http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_tra/2016/10/161021_vert_tra_sufi_spanyol
 
http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_tra/2016/10/161021_vert_tra_sufi_spanyol

 Kisah orang-orang Spanyol yang pindah agama Islam Inka Piegsa-Quischotte
 24 Oktober 2016
Kirim 
http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_tra/2016/10/161021_vert_tra_sufi_spanyol#share-tools
 
 Image copyrightTHINKSTOCKImage captionKota kecil Orgiva di Spanyol. Walaupun 
Spanyol adalah negeri dengan banyak orang imigran dari Afrika Utara, 
orang-orang Spanyol yang masuk Islam -khususnya yang memilih ajaran Sufisme 
atau Tasawuf- adalah sesuatu yang langka.
 “Nama saya,” sapa seorang wanita berkerudung serta bersandal warna merah muda 
dan ungu, “adalah Bahia, yang berarti lautan kecantikan dan kasih sayang’ dalam 
bahasa Arab. Selamat datang di sekolah saya,” lanjutnya.
 Teh dituang ke gelas-gelas, makanan-makanan manis disodorkan, dan kami duduk 
di tempat teduh di bawah pepohonan zaitun berumur lebih dari 100 tahun yang 
berada di halaman belakang sekolah kecil bermetode Montessori untuk berbicara 
tentang ajaran sufi, bentuk Islam mistik.
 Namun, kami tidak berada di negara Islam, melainkan di Spanyol selatan yang 
merupakan negara Katolik.
 Órgiva, yang terletak di sekitar 60 km dari Granada di bagian tenggara dan 
menyempil di kawasan pegunungan Alpujarra, adalah tempat yang luar biasa.
 Jumlah populasi kota kecil tersebut hanya di bawah 6.000 orang, tapi yang 
mengagumkan adalah jumlah tersebut meliputi 68 kebangsaan berbeda, juga 
termasuk komunitas umat Buddha, O.Sel.Ling, dan hamparan tenda-tenda di 
perkemahan orang-orang Rainbow (Pelangi) -suatu kelompok yang berkomitmen 
terhadap prinsip anti kekerasan dan pro egaliter- yang dinamakan Beneficio.
 Tapi, saya datang ke pegunungan ini untuk menemui komunitas peradaban terbesar 
di sini, yang terdiri dari 35 keluarga Sufi yang masuk Islam dari agama Katolik.
 ‘Stonehenge’ Islandia yang menghipnotis 
http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_tra/2016/10/161014_vert_tra_stonehenge_islandia
 Mengintip gurun terpanas di dunia 
http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_tra/2016/10/160930_vert_tra_gurun_ethiopiaImage
 copyrightTHINKSTOCK Walaupun Spanyol adalah negeri dengan banyak orang imigran 
dari Afrika Utara, orang-orang Spanyol yang masuk Islam -khususnya ajaran 
Sufisme atau Tasawuf- adalah sesuatu yang langka.
 Saya ingin tahu apa yang mendorong mereka untuk masuk Islam, dan mengapa 
mereka memilih untuk tinggal di daerah terpencil di Andalusia.
 Bahia, yang nama aslinya adalah Maria Jose Villa Cascos, menjelaskan bahwa dia 
lahir di Seville, sekitar 320 km bagian barat dari Órgiva. Dia kuliah hukum dan 
bekerja di Madrid sebagai pengacara.
 “Pencarian saya terhadap jalan hidup yang benar, sesungguhnya dimulai di 
perguruan tinggi Katolik tempat saya bersekolah di Seville,” katanya.
 “Butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar, menggali, meragukan, dan 
bereksperimen hingga saya akhirnya menemukan filosofi dan ajaran Sufi. Cara 
hidup ajaran Sufi, ajaran toleransi, pemahaman luas, kasih sayang terhadap umat 
manusia tanpa pamrih, dan penolakan total terhadap kekerasan yang menjadikan 
alasan saya masuk Islam. Kami berkonsentrasi pada kesederhanaan hidup, lebih 
menghargai spiritual daripada material. Itu juga salah satu alasan kenapa saya 
meninggalkan profesi saya sebagai pengacara dan mengajar anak-anak,” lanjutnya 
panjang lebar.
 Dia menjelaskan bahwa Umar, yang ditunjuk sebagai emir (kepala) ajaran Sufi 
