REFLEKSI : NKRI sebaggai sinar terang bagi kehidupan Neoliberalisme.
Evolusi Kedudayaan IPTEK yang berkaitan dengan Internasional Bisnis, bisa diperkirakan akan terus berkembang; Tambah lama tambah cspat, sehingga akan timbul penggolongan baru dari negara-nebara di Dunia, Yaitu negara-negara maju yang termasuk dalam the fast progresing nations, yang dapat di kategorikan sebagai negara-negara Neoliberal; dan negara-negara yang tertinggal, yaitu the slow moving nations, artinya negara negara-negra yang pertumbuhan ekonominya lemah, yaitu negara-negara yang baru berkembang seperti NKRI. Dalam konteks ini negara-negara maju atau sebut saja negara-negara Neoliberal tehah mempunyai projek untuk mempertahankan kehidupan negara-negara penganut idiologi Neoliberalisme. Projek itu dinamaman ``Pemompaan`` (kridit – memberian utang) untuk menjamin kehidupan negara-negara tertinggal. Artinya negara-negara yang pertumbuhan ekonomonya lemah akan dipompa dengan utang luarnegeri dalam bebtuk kridit ``longgar`` agar supaya bisa hidup. Menurut pengamatan saya kehidupan NKRI semakin lama semakin terancam oleh kelompok negara-negara maju (the fast progresing nation), yaitu negara-negara eropa yang tergabung dalam EU, Amerika Serikat, Ingris,Tiongkok , Australia , yang semuanya itu adalah negara yang berhaluan Neoliberalisme. Negara-negara tersebut terus mepropokasi rezim-rezim negara tertinggal (the slow moving nation), termasuk rezim yang berkuasa di NKRI agar supaya mau menerima kridit yang ditawarkannya. Menurut kacamata Neoliberal, negara-negara teringgal itu pertumbuhan ekonominnya lemah, oleh karena itu harus dipompa agar dapat hidup; Demikianlah salah satu taktik strategi negara-negara Neoliberal dalam usahnaya untuk menjadikan negara-negara tertinggal agar supaya kehidupannya selalau tergantung pada negara-negara maju (negara-negara neoliberal), dengan cara memberikan kridit ``longgar``. Inilah salah satu projek neoliberal yang sekarang ini gencar dilakukan. Dalam konteks ini nampaaknya NKRI adalah negara yang paling rajin menerima tawaran kridit atau utang luarnegri dari mana saja, datangnya. Menurut pengamatan saya nampaknya rezim Jokowi adalah suatu rezim yang sangat latah terhadap globlisasi, latah pada galmour-glamour tehnologi canggih dan gedung-gedung pencakar langit, sehingga membuka jalan lebar bagi masuknya utang luarnegeri; yang dalam konteks ini termasuk utang dari pemerintah Tiongkok yang semakin membenkak hingga 1.800%.(http://nasional.kontan.co.id/news/wah-utang-ri-ke-china-membengkak-1800) Bagi negara-negana neoliberal, mereka lebih senang menggunakan uangnya untuk memberikan utang pada negara terbelakang dari pada menyimpan uawangnya didalam Tresor mereka, bahkan jika diperlukan negara-negara neoliberal akan mencetak uang baru sebagai sarana untuk mempompa negara-negara terbelang menjadi negara yang hidupnya tergantung dari utang luarnegeri. Jadi tidaklah mengherankan jika Tiongkok terus memompa rezim Jokowi agar supa kehidupan NKRI tergantung pada Tiongkok, atau bahkan akan menjadi ngara bagian dari Tiongkok, jika sampai NKRI tidak bisa lagi membayar cicilan dan bunga utangnya, sedangkan cadangan emas yang di dalam bumi sudah habis dirampok oleh negara-negara neolibearal, seperti halnya perampokan emas di gunung Grasberg ole PT Freeport. Dalam konteks utang luar negeri ada sedikit pelajaran yang perlu kita renungkan, yang berkaitan dengan apa yang disebut FIATGELD, dalam konteks dolar Texas. Dalam waktu dekat pada tahun 1837didirikanlah suatu negara Republik Texas, yang mempunyai simpanan awal Uang di Bank. Dalam mosium di Texsas masih terdapat beberapa lembar uang kertas Texas itu. Pada saat itu Negara baru itu belum mempunyai cadangan Emas sebagai jaminan bagi uwangnya yang di Bank, namun demikian dijamin bahwa negara baru itu bisa mendapatkan bunga setiap tahunnya 10%. Dalam waktu 2 tahun berjalan, nilai tukar 1 dolar Texas sama dengan 4 cend dolar AS. 5 tahun setelah berdirinya negara Texas, simpanan uang