Laaailaaah, ... dari komentar yang diberikan makin nampak jelas pikiran nenek
yang satu ini sudah mulai ngaacooo! Sudah TIDAK BERHASIL melihat masalah secara
objektive!
Coba perhatikan dari tanggapa dibawah ini:
Hongbing: Mengenai itu ada tiga masalah yang harus dipertimbangkan. Pertama, Bo
xilai bukan sosialis dan bukan Marxis, melainkan reformis atau seseorang yang
mencoba memperbaiki keadaan yang berkaitan dengan lembaga Negara dan kelas
penguasa actual. Kedua, kasusnya (skandal yang berhubungan dengan korupsi dan
kehidupan anaknya yang mewah tidak terlalu menyolok kalau dibandingkan dengan
kaum birokrat lainnya) menarik simpati kelas rakyat di Tkk. Apa yang dilakukan
di Chongqing (anti-korupsi, berjuang melawan mafia ter-organisasi, mencoba
memberi kesejahteraan pokok melalui peru-mahan, pendidikan dan layanan
kesehatan) telah membuat penduduk Chongqing mendukungnya, bahkan orang-orang
di luar Chongqing. Ketiga, krisis aktuil rejim yang tidak bisa lagi memerintah
dengan cara-cara lama adalah factor lain dari kepemimpinan untuk mencari jalan
lain guna mengatasi perpecahan dalam pimpinan Partai.
Tatiana: Penjelasan Hongbing menunjukkan bahwa klik penguasa remo sama sekali
tidak dapat mentoleransi “reform” yang paling minimum pun, apalagi disertai
manifestasi kebudayaan Mao/ RBKP (Bo Xilai kembali mempopulerkan lagu-lagu
revolusioner jaman Mao/RBKP). Di sini tercermin juga betapa besarnya ketakutan
kaum remo terhadap FMTT dan pengalaman RBKP. Sudah tentu ketakutan ini bukan
tidak ada sebabnya, bukan? Bo Xilai disingkirkan bukan pertama-tama karena soal
korupsinya, tapi karena ia kembali mempopulerkan kebudayaan Maois/RBKP dan
mendapat simpati penduduk kotanya.
ChanCT:
Darimana bisa mengatakan “Penjelasan Hongbing menunjukkan bahwa klik penguasa
remo sama sekali tidak dapat mentoleransi “reform” yang paling minimum pun”???
“Reform” yang paling minum apa yang tidak bisa ditoleransi??? Padahal dari
penjelasan Hongbing itu jelas menyatakan sikapnya terhadap Bo Xilai yang bukan
Marxis! Menggunakan mafia melawan mafia yang terjadi di Chongqing, ...
bagaimana bisa disimpulkan Bo Xilai disingkirkan bukan pertama-tama karena
korupsinya, tapi karena ia kembali mempopulerkan kebudayaan Maois/RBKP???
Kalau Bo Xilai jelas BUKAN Marxis!
From: Tatiana Lukman
Sent: Monday, October 24, 2016 6:54 AM
To: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In
Cc: Roeslan ; Lusi.D ; Daeng ; Gol ; Mitri ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Harry
Singgih ; Jonathan Goeij ; Ronggo A. ; Lingkar Sitompul ; Ajeg ; Mang Broto ;
Marsiswo Dirgantoro ; Billy Gunadi ; Wuting301 ; Bilven-Ultimus ; Boni Triyana
; Chan CT ; Hsin Hui Lin ; Kristian Ginting
Subject: Wawancara dengan seorang aktivis Marxis Tiongkok (4)
Wawancara dengan seorang aktivis Marxis Tiongkok (4)
Oleh José Ruiz Andrés,
Beijing (China) 20/06/15
Masalah Dalam Negeri
J.R.Andres: Kasus Bo Xilai sangat populer sekali di Eropa, dan barangkali di
dunia. Bagaimana visi anda tentang hal ini? Entah bagaimana, apakah ia tokoh
yang mewakili kiri di Tiongkok?
Hongbing: Mengenai itu ada tiga masalah yang harus dipertimbangkan. Pertama, Bo
xilai bukan sosialis dan bukan Marxis, melainkan reformis atau seseorang yang
mencoba memperbaiki keadaan yang berkaitan dengan lembaga Negara dan kelas
penguasa actual. Kedua, kasusnya (skandal yang berhubungan dengan korupsi dan
kehidupan anaknya yang mewah tidak terlalu menyolok kalau dibandingkan dengan
kaum birokrat lainnya) menarik simpati kelas rakyat di Tkk. Apa yang dilakukan
di Chongqing (anti-korupsi, berjuang melawan mafia ter-organisasi, mencoba
memberi kesejahteraan pokok melalui peru-mahan, pendidikan dan layanan
kesehatan) telah membuat penduduk Chongqing mendukungnya, bahkan orang-orang
di luar Chongqing. Ketiga, krisis aktuil rejim yang tidak bisa lagi memerintah
dengan cara-cara lama adalah factor lain dari kepemimpinan untuk mencari jalan
lain guna mengatasi perpecahan dalam pimpinan Partai.
