Apakah Albania sekarang ini masih negeri sosialis? Melihat bangunan dasar
perekonomiannya dan kekuatan kelas yang memimpin dalam kekuasaan negara di
sana, kelihatannya Albania kini bukan negeri sosialis. Setelah kekuasaan lama
(pro sosialis) ditumbangkan, beberapa kali saya masih berkunjung ke sana.
Proyek-proyek lama yang dibangun oleh sistim sosialis seperti pabrik baja,
pabrik tekstil, pabrik traktor, pembangkit listrik, sebagian besar sudah
dimusnahkan. Tanah-tanah koperasi pertanian dan tanah perusahaan pertanian
negara (ferma) sudah dikembalikan kepada pemiliknya sebelum sistim sosialis
berdiri di Albania. Ini merupakan persyaratan dari Bank Dunia, mereka rela
memberikan bantuan kalau semua pembangunan yang diciptakan dalam sistim
sosialis dimusnahkan terlebih dahulu.Itulah yang terjadi di Albania. Sebagian
besar yang pernah dibangun di Albania, kini sudah dimusnahkan. Lalu dengan
bantuan Bank Dunia dibangunlah jalan-jalan tol, gedung-gedung megah bertingkat
milik perseorangan.Untuk menghemat waktu, saya kira cukup sekian.Salam: Chalik
Hamid.
Pada Jumat, 28 Oktober 2016 5:18, "Lingkar Sitompul
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> menulis:
Terimakasih pada Bung Chalik atas tulisannya ini.
Yang jadi pertanyaan pada saya adalah: Apakah Albania sekarang ini masih negeri
sosialis?
Horas.
L. Sitompul
Pada 27 Oktober 2016 09.31, [email protected] [GELORA45]
<[email protected]> menulis:
JALAN SUTERA ABAD 21 KATA SAMBUTAN Chalik Hamid UNTUK memberikan kata
sambutan atas terbitnya buku baru Bung Suar Suroso yang diberi judul Jalan
Sutera Abad 21, saya berusaha menampilkan sebuah negara sosialis di Eropa dan
sebuah lagi desa kecil yang merupakan cerminan negeri sosialis Tiongkok di
Asia. Saya berusaha meninjau kelebihan dan kekurangan negeri‐negeri ini dalam
praktik sosialis di masa lalu dan sekarang. Negeri itu adalah Albania yang
berkedudukan di Eropa dan sebuah Desa Huaxi yang merupakan bagian dari Tiongkok
di Asia. Dalam pelaksanaan praktik Marxisme–Leninisme di negeri negeri
sosialis, sering terjadi kesalahan yang bisa menimbulkan kehancuran negeri
tersebut. Sebagai contoh saya melihat kejadian itu di Albania. Mengapa saya
mengambil contoh Albania? Karena saya mengalami langsung di negeri ini selama
seperempat abad, selama dua puluh lima tahun. Partai Buruh Albania yang
sebelumnya adalah Partai Komunis Albania, yang sejak semula diketuai oleh Anwar
Hoja, (di Albania ditulis: Enver Hoxha), setelah menumbangkan kekuasaan kaum
feodal dalam negeri dan mengusir kekuasaan fasis Jerman, berhasil menegakkan
pemerintahan demokrasi rakyat. Dari sistem feodal, negeri ini langsung melompat
memasuki sistem demokrasi rakyat. Dia tidak mengalami sistem kapitalis,seperti
yang dialami negeri sosialis lainnya di dunia. Negeri itu membentuk
koperasi‐koperasi pertanian dan perusahaan pertanian negara (ferma). Koperasi
pertanian dipimpin oleh pengurus yang dipilih oleh rakyat yang merupakan
anggota koperasi. Para anggota koperasi merupakan penduduk desa yang tergabung
dalam sebuah koperasi. Sedangkan perusahaan pertanian negara, yang disebut
ferma, adalah milik negara dikelola oleh pemerintah daerah masing‐masing. Para
pekerjanya adalah penduduk (warga) yang berdekatan dengan tempat perusahaan
pertanian tersebut. Baik koperasi maupun perusahaan pertanian negara, pada
pokoknya bergerak di bidang pertanian, peternakan, dan perkebunan buah‐buahan.
