnya, melalui liberalisasi mata uang Yuan, tetapi 
Pemerintah Tiongkok masih tetap bias berkelit.Gelagat Tiongkok yang semakin 
menguat bahkan bergerak menyaingi negara superpower yang telah ada sepertinya 
diketahui dan dinikmati dengan baik oleh rakyat dan PemerintahTiongkok.Konflik 
perairan laut dengan Filipina dan Malaysia, misalnya, memperlihatkan betapa 
Tiongkok makin kuat dalam percaturan politik dunia ketika negara kuat seperti 
Amerika Serikat, Rusia, Inggris, dan sejumlah negara kuat lainnya tak berani 
ikut campur terang-terangan.Dalam rangka menebar pengaruhnya ke berbagai 
belahan dunia inilah terlihat betapa Kedutaan Besar Tiongkok di berbagai tempat 
begitu aktif dan serius melakukana kerja-kerja diplomatik. Undangan yang kami 
terima dalam rangka Studi Negara-Negara Anggota Asean Terkait Administrasi 
Publik dan Manajemen SDM, misalnya, juga kami yakini sebagai upaya diplomatis 
PemerintahTiongkok memperkenalkan ketangguhan mereka kepada mitra 
ASEAN-nya.Ketika menyaksikan kepesatan pembangunan dan kemajuanTiongkok dalam 
berbagai bidang dan membandingkannya dengan kondisi di Tanah Air, terus terang, 
saya merasa iri dan sekaligus geram. Ekonomi kita memang ada pertumbuhan, tapi 
seperti jalan siput. Perekonomian kita tumbuh lebih banyak karena konsumsi yang 
meningkat, bukan karena kemajuan industri, misalnya. Selam semingu berada di 
Beijing saya melihat betapa Tiongkok, terutama SDM mereka, telah siap untuk 
maju. Rakyat dan pemerintahan mereka begitu disiplin dan taat asas. Dengan 
kondisi yang demikian, bukan tak mungkin beberapa tahun ke depan Tiongkok akan 
menjadi kiblat ekonomi dunia sekaligus pusat kekuatan dunia.Dari sejumlah 
referensi yang sempat saya pelajari selama di Beijing, kemajuan Tiongkok dalam 
dunia perekonomian mendapat pengakuan dari banyak negara, termasuk Amerika 
Serikat. Salah satu badan peneliti intelijen negara ini--National Intelligence 
Council atau Subintelijen Amerika--bahkan meramalkan Cina akan menjadi negara 
ekonomi terbesar sejagat dalam kurang dari dua dasawarsa ke depan.Bila benar 
demikian, maka akan segera tiba saatnya Asia memimpin dunia. Tetapi bila waktu 
itu tiba, posisi Indonesia di mana ya? * Jika Anda punya informasi menarik, 
kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email 
reda...@serambinews.com

Kirim email ke