di Bank menjdi tidak nyaman, negara Texas melarang warganya untuk membayar pajak. Tidak lama kemudian mulailah warganya dianjurkan untuk mengabungkan diri pada Amerika Serikat. Tidak lama kemudian pada tahun 1845, sebagian dari nilai dolar Texas bisa kembali nilainya. Tapi setelah 5 tahun berlalu yaitu pada tahun 1850 pemerintah AS mendeklarasikan atau mengumumkan bahwa utang Texas sudah pada posisi sangat tinggi yaitu 10 Million Dolar AS(10 juta Dollar AS). Penomena Dolar Texas inilah yang kemuduian dijadikan sebagai suatu pelajaran yang perlu di cermati, yaitu problim tentang ``Fiatgeld`` yang dimaksud adalah valuta yang tidak didasari oleh adanya cadangan Emas. Perkataan Fiat berasal dari bahasa Latin yang dalam konteks ini diartikan sebagai Sinar terang >>Fiat Lux<< yaitu Duit atau uwang. Uwang itu tidak mempunyai kekuatan, karena Texas hanya mempunyai lahan tanah, sapi dan perusahaan; semuanya itu tidak diakui sebagai tanggungan utang yang jumlahnya bermillion-million Dolar AS. Jadi Uang kertas Texas kehilangan nilainya, dampaknya adalah Negara Texas lenyap. Pada bulan Agustus 1971 pemerintah AS memutuskan untuk mengulangi kembali penomena dolar Texas, tapi saat sekarang ini seluruh dunia akan dijadikan sebagai laboratoriumnya. Presiden Richard Nixon secara sepihak membuat suatu peraturan bahwa sememua mata uang harus di dasarkan pada Dollar AS, dan didukung oleh cadangan emas. Pada saat itulah semua nilai mata unang secara global telah mengikuti nilai uang yang bersandar pada Fiatgeld. (Paul Mason-Postkapitalismus - Grundrisse einer kommenden Ökonomie Suhrkamp) Kita semua tahu bahwa NKRI sampai saat ini masih mengikuti sistem Dollar AS sebagai sandaran mata uangnyanya, tapi sayangnya cadangan emas yang masih terkandung dalam perut bumi sudah digadaikan atau dijual, kareana latah dan mengejar investasai yang membabi buta, misalnya tambang emas di Papua yaitu tambang Grasberg, yang dikerjakan oleh Freeport-McMoRan & Gold-inc (81,28% AS.- Indonesia 9.36%), masih selalu diperpanjang kontraknya. OLeh karena itu sungguh relevan jika dikatakan bahwa utang luarnegeri akan menjerat generasi bangsa dimasa depan. http://nasional.inilah.com/read/detail/2332600/beban-utang-jerat-generasi-mendatang. Artinya jika emas kita yang masih berada di perut bumi ini sudah habis dirampok oleh negara-negara Neoliberal, maka sejak itulah generasi masa depan bangsa Indonesia akan menghadapi kesukaran besar untuk mempartahankan NKRI ini. Oleh karena itu sungguh relevan jika rakyat Indoneia menuntut untuk kembali pada UUD 45, khususnya Pasal 33 UUD 45, dan Pancasila 1 Juni 1945. Renungan : Ada saatnya manusia menyedari sepenuhnya setelah zat asam habis karena bumi telah menjadi gundul-total, lautnya telah berubah menjadi samudra comberan , gunung-gunung telah berubah menjadi telaga beracun, kareana emasnya sudah habis dikeduk dan dijual, dan sawah ladangnya kering-kerontang karena musim kemarau yang sangat panjang dan seluruh bumi menjadi padang pasir; baru manusia menginsafi bahwa profit itu tidak mampu lagi menyambung kehidupan ini!!! Roeslan. Von: [email protected] [mailto:[email protected]] Gesendet: Dienstag, 30. August 2016 00:33 An: GELORA_In; [email protected]; [email protected] Betreff: [GELORA45] RI Masih Bergantung kepada Utang [1 Attachment] http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/08/29/200000526 /RI.Masih.Bergantung.kepada.Utang RI Masih Bergantung kepada Utang Senin, 29 Agustus 2016 | 20:00 WIB * * * * * 208 Shares cid:[email protected] Sukmana Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (PPR) Robert Pakpahan di Jakarta, Rabu (17/8/2016). Terkait * Februari <http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/04/18/190400826/Februari.2016.Utang.Luar.Negeri.Indonesia.Naik.3.7.Persen?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=Kaitrd> 2016, Utang Luar Negeri Indonesia Naik 3,7 Persen * Arab <http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/04/20/191000626/Arab.Saudi.Ajukan.Utang.Luar.Negeri.Pertama.dalam.25.Tahun?