Bidang‐bidang lainnya seperti industri berat dan ringan, pabrik tembaga, pabrik
tenun, pembangkit listrik (hidrocentral), pabrik porselen, dan lain‐lain,
sepenuhnya berada di tangan pemerintah/negara. Apakah ada kesalahan yang kita
jumpai dalam pengembangankoperasi dan perusahaan pertanian negara ini? Ya, ada!
Yang paling pokok dan utama adalah warga tidak diberi tanah semacam halaman
untuk bercocok tanam guna kebutuhan hidup mereka.Misalnya untuk bertanam
sayur‐sayuran guna kebutuhan makan mereka sehari‐hari. Warga tidak
diperbolehkan beternak hewan besar seperti sapi, untuk memperoleh susu dan
keju. Yang diperkenankan hanyalah ternak kecil seperti ayam. Padahal penduduk
membutuhkan susu dan keju untuk hidupnya. Semua kebutuhan hidup harus dibeli di
koperasi, padahal penghasilan mereka dari koperasi sangat terbatas dan sedikit.
Koperasi sendiri tidak mampu memenuhi kebutuhan kaum tani sehari‐hari, dari
hasil pertanian dan peternakan. Pemerintah beralasan seolah hal ini dilakukan
untuk menjaga kemurnian ideologi proletariat, jangan sampai warga berkembang
menempuh kembali ideologi burjuis. Pemberian sebidang tanah dan pemeliharaan
hewan besar dianggap oleh pemerintah akan mengembangkan ideologi burjuis. Di
kalangan atas juga terjadi perbedaan cara hidup sangat mencolok. Untuk ketua
Partai dan para anggota Politbiro masing‐masing disediakan kendaraan
Mercedes‐Benz, seluruh anggota Comite Central mendapatkan mobil Fiat buatan
Italia.Penduduk biasa seperti buruh dan tani, sama sekali tidak diperbolehkan
memiliki kendaraan bermotor. Mereka paling‐paling hanya memiliki sepeda yang
sangat sulit untuk diperoleh karena benda ini merupakan barang impor. Di
jalan‐jalan umum kita tidak menemukan kesibukan atau kemacetan, karena penduduk
tidak memiliki kendaraan bermotor seperti yang terdapat di negeri‐negeri
lain.Ketimpangan‐ketimpangan ini tentu saja menimbulkan kecemburuan sosial di
kalangan rakyat. Belum lagi masuk ke masalah makanan. Di kalangan atas yang
mencakup anggota Politbiro Partai Buruh Albania dibandingkan dengan
kehidupanwarga, juga terdapat perbedaan yang menyentuh hati. Anggota Politbiro
mengonsumsi makanan yang ditanam di perkebunan khusus untuk mereka. Para
pemimpin itu memiliki perkebunan yang menghasilkan sayuran dan perkebunan
buah‐buahan khusus untuk para pemimpin. Untuk mereka disediakan peternakan
khusus untuk susu, keju, dan daging yang berbeda dengan yang dikonsumsi rakyat
biasa. Warga memperoleh makanan dari pasar bebas, dari warung‐warung dan
kedai‐kedai, yang memperolehnya dengan antrean panjang. Kualitas makanannya
jauh berbeda dengan makanan para pemimpin. Sebagai akibatnya, terbuka lapisan
masyarakat baru dalam sistem sosialis, sebagai akibat salah urus, sebagai
akibat kekeliruan dalam penerapan Marxisme–Leninisme. Hal demikian bukan hanya
terjadi di Albania, tetapi juga di negeri‐negeri sosialis Uni Sovyet dan Eropa
Timur lainnya seperti Hongaria, Bulgaria, Rumania, Cekoslawakia, Polandia, dan
lain‐lainnya.Saya juga melihat, ada lagi sebuah kesalahan yang dilakukan oleh
Partai Buruh Albania pada waktu itu. Partai masih terus memelihara dan memupuk
“dosa keturunan”. Jika ada seorang kakek atau ayah melakukan kesalahan dalam
perjuangan melawan feodalisme dan membasmi fasisme Jerman di Albania, maka dosa
kesalahan itu akan turut diderita oleh sang anak berikut keturunan selanjutnya.