pada 1970-an, kebetulan tinggal di Órgiva sebelum Umar memeluk ajaran tersebut.
 Selama bertahun-tahun, para pemeluk Sufi baru lainnya pindah ke sini, seperti 
Bahia yang langsung memutuskan menjalankan sekolah saat peluang tersebut muncul.
Image copyrightTHINKSTOCKImage captionPegunungan Alpujarra di Spanyol. Namun, 
pemeluk Sufi di Órgiva bukanlah orang-orang pengkhayal atau tertinggal. Mereka 
menggunakan ponsel, internet, dan Instagram.
 Mereka menjalankan bisnis, seperti Bahia dengan sekolah Montessorinya serta 
suaminya yang memiliki toko peralatan listrik. Orang-orang lainnya 
bertani-beternak dan menjual produk-produk hasilnya.
 Tapi, seluruh kehidupan mereka didominasi oleh kepercayaan Sufi.
 Satu hal yang membedakan mereka adalah pakaiannya yang khas. Para pria 
mengenakan celana panjang serta kemeja longgar, dan para wanita mengenakan 
kerudung, baju berlengan panjang dan rok panjang semata kaki.
 Biksuni-biksuni Nepal jago kungfu 
http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_tra/2016/10/161007_vert_tra_kungfu_nepal
 Masyarakat matrilineal terbesar dunia ada di Sumatra Barat 
http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_tra/2016/10/160927_vert_tra_minangkabau
 Saya bertanya-tanya, dengan adanya perasaan takut terhadap serangan-serangan 
teror di Spanyol akhir-akhir ini, juga beberapa orang mulai menghubungkan agama 
Islam dengan pejihad dan radikalisasi, bagaimana reaksi orang-orang terhadap 
mereka.
 “Di sini, di Órgiva, tak ada orang yang menoleh dua kali karena kami 
berkomunitas cukup besar. Di tempat-tempat lain, orang-orang mungkin menatap 
dari cara saya berpakaian dan mungkin berpikir saya orang asing, tapi…,” dia 
mengangkat bahu.
 Daripada merisaukan tatapan-tatapan orang dan bisikan-bisikan, Bahia fokus 
pada pengajaran toleransi, kasih sayang, dan memahami sesama.
Image copyrightQASIM BARRIO RAPOSOImage captionRestoran halal, Baraka, di 
Spanyol. Pemiliknya adalah pemeluk Islam Sufi. “Dalam masa-masa bergejolak 
seperti saat ini, orang-orang memiliki pandangan yang sangat sepihak terhadap 
Islam. Bom dan serangan teror menjadi pokok berita, sedangkan (berita-berita) 
tentang kebajikan tidak," ujar Bahia.
 "Ketidakseimbangan ini perlu ditangani dan orang-orang harus memahami bahwa 
Islam dan sufi khususnya, berarti ajaran damai dan ketaatan total kepada Allah, 
yang merupakan perahu yang membantu kita mengarungi samudra kehidupan,” katanya.
 Untuk mengetahui lebih lanjut, saya pergi ke Restoran dan Kedai Teh Baraka 
https://www.facebook.com/barakaorgiva, yang dimiliki oleh pemeluk Sufi lainnya, 
Pedro Barrio, yang sekarang bernama Qasim.
 Qasim berasal dari keluarga Katolik di Bilbao di mana dia dulu menjalankan 
restoran keluarga. Dia juga mencari haluan spiritual mulai saat dia berusia 
muda.
 “Saya sudah bereksperimen dengan banyak hal,” ucapnya.
 “Pada suatu saat, saya bahkan mempraktikkan ajaran Buddha, lalu tertarik pada 
Syamanisme dan vivation yang merupakan teknik pernapasan. Melalui seorang 
teman, saya menjadi akrab dengan ajaran Sufi. Saat saya menemukan ajaran Sufi 
dan mengetahui bahwa Yesus adalah nabi dalam agama Islam, saya merasa saya 
sudah kembali ke jalan saya. Segalanya (terasa) akrab bagi saya dan saya tahu 
bahwa inilah kepercayaan yang ingin saya ikuti, jadi saya memutuskan untuk 
memeluknya. Ajaran ini memberikan saya kedamaian dan tujuan hidup,” jelasnya.
 Menelusuri dunia Peru yang hilang 
http://www.bbc.com/indonesia/vert_tra/2016/09/160905_vert_tra_peru 
Tempat-tempat magis yang tampak tidak nyata 
