Menuju DKI 1, beli kasur hingga batasi mobil mewah

Kamis, 3 November 2016 07:22 WIB | 1.424 Views

http://www.antaranews.com/berita/593860/menuju-dki-1-beli-kasur-hingga-batasi-mobil-mewah
 

Pewarta: riza fahriza



Calon gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membeli seikat mawar merah dari 
pedagang di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat, Rabu (2/11). (ANTARA 
News/Dewanto Samodro)



Jakarta (ANTARA News) - Praktik "blusukan" masih memiliki daya tarik tersendiri 
bagi masing-masing Calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk 
menyerap aspirasi dari warga. Praktik ini masih dilakukan oleh para calon 
gubernur dan wakil gubernur pada Rabu kemarin.

Sah-sah saja blusukan digunakan dan terhitung lebih mengena ketimbang dengan 
hanya memberikan wacana belaka. Dari blusukan itu kedekatan calon "DKI1" dengan 
warganya semakin terasa.

Hal ini dibuktikan oleh masing-masing Cagub dan Cawagub DKI Jakarta. Soal 
kehujanan atau berkeringat dalam kampanye ini, tidaklah menjadi masalah demi 
mendapatkan simpati dari para pemilih nantinya.

Calon wakil gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, Rabu kemarin, 
mengatakan "blusukan" menjadi upaya untuk menelusuri potensi warga dan 
lingkungan.

Untuk itu, Djarot senang melakukan blusukan ke berbagai area di wilayah Jakarta.

"Inilah kesempatan kami untuk kita menyerap dan mengetahui persoalan-persoalan 
dan potensi yang dimiliki oleh warga atau lingkungan," kata Djarot, Jakarta 
Timur, Rabu.

Dia mengatakan potensi yang dimiliki daerah harus dikembangkan sehingga dapat 
memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Potensi seperti ini nanti kita manfaatkan, dayagunakan, maksimalkan," tuturnya.

Djarot memberikan contoh salah satu daerah yang dikunjungi di Jalan Rahayu 3 RT 
011/03 Kelurahan Kalisari Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Mantan wali kota Blitar itu mengatakan ikan keramba dapat diusahakan di Kali 
Mati di Kelurahan Kalisari itu, namun tetap harus ada ketentuan yang mengatur 
agar tidak mengakibatkan gangguan di kemudian hari.

"Ikan keramba di sini kan bisa untuk menambah penghasilan warga. Kalau ada 
airnya waktu kemarau bisa untuk keramba, bisa untuk ikan nila, lele. Nanti kami 
akan coba Kerja sama RT, RW ya buat di sini," tuturnya.

Namun, menurut dia, rencana membuat ikan keramba di sungai itu harus diteliti 
lebih lanjut untuk menentukan baik tidaknya dilakukan.

"Benih dari kami dulu kan gampang dari kami ya tapi dikelola RT- RW dulu untuk 
contoh taruh di sini cuma saya bilang keramba ini ada bahayanya kalau cuma 
berhasil satu semua buat keramba maka keramba itu bisa buat sampah menyumbat di 
situ, ada aturannya buat keramba," ujarnya.

Djarot mengatakan Kelurahan Kalisari bisa menjadi proyek percontohan untuk 
usaha ikan keramba melalui kerja sama dengan pihak RT, RW dan kelurahan.

Bahkan dalam blusukan itu, Djarot Saiful Hidayat membeli empat kasur dari 
pengrajin di Kampung Kramat, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

"Kita berharap kalau memang ini bagus di sini kita kembangkan. Kami melatih 
saudara-saudara kita di rusunawa untuk ibu-ibunya buat kasur. Kami bisa pakai 
di panti-panti kita dan distribusi ke luar kota," kata Djarot, Jakarta Timur, 
Selasa.

Sebanyak empat kasur tersebut dibeli seharga total Rp500.000.

Sementara calon gubernur DKI Jakarta nomor urut 1 Agus Harimurti Yodhoyono 
mengunjungi Kota Tua. Ia mengatakan diperlukan sinergi antara pemerintah, 
swasta dan masyarakat untuk membangun wisata sejarah yang menarik dan 
menyenangkan.

"Sinergi baik bisa mewujudkan wisata sejarah yang menarik dan menyenangkan 
wisatawan," ujar dia, Rabu.

