Pada Kamis, 20 Oktober 2016 12:04, "Mohammad Kasim [email protected]
[perhimpunanpersaudaraan]" <[email protected]> menulis:
- VIK
-
Ekonomi
-
Makro
KolomM Fajar MartaWartawan, Editor, Kolumnis .
Dua Tahun yang Berat, Namun Pondasi Semakin Kokoh
Kamis, 20 Oktober 2016 | 06:30 WIB
-
-
-
-
-
7676SharesIhsanuddinPresiden Joko Widodo mencuci muka di pantai Miangas,
Tulaud, Sulawesi Utara, Rabu (19/10/2016).
Terkait
- Dua Tahun yang Berat, Namun Pondasi Semakin Kokoh
- Susi, Reformasi, dan Restorasi
- Sukses "Tax Amnesty" Minim Repatriasi dan Moneter yang Moncer
- Menteri Susi dan Perlawanannya
- Jokowi, Sri Mulyani, dan Patung Perunggu
Oleh: M Fajar Marta
Kemunculan Joko Widodo dalam kancah perpolitikan nasional ibarat dongeng indah
yang bisa membuat orang terharu bahkan menitikkan air mata.Nama harumnya
meroket cepat dari mulai menjabat Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga
akhirnya menjadi orang nomor satu di negeri ini.Namun, sewajarnya dongeng,
selalu ada masa kritis, tragis, menyedihkan dalam satu bagian episodenya. Tuhan
memang mengatur demikian, sebab tak mungkin kebahagiaan dapat dirasa jika tak
pernah merasakan pahitnya kepedihan.Dalam konteks ekonomi, Jokowi masuk ke
Istana pada saat yang tidak tepat. Mantan pengusaha mebel itu menduduki kursi
kepresidenan justru saat perekonomian global mulai memasuki siklus menurun yang
tidak bisa diprediksi kapan akan pulih kembali.Pertumbuhan ekonomi global pada
tahun penuh pertama Jokowi memerintah yakni 2015, hanya tumbuh 3,1 persen,
turun dibandingkan tahun 2014 yang sebesar 3,4 persen.Jatuhnya perekonomian
global utamanya disebabkan oleh perlambatan ekonomi Tiongkok, penurunan harga
komoditas, dan ketidakpastian normalisasi kebijakan moneter AS.Kondisi ini
langsung berdampak pada perekonomian Indonesia. Maklum saja, perekonomian
Indonesia masih sangat dipengaruhi lingkungan eksternal.Ekonomi Indonesia
rentan terhadap gejolak eksternal karena strukturnya masih sangat mengandalkan
impor; berbasis komoditas; dan pasar keuangannya sangat dangkal.Tahun 2015,
perekonomian Indonesia pun terpuruk. Ekspor jatuh, kredit perbankan menurun,
rupiah melemah, aliran dana asing tersendat, dan ujungnya pertumbuhan ekonomi
melambat.Harga-harga komoditas yang jadi andalan ekspor Indonesia turun
signifikan. Harga batubara turun dari 75 dollar AS per ton pada 2014 menjadi 57
dollar AS per ton.Harga minyak kelapa sawit turun dari sekitar Rp 7,5 juta per
ton menjadi Rp 6,7 juta per ton. Begitu pula dengan komoditas primadona lainnya
seperti karet, nikel, timah, alumunium, kopi, dan tembaga.Alhasil, ekspor
Indonesia sepanjang tahun 2015 hanya 150,3 miliar dollar AS, turun 14 persen
dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 176 miliar dollar AS.Anggaran negara
pun menjadi carut marut. Jika pada masa presiden-presiden sebelumnya, anggaran
penerimaan dan belanja selalu dinaikkan dalam APBN-P, saat era Jokowi, anggaran
penerimaan dan belanja justru diturunkan.Pada APBN 2015, pendapatan negara
ditetapkan sebesar Rp 1.793,6 triliun dan belanja negara sebesar Rp 2.039,5
triliun.Lantas dalam APBN-P 2015, pendapatan negara diturunkan menjadi Rp
1.761,6 triliun, sementara belanja negara dipangkas menjadi Rp 1.984,1
triliun.Kendati sudah direvisi, realisasi penerimaan negara tetap jauh di bawah
target, yakni hanya Rp 1.504,5 triliun atau 85,4 persen dari target APBN-P.
