SBY dan Megawati, kedua oknom ini adalah mantan presiden NKRI. Sesuai 
undang-undang presiden adalah panglima tertinggi semua angkatan dan instansi. 
Jadi dalam kasus Munir dibunuh dengan racun arsenik oleh intelejen RI di 
pesawat terbang Garuda Indonesia dari Jakarta  menuju Amsterdam adalah tanggung 
jawab SBY dan Megawati. Mereka inilah yang harus memeberikan keterangan di 
pengadilan, siapa yang memberikan instruksi Munir harus dieliminasi.

http://politik.rmol.co/read/2016/10/24/265553/SBY,-Munir-Dan-Megawati-Soekarnoputri:-Catatan-Kelam-Demokrasi-Kita

SBY, Munir Dan Megawati Soekarnoputri: Catatan Kelam Demokrasi Kita
Politik SENIN, 24 OKTOBER 2016 , 16:02:00 WIB | 

 
Munir/Net

MENJELANG akhir tahun, menjelang Hari HAM sedunia, awal Desember nanti, kasus 
pembunuhan almarhum Munir kembali mencuat. Hendardi, penggugat HAM, dan mantan 
anggota Tim Investigasi kasus munir (TPF) mengatakan SBY bertanggung jawab atas 
hilangnya dokumen investigasi 2004-2005. Sebab, SBY-lah yang bertanggung jawab 
atas dokumen tersebut. Saat bersamaan, Jokowi meminta Jaksa Agung memeriksa SBY 
atas kasus pembunuhan Munir ini. 

Berita Terkait 
SBY Klarifikasi TPF Munir
SBY Akan Buka-Bukaan Soal Keberadaan Dokumen TPF Munir Siang Ini
Politis, Isu Raibnya TPF Kasus Kematian Alm Munir Untuk Menyerang SBY

     
Kubu SBY, diwakili Rachlan Nasiddiq, pejuang HAM, pendiri lembaga advokasi hak 
hak asasi manusia Imparsial, dan Tokoh gerakan mahasiswa 80 an, mengecam Jokowi 
dan Hendardi. Menurutnya adalah peran SBY dengan Keppres 111/2004 membuat 
adanya pencarian fakta pembunuhan Munir secara terbuka melibatkan unsur negara 
dan masyarakat. Hasil investigasi itu sudah tersebar kelembaga lembaga negara, 
bukan hanya urusan istana. Namun, Hendardi masih kesal, sebab kenapa SBY selama 
berkuasa tidak mampu mengungkap siapa sesungguhnya dalang pembunuhan Munir?

Hendardi dan Rachlan bisa jadi sedang beradu argumentasi. Tapi, bisa juga 
mereka sedang bersandiwara. Karena, secara historis, Rachlan adalah kader 
Hendardi dan keduanya anggota TPF Munir. Apapun hubungan diantara mereka saat 
ini, tentu saja soal Munir ini panas kembali.

*Pembunuhan Politik Di Rezim Megawati*

Dalam sejarah demokrasi kita, paska reformasi, pembunuhan politik hanya terjadi 
di masa Megawati berkuasa. Pembunuhan pertama dilakukan terhadap pejuang hak 
hak rakyat Papua, yakni Theys Hiyo Eluay, pada tanggal 10 November 2001. 
Pembunuhan kedua terhadap pejuang kemanusian dan HAM internasional, Munir 
Thalib, pada 7 September 2004.

Pembunuhan politik adalah kekejaman kemanusian terbesar dalam konteks politik. 
Hal ini hanya mungkin terjadi dalam situasi negara darurat (darurat sipil 
maupun militer) ataupun ketika rakyat dalam cengkeraman negara totaliter da 
otoriter.

Lalu mengapa pembunuhan Theys dan Munir bisa terjadi? Apa dosa dan kesalahan 
berat mereka?siapa yang memerintahkan pembunuhan politik itu?

Perbincangan pembunuhan Theys tidak muncul lagi saat ini. Karena dendamnya 
rakyat Papua atas pembunuhan itu jarang terdengar ditelinga elit Jakarta. 
Sebaliknya, pembunuhan Munir acapkali muncul ke publik, karena persoalan ini 
ada di Jakarta dan Munir merupakan bagian elit nasional kita.