Sang anak dan generasi keturunan selanjutnya tidak akan mendapatkan pelayanan
yang sama dengan anggota masyarakat lainnya. Sang anak dan generasi keturunan
selanjutnya akan terus‐menerus turut menanggung beban apa yang dilakukan sang
kakek atau ayah di masa lalu. Mereka tidak akan mendapatkan pendidikan yang
sama dengan anggota masyarakat lainnya. Mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan
yang sama dengan warga lainnya. Keturunan “bekas penjahat” ini selalu
mendapatkan pekerjaan yang lebih berat, seperti di pertambangan dalam tanah,
pabrik pengecoran, dan pekerjaan pertanian. Mereka selalu diremehkan dan
dicemoohkan dalam kehidupan sehari‐hari.Hal ini persis seperti yang dilakukan
oleh pemerintah orde baru rezim fasis Jenderal Soeharto terhadap keturunan
anggota Partai Komunis Indonesia dan pengikut Bung Karno. Kebejatan tersebut
masih berlaku hingga saat ini, di mana rekonsiliasi belum pernah dilakukan dan
Tap MPRS No.XXV/1966 belum dicabut dan dimusnahkan. Para pengikut rezim orde
baru Soeharto masih terus berkuasa dan bercokol dalam kekuasaan negara RI.
Kelemahan lainnya kita jumpai juga di bidang komunikasi dan propaganda,
misalnya dalam hubungan penyiaran di TV dan radio. Di kalangan pimpinan
diadakan saluran khusus untuk mengetahui perkembangan di luar negeri dengan
mengikuti siaran TV/radio dari berbagai stasiun penyiaran negeri‐negeri
lainnya. Sedangkan warga biasa hanya diperbolehkan mengikuti siaran dalam
negeri yang disalurkan lewat TV/radio ibu kota Tirana. Untuk mengetahui
perkembangan negeri‐negeri lainnya, warga secara diam‐diam membuat “antena
liar” untuk memperoleh berita dan perkembangan lainnya di luar negeri, seperti
di bidang olahraga dan kebudayaan. Di tempat‐tempat kerja, di pabrik, warga
membuat antena televisi agar bisa berhasil menangkap siaran dari luar negeri.
Mereka selalu melihat siaran TV dari Roma (Italia) dan Belgrado (Yugoslavia)
secara diam‐diam dan sembunyi. Jika diadakan festival internasional atau
pertandingan bola dunia, warga pasti melihatnya dengan menggunakan antena liar.
Secara resmi pemerintah melarang warga melihat siaran TV lainnya dari luar
negeri, warga hanya diperbolehkan mengikuti TV dan radio siaran dalam negeri.
Bagi warga yang melanggar ketentuan pemerintah diambil tindakan hukum hingga
masuk penjara. Mengapa pemerintah melakukan pemblokiran terhadap siaran‐siaran
dari luar negeri bagi warganya? Alasannya sangat sederhana. Untuk menjaga
kemurnian ideologi Marxisme–Leninisme. Di kalangan bawah dilakukan pemeliharaan
ideology Marxisme–Leninisme, sedangkan di kalangan atas telah menyusup dan
berkembang ideologi burjuis. Kepincangan‐kepincangandemikian ini terjadi
sebagai akibat kesalahan pimpinan dalam menerapkan Marxisme–Leninisme di
kalangan rakyat biasa, tidak satunya ucapan dan perbuatan. Kelihatannya masalah
seperti ini merupakan hal kecil, tetapi dalam kenyataan, hal demikian menjadi
pendorong hancurnya negeri‐negeri sosialis di Eropa Timur dan di dunia. Ada
lagi sebuah kejadian tragis yang terjadi bagi pimpinan Partai di Albania. Di
saat‐saat akan berakhir dan runtuhnya pemerintahan sosialis di Albania, di
kalangan pimpinan tertinggi Partai terjadi saling tuduh dan saling sikut,
hingga pada akhirnya saling bunuh. Betapa tragisnya, beberapa anggota Politbiro
Partai saling tembak yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh mati. Beberapa
anggota Politbiro Partai yang merupakan kawan seperjuangan ketika bersama‐sama
memusnahkan kaum feodal dan mengusir kaum fasis Jerman dari negerinya, pada
akhirnya bentrok sendiri. Mereka gontok‐gontokan. Yang satu menuduh yang lain
sebagai agen luar negeri untuk menumbangkan pemerintah Albania. Yang terakhir
sekali adalah dibunuhnya Perdana Menteri Pemerintah Sosialis Albania, Mehmet
Shehu. Oleh Ketua Partai Buruh Albania, orang ini dianggap sebagai agen ganda
luar negeri yang berusaha menghancurkan Albania. Dia dituduh sebagai agen
imperialisme Amerika Serikat dan sekaligus agen social imperialisme Uni Sovyet.
