Refleksi : Menurut pengaman saya Indonesia di era Globalisasi ini sukar untuk 
mendapatkan kesatria Cendekia yang dapat dijadikan sebagai panutan yang satunya 
kata-kata dan perbuatannya, hal ini disebabkan oleh karena sejak dimualinya 
kekuasaan rezim militer fasis pimpian jendral TNI AD Soeharto, Indonesia telah 
melepaskan ideologi Pancasila 1 juni 1945, UUD 45, dan selanjutnya masuk dalam 
krangkeng Globalisasi politik, dan  Ideologi Neoliberalisme.

Nampaknya dampak-kongkrit  Globalisi politik dan ideologi Neoliberalisme, yang 
telah dibangun oleh rezim militer fasis (orde baru Soeharto) ,  kini masih 
terus berkembang secara subur, dan hidup berkelanjutan. meskipun katanya kita 
bangsa Indonesia telah memasuki era ``reformasi``. Ironinya setelah18 tahun 
berlalu rezim ``reformasi`` tak dapat menembus benteng Golbalisasi politik dan 
ideologi Neoliberalsme, yang kini dampaknya terlah merusak 
struktur-sistem-berpikir para elite politik, ekonomi, hukum dan para penegak 
hukumnya, para pakar ilmu pengetahuan, para pakar-spirituil (terutama para kyai 
dan ustadnya) dan akhirnya menular pada sebagian masyarakat awam. 

Diera reformasi yang didasari pada globalisasi politik dan idologi 
neolibralisme ini, tidak semua orang akan mengakui bahwa Karakter manusia yang 
tadinya baik, kemudian dapat berangsur-angsur „berubah“ menjadi jelek akibat 
pengaruh konsum yang oleh psychoneurologist disebutnya “the 
consume-syndrome-disease”, atau katakanlah Penyakit “konsum-sindrom” (KS); ini 
adalah element yang tidak kelihatan, yang bermukim didalam „placenta“; induknya 
yang kita kenal dengan >holargi-globalisasi-ekonomi-budaya< . Kalau si patient 
yang mengidap penyakit >KS< (konsum-sindrome) ini pergi memeriksakan diri 
kepada ahli-ahli jiwa dan ahli-ahli-saraf otak, sang dokter tidak akan 
menemukan penyakitnya ; pin-tomography-pun tidak sanggup membaca gejala 
side-effect konsum-sindrom tsb. Karena sang dokter dan pin-tomography-nya tidak 
mengenal holargi.

Dilihat dari aspek psikologis, penyakit “KS” itu  masakini tidak memilih warna 
pigmen kulit, dan kedudukan sosial manusia dalam masyarakatnya; Apakah  
belau-beliau itu sebagai Presiden, mentri-mentri, jaksa Agung, jendral polisi 
atau militer.  Pengaruh “KS” itu adalah  ibarat virus atau bakteria yang 
menyerang semua bentuk organisme. Infeksi-konsum menularkan syndromnya kepada 
setiap gelintir individu dimana dia berada, dimana mereka sedang menikmati 
sorga dunia, terutama  para penguasa negara dan segenap jajaran birokrasinya 
dan para penegak hukum dinegara kita. Meskipun beliau-beliau itu telah 
mengasingkan diri dari kalangan masyarakat dan telah membentuk dunianya 
sendiri, namun demikian virus Syndrome itu tetap bisa tersebar di seluruh bumi 
Indonesia. Yang dampaknya ternyata telah menyebabkan bangsa Indonesia memesuki 
zaman edan.

Kecendrungan memasuki jaman edan  adalah akibat  kesetiayaan elite bangsa 
Indonesia  untuk menjadi budak-budak dari konsum ,yang sekarang nampak semakin 
gawat dalam masyarakat kita, karena berlatarbelakang politik telah mencapai 
titik- optimumnya yaitu kesetiaan terhadap system >globalisasi-economi–budaya< 
dan ideologi Neoliberalisme.  Oleh karena itulah selama bangsa Indonesia belum 
siap  untuk melakukan reformasi sosial yang fundamental atau mendasar, maka 
jangan harap akan bisa muncul kesatria cendekia. yang dapat dijadikan panutan, 
untuk mengantar NKRI memasuki masyarakat yang adil dan makmur, tanpa adanya 
penghisapan manusia atas manusia, sesuai dengan ajaran ideologi Pancasila 1 
Junu 1945.