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=Kaitrd> Saudi Ajukan Utang Luar Negeri Pertama dalam 25 Tahun * Akhir <http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/05/17/194737526/akhir.kuartal-i.2016.utang.luar.negeri.indonesia.naik.5.7.persen?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=Kaitrd> Kuartal-I 2016, Utang Luar Negeri Indonesia Naik 5,7 Persen * April <http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/06/17/180120126/april.2016.utang.luar.negeri.ri.naik.6.3.persen.jadi.319.miliar.dollar.as?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=Kaitrd> 2016, Utang Luar Negeri RI Naik 6,3 Persen Jadi 319 Miliar Dollar AS * Mei <http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/07/19/182236226/mei.2016.utang.luar.negeri.ri.tumbuh.3.7.persen?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=Kaitrd> 2016, Utang Luar Negeri RI Tumbuh 3,7 Persen * Akhir <http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/08/22/195446726/akhir.kuartal.ii.2016.utang.luar.negeri.ri.naik.6.2.persen?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=Kaitrd> Kuartal II 2016, Utang Luar Negeri RI Naik 6,2 Persen * Utang <http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/08/23/193000426/Utang.Luar.Negeri.Indonesia.Meningkat.Apa.yang.Harus.Diwaspadai.?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=Kaitrd> Luar Negeri Indonesia Meningkat, Apa yang Harus Diwaspadai? JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah dipastikan akan terus menambah utang pada tahun ini meski total utang sudah mencapai Rp 3.400 triliun. Masih defisitnya Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) mau tidak mau membuat Indonesia terus bergantung kepada utang. "Iya, kita masih bergantung sama utang," ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (PPR) Kementerian Keuangan Robert Pakpahan di Jakarta, Senin (29/8/2016). Untuk tahun ini, defisit anggaran diperkirakan mencapai Rp 296 triliun atau 2,23 persen dari PDB. Artinya, tambahan utang pada tahun ini sekitar jumlah defisit tersebut. Menurut Robert, penambahan utang dilakukan untuk pembiayaan proyek-proyek pembangunan. Hal itu sangat penting di tengah masih melambatnya pertumbuhan ekonomi global. "Selama ada defisit mau enggak mau harus nambah utang. Tetapi hal yang lazim sih dan juga untuk memastikan pengeluaran-pengeluaran prioritas itu bisa kita biayai," kata Robert. "Apalagi ekonomi lagi slowdown, kalau pemerintah pun enggak ngeluarin pengeluaran, makin pertumbuhannya (ekonominya) makin merosot ke bawah," imbuhnya. Dianggap Gagal Utang pemerintah pada kuartal II 2016 melonjak 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun kenaikan utang pemerintah dinilai gagal mendongkrak produktifitas ekonomi nasional. Sebab keseimbangan primer Indonesia justru mengalami defisit. Defisit primer berarti kondisi dimana pengeluaran tanpa beban utang lebih besar dari jumlah penerimaan negara. "Kalau dilihat secara makro, ketika utang ditambah dan defisit keseimbangan primer ikut bertambah, itu dipastikan utang itu tidak produktif," ujar Direktur Indef Enny Sri Hartati kepada Kompas.com. Padahal, utang seharusnya bisa menjadi modal tambahan untuk meningkatkan pendapatan nasional. Tetapi hal itu dinilai tidak terjadi di Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani sendiri mengakui defisit keseimbangan primer membuat pemerintah harus menarik utang untuk membayar utang sebelumnya. Dari data dua tahun terkahir, defisit keseimbangan primer Indonesia sebesar Rp 93 triliun pada 2014. Sedangkan pada 2015 defisitnya mencapai Rp 142 triliun. "Tambahan utang baru tidak bisa membiayai utang yang harus dibayar. Artinya sekalipun pemerintah menambah utang, tidak ada sumber tambahan untuk pembiayaan pembangunan. Itu makanya timbul pertanyaan kenapa keseimbangan primer kita defisit," kata Enny. Kompas TV Utang Luar Negeri RI Lebihi Rp 4.000 Triliun Penulis: Yoga Sukmana Editor : Aprillia Ika