Adapun realisasi belanja sebesar Rp 1.810 triliun atau 91,2 persen dari
target.Ujungnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 hanya 4,71 persen,
melambat dibandingkan tahun 2014 yang sebesar 5 persen.M Fajar
Marta/Kompas.comPertumbuhan ekonomi kuartalanDua tahunHingga dua tahun masa
pemerintahan Presiden Jokowi yang tepat jatuh pada tanggal 20 Oktober 2016,
kondisi perekonomian global dan domestik belum juga membaik.Ekonomi global
bahkan berpotensi tumbuh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya disertai dengan
penurunan volume perdagangan dunia yang cukup signifikan.Pertumbuhan ekonomi AS
pada 2016 diperkirakan lebih rendah dari perkiraan semula. Sementara itu, masih
lemahnya aktivitas investasi dan konsumsi di Eropa, semakin memperlambat
pertumbuhan ekonomi Eropa.Potensi pelemahan ekonomi juga dialami Tiongkok,
sejalan dengan melambatnya investasi, pengeluaran pemerintah, dan masih
lemahnya konsumsi.Di pasar komoditas, harga minyak dunia masih rendah sekitar
45dollar AS per barrel, masih jauh di bawah harga pada tahun 2014 yang di atas
100 dollar AS per barrel.Perekonomian global yang masih lemah menyebabkan
kinerja ekspor Indonesia terus terpuruk.Nilai ekspor Indonesia dalam kurun
Januari - September 2016 sebesar 104,36 miliar dollar AS, turun 9,41 persen
dibandingkan periode yang sama tahun 2015.Kredit perbankan per Juli 2016 hanya
tumbuh 7,74 persen secara tahunan, terendah dalam 6 tahun terakhir.Pertumbuhan
ekonomi Indonesia pun masih lambat dan cenderung berada di bawah proyeksi.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2016 mencapai 5,18 persen secara
year on year (yoy), sementara pada kuartal I 2016 sebesar 4,9 persen.Kembalinya
Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan sejak 27 Juli 2016 memang meningkatkan
kepercayaan pasar terhadap pengelolaan anggaran negara dan perekonomian
nasional.Kendati demikian, anggaran negara masih tertekan. Mantan Direktur
Pelaksana Bank Dunia ini memperkirakan penerimaan pajak tahun 2016 hanya akan
mencapai Rp 1.320 triliun, atau terjadi shortfall Rp 219 triliun dari target
pajak dalam APBN-P 2016 sebesar Rp 1.539,16 triliun.Karena itu, Sri Mulyani
akhirnya memangkas belanja negara 2016 sebesar Rp 137,61 triliun. Pemangkasan
dilakukan terhadap anggaran pemerintah pusat sebesar Rp 64,71 triliun dan
anggaran transfer daerah senilai Rp 72,9 triliun.Dengan dinamika yang terjadi,
pertumbuhan ekonomi tahun 2016 diperkirakan hanya akan mencapai 5,1 persen.Bank
Indonesia juga merevisi turun pertumbuhan ekonomi menjadi 4,9–5,3 persen. Ini
merupakan revisi turun kedua yang dilakukan bank sentral. Sebelumnya, BI
merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi 2016 dari 5,2–5,6 persen menjadi
5–5,4 persen.Memperkuat ekonomi domestikPemerintahan Jokowi tentu saja tak
tinggal diam dengan kondisi yang terjadi. Segala upaya dilakukan untuk
mengeliminir dampak pelemahan ekonomi global terhadap perekonomian
domestik.Salah satu rangkaian kebijakan besar yang dilakukan pemerintahan
Jokowi adalah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi hingga 13 jilid.Paket-paket
kebijakan tersebut intinya bertujuan untuk memperbaiki iklim bisnis di dalam
negeri, mulai dari kemudahan izin berinvestasi hingga kepastian hukum dalam
berusaha.Dampak paket-paket kebijakan itu memang belum signifikan terlihat,
namun telah menanamkan pondasi yang lebih kuat untuk pembangunan Indonesia ke
depan.Di tengah pesimisme yang terus menggelayut di langit nusantara, Presiden
Jokowi menunjukkan dirinya sebagai pemimpin sejati.Ia terus menggelorakan
semangat optimisme, yang ditunjukkannya dengan terus bekerja sepanjang
waktu.Presiden Jokowi menunjukkan konsistensi dan persistensinya dalam mengawal
pembangunan infrastruktur.Dalam dua tahun pemerintahannya, Jokowi membuktikan
ambisinya membangun infrastuktur bukan pencitraan belaka.Pada masa Jokowi,
anggaran infrastruktur memang dinaikkan “gila-gilaan”. Pada tahun 2015,
anggaran infrastruktur mencapai Rp 290 triliun, sedangkan pada 2016, angkanya
ditinggikan lagi menjadi Rp 313 triliun.Sebagai perbandingan, anggaran
infrastruktur pemerintahan Presiden SBY rata-rata hanya Rp 150 triliun per