Tatiana: Penjelasan Hongbing menunjukkan bahwa klik penguasa remo sama sekali
tidak dapat mentoleransi “reform” yang paling minimum pun, apalagi disertai
manifestasi kebudayaan Mao/ RBKP (Bo Xilai kembali mempopulerkan lagu-lagu
revolusioner jaman Mao/RBKP). Di sini tercermin juga betapa besarnya ketakutan
kaum remo terhadap FMTT dan pengalaman RBKP. Sudah tentu ketakutan ini bukan
tidak ada sebabnya, bukan? Bo Xilai disingkirkan bukan pertama-tama karena soal
korupsinya, tapi karena ia kembali mempopulerkan kebudayaan Maois/RBKP dan
mendapat simpati penduduk kotanya.
J.R. Andres: Baru-baru ini beberapa aktivis feminis ditangkap setelah mereka
melakukan serangkaian aksi. Di pihak lain, di luar negeri orang bicara tentang
sebuah dokumenter oleh Cui Jian yang mengkritik Pemerintah. Bagaimana pendapat
anda tentang cara oposisi yang begitu?
Hongbing: Iya, kasus para feminis dan film Cui Jian memang cukup terkenal. Di
RRT ada gerakan besar demokratis/proliberal yang didukung kelas kapitalis yang
sedang berkembang dan kaum borjuis kecil, terutama di daerah perkotaan. Mereka
menganggap masalah pokok di Tkk hanya tidak adanya demokrasi (kita bicara
tentang demokrasi dalam pengertian Barat dan lebih kongkrit, Amerika). Ada
beberapa aktivis terkenal: Liu Xiaobo, Ai Weiwei, Xu Zhiyong dan lain-lain,
tapi saya pikir visi ini sangat terbatas, di dunia riil terdapat
masalah-masalah yang lebih rumit lagi, masalah ekonomi atau masalah sosial,
masalah orang-orang biasa, masalah mayoritas sosial dan secara pribadi saya
pikir, karena itulah mereka tidak akan mendapat dukungan rakyat. Sebagai
sosialis, saya berpendapat kita harus mendukung pekerjaan untuk demokrasi
terutama tema sosial untuk hak-hak kaum buruh, massa demokratis dan keadilan
sosial, tapi dengan jelas melawan mereka yang secara ideologi berilusi pada
pasar kapitalis atau model demokrasi Barat. Meskipun, sudah tentu, kita selalu
mendukung nilai-nilai dasar kebebasan berpikir dan berasosiasi karena hak-hak
itu sangat penting bagi kaum kiri dan bagi organisasi itu sendiri. Di bawah
kondisi ini, kita bisa bekerja dengan beberapa “pembelot” ini dalam aspek-aspek
khusus.
J.R. Andres: Setelah reform kapitalis tahun 1989 yang diambil oleh PKT, apakah
ada harapan partai ini mengikuti garis kiri?
Hongbing: Saya tidak akan mengklasifikasi semua anggota PKT (sekitar 90 juta)
prokapitalis, tapi tak diragukan bahwa pimpinan tertinggi partai menjalankan
politik neo-liberal dan pro-pasar sejak beberapa dekade. Bisa terdapat
perbedaan dalam derajat dan isi dari politik itu, tapi sepenuhnya bertentangan
dengan kelas pekerja (apa yang dinamakan kelas pemimpin, menurut Konstitusi
aktuil) dan seluruh masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, saya pikir kaum
kiri di Tkk jangan menaruh harapan kepada apa yang dinamakan “garis kiri” di
dalam partai. Kami akan berbuat semua yang mungkin untuk mengorganisasi dan
mengembangkan sendiri, terutama berusaha berakar dalam di kalangan kaum buruh
dan kaum tani. Celakanya, sampai sekarang sejumlah besar orang kiri (Maois) di
Tkk menaruh harapan pada pimpinan Partai untuk membuat reform ke arah kiri.
Mereka berilusi, artinya berharap sementara pimpinan Partai dapat tiba-tiba
berputar ke kiri dan Tkk akan dibangun kembali sebagai negeri sosialis. Oleh
karena itu mereka berusaha keras untuk meyakinkan kalangan atas Partai. Tapi
pimpinan partai tidak akan melakukan itu, terutama karena mereka dan
keluarganya menikmati dan diuntungkan oleh sistim yang sekarang.
Tatiana: Seperti ilusi sementara orang-orang “kiri” dan penyintas Genoside 1965
terhadap Jokowi. Ada yang cepat sadar, tapi ada juga yang sampai sekarang terus
percaya pada politik Jokowi.
J.R. Andres: Dewasa ini, pemerintah Tkk terus-terusan bicara tentang konsep
“impian Tkk (Chinese dream)”. Apa Chinese dream itu?
Hongbing: Terminologi “Chinese dream” mengacu kepada “American dream”. Tidak
ada penjelasan khusus, sebenarnya itu hanya propagan-da verbal. Meskipun
Pemerintah mengatakan bahwa semua orang di Tkk dapat mencapai “impian Tkk”nya,
kalau tunduk kepada orde kelas yang berkuasa dan percaya pada usaha personal,
sebenarnya itu tidak lebih dari permen atau, barangkali anda lebih suka
menamakannya candu untuk menipu orang. Saya tidak percaya impian orang biasa
dapat dicapai dalam sistim ini, dan kebijakan aktuil dapat merealisasi semua
impian personal.