Meskipun sesungguhnya, dampak kasus Theys Eluay bisa saja lebih dahsyat 
terhadap NKRI, seperti menguatnya rasa keterpisahan elit Papua terhadap 
Indonesia.

*Pengadilan, Investigasi Kasus Munir dan Akal Sehat*

Pengadilan kasus Munir sudah selesai pada Desember tahun 2005 yang lalu. 
Pollycarpus, pilot Garuda yang sedang cuti, tapi ada dalam penerbangan Munir ke 
Belanda, dituduh meracuni Munir di Singapura,  ketika transit. Pilot ini 
dihukum 14 tahun penjara (dalam upaya peninjauan kembali PK, hukuman 
Pollycarpus menjadi 2 tahun).  Kasus selesai?

Tentu kasus ini tidak mungkin selesai? Pertama, ini adalah pembunuhan politik, 
sedangkan Pollycarpus bukan orang politik. Menghukum Pollycarpus bukan 
menghukum otak pembunuhan. Kedua, peristiwa Munir ini menyangkut 3 negara, 
yakni Indonesia, Singapura, tempat percobaan pembunuhan dan Belanda, tempat 
secara hukum penerbangan internasional jika pembunuhan di atas pesawat. Artinya 
ini diketahui dunia Internasional.

Kasus ini terus membara dan hidup. Pada tahun 23 September, 2008,  Kompas 
online menurunkan berita "Dokumen Rahasia Ungkap Keterlibatan Hendropriyono". 
Hal ini merujuk pada dokumen yang dimiliki Kontras. Sayangnya dokumen ini tidak 
dianggap legal, karena tidak memuat identitas pengirimnya.

Tahun 2008 ini juga, Deputi Hendro, Muchdi PR diadili, karena dianggap terlibat 
dalam pembunuhan Munir. Awalnya Muchdi diketahui TPF berkomunikasi dengan 
Pollycarpus saat peristiwa pembunuhan tersebut. TFP memanggil Muchdi, tapi 
Muchdi selalu menolak. Namun, ketika Polisi mengungkap kembali kasus Munir, dua 
tersangka baru ditetapkan, yakni dirut Garuda, Iwan Setiawan dan Sekretaris 
kepala Pilot Garuda. Di sinilah nama Muchdi terungkap di persidangan, termasuk 
nama Mantan Kepala BIN, Assad. Namun, yang ditetapkan pengadilan sebagai 
tersangka adalah Muchdi. Muchdi menjalani persidangan sebagai terdakwa. Akhir 
persidangan, Januari 2009, Muchdi dinyatakan tidak bersalah. Meski jaksa Cyrus 
Sinaga menuntut 15 tahun penjara.

Hendropriyono, Muchdi, Assad, dan Megawati adalah sahabat karib Jokowi, yang 
terlibat sungguh2 dalam mengantarkan Jokowi sebagai Presiden. Lalu, mengapa 
Jokowi mengarahkan pemeriksaan kepada SBY?

Pertanyaan ini telah diungkapkan Rachland Nasiddik. Juga, SBY pernah berujar 
dihadapan relawannya pada penghujung tahun 2004, di Cikeas, "Kenapa Bu Suci 
(istri Munir) mendesak desak saya terus membongkar kasus Munir ya? Yang bunuh 
bukan saya, yang dituntut saya". Namun, selepas pidato itu, SBY meneken keppres 
111/2004. Pembentukan Tim Pencari Fakta kasus Munir.

Jika Jokowi ingin membongkar kasus Munir, kita harus mengapresiasi. Namun 
caranya bisa saja melalui SBY dulu, seperti main bilyar. Atau bisa juga 
langsung memanggil dan  menanyakan pada Megawati dan Hendropriyono, sekutu 
politiknya, "Siapa yang melakukan pembunuhan politik di masa itu"? Kita tidak 
harus berspekulasi tentang: niat politik Jokowi itu apa sih? Sebab, mengungkap 
pembunuhan politik dalam situasi demokrasi adalah pekerjaan kemanusian yang 
paling dalam.

Jika Jokowi tidak konsisten, maka catatan hitam kelam demokrasi kita terus 
berlangsung.[***]


Dr. Syahganda Nainggolan 
Sabang Merauke Circle

Kirim email ke