res: Beberapa waktu lalu Megawati mengatakan : “Budaya Tak Dapat Dipisahkan 
dari Politik” ( 
http://www.beritasatu.com/nasional/392497-megawati-budaya-tak-dapat-dipisahkan-dari-politik.html.
   

Politik demokrasi dijalankan dengan azas budaya feodal tidak akan berhasil!  
Sekalipun berjungkir balik pun. Begitulah keadaan dibawah kekuasaan rezim 
neo-Mojopahit dengan lain kata juga bisa dikatakan bahwa pemilihan umum dalam 
bentukan apa pun tidak membawakan faedah apapun kepada rakyat. Karena budaya 
feodal berakar pada mayoritas penduduk dan juga partai-partai politik adalah 
perusahaan kepentingan pemilik partai. Di daerah anggota partai berkaok-kaok 
hanya untuk kepentingan pemilik partai dan kaum elit yang berkerumum dikeliling 
ketua parta yang direktur dan pemilik partai politik di pusat kekuasaan, maka 
oleh sebab itu politik Jawasentris dijalankan.  Anggota partasi  yang disebut  
wakil-wakil daerah  tidak lain dari anak-anak bawang pemilik partai untuk 
melaksanakan poltik Jawasentris, dan daerah yang katanya mereka wakili  
diabaikan! hehehehehe


http://nasional.kompas.com/read/2016/10/29/19580431/megawati.demokrasi.indonesia.sedang.mengalami.cobaan.

Megawati: Demokrasi Indonesia Sedang Mengalami Cobaan  
Sabtu, 29 Oktober 2016 | 19:58 WIB

Kompas.com / Dani Prabowo Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri 

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden kelima RI yang juga Ketua Umum DPP PDI 
Perjuangan Megawati Soekarnoputri menilai saat ini proses berdemokrasi di 
Indonesia sedang mengalami sebuah cobaan.

Hal tersebut disampaikan Megawati dalam sambutannya usai menyaksikan 
pertunjukan "Sri Eng Tay", di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Sabtu 
(29/10/2015).  

"Karena ada di antara kita sendiri yang sedang berupaya untuk tidak menerima 
perbedaan. Seperti yang saya katakan, kita warga Indonesia tidak membedakan 
masalah agama, ras, atau siapa dia," kata Megawati dalam siaran pers DPP PDI-P, 
Sabtu malam.

Pertunjukan ini juga dihadiri oleh Menko Bidang Pembangunan Manusia dan 
Kebudayaan Puan Maharani, Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto serta 
sejumlah fungsionaris PDIP.  

Pertunjukan ini didukung antara lain oleh Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Yu 
Ningsih, Trio Gam, Henky Solaiman, Hans Huang, Alena Wu, Febrianti Nadira, 
Flora Simatupang serta tim kreatif Butet Kartaredjasa, Agus Noor, Bre Redana, 
Djaduk Ferianto.  

Megawati mengaku kaget diundang hadir ke acara yang merupakan kreasi budaya 
ini.  Namun, dia bersemangat hadir menonton sebab meyakini seni bisa jadi 
pemersatu.  

"Saya ingin katakan dalam narasi kebudayaan seperti yang ditampilkan tadi, kita 
harus setia kepada Republik Indonesia. Sehingga kita harus tahu, semua kita 
adalah satu," kata Megawati.

"Saya sering  katakan karena anak muda senangnya berbahasa asing, all for one 
and one for all, kita adalah satu warga negara Indonesia," ujarnya.  

Untuk itu, Megawati meminta kepada semua pihak secara bersama-sama dalam 
menjalankan proses demokrasi di tengah situasi berbeda tidak disikapi dengan 
cara kekerasan, tapi menempuh jalan damai. 

"Mari bersatu, apa pun yang terjadi, mari secara lakukan secara damai di bumi 
Indonesia. Tolong pesan ini disampaikan ke mana-mana," tutur Megawati.  



Kirim email ke