res :  Mari ramai-ramai memerdekakan pulau Jawa menjadi negara tersendiri  
bebas dan berdaulat penuh. Jangan mau dibodohkan dengan istilah satu nusa satu 
bangsa.

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/andai-jend-m-yusuf-masih-hidup-ahok-bakal-dikubur-hidup-hidup.htm#.WBqD0sm7kt4

Andai Jend. M. Yusuf Masih Hidup, Ahok Bakal Dikubur Hidup-Hidup
Redaksi – Sabtu, 7 Muharram 1438 H / 8 Oktober 2016 16:26 WIB


Eramuslim.com – Zaman presiden Soeharto china taipan tidak bisa berkutik kalau 
tidak kena tampar atau akan di kubur hidup hidup oleh sang jenderal bila 
bersifat arogan lagi.
Berbanding terbalik di zaman jokowi.china taipan mau buat apa saja,mau berkata 
kasarpun tak satu pun jenderal yang menampar ,mengapa begitu ? Mari kita 
tanyakan pada media penjilat ahok dan pada polisi / tni yang ikut ikutan 
menggusur rumah warga miskin.

Zaman M Soeharto , hanya dua di antaranya yang pernah menegur dan memarahi Liem 
Soei Liong, yaitu Letnan Jenderal HR Dharsono dan kemudian Jenderal Muhammad 
Jusuf.

Jenderal HR Dharsono saat menjadi Dubes RI di Bangkok, memarahi Liem karena 
perilaku seenaknya ketika ia ini bertamu ke kedutaan untuk menemuinya. HR 
Dharsono tidak peduli Liem itu ‘sahabat’ Soeharto atau siapa. Jangankan Liem, 
Jenderal Alamsyah yang saat itu menjadi salah satu menteri di kabinet Soeharto 
pun pernah ditegur HR Dharsono, akibat perilaku anak-isteri sang menteri yang 
membuat masalah di Bangkok.

Tetapi yang lebih seru adalah cerita mengenai teguran Menhankam/Pangab Jenderal 
Muhammad Jusuf kepada Liem yang datang ke kediaman Presiden Soeharto dengan 
pakaian seenaknya.

Sekelumit cerita yang didapat sekedar untuk mengingatkan bahwa walau dekat 
dengan penguasa, jangan se enak “udel” nya sendiri….

Pagi itu jam 8.00 sebuah mobil masuk ke komplek kawasan cendana kediamannya 
presiden ke- 2 RI SOEHARTO. Ternyata tamu yg turun dari sebuah jeep mercy tsb 
bukanlah menteri atau pejabat penting negara tapi justru seorang pengusaha 
“teman ngopi “ Pak Harto. Taipan yg dikenal sebagai konglomerat,taipan dan 
pemilik bank BCA dan sejumlah bisnis raksasa itu bernama Liem Soei Liong

Hanya dengan mengenakan “celana pendek santai”boos sejumlah kongomerat 
indonesia terlihat begitu santai memasuki kediaman presiden. Pengusaha dan 
konglomerat yg dikenal.dekat dengan Pak.Harto itu, dipersilakan menunggu oleh 
ajudan PRESIDEN RI ke 2 tsb.

Dari schedule memang Pak.Harto diagendakan akan menerima beberapa orang tamu 
pagi itu diantaranya adalah Menhankam/Pangab .M.JUSUF

Selang tidak berapa lama Liem Soei Liong duduk menunggu panggilan masuk tiba2 
rombongan mobil membawa Menhankam/Pangab masuk.

Ketika Jend TNI M.Jusuf masuk ke Cendana disinilah ia berpapasan dengan Liem 
Soei Liong yg bercelana pendek tsb. Jend. M Jusuf menyapa dengan gaya bahasa 
khas makassarnya tsb “you mau kemana tanyanya ke Liem Soei Liong”? dengan tegas.

“wa mau menghadap bapak presiden sahutnya”,langsung Jend .M Jusuf naik pitam 
ketika itu, dia panggil orang tsb kehadapannya

Jend M Jusuf sendiri saat itu dalam kondisi mengenakan “PDH”pakaian dinas 
harian jabatan MENHANKAM/PANGAB yg memegang tongkat komando)

Liem Soei Liong datang kehadapannya dengan mengenakan celana pendeknya tsb 
“langsung ditampar dan digebuk perutnya oleh M.Jusuf.