Dia dibunuh dalam sebuah sidang. Kepada anggota masyarakat dan anggota Partai,
dinyatakan bahwa perdana menteri itu melakukan bunuh diri, karena akal busuknya
sudah diketahui. Namun kita juga tidak bisa menutup mata, melupakan segi‐segi
positif dan kebaikan dalam sistem sosialis yang terdapat di negeri tersebut.
Pelayanan kesehatan gratis yang diberikan kepada rakyat, sangat perlu
dibanggakan. Jika ada warga menderita sakit, segera dibawa ke rumah sakit.
Seluruh pemeriksaan dan pengobatan, warga tidak membayar satu sen pun. Demikian
juga obat‐obat yang diperoleh dari apotek seluruhnya gratis, sama sekali tidak
dibayar. Demikian juga dalam masalah pendidikan. Dalam semua jenjang pendidikan
warga memperolehnya dengan gratis. Mulai dari penitipan bayi, taman
kanak‐kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga pendidikan tinggi di
universitas, semuanya dilakukan tanpa bayar. Kesempatan ini sangat terbuka bagi
warga yang memiliki kemampuan untuk belajar. Bagi warga yang sudah bekerja,
juga dibuka kesempatan untuk belajar pada malam hari. Betapa banyaknya jumlah
kader sarjana yang dihasilkan dari sekolah malam hari, termasuk para sahabat
dan teman dari Indonesia. Bagi warga yang telah berhasil menamatkan
pendidikannya segera akan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bakatnya. Tidak
ada kekecualian, semua mendapatkan pekerjaan. Yang sangat menarik, semua
pekerja akan menerima upah tidak jauh berbeda dalam jumlahnya. Seorang insinyur
misalnya, menerima upah tidak jauh berbeda dengan seorang pekerja mesin bubut.
Seorang dokter menerima gaji tidak jauh berbeda dengan seorang perawat.
Demikian seterusnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin dalam sistem
sosialis di Albania, mereka berusaha untuk mengatasi atau mengurangi perbedaan
gaya hidup yang berlebihan di masyarakat. Mereka berusaha mengatasi kesenjangan
sosial jangan sampai terjadi di Albania. Pada waktu itu, Albania sama sekali
tidak mengenal pengangguran. Semua penduduk dewasa memperoleh pekerjaan, di
sana tidak ada manusia parasit. Demikian pula di bidang perumahan. Pemerintah
melindungi warganya dengan memberikan perumahan. Memang pemerintah masih
mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan perumahan rakyat. Apartemen terus
dibangun dan dikembangkan. Warga desa diberi berbagai keringanan dan prioritas
untuk membangun rumahnya. Bagi kaum buruh pabrik, pemerintahmenyediakan bahan
bangunan untuk membangun perumahan dengan kerja sukarela. Setelah apartemen
selesai, buruh membaginya sesuai dengan ketentuan yang mereka atur sendiri.
Dengan cara ini banyak kaum buruh dan warga yang tertolong untuk mengatasi
masalah perumahan. Marxisme–Leninisme adalah sebuah ilmu. Sebagai ilmu, maka
dia tidak pernah mandeg, tidak boleh berhenti pada satu titik. Ia akan selalu
berkembang bersama ilmu‐ilmu lainnya. Marxisme–Leninisme termasuk masih muda
dibandingkan dengan ilmu‐ilmu lainnya yang terdapat di dunia ini. Puncak
pengujian kebenaran ilmu ini adalah ketika dimenangkannya Revolusi Oktober di
Rusia pada tahun 1917. Dalam praktik proses pengembangannya masih selalu
mengalami ganjalan. Selama puluhan tahun dalam praktik di berbagai negeri,
akhirnya dia mengalami pukulan berat. Beberapa negeri sosialis yang menganut
ajaran Marxisme–Leninisme, mengalami kehancuran. Tapi perlu dicatat bahwa
Marxisme– Leninisme tak pernah mati. Ilmu itu tetap utuh dan bertahan.Namun dia
masih perlu dikembangkan dan disempurnakan. Kini saya berusaha menampilkan
sebuah contoh lain sebagai bahan banding dalam pelaksanaan dan pengembangan
system sosialis yang didasari teori Marxisme–Leninisme. Sebuah desa di
Tiongkok, bernama Huaxi, terletak di Provinsi Jiangsu, merupakan salah satu
desa yang menganut paham sosialis yang didasari Marxisme–Leninisme. Huaxi
adalah mininya Tiongkok yang besar. Merupakan desa teladan yang perlu dicontoh
oleh desa‐desa lainnya di sana. Penduduk desa mengalami kemakmuran luar biasa.