http://www.bbc.com/indonesia/vert_tra/2016/09/160830_vertical_tra_tempat_magis 
“Bagaimana reaksi keluarga Anda?” tanya saya.
 “Tidak terlalu bagus. Ibu saya yang lebih memahami, tapi ayah saya marah. 
(Waktu itu saya) juga ada masalah dengan restoran kami. Saya sholat di masjid, 
lalu harus pergi ke restoran, menjamu pelanggan dengan minuman alkohol dan 
memotong ham. Saya tidak bisa menjalani hidup seperti itu,” ujarnya.
 “Takdir menyelamatkan saya. Seorang kawan Sufi di Órgiva ingin membuka 
restoran Islamiah kecil, tapi tak punya uang. Dia menghubungi saya, dan karena 
saya mempunyai dana, saya menjadi mitra pertamanya dan sekarang saya adalah 
pemilik tunggal.”
 Restoran Baraka sering dikunjungi oleh tamu sesama Sufi, orang-orang New 
Ageyaitu suatu gerakan spiritual zaman baru, wisatawan, dan orang-orang seperti 
penduduk lokal.
Image copyrightTHINKSTOCKImage captionAyam tagine khas Maroko adalah salah satu 
makanan yang disajikan di Restoran halal Baraka. Restoran ini tidak menyediakan 
alkohol atau daging babi, tapi tidak sepenuhnya vegetarian. Semuanya dimasak 
ala masakan rumah dan berbahan organik.
 Saya memesan ayam tagine khas Maroko yang lezat, lalu ditutup dengan menyantap 
kue kurma-kayu manis dengan whipped cream.
 Duduk di teras di Baraka dapat dijadikan pelajaran bagaimana perbedaan 
kebangsaan, ideologi, dan agama bisa berinteraksi dengan damai.
 Orang-orang berambut gimbal dan berkerudung, bahkan terkadang biksu-biksu 
berjubah oranye juga tampak di sana. Saya mendengar orang-orang berbahasa 
Inggris, Prancis, Jerman, Arab dan kadang-kadang Spanyol juga.
 “Anda berbahasa Arab?” saya bertanya.
 “Tidak,” Qasim menjawab sambil tersenyum, “Kami berdoa dalam bahasa Arab, tapi 
itu sejauh pengetahuan saya tentang bahasa Arab.”
 Bangsa Swiss yang membenci 'jam karet' 
http://www.bbc.com/indonesia/vert_tra/2016/08/160731_vert_tra_bangsa_swiss 
Sebuah kampung tanpa pintu dan kunci di India 
http://www.bbc.com/indonesia/vert_tra/2016/06/160618_vert_tra_shani Kendati 
benar-benar sibuk, Qasim membawa saya ke dargah (rumah peribadatan) mereka, di 
mana setiap malam Kamis komunitas tersebut menyelenggarakan zikir yaitu 
memuji-muji Allah, dan hadra yaitu bermeditasi. Pada hari suci setiap Jumat, 
digelar lebih banyak doa dan makan bersama.
 Dargah tersebut merupakan bangunan sederhana, tersembunyi di antara pepohonan 
zaitun dan jeruk sekitar 2 km di luar desa.
Image copyrightTHINKSTOCK Di sana ada ruang sholat kecil, sebuah dapur, dan 
tiga kamar tamu seadanya yang disediakan untuk mengunjungi orang-orang sesama 
Sufi. Tampak anak-anak berlari-larian ketika para perempuan mempersiapkan 
makanan dan menjamu sekelompok tamu.
 “Mereka (para tamu) adalah orang-orang dari Maroko dan negara-negara Islam 
lainnya yang ikut serta dalam tur yang disebut Pariwisata Halal, (mereka) 
mengunjungi komunitas-komunitas Muslim di negara-negara lain. Tur ini menjadi 
cukup populer,” Qasim menjelaskan.
 Dia setuju dengan Bahia tentang perlunya menyebarkan pesan tentang perdamaian, 
cinta kasih, dan saling memahami kepada umat non-muslim.
 “Selain dari menjalani apa yang kami percayai, kami (juga) menyambut para 
pengunjung seperti Anda yang bisa menceritakan tentang kami kepada dunia,” 
katanya.
 Sebelum mengucapkan selamat jalan kepada saya, dia menambahkan, “Mungkin suatu 
hari nanti kita semua bisa hidup damai, insya Allah.”
Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di The Spaniards who chose 
mystical Islam 
http://www.bbc.com/travel/story/20160928-the-spaniards-who-chose-mystical-islam 
di laman BBC Travel http://www.bbc.com/travel.
 

 

Kirim email ke