tahun.Kemenkeu/M Fajar MartaPerbandingan Anggaran Infrastruktur Era Jokowi
(2015 - 2016) dan SBY (2010 - 2014)Indonesia memang sangat membutuhkan
infrastruktur untuk mengurangi biaya logistik, mengurangi kesenjangan
antar-daerah, menciptakan kantong-kantong ekonomi baru, dan mempercepat
pertumbuhan ekonomi.Tanpa infrastruktur yang memadai, Indonesia tidak akan
pernah bisa naik kelas menjadi negara maju.Sebelumnya, tidak pernah ada
presiden Indonesia yang mengunjungi Miangas, pulau perbatasan terluar di utara
Indonesia, yang lebih akrab dengan Filipina ketimbang Indonesia.Namun, Presiden
Jokowi pada Rabu (19/10/2016) datang ke pulau itu untuk meresmikan Bandara
Miangas.Dua hari sebelum ke Miangas, Presiden Jokowi mendatangi Provinsi Papua
dan Papua Barat untuk meresmikan enam proyek listrik.Tampak betul, Presiden
Jokowi berkomitmen dengan Nawacita yang diusungnya yakni membangun Indonesia
dari pinggiran dan memperkuat pemerataan pembangunan antar wilayah terutama
desa, kawasan timur Indonesia, dan kawasan perbatasan.Sepanjang dua tahun
pemerintahannya, Jokowi hampir tak pernah berhenti merancang dan meresmikan
proyek-proyek infrastruktur mulai dari jalan tol hingga pembangkit listrik,
mulai dari pelabuhan hingga bandara.Kendati tak terlalu concern terhadap
korupsi politik yang sifatnya oligarki, Jokowi menunjukkan perhatian serius
terhadap korupsi dan penyelewengan yang dampaknya langsung merugikan masyarakat
dan dunia usaha.Buktinya, Jokowi mengecek langsung operasi tangkap tangan
pelaku pungli di Kementerian Perhubungan pekan lalu.Dalam acara "Satu Meja"
yang ditayangkan Kompas TV, Senin (17/10/2016) Jokowi menegaskan satu rupiah
pungli pun akan diurusnya jika itu menganggu masyarakat dan kelancaran dunia
usaha.Sebelumnya, Jokowi juga memberi perhatian serius terhadap pungli di
Kementerian Perdagangan yang menyebabkan dwelling time di Pelabuhan Tanjung
Priok menjadi lama dan tidak kompetitif.Implementasi tol laut, meskipun masih
banyak kendala, juga menunjukkan komitmen Jokowi untuk memperbaiki iklim
berusaha, meningkatkan konektivitas, dan pemerataan pembangunan di seluruh
pelosok negeri.Tax amnestyAtas segala komitmen, konsistensi, dan kerja
kerasnya, Jokowi pun kembali menuai kepercayaan. Menjelang dua tahun
kepemimpinannya, masyarakat dan pelaku usaha berbondong-bondong mensukseskan
program tax amnesty yang dicanangkan pemerintahan Jokowi.Pada periode pertama
tax amnesty yang berakhir September 2016, jumlah harta yang dilaporkan mencapai
Rp 3.195 triliun. Dana itu terdiri harta di dalam negeri sebesar Rp 2.177
triliun dan dana di luar negeri senilai Rp 1.019 triliun.Dari total harta di
luar negeri yang dilaporkan sebesar Rp 1.019 triliun, sebanyak Rp 131 triliun
dibawa pulang atau direpatriasi ke Indonesia.Dari seluruh harta yang dilaporkan
tersebut, pemerintah memperoleh uang tebusan sebesar Rp 79,7 triliun.Program
tax amnesty masih berlangsung hingga 31 Maret 2017. Sebagian besar masyarakat
pun mulai optimis target deklarasi Rp 4.000 triliun, repatriasi Rp 1.000
triliun, dan uang tebusan Rp 165 triliun dapat tercapai.Sedikit mengagetkan,
ternyata begitu besar animo masyarakat mengikuti program tax amnesty. Indonesia
pun tercatat sebagai negara paling sukses di dunia yang menjalankan program tax
amnesty.Pondasi kokohPerekonomian global diprediksi belum akan pulih tahun
2017. Artinya tekanan eksternal masih akan menghimpit perekonomian
Indonesia.Namun, pondasi perekonomian domestik yang lebih kuat telah
ditancapkan pemerintahan Jokowi dalam dua tahun ini.Bangsa Indonesia memang
tersiksa menghadapi sulitnya perekonomian dalam dua tahun terakhir, yang tampak
jelas dari anjloknya daya beli masyarakat.Akan tetapi, masyarakat dapat melihat
jalan terang ke depan. Pembangunan infrastruktur, konektivitas, dan pemerataan
ekonomi yang konsisten dilakukan pemerintahan Jokowi akan membuat perekonomian
domestik bisa lebih diandalkan.Dengan demikian, negeri ini tak lagi mudah
terombang-ambing perekonomian global. Memang sudah sepatutnya bangsa yang besar
ini menjadi tuan bagi dirinya sendiri.Mari kerja, kerja, dan kerja seperti
Jokowi.