Setiap keluarga paling tidak memiliki sebuah rumah dan sebuah mobil.
Perlengkapan rumah tangga keluarga, sudah dilengkapi dengan baik. Keluarga di
Huaxi rata‐rata memiliki aset 150.000 dolar AS, pendapatan per kapita mencapai
2.000 dolar AS. Penduduk desa ini hidup dengan sejahtera yang diperoleh dari
pabrik baja, besi, dan pabrik tekstil milik kolektif. Pada tahun 2008 saja,
pabrik‐pabrik ini berhasil mengumpulkan 7,3 miliar dolar AS. Sejak kemerdekaan
Tiongkok pada tahun 1949 hingga kini, Partai Komunis Tiongkok telah berhasil
mengubah negeri itu dari negeri terbelakang menjadi sebuah negeri maju di
dunia. Kedudukan perekonomian Tiongkok telah berhasil menduduki tempat kedua di
dunia setelah AS. Negeri‐negeri Eropa dan negeri‐negeri dunia lainnya tidak ada
yang tidak mengenal barang produksi Tiongkok. Kini barang‐barang Tiongkok
memenuhi pasar dunia. Di Eropa mulai barang‐barang elektronik, porselen, bahan
makanan, sampai tusuk sate dan tusuk gigi pun adalah produksi Tiongkok.Di tahun
1980‐an, ketika Tiongkok mulai mendorong kepemilikan perseorangan, Desa Huaxi
berada di garis terdepan.Hasil dari pabrik baja dan pabrik‐pabrik lainnya
digunakan untuk mengembangkan usaha lainnya. Mereka memperoleh sukses luar
biasa. Warga Huaxi telah berhasil merealisasi mimpi mereka. Penduduk Huaxi yang
berjumlah 400 kepala keluarga sekarang memiliki rumah bergaya Eropa, seluas
400–600 meter persegi, lengkap dengan mobilnya. Warga desa tersebut mendapat
gaji pokok dan juga mendapat bonus tahunan. Menurut ketentuan yang ditetapkan
bersama, 80 persen harus diinvestasikan ke dalam saham perusahaan, yang dengan
demikian perusahaan akan terus berkembang dan membesar. Desa Huaxi yang menjadi
kebanggaan Tiongkok ini, semoga bisa menjadi teladan bagi desa‐desa lainnya di
Tiongkok. Banyak pendapat yang dikemukakan mengenai desa ini. Ada yang
mengatakan desa ini menempuh jalan perpaduan sosialisme dengan kapitalisme. Ada
yang mengatakan sudah sepenuhnya menempuh jalan kapitalisme. Banyak pula yang
mengatakan inilah sosialisme berciri Tiongkok. Menurut pendapat saya, biarkan
ilmu itu berkembang demi kemakmuran umat manusia, dengan sedapat mungkin
menghindari penghisapan manusia atas manusia. Tulisan saya ini merupakan
sambutan dalam rangka terbitnya buku Suar Suroso Jalan Sutera Abad 21. Buku ini
sebenarnya melengkapi tulisan dalam buku Suar sebelumnya Pikir Itu Pelita Hati
yang telah diterbitkan Ultimus Bandung beberapa waktu yang lalu. Saya melihat,
kedua buah buku ini juga merupakan jawaban bagi beberapa teman yang berdiam di
Eropa. Sekaligus merupakan pembelaan sosialisme dunia dewasa ini, termasuk
sosialisme yang berkarakteristik Tiongkok, atau sosialisme berciri Tiongkok,
atau sosialisme ala Tiongkok. Sepuluh bab tulisan dalam buku Jalan Sutera Abad
21 saling mengisi dengan buku Pikir Itu Pelita Hati. Buku ini sangat berguna
dalam menganalisa situasi dan perkembangan zaman. Masing‐masing kita mempunyai
hak memberikan pendapat untuk menjawab situasi konkret dewasa ini. Dari dua
contoh di atas, saya berusaha mengemukakan bahwa Marxisme–Leninisme sebagai
ilmu, belumlah sepenuhnya sempurna. Ia terus berkembang sesuai dengan
perkembangan ilmu lainnya. Dia akan terus dilengkapi, hingga pada akhirnya
menjadi sempurna dan teruji dalam praktik. Di samping itu adanya negeri‐negeri
yang dalam praktik menyelewengkan ajaran Marxisme–Leninisme itu ke arah lain,
sehingga membawa negeri tersebut ke jalan yang fatal, itu adalah merupakan
sebuah konsekuensi. Sementara itu, jika ada pandangan dan pendapat yang
menyatakan bahwa Marxisme–Leninisme sekarang ini sepenuhnya sudah lengkap dan
sempurna, ini akan membawa kita pada dogmatisme. Amsterdam, 6 Agustus 2016
#yiv1484927565 -- #yiv1484927565ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1484927565
#yiv1484927565ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1484927565
#yiv1484927565ygrp-mkp #yiv1484927565hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-mkp #yiv1484927565ads
{margin-bottom:10px;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-mkp .yiv1484927565ad
{padding:0 0;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-mkp .yiv1484927565ad p
{margin:0;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-mkp .yiv1484927565ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-sponsor
