yg masuk rumah susun juga nggak bisa bayar sewa terancam atau sudah diusir.

---In [email protected], <chalik.hamid@...> wrote :

 Cerita kucing ini sangat menarik dan menyentuh hati. Namun seekor kucing ini 
tak boleh dilambangkan sebagai suatu humanisme dibandingkan penyelamatan 
penduduk Jakarta yang setiap tahunnya dilanda banjir. Pertama-tama 
selamatkanlah penduduk Jakarta, agar penduduk itu bisa menyelamatkan seekor 
kucing, seekor anjing, seekor kambing dan hewan-hewan lainnya. Kita harus 
pandai-pandai menempatkan persoalan pada tempat sebenarnya. Jangan terlalu 
emosi dari seekor kucing.
 Kelompok paguyuban sahabat Libi selayaknya menggendong Libi ke rumah susun 
agar bisa hidup bersama, hidup dengan budaya baru yang berperikemanusiaan dan 
beradab.
 


 Pada Jumat, 28 Oktober 2016 4:07, "jonathangoeij@... [GELORA45]" 
<[email protected]> menulis:

 

   
 

 https://medium.com/cahaya-tanah-gusuran/kesaksian-libi-46d4beea0eeb#.kpdfagifp 
https://medium.com/cahaya-tanah-gusuran/kesaksian-libi-46d4beea0eeb#.kpdfagifp

 

 

 Kesaksian Libi Libi adalah kucing milik bersama Ghofur, Muis, Ucok, Deni, 
Cilong, dan Dedi—anak-anak muda penghuni Sanggar Ciliwung Merdeka di RT 06, RW 
12, Kel. Bukit Duri, Kec. Tebet, Jakarta Selatan.
 Libi inilah kucing betina yang manja dan setia, yang paling disayang warga 
Bukit Duri. Memang, Libi lahir di rumah bersama, yakni Sanggar Ciliwung itu. Ia 
bersahabat dengan Indy (4 tahun) puteri kecil pasangan Ghofur (anak angkat 
saya) dan Mentari.
 
 



 
 
 Pada saat penggusuran paksa di pagi yang menyiksa itu, Rabu, 28 September 2016…
 Astaghfirullah! Aku menyaksikan Libi masih berdiri, bergerak-gerak di bangunan 
bagian atas Sanggar, loncat ke sana danke mari, menghindari ayunan dan terkaman 
ganas beckhoe yang mengamuk, diiringi suara deru campur debu yang mencekik, 
serta teriakan dan isak tangis warga Bukit Duri yang sebagian besar punya 
ikatan batin dengan tanah dan bangunan—betapapun sederhananya—juga lingkungan, 
bahkan air sungai Ciliwung yang terus mengalir dalam keheningannya yang menahan 
duka.
 Saya tidak yakin, Libi masih hidup atau tidak sesudah penggusuran biadab itu.
 Namun sore hari sesudah penggusuran itu, ternyata beberapa anak sanggar 
melihat si Libi menangis terisak-isak di atas reruntuhan Sanggar Ciliwung 
Merdeka. Dan sejak saat itu, kucing yang malang ini setiap hari, terutama mulai 
sore hari, sekitar pukul 15.00 WIBia tidur di reruntuhan bekas tanah dan rumah 
tercintanya.
 
 


 Kesaksian Libi seakan mengungkapkan betapa “Gemeinschaft” adalah bentuk 
kehidupan bersama: anggota-anggota warganya diikat oleh hubungan batin yang 
kuat dan bersifat nyata, serta organis. Kelompok paguyuban serupa ini sering 
dikaitkan dengan masyarakat komunal dengan ciri-ciri adanya ikatan kebersamaan 
(kolektif) yang sangat kuat.
 Kesaksian Libi bisa jadi juga berkisah tentang kesetiaan. Setia pada sahabat 
dan selalu tahu jalan untuk pulang. Setia berarti teguh, bersekutu dengan 
sistem nilai, kasih sayang yang diberikan oleh pihak yang dianggap 
menyayanginya. Seakan tak tertarik pada rayuan hal-hal lain yang bersifat 
ragawi dan sementara.

 
 

 
 


 Seperti ada sistem hati yang sudah terkunci dan tak bisa dibuka oleh pihak 
lain. Bahkan Libi, pemilik hatipun, sepertinya juga tak tahu cara membukanya 
agar pihak lain, orang lain, apalagi pihak penguasa yang hanya bisa memaksa, 
untuk bisa masuk dan menggantikan atau menyejajarkan dengan “roh” rumah, tanah, 
lingkungan kehidupan, persekutuan paguyuban, yang begitu lama sudah ada, sejak 
Libi dilahirkan.
 Tak ada jarak dan waktu yang benar-benar mampu memisahkan jiwa Libi dan 
Sanggar Ciliwung Merdeka, yang saling setia. Keduanya selalu bisa bertemu di 
satu titik yang sama, meski sudah terpisah ribuan mil, ribuan tahun.
 Jakarta, 17 Oktober 2016
I. Sandyawan Sumardi


 

 

 

 
 

 
 



 
 
 



Kirim email ke