http://www.eramuslim.com/berita/nasional/beni-pramula-pemuda-mahasiswa-saatnya-singsingkan-lengan-baju-usir-nekolim.htm#.WBqC_cm7kt4

Beni Pramula: Pemuda & Mahasiswa, Saatnya Singsingkan Lengan Baju, Usir Nekolim!
Redaksi – Kamis, 3 Safar 1438 H / 3 November 2016 04:07 WIB


Eramuslim.com – Komando Gerbong Pemuda dan Mahasiswa Aksi Bela Islam II, Beni 
Pramula, mengatakan bahwa hari Jum’at, 4 November 2016, akan terukir sebagai 
peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia. Dimana Ratusan ribu atau bahkan 
mencapai jutaan jiwa rakyat akan tumpah-ruah memadati Ibu Kota Jakarta. Mereka 
datang dari berbagai pelosok dan penjuru negeri.

Dalam keterangannya kepada Aktual.com, Rabu (2/11), Basuki Tjahaja Purnama 
(Ahok) juga disebutnya kerap menggusur rakyat dengan tidak manusiawi, serta 
telah menistakan agama dan merobek persatuan dan kesatuan bangsa yang sudah 
kita pupuk lama.

Menurutnya, menjadi mubazir jika rakyat di seluruh penjuru tanah air harus 
turun ke jalan hanya untuk melawan Ahok. Oleh karena itu, momentum tanggal 4 
November hendaknya tidak disia-siakan. Yakni untuk bersama-sama 
bergotong-royong membenahi negeri yang telah diporak-porandakan oleh 
kepentingan asing.

“Mari bahu-membahu merebut segala yang telah mereka curi dan rampas dari negeri 
ini. Usir Nekolim,” tegas beni.

Kepada tokoh politik, pemuka agama, organisasi masyarakat, pemuda, mahasiswa 
dan rakyat, hendaknya bersatu menjadikan momentum 4 November 2016 sebagai upaya 
memperbaiki bangsa. Merajut kebersamaan dan menghilangkan ego sektoral. 
Bagaimanapun perubahan adalah keniscayaan yang harus sama-sama dibuat pada 4 
November.

“Mahasiswa, pemuda. saatnya singsingkan lengan baju berada di garda terdepan 
mengawal rakyat. Jangan biarkan orang tua kita, para ulama dan kiai kita yang 
angkat panji-panji bendera. Kita harus menjadi benteng, penegak panji, kita 
harus menjadi pendobrak dibagian depan,” jelas Beni.

Mantan Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah itu menambahkan, dugaan 
penistaan agama secara tidak langsung menjadi puncak dari berbagai kebijakan 
Ahok selama ini. Pernyataan itu bisa mengancam dan merusak persatuan dan 
kesatuan anak Bangsa.

Meski sentimen anti Ahok di Jakarta bukan hanya dipicu oleh kasus penistaan 
agama, melainkan berbagai kasus lainnya. Dari penggusuran, kasus pembelian 
lahan Rumah Sakit Sumber Waras dan lahan di Cengkareng, megaproyek reklamasi, 
pembelian Bus TransJakarta dan Kasus UPS.

“Sikap kepolisian yang tidak responsif membuatnya menjadi bola salju yang terus 
membesar justru menimbulkan kesan diskriminasi,” kata Beni.

Ditambahkan dia, kedekatan dan atau pemihakan kebijakan politik Ahok pada para 
pengembang etnis China yang menguasai seluruh bisnis perumahan, apartemen dan 
berbagai bentuk property di Jakarta, membuat sentimen anti Ahok merembet 
menjadi sentimen anti China dan tidak hanya menguat di Jakarta namun di 
berbagai daerah di Indonesia.

Dalam skala yang lebih besar, pemerintahan Jokowi juga menyerahkan berbagai 
mega proyek ke China. Hal itu berbanding lurus dengan melimpahnya buruh China 
ke Indonesia. Pada gilirannya, dikhawatirkan kebijakan demi kebijakan 
pemerintah membuat martabat, kemandirian dan kedaulatan bangsa Indonesia 
tergadaikan.

“Kini rakyat kehilangan rasa amannya, kekhawatiran akan masa depan mereka 
karena hak-hak asasi yang terus ditindas, diintimidasi dan terancam terusir 
dari tanahnya. Kesenjangan antara yang kaya dan miskin makin terlihat dan 
melebar,” terangnya.(ts/akt)

Kirim email ke