#yiv1484927565ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1484927565
#yiv1484927565ygrp-sponsor #yiv1484927565ygrp-lc #yiv1484927565hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1484927565
#yiv1484927565ygrp-sponsor #yiv1484927565ygrp-lc .yiv1484927565ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1484927565 #yiv1484927565actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1484927565
#yiv1484927565activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1484927565
#yiv1484927565activity span {font-weight:700;}#yiv1484927565
#yiv1484927565activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv1484927565 #yiv1484927565activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1484927565 #yiv1484927565activity span
span {color:#ff7900;}#yiv1484927565 #yiv1484927565activity span
.yiv1484927565underline {text-decoration:underline;}#yiv1484927565
.yiv1484927565attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv1484927565 .yiv1484927565attach div a
{text-decoration:none;}#yiv1484927565 .yiv1484927565attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1484927565 .yiv1484927565attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1484927565 .yiv1484927565attach label a
{text-decoration:none;}#yiv1484927565 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv1484927565 .yiv1484927565bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1484927565
.yiv1484927565bold a {text-decoration:none;}#yiv1484927565 dd.yiv1484927565last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1484927565 dd.yiv1484927565last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1484927565
dd.yiv1484927565last p span.yiv1484927565yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv1484927565 div.yiv1484927565attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv1484927565 div.yiv1484927565attach-table
{width:400px;}#yiv1484927565 div.yiv1484927565file-title a, #yiv1484927565
div.yiv1484927565file-title a:active, #yiv1484927565
div.yiv1484927565file-title a:hover, #yiv1484927565 div.yiv1484927565file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1484927565 div.yiv1484927565photo-title a,
#yiv1484927565 div.yiv1484927565photo-title a:active, #yiv1484927565
div.yiv1484927565photo-title a:hover, #yiv1484927565
div.yiv1484927565photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1484927565
div#yiv1484927565ygrp-mlmsg #yiv1484927565ygrp-msg p a
span.yiv1484927565yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1484927565
.yiv1484927565green {color:#628c2a;}#yiv1484927565 .yiv1484927565MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv1484927565 o {font-size:0;}#yiv1484927565
#yiv1484927565photos div {float:left;width:72px;}#yiv1484927565
#yiv1484927565photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1484927565
#yiv1484927565photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1484927565
#yiv1484927565reco-category {font-size:77%;}#yiv1484927565
#yiv1484927565reco-desc {font-size:77%;}#yiv1484927565 .yiv1484927565replbq
{margin:4px;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1484927565
#yiv1484927565ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1484927565
#yiv1484927565ygrp-mlmsg select, #yiv1484927565 input, #yiv1484927565 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1484927565
#yiv1484927565ygrp-mlmsg pre, #yiv1484927565 code {font:115%
monospace;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-mlmsg #yiv1484927565logo
{padding-bottom:10px;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-msg
p#yiv1484927565attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1484927565
#yiv1484927565ygrp-reco #yiv1484927565reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-sponsor
#yiv1484927565ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1484927565
#yiv1484927565ygrp-sponsor #yiv1484927565ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1484927565
#yiv1484927565ygrp-sponsor #yiv1484927565ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv1484927565 #yiv1484927565ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1484927565
#yiv1484927565ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv1484927565