Duterte: Hanya Tiongkok yang Bisa Bantu Filipina
Rabu, 19 Oktober 2016 | 13:50

http://sp.beritasatu.com/home/duterte-hanya-tiongkok-yang-bisa-bantu-filipina/117226

Rodrigo Duterte [Istimewa] 

Berita Terkait

§  Duterte Berupaya Akhiri Kerja Sama Militer dengan AS

§  Perang Narkoba Duterte Ancam Ekonomi Filipina

§  Dikritik Soal HAM, Duterte Balik Kecam Uni Eropa

§  Jokowi dan Duterte Bahas Keamanan Perairan

§  Rencana Pembunuhan Duterte Digagalkan



[MANILA] Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan negaranya ingin 
meningkatkan pertemanan tradisional dengan Tiongkok sambil membahas kerja sama 
bilateral bidang perdagangan dan ekonomi. Duterte akan berkunjung ke Tiongkok 
selama empat hari mulai Selasa (25/10) atas undangan Presiden Tiongkok Xi 
Jinping.

Duterte menyatakan keinginannya berdialog dengan Tiongkok demi meningkatkan 
saling pemahaman dan kemitraan. Duterte juga akan memakai kesempatan itu untuk 
membahas tentang isu Laut China Selatan (LCS) karena dia lebih memilih 
perundingan dibandingkan konfrontasi.

“Hal yang saya perlukan hanyalah berbicara dan mendapatkan jabat tangan erat 
dari para pejabat (Tiongkok), serta mengatakan bahwa kami Filipina dan kami 
siap bekerja sama dengan Anda untuk membangun ekonomi dan negara kami,” kata 
Duterte saat diwawancarai oleh kantor berita Tiongkok, Xinhua, di Manila hari 
Senin (17/10).

Duterte mengatakan sekitar 2 juta etnis Tionghoa hidup dan bekerja di Filipina. 
“Jadi kami mungkin meminta bantuanmu, meminta orang Tionghoa untuk membantu 
orang Tionghoa di sini (Filipina). Mereka warga Filipina, tapi mereka juga 
keturunan Tiongkok,” ujarnya.

“Ayah saya seorang seorang Tionghoa. Hanya Tiongkok yang bisa membantu kami,” 
kata Duterte.

Duterte memuji-muji Tiongkok karena memiliki warga pekerja keras serta 
kebijakan yang baik dan sehat secara internal dan eksternal. Presiden eksentrik 
itu juga menyanjung Tiongkok karena sikap kontrasnya dibandingkan negara-negara 
Barat terkait upaya Filipina melawan peredaran narkoba.

“Beberapa negara tahu bahwa kami kekurangan uang, tapi bukannya membantu, 
mereka semua hanya mengkritik. Tiongkok tidak pernah mengkritik. Mereka 
membantu kami diam-diam, dan mengatakan itu bagian dari ketulusan 
orang-orangnya,” ujar Duterte.

“Saya bisa katakan hanya Tiongkok yang layak mendapatkan penghormatan seperti 
saat ini,” kata Duterte.

Terkait isu LCS, Duterte menentang keras upaya pihak luar untuk ikut campur. 
“Kami tidak tertarik mengizinkan negara lain untuk berbicara. Saya hanya ingin 
berbicara dengan Tiongkok,” katanya.

Duterte juga membenarkan keinginannya untuk membangun perairan bersama-sama 
dengan Tiongkok. “Tidak ada gunanya berperang. Tidak ada gunanya bertengkar 
atas bagian perairan. Lebih baik kita berbicara daripada berperang. Kami ingin 
membicarakan persahabatan, kami ingin berbicara kerja sama, dan paling utama, 
kami ingin berbicara tentang bisnis. Perang tidak akan membawa kita kemana 
pun,” tandasnya.

Menjual Filipina

Sementara itu, pihak oposisi Filipina mengkritik agar Duterte tidak menjual 
Filipina ke Tiongkok merujuk rencana kunjungan sang presiden ke Tiongkok. 
Duterte akan tiba di Beijing hari Selasa malam bersama sejumlah besar delegasi 
bisnis, perdagangan, dan investasi untuk berbicara dengan para pemimpin 
Tiongkok. Ini merupakan pertemuan pertama kalinya antara para pejabat kelas 
satu kedua negara sejak hubungan keduanya hambar karena perselisihan LCS.

Anggota parlemen dari Provinsi Capiz, Filipina, Emmanuel Billones, mengatakan 
Duterte harus memastikan perlindungan kedaulatan Filipina atas wilayahnya dalam 
perselisihan di LCS. “Sejak presiden kita saat ini berada di Tiongkok, kami 
warga Filipina berharap presiden kita tidak menjual kita apa pun kesepakatan 
yang dicapai, khususnya di Laut Filipina Barat dan aspek ekonomi,” kata 
Billones.

Billones merujuk kepada nama setempat perairan LCS yang diklaim Filipina karena 
berada dalam jangkauan 370 kilometer zona ekonomi eksklusif (ZEE). Filipina 
saat masa kepemimpinan Benigno Aquino gencar menyerang Tiongkok, termasuk 
dengan mengajukan gugatan LCS ke pengadilan arbitrase internasional. Putusan 
pengadilan membantah klaim Tiongkok atas LCS. Namun, Menteri Luar Negeri 
Filipina, Perfecto Yasay, menyatakan kunjungan Duterte ke Tiongkok tidak akan 
membahas putusan pengadilan arbitrase internasional. Sebab, kedua negara masih 
berusaha saling membangun kepercayaan dan keyakinan satu sama lain. 
[Xinhua/Inquirer/C-5]


Kirim email ke