Kompas TVJelang 2 Tahun Jokowi-JK, Pemberantasan Pungli Mencuat
| Editor | : Aprillia Ika |
Apakah Anda ingin men-share artikel ini?0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10Sangat Tidak
InginSangat InginAda 9 komentar untuk artikel iniKomentar sepenuhnya menjadi
tanggung jawab pembaca. Kompas.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar
yang ditulis.Ochoa Maria Kamis, 20 Oktober 2016 | 10:33
Ekonomi makro Indonesia mmg bagus dan diharapkan akan terus membaik. Namun
kondisi micro masih jauh ... Mau ngeceknya gampang saja ... Lihat sektor
property... kalau sdh kena imbas berarti yang lain sudah lebih parah. &property
saat ini lagi parah2nya. Occupancy perkantoran drop. Smg lekas pulih. (0) (0)
Tanggapi LaporkanAry Praptono Kamis, 20 Oktober 2016 | 09:34
Mantab Jokowi,... Kedepan akan semakin baik... (11) (0) Tanggapi
LaporkanFirst Last Kamis, 20 Oktober 2016 | 08:22
Hidup Jokowi! 2019 - 2024 for 2nd Term President!! (9) (0) Tanggapi
LaporkanTakiya Genji Baenlah Kamis, 20 Oktober 2016 | 08:00
Ini fakta bukan pencitraan,,, guys gw terharu py presiden jokowi ,, badan si
kerempeng ga meyakinkan, tapi perjuangannya bisa membuat dunia mengacungkan 2
jempoll buat beliau....2019 for jkw tidak ada alasan lagi.... (8) (0)
Tanggapi Laporkanbarong Kamis, 20 Oktober 2016 | 07:41
Buat kompas.com tolong di perbanyak lagi berita yang bersifat analisis seperti
ini. Malas kita baca koran bukan jamannya lagi buka buka koran. (9) (0)
Tanggapi LaporkanIsmar Setiadi Kamis, 20 Oktober 2016 | 07:23
Tentu saja bagi mereka yg tidak suka JKW-JK akan menyebutnya sebagai
pencitraan. Itulah resiko sebagai pimpinan tertinggi dinegara ini. Bravo pak
Jokowi harapan kami bapak bias melanjutkan pembangunan Negara dan bangsa
Indonesia selama 2 periode. Pancasila pemersatu bangsa. Jayalah Indonesia (4)
(0) Tanggapi LaporkanAli M. Togar Kamis, 20 Oktober 2016 | 07:18
Terima kasih pak Jokowi . (2) (0) Tanggapi LaporkanIsmar Setiadi Kamis, 20
Oktober 2016 | 07:17
Memang sangat sulit untuk membuat semua orang senang dalam kurun waktu yg
singkat tapi pak JKW terlibat langsung mengawasi pembangunan daerah terluar,
perbatasan dan wilayah Indonesia Timur yg terlupakan. Concern beliau dalam
pembangunan infrastruktur akan memeratakan kemajuan diseluruh Nusantara (3)
(0) Tanggapi LaporkanJohan Kamis, 20 Oktober 2016 | 07:12
Bangsa Indonesia dipimpin oleh orang yang tepat! (5) (0) Tanggapi Laporkan
- Terpopuler
- Terkomentari
+ indeks
- 1Ada Kabar Pengusaha Tak Berani Bawa Pulang Harta dari Swiss, Ini Kata Sri
Mulyanidibaca 32.433 kali
- 2Beri Bonus untuk Pegawai Pajak, Sri Mulyani Siapkan Aturannyadibaca
23.302 kali
- 3Alot, Rapat Sri Mulyani dan Komisi XI Sepakati Kucuran Dana Talangan
Lapindo Rp 54,3 Miliardibaca 23.094 kali
- 4Gara-gara Ponsel Hilang di KRL, Persahabatan Warga Jepang-Indonesia
Terjalindibaca 12.255 kali
- 5Dirut AP I Diberhentikan oleh Menteri BUMN?dibaca 8.084 kali
- News
- Nasional
- Regional
- Megapolitan
- Internasional
- Olah Raga
- Sains
- Edukasi
- Infografis
- Surat Pembaca
- Ekonomi
- Bola
- Tekno
- Entertainment
- Otomotif
- Health
- Female
- Travel
- Properti
- Foto
- Video
- Forum
- Indeks Berita
- Indeks Headlines
- Indeks Berita Pilihan
- Indeks Topik Pilihan
- Indeks Terpopuler
- Indeks Terkomentari
- About Us
-
- Advertise
-
- Policy
-
- Pedoman Media Siber
-
- Career
-
- Contact Us
-
- Site Map
©2008 - 2015 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights
Reserved.