Tatiana: “Chinese Dream” juga yang dipropagandakan para pendukung “sosialisme
dengan ciri Tkk”. Dimintanya supaya rakyat sabar dan percaya pada pimpinan PKT
dan RRT yang menjanjikan kemakmuran di tahun-tahun mendatang. Memang ada orang
kaya raya yang memberi “sedekah” kepada orang-orang miskin melalui bantuan
sandang pangan dan layanan kesehatan. Ya persis seperti yang dilakukan Bill
Gate. Itulah yang dibanggakan pendukung Deng! Dengan demikian mereka ingin
memperlihatkan seolah-olah orang-orang kaya itu mau dan rela “membagi’
kekayaannya dengan orang miskin. Apakah dengan bersedekah itu, kekayaan
orang-orang itu berkurang? Yang jelas nama para pemberi sedekah itu langsung
melejit dan rakyat ber-kowtow di hadapan mereka. Berbunga-bungalah hati para
philanthropist yang akan terus berspekulasi, korupsi dan menghisap demi
mendapat keuntungan yang jauh lebih besar lagi. Dan para penerima sedekah akan
memaafkan semua itu karena mereka merasa mendapat remah-remah dari profit itu.
Sampai sekarang masih belum dijawab pertanyaan mengapa Negara yang sudah begitu
kaya dengan pembangunannya yang menyilaukan masih belum memberi pendidikan dan
pelayanan kesehatan gratis kepada semua rakyatnya. Bukan melalui asuransi
kesehatan, tapi betul-betul Negara yang menanggung biaya pendidikan dan
pelayanan kesehatan. Karena sistim asuransi tetap saja berarti
mengkomesialisasi pendidikan dan kesehatan dengan memberi profit kepada
perusahaan asuransi.
J.R. Andres: Kalau begitu, apa ada harapan untuk revolusi di Tiongkok?
Hongbing: Saya pikir di mana-mana selalu ada harapan revolusi. Revolusi bukan
konspirasi, bukan pukulan yang dihantamkan oleh segelintir elit atau
orang-orang avonturis ambisius. Revolusi adalah gema tuntutan rakyat, lokomotif
riil yang mendorong perkembangan sejarah. Tiongkok penuh dengan kontradiksi
kelas, konflik sosial, malapetaka lingkungan dan keretakan antara kelas dan
lapisan social yang berbeda. Tiongkok telah mengalami ritme perkembangan
ekonomi cepat selama lebih dari 30 tahun, tapi bahkan rejim yang sekarang sudah
mengakui tidak dapat lagi bertahan untuk waktu lama. Kalau nanti krisis
kapitalis melanda Tkk, seperti di tiap negeri kapitalis, akan muncul situasi
objektif baru untuk persiapan revolusi. Kalau kaum kiri di Tkk sekarang bisa
bersiap dengan baik dan jujur, mempelajari tradisi sejarah dan pengalaman
revolusi komunis yang lama, sangat mungkin sekali meletus sebuah revolusi
sosialis dan proletar. Kami sedang memulai mars panjang dari masa lalu
kehancuran gerakan sosialis/komunis tradisional menuju hari depan gemilang
penuh harapan bagi kelas buruh Tiongkok dan Internasional.
Tatiana: Kalau orang sudah meremehkan dan membuang jauh-jauh teori revolusioner
termaju Marxisme, Leninisme dan FMTT, ia tidak bisa lagi melihat arti dari
penghisapan, dan logis kalau orang itu tidak percaya suatu waktu revolusi akan
meletus. Sebaliknya, orang seperti Hongbing, yang tidak saja ada di
tengah-tengah perjuangan kaum buruh, tapi yang penting lagi dia mengakui
Marxisme sebagai bimbingan perjuangannya, dia tidak akan bertanya-tanya atau
mencari resep revolusi yang sudah tersedia. Buat dia jelas revolusi bukan
sebuah konspirasi atau sebuah avontur. Revolusi juga tidak bisa dilancarkan
hanya oleh sekelompok orang ambisius. Hanya rakyat terorganisasi yang dapat
melancarkan revolusi. Maka itu Hongbing melihat arti penting dari bekerja di
kalangan kaum buruh dan kaum tani sehingga bisa berakar dalam. Dan pekerjaan
inilah yang makan waktu lama, kesabaran, ketekunan dan keteguhan para aktivis
yang mengerjakannya. Dan justru inilah yang tidak dimengerti oleh mereka yang
sudah mencampakkan apa yang mereka anggap “dalil-dalil usang”. Maka itu
mempertanyakan kebenaran dipecatnya 10 juta buruh dan pegawai negeri dengan
tantangan mengapa mereka tidak berontak? Inilah jalan pikiran orang yang
menganggap usang "dalil-dalil" Marxisme. Dan sebagai gantinya ia ajukan
kolaborasi kelas serta revisionisme.