Saya ini Minang asli, Bahasa Inggris saya "esmin" alias English Minang



Sabtu, 22 Oktober 2016 12:27 WIB | 1.114 Views

Oleh Ikhwan Wahyudi

http://www.antaranews.com/berita/591655/saya-ini-minang-asli-bahasa-inggris-saya-esmin-alias-english-minang
 



Archandra Tahar (ANTARA /Akbar Nugroho Gumay )



Izinkan saya mohon maaf dalam dua bulan terakhir saya yakin pulsa ibu, bapak 
dan hadirin semua habis karena menonton saya 



Padang, Sumatera Barat (ANTARA News) - Sebelum ini Arcandra Tahar tidak begitu 
dikenal publik, namun semua berubah sejak ia dilantik sebagai Menteri Energi 
Sumber Daya Mineral oleh Presiden Jokowi menggantikan Sudirman Said pada 27 
Juli 2016.

Dua puluh hari kemudian, pada 15 Agustus 2016, pria kelahiran Padang, 10 
Oktober 1970 itu diberhentikan secara hormat oleh Presiden Jokowi karena 
memiliki kewarganegaraan ganda, WNI sekaligus warga Amerika Serikat.

Dia pun  mencatat rekor baru dalam sejarah kabinet di Indonesia menjadi orang 
pertama yang menjabat menteri dalam waktu paling singkat hanya 20 hari.

Sejak itu popularitas doktor Ocean Engineering dari Texas A&M University di AS 
pada 2001 ini meroket untuk menyedot perhatian publik karena kontroversi 
kewarganegaraannya.

"Sejak itu sampai sekarang saya tidak mau lagi menonton tv, kalau di rumah tv 
mati terus," kata dia saat kuliah umum di Universitas Andalas.

"Izinkan saya mohon maaf dalam dua bulan terakhir saya yakin pulsa ibu, bapak 
dan hadirin semua habis karena menonton saya," lanjut suami dari Fauline Y 
Tahar itu.

Arcandra menyatakan dia adalah orang Minang asli yang mengikuti bersekolah di 
Padang sejak SD sampai SMA. Kemudian lanjut kuliah sarjana di ITB, hingga 
berangkat ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan dan bekerja di sektor 
perminyakan.

"Saya ini Minang asli, bahasa Inggris saya esmin alias english minang," katanya.

Ia menceritakan pertama kali dipanggil pulang ke Indonesia pada Rabu 20 Juli 
2016 dengan pesan bahwa "Senin 25 Juli 2016 sudah harus sampai di Indonesia".

Dia mengaku tidak diberitahu mau dilantik sebagai apa. Dia baru bisa 
meninggalkan Amerika Serikat menuju Indonesia pada Jumat 22 Juli.

"Kalau sudah dipanggil pulang itu saya pulang, hari Senin sudah harus sampai di 
Tanah Air, diberitahu Rabu, harus menyiapkan segala sesuatu, kalau dengan 
pesawat kan lebih dari 24 jam waktu perjalanan, kalau jalan kaki bisa lebih 
lama lagi," selorohnya.

Arcandra pun pulang ke Indonesia dengan membawa delapan koper; dua koper 
miliknya, dua koper milik sang istri dan  dan empat koper anaknya.

"Sampai hari ini saya hanya punya delapan koper itu", kata Arcandra.

Taksi dan jas

Ketika pulang ke Indonesia setelah 20 tahun hidup di AS, dia hanya dipesani 
"tidak boleh ada yang tahu kepulangannya termasuk keluarga".

"Sebelum naik pesawat baru saya telepon keluarga kalau mau pulang dan tiba di 
Indonesia pada Minggu 24 Juli 2016," katanya.

Mengingat tidak memiliki rumah di Indonesia, Arcandra memutuskan untuk menginap 
di hotel. Mertuanya kemudian tahu sang menantu akan dilantik menjadi menteri 
hanya gara-gara kebaya istri.

"Istri harus pakai kebaya, di mana mau mencari kebaya di Amerika," kata 
Arcandra.

Pada hari pelantikan 27 Juli 2016, sewaktu sarapan pagi, Arcandra baru 
menyadari dengan apa dia berangkat ke Istana.

"Teman tidak tahu, saudara juga tidak tahu, ke sana mau naik apa ya, akhirnya 
ada ide naik taksi saja," kata dia.

Temannya dari Amerika mengusulkan untuk naik taksi yang agak mahal sedikit. 
Akhirnya Arcandra, istri dan temannya itu, semuanya sembilan orang, naik taksi 
ke Istana.

Memakai baju putih, dia tak tahu mau dilantik sebagai apa.

Kebingungan tak berhenti di situ. Saat hendak berangkat, ia baru sadar dengan 
uang apa dia harus membayar taksi, karena dia hanya punya dolar AS. Arcandra 
lalu meminjam uang kepada ibu mertuanya.

Ketika hendak naik ia kembali terpikir nanti saat turun tidak lucu harus bayar 
taksi. Akhirnya, seorang teman Arcandra memutuskan ikut menemani, demi 
membayarkan taksi.

"Saat dalam mobil kami sembilan orang, bayangan saya adalah ketika dulu 
menonton sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang diantar ramai-ramai pergi 
wisuda," ujarnya.

Tiba di pintu Istana ternyata taksi tidak diperbolehkan masuk Istana. Mereka 
langsung dihadang Paspampres.

"Pelantikan menteri pak," ucap teman Arcandra yang ikut dalam mobil kepada 
petugas sehingga mobil mereka diizinkan masuk Istana.

Tiba di Istana sudah ada dua orang yang memakai baju putih. Ternyata dua orang 
ini sama sekali tidak mengenal Arcandra. Demikian pula sebaliknya, Arcandra 
tidak kenal dua orang.

Dua orang ini membawa jas, sementara Arcandra hanya mengenakan baju putih. Dua 
orang itu bertanya, mengapa Arcandra tidak membawa jas.

"Saya baru ingat jas ada dalam taksi yang sudah keluar," kata Arcandra.

Demi kemanfaatan

Dua bulan setelah "dipensiundinikan sebagai menteri", Arcandra kembali dilantik 
oleh Presiden sebagai Wakil Menteri ESDM mendampingi Ignasius Jonan demi 
mengurusi sektor energi, pertambangan dan sumber daya alam.

Ia bertekad membangun kemandirian bangsa dengan mengedepankan kemanfataan 
pengelolaan sumber daya alam.

Menurutnya, sumber daya alam harus dikelola dengan prinsip kebermanfataan bukan 
menjadikannya komoditas karena UUD 1945 jelas menyatakaan kekayaan alam 
dikelola dan dikuasai negara serta digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran 
rakyat.

"Kalau menjadikan kekayaan alam sebagai komoditas maka kemanfaatan yang 
diperoleh lebih kecil," kata dia.

Ia memberi contoh, jika gas dijadikan komoditas maka cukup dijual saja sehingga 
dapat keuntungan, tetapi kalau mengedepankan asas kemanfaatan, bisa dibuat 
produk turunan dari gas, seperti pupuk hingga industri petrokimia sehingga 
nilai untung gas berlipat-lipat.

Semakin banyak turunan sumber daya alam, semakin tinggi nilai kemanfataannya, 
ujar Arcandra.

Dia juga menekankan pentingnya menjaga kemandirian bangsa pada bidang energi 
agar negara menjadi berdaulat.

"Kedaulatan erat kaitannya dengan ketahanan artinya ketersediaan terjamin dan 
dapat diakses serta stok mencukupi sehingga bangsa bisa mandiri," demikian 
Arcandra.

Editor: Jafar M Sidik


Kirim email ke