Sinergi tersebut, kata dia, berupa pemerintah mengeluarkan aturan yang baik 
serta pengelola memikirkan keberlanjutan agar jangan sampai kedodoran sehingga 
tidak menguntungkan untuk memelihara fasilitas.

Selanjutnya masyarakat lokal berupa seniman dan sejarawan yang memiliki 
pengetahuan serta minat luar biasa pada museum dapat membantu.

Agus mengatakan ingin mengembangkan potensi museum untuk membangun Jakarta 
menjadi kota pintar kreatif dan hijau.

Untuk pedagang barang-barang kesenian yang berada di lokasi-lokasi wisata, 
menurut dia, dapat menjadi daya tarik tersendiri, tetapi membutuhkan tempat 
khusus agar lebih rapi.

"Bisa menjadi daya tarik sendiri, tidak hanya tradisional, tetapi juga karya 
kontemporer, itu harus ada tempatnya. Harus ada kanalnya, harus disiapkan. 
Pemerintah bekerja dengan lokal elemen," tutur ayah Almira Tunggadewi itu.


Batasi mobil mewah

Sementara itu, Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut tiga, Sandiaga Uno 
berniat untuk membatasi warga kalangan menengah ke atas dalam membeli mobil 
mewah.

Namun, di satu sisi, ia mendukung warga kalangan menengah untuk membeli mobil 
yang termasuk dalam kategori low cost green car (LCGC) yang merupakan program 
pemerintah pusat.

"Mungkin, secara jumlah, LCGC lebih banyak, tetapi enggak banyak jalan. Malah 
mobil-mobil mewah itu yang saat penerapan kebijakan ganjil genap selalu 
mondar-mandir. Mereka dimiliki oleh orang-orang berduit," kata Sandiaga di 
Jakarta, Rabu.

Sandiaga mengatakan rencana kebijakan tentang LCGC tersebut merupakan bagian 
dari Program Angkutan Umum Murah, menyasar pada upaya menurunkan ongkos atau 
biaya transportasi warga, katanya.

Menurut dia, Jakarta sudah saatnya harus memulai secara masif kebijakan 
pengurangan penggunaan kendaraan bermotor pribadi.

"Untuk itu, biarpun LCGC, penggunaannya tetap harus dibatasi dan perlahan 
mendorong mereka beralih ke angkutan publik yang nyaman, aman, mudah dicapai 
dan terjangkau oleh warga," kata Sandiaga.

Ia melihat, upaya tersebut dapat dimulai dari pembatasan pembelian mobil-mobil 
mewah, di samping upaya-upaya lain yang lebih penting untuk segera dilakukan 
dalam rangka mengajak masyarakat untuk beralih ke transportasi publik.

"Seperti, integrasi angkot-angkot ke dalam transjakarta sehingga bisa berfungsi 
menjadi feeder bagi transportasi massal dan menjangkau warga hingga ke 
pemukiman," kata Sandiaga.

Kemudian meningkatkan kapasitas transjakarta, baik dari sisi jumlah armada dan 
juga pelayanannya, sehingga target satu juta penumpang perhari bisa tercapai 
dalam tiga tahun, katanya.

Namun begitu, Sandiaga mengatakan bahwa untuk mengatasi kemacetan tidak cukup 
hanya dengan mendorong transportasi publik yang terintegrasi saja, karena 
setiap hari lebih dari tiga juta orang masuk ke Jakarta untuk bekerja.

Umumnya mereka pada awalnya adalah warga Jakarta, namun terpaksa ke pinggir dan 
luar Jakarta karena hunian yang tidak terjangkau di tengah kota, katanya.

"Untuk itu, kita berencana membangun pusat-pusat hunian bagi warga pekerja di 
tengah kota, sehingga mereka bisa tetap bekerja dan tidak perlu melakukan 
perjalanan terlalu jauh. Hal ini juga berimbas pada pengeluaran untuk biaya 
transportasi yang bisa dihemat," kata Sandiaga.

Apalagi menurut kajian, bahwa koefisien lantai terbangun di Jakarta masih kalah 
padat dari Singapura, katanya.

"Itu artinya, kita masih kekurangan ruang hunian untuk warga di tengah kota. 
Kita akan rencanakan dan wujudkan hal itu juga, agar persoalan macet di Jakarta 
selesai secara komprehensif," kata Sandiaga. 




Editor: Unggul Tri Ratomo

COPYRIGHT © ANTARA 2016


Kirim email ke