Roeslan.

 

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Montag, 24. Oktober 2016 09:54
An: GELORA_In; Sunny; Jakarta Globe; Sheila Kartika [email protected] 
[PERS-Indonesia]; Chalik Hammid
Betreff: Re: [GELORA45] Mensos: Indonesia Butuh Kesatria Cendikia di Persaingan 
Global

 

  

...APA YANG DIMAKSUD DENGAN " KSATRIA" ???

 .. Bagaimana BENTUK dan ISI kongkretnya  ?

 

APA  itu istilah  (LPDP)  > " Lembaga Pengelola Dana Pendidikan "  ?

tidak adakah istilah lain dalam bahasa INDONSIA yang Baik ( Bukan bhs JAWA atau 
bhs IBU Khofifah .... ? )

 

2016-10-24 1:03 GMT+02:00 'Sunny' [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>:

  

http://sp.beritasatu.com/nasional/mensos-indonesia-butuh-kesatria-cendikia-di-persaingan-global/117242

 

Mensos: Indonesia Butuh Kesatria Cendikia di Persaingan Global
Kamis, 20 Oktober 2016 | 14:43

Das Bild wurde vom Absender entfernt. Khofifah Indar Parawansa. 
[Google]Khofifah Indar Parawansa. [Google] 

Berita Terkait

*       Program Keluarga Harapan Cairkan Dana Tahap Kedua 
*       Khofifah Tolak Jadi Jurkam Kampanye Pilkada 
*       Perempuan Bisa Jadi Pemicu Korupsi 
*       Khofifah Berang Dicap Negatif Karena Rokok 
*       Khofifah: Nikah Siri ‘Online’ Merugikan Perempuan

[JAKARTA] Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa berharap semakin banyak 
kesatria cendikia di Indonesia agar mampu bersaing dengan negara-negara maju.

Menurutnya, saat ini Indonesia sudah banyak memiliki cendikia tetapi tetap 
insan cendikia menjadi kebutuhan.

"Oleh karenanya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menyiapkan pemimpin 
dan satria cendikia itu," katanya dalam pembekalan persiapan keberangkatan 
penerima beasiswa LPDP di Auditoroum Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, 
Kamis (20/10).

Mensos pun berharap para peserta yang akan menimba ilmu di dalam dan luar 
negeri ini dapat menjadi satria cendikia yang akan pulang dan mengabdi untuk 
Indonesia.

"Mudah-mudahan semangat mereka dengan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, 
bertemu pemimpin negerinya, kelak ketika pulang kembali termotivasi untuk 
membangun negerinya," ucap Mensos.

Melalui kehadiran para anak bangsa ini diharapkan pula daya saing Indonesia 
semakin meningkat dan mampu berkompetisi dengan seluruh negara maju di dunia.

Sejumlah 122 orang penerima beasiswa LPDP ini merupakan angkatan ke-82. Para 
mahasiswa yang akan meraih gelar S2 dan S3 ini selain belajar di Indonesia juga 
akan mengenyam pendidikan di sejumlah negara.

Negara tujuan penerima beasiswa LPDP antara lain Amerika Serikat, United 
Kingdom, Norwegia, Belanda, Kanada, Denmark, Jepang, Australia, Malaysia, 
Irlandia, Taiwan, New Zealand, Finlandia, Perancis dan Skotlandia.

Koordinator Persiapan Keberangkatan LPDP Mohammad Kamuluddin juga berharap LPDP 
mampu mencetak pemimpin masa depan dan tercipta pemerataan pendidikan.

"Ada kontrak individu, penerima beasiswa wajib kembali ke Indonesia sebagai 
makna nasionalisme," ujarnya.

Hingga akhir tahun 2016, LPDP memberikan 5000 beasiswa dalam dan luar negeri. 
Hingga bulan Oktober sudah diberikan 4500 beasiswa. [R-15]

 



Kirim email ke