-
-
-
-
#yiv8700518897 #yiv8700518897 -- #yiv8700518897ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv8700518897
#yiv8700518897ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv8700518897
#yiv8700518897ygrp-mkp #yiv8700518897hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-mkp #yiv8700518897ads
{margin-bottom:10px;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-mkp .yiv8700518897ad
{padding:0 0;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-mkp .yiv8700518897ad p
{margin:0;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-mkp .yiv8700518897ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-sponsor
#yiv8700518897ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv8700518897
#yiv8700518897ygrp-sponsor #yiv8700518897ygrp-lc #yiv8700518897hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv8700518897
#yiv8700518897ygrp-sponsor #yiv8700518897ygrp-lc .yiv8700518897ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv8700518897 #yiv8700518897actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv8700518897
#yiv8700518897activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv8700518897
#yiv8700518897activity span {font-weight:700;}#yiv8700518897
#yiv8700518897activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv8700518897 #yiv8700518897activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv8700518897 #yiv8700518897activity span
span {color:#ff7900;}#yiv8700518897 #yiv8700518897activity span
.yiv8700518897underline {text-decoration:underline;}#yiv8700518897
.yiv8700518897attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv8700518897 .yiv8700518897attach div a
{text-decoration:none;}#yiv8700518897 .yiv8700518897attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv8700518897 .yiv8700518897attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv8700518897 .yiv8700518897attach label a
{text-decoration:none;}#yiv8700518897 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv8700518897 .yiv8700518897bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv8700518897
.yiv8700518897bold a {text-decoration:none;}#yiv8700518897 dd.yiv8700518897last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8700518897 dd.yiv8700518897last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8700518897
dd.yiv8700518897last p span.yiv8700518897yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv8700518897 div.yiv8700518897attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv8700518897 div.yiv8700518897attach-table
{width:400px;}#yiv8700518897 div.yiv8700518897file-title a, #yiv8700518897
div.yiv8700518897file-title a:active, #yiv8700518897
div.yiv8700518897file-title a:hover, #yiv8700518897 div.yiv8700518897file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv8700518897 div.yiv8700518897photo-title a,
#yiv8700518897 div.yiv8700518897photo-title a:active, #yiv8700518897
div.yiv8700518897photo-title a:hover, #yiv8700518897
div.yiv8700518897photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv8700518897
div#yiv8700518897ygrp-mlmsg #yiv8700518897ygrp-msg p a
span.yiv8700518897yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv8700518897
.yiv8700518897green {color:#628c2a;}#yiv8700518897 .yiv8700518897MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv8700518897 o {font-size:0;}#yiv8700518897
#yiv8700518897photos div {float:left;width:72px;}#yiv8700518897
#yiv8700518897photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv8700518897
#yiv8700518897photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv8700518897
#yiv8700518897reco-category {font-size:77%;}#yiv8700518897
#yiv8700518897reco-desc {font-size:77%;}#yiv8700518897 .yiv8700518897replbq
{margin:4px;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8700518897
#yiv8700518897ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv8700518897
#yiv8700518897ygrp-mlmsg select, #yiv8700518897 input, #yiv8700518897 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8700518897
#yiv8700518897ygrp-mlmsg pre, #yiv8700518897 code {font:115%
monospace;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-mlmsg #yiv8700518897logo
{padding-bottom:10px;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-msg
p#yiv8700518897attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv8700518897
#yiv8700518897ygrp-reco #yiv8700518897reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-sponsor
#yiv8700518897ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv8700518897
#yiv8700518897ygrp-sponsor #yiv8700518897ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv8700518897
#yiv8700518897ygrp-sponsor #yiv8700518897ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv8700518897 #yiv8700518897ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv8700518897
#yiv8700518897ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv8700518897