http://sp.beritasatu.com/home/bangun-tiga-kawasan-pariwisata-pemerintah-utang-bank-dunia-us-200-juta/117257

Bangun Tiga Kawasan Pariwisata, Pemerintah Utang Bank Dunia US$ 200 Juta
Sabtu, 22 Oktober 2016 | 12:37

 Danau Toba. [Istimewa] 


Berita Terkait

  a.. Bank Dunia Hentikan Kegiatan di Yaman karena Keamanan 
  b.. Wapres Jelaskan Program Pemerintah Ke Bank Dunia 
  c.. Ini Tiga Fokus Bantuan Bank Dunia 
  d.. Bank Dunia Tawarkan Utang US$ 11 Miliar 
  e.. BPS: Bank Dunia Terlalu Pesimistis Atas RI
[JAKARTA] Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan berdasarkan 
hasil rapat terbatas, pemerintah memutuskan fokus pada pembangunan 
infrastruktur dan sarana penunjang di tiga dari 10 Kawasan Ekonomi Khusus 
Pariwisata. Pembangunan itu pun dengan bantuan pinjaman dari World Bank (Bank 
Dunia) senilai US$ 200 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun.

"Pariwisata, kita punya target 20 juta wisatawan masuk sampai dengan 2019. 
(dipenuhi) dengan cara entu memperbaiki, merehabilitasi, dan membangun 
destinasi-destinasi baru. Yang kita laksanakan sekarang ialah memperbaiki 
destinasi utama dulu yang sudah berkembang untuk lebih dikembangkan," kata JK, 
Jumat (21/10).

Ketiga destinasi wisata tersebut adalah Danau Toba di Sumatera Utara, Borobudur 
di Jawa Tengah, dan Mandalika di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dengan 
kata lain, tersebar mulai dari barat hingga timur Indonesia.

JK mengungkapkan pembangunan infrastruktur yang dikejar adalah Bandara, akses 
jalan, ketersediaan air dan listrik. Serta, perbaikan kawasan wisatanya dengan 
mengedepankan selera wisatawan.

"Kita fokus tiga itu selesai sehingga kita menciptakan another Bali. Jadi, 
fokus bukan hanya Bali, tetapi ada Borobudur. Kemudian dari Borobudur orang ke 
semarang. Di barat, kemudian orang dari Toba bisa ke Bukittinggi dan 
sebagainya. Karena sekarang ini kita butuh suara konsumen, maka kita pakai 
konsultan yang mengerti kebutuhan konsumen, World Bank. Sekaligus World Bank 
tentu membantu pinjaman untuk membangun infrastrukturnya," papar JK.

Ditemui usai rapat terbatas di Kantor Wapres, Jakarta, Menteri Koordinator 
(Menko) Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan juga mengungkapkan bahwa pemerintah 
akan fokus pada pembangunan infrastruktur di tiga kawasan wisata khusus 
pariwisata. Meakipun, sebelumnya pemerintah menetapkan ada 10 kawasan ekonomi 
khusus pariwisata yang menjadi perhatian utama.

Hanya saja, Luhut mengungkapkan untuk merealisasikannya dibutuhkan kerjasama 
sejumlah kementerian. Di antaranya, Kementerian Pariwisata, Kementerian 
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perhubungan, Kementerian 
Lingkungan Hidup, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Untuk itu, Luhut mengharapkan masterplan sudah selesai digarap awal bulan 
Nopember. Dengan fokus pada pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing 
kementerian.

Dengan bantuan pinjaman dari Bank Dunia, lanjutnya, pemerintah berharap 
pembangunan kawasan pariwisata di Danau Toba bisa rampung pada kuartal kedua 
atau ketiga 2019.

Sementara itu, wisata Candi Borobudur akan dibuat terintegrasi dengan Candi 
Mendut, Candi Prambanan, Keraton Yogyakarta, dan Solo. Sedangkan wisata 
Mandalika, sesuai konsep awal yang disesuaikan dengan dominasi investor Timur 
Tengah. Itu semua sebagaimana arahan dari Wapres JK.

"Anggarannya World Bank akan memberi bantuan yang cukup besar. Kita berharap 
mulai 2018 dananya sudah didapat tapi 2017 dananya sudah ada sebagian yang 
masuk, untuk prastudi dan sebagainya," ungkap Luhut, Jumat (21/10).

Terkait pinjaman dana dari Bank Dunia, Menteri Pariwisata Arief Yahya 
menjelaskan bahwa dana sebesar US$ 200 juta tersebut akan terbagi dua tahap. 
Pertama, dana persiapan proposal atau proposal preparation fund (PPF) akan 
dicairkan pada Januari 2017. Kedua, penandatanganan kontrak pinjaman utuh 
dilakukan pada Juni 2017.

Hanya saja, Arief mengungkapkan belum ditentukan perihal skema pinjaman 
tersebut, termasuk perihal tingkat bunga. Sebab, baru akan dinegosiasikan pada 
April 2017.

Dana pinjaman tersebut, bisa dikatakan termasuk jauh lebih kecil apabila 
dibandingkan dengan rencana pembiayaan pemerintah semula, yaitu merehabilitasi 
10 destinasi prioritas dalam paket dengan kebutuhan investasi mencapai US$ 20 
miliar atau sekitar Rp 260 triliun.

Meskipun, ketika itu disepakati skema bahwa dana yang disiapkan pemerintah 
hanya 50 persennya atau sekitar US$ 10 milliar dalam bentuk pembangunan 
infrastruktur dasar, seperti jalan, tol, bandara, pelabuhan, rel kereta api, 
dan sebagainya. Sedangkan, sisanya dipenuhi oleh investasi swasta.

Itupun terkendala karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya 
mampu memenuhi kebutuhan infrastruktur untuk pariwisata Rp 6 triliun per tahun 
atau Rp 30 triliun dalam lima tahun. Dengan kata lain, hanya 30% dari 
kebutuhan. [N-8]

Kirim email ke