“Kurang ajar kamu ya, kamu tau kamu itu mau menghadap siapa dengan mengenakan 
celana tdk sopan begini”teriak Jenderal tegas tsb.

“Ampun maaf jend ampun wa minta ampun jend, sambil memegang wajahnya yg baru 
ditempiling oleh orang nomor satu MILITER indonesia tsb)

“Lain kali kali kalau pakai celana pendek begini menghadap.presiden saya tanam 
kamu hidup2 ujar M. Jusuf dengan logat khas makasarnya

Akhirnya taipan dan konglomerat tsb tdk jadi menghadap Presiden Soeharto karena 
diusir langsung oleh M.Jusuf dari Cendana.

Pak Harto rupanya sudah mengetahui apa yg sedang terjadi didepan kediamannya, 
beliau diam seperti “no comment”. Ketika beliau menerima MENHANKAM/PANGAB 
M.JUSUF masalah “penggebukan Liem Soei Liong tdk disinggung. Mungkin pak.Harto 
sudah paham.

Pertanyaannya kenapa Pak Harto “tidak menegur pak JUSUF”? begitulah cara Pak 
Harto membela orang2 kepercayaannya. Gaya Jend.M Yusuf yang tegas dalam menjaga 
nama dan marwah presiden tsb juga diacungkan jempol oleh media dan rakyat.

Pertanyaan selanjutnya, apakah wibawa TNI bisa ditegakkan kembali seperti jaman 
Menhankam /Pangab M Yusuf dan mampu “menampar” para pihak yang bersikap 
seenaknya sendiri menghina TNI dan Indonesia dalam beberapa kasus ? atau akan 
makin sungkan karena beberapa petingginya “mesra” dengan beberapa konglomerat 
?? atau hanya kesombongan semu seperti akun resmi TNI AU yang katakan saat 
dikritik tentang halim.. kami lebih tahu jeroan kami…sungguh mengenaskan bila 
TNI sudah seperti itu …

Aku jadi inget pesan Pak Dirman (Jenderal Besar Soedirman)

Ingatlah, bahwa prajurit kita bukan prajurit sewaan, bukan parjurit yang mudah 
dibelokkan haluannya, kita masuk dalam tentara, karena keinsyafan jiwa dan 
sedia berkorban bagi bangsa dan negara.

Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara 
dan menjaga keselamatannya, sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban 
ini, lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh.
Jogjakarta, 12 Nopember 1945

Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapapun juga.
Tentara bukan merupakan suatu golongan diluar masyarakat, bukan suatu kasta yg 
berdiri diatas masyarakat, tentara tidak lain dan tidak lebih dari salah satu 
bagian
masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu.
Jogjakarta, 1 januari 1946

Bahwa satu-satunya hak milik nasional/republic yang masih utuh tidak 
berubah-ubah, meskipun harus mengalami segala macam soal dan perubahan, 
hanyalah angkatan perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia) –
Jogjakarta, 1 Agustus 1949

Catatan tambahan

Saat menjadi Panglima ABRI, M Jusuf sangat dekat dengan prajurit. Dia 
berkeliling Indonesia untuk menemui para prajurit di barak-barak. Dengan hangat 
dia menyapa keluarga prajurit.

Dia membangun asrama, memperbaiki fasilitas yang rusak, memberikan bantuan dan 
dengan sikap kebapakan mendengarkan curhat para prajurit.

M Jusuf menghabiskan waktu di antara para prajuritnya. Nyaris tidak pernah 
duduk di meja kerja. Karena itu dia menjadi sangat populer. Tak hanya di 
kalangan prajurit, namun juga di mata rakyat. Saat itu TVRI yang menjadi 
satu-satunya stasiun TV selalu menayangkan kunjungan kerja Jenderal Jusuf.

Salah satu Putra bangsa terbaik bangsa ini kelahiran Kayuara, Bone Selatan, 23 
Juni 1928, ini meninggal dunia dalam usia 76 tahun di Makassar, 8 September 
2004, pukul 21.35 Wita. Dan Indonesia berduka. Mabes TNI dan masyarakat 
Sulawesi Selatan mengibarkarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari.
Semoga Allah menempatkan jannah buat jenderal M yusup.

Salam Indonesia Raya

Bagaimana dengan para jenderal sekarang? Jika Jenderal M. Jusuf masih hidup, 
pasti dia sudah menempeleng dan mengubur hidup-hidup orang seperti ahok! (ts)

Kirim email ke