http://sp.beritasatu.com/nasional/jokowi-pembangunan-infrastrukur-tidak-jawa-sentris-tapi-indonesia-sentris/117414
Jokowi: Pembangunan Infrastrukur Tidak Jawa Sentris, Tapi Indonesia Sentris Rabu, 9 November 2016 | 11:33 Presiden Jokowi [Fuskasani Evani] Berita Terkait a.. Presiden: Jangan Sampai Ada Pungli, Saya Akan Tahu b.. Semester Ke-2 Pemerintahan Jokowi Membaik c.. Hasil Suvei Harus Jadi Motivasi Presiden Untuk Kerja Keras [JAKARTA] Pembangunan infrastruktur merupakan suatu keharusan. Pemerintah terus membangun infrastruktur di seluruh daerah. “Pembangunan infrastruktur sekarang tidak Jawa sentris, tapi Indonesia sentris. Alhamdulilah sudah dua tahun lalu tol trans Sumatera sudah dimulai dari Lampung menuju ke Aceh,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hal itu disampaikan Presiden dalam sambutannya pada Musyawarah Nasional (Munas) VIII Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Jakarta, Rabu (9/11). “Saya titip ikut diawasi agar kualitasnya baik. Kalau ada yang tidak baik kualitas aspalnya bisiki ke saya lewat Ketum (Ketua Umum LDII Abdullah Syam). Di Kalimantan sudah (dibangun tol) Balikpapan-Samarinda, (di Sulawesi Utara) Manado-Bitung,” ujar Presiden. Presiden menjelaskan pentingnya pembangunan infrastruktur. “Goalnya (tujuannya) adalah karena biaya transportasi kita sangat mahal sekali, biaya logistik juga. Jadi kalau bawa barang dari kota ke kota, provinsi ke provinsi, betul-betul biaya mahal, karena infrastruktur belum siap. Goalnya kemana kalau infrastruktur selesai? Ya barang lebih murah, transportasi, logistik murah. Itu saatnya kita bersaing dengan negara lain,” jelasnya. Presiden memaparkan pembangunan jalur kereta api di Sulawesi yang dimulai pada 2015. Selain itu juga, pelabuhan laut dan bandara telah rampung di beberapa daerah. Presiden juga menekankan pentingnya sumber daya manusia (SDM). “Inilah sebetulnya kekuatan kita. Tahun 2030-2035 kita dapat bonus demografi besar. Anak-anak muda akan kita punyai, padahal negara lain menuju ke usia tidak produktif,” katanya. “Tapi kalau jumlah besar, tapi SDM tidak disiapkan, bisa menjadi sebuah bencana. Banyak tapi tidak produktif, tidak bisa masuk dunia kerja, karena kualitasnya tidak disiapkan.” Presiden menambahkan, negara-negara seperti Jerman, Jepang dan Korea Selatan konsisten menggarap SDM dengan serius. “Betul-betul menuju pada apa yang dimaui industri, pasar. Tapi meskipun mereka (SDM Indonesia) pintar, pandai, kuasasi teknologi, tapi kalau tidak didampingi keimanan, kejujuran, integritas dan budi pekerti yang baik, tidak ada artinya. Bisa menjadi sebuah malapetaka.” [C-6]
