res : RT  Interview  republik senator, click : 
“https://www.youtube.com/watch?v=BsbtFuOIUng

http://www.cnnindonesia.com/internasional/20161111190337-134-172104/donald-trump-berpotensi-ratakan-suriah-dengan-tanah/

Laporan dari Amerika
Donald Trump Berpotensi Ratakan Suriah dengan Tanah
Denny Armandhanu, CNN Indonesia 
Jumat, 11/11/2016 19:03 WIB

 Trump berpotensi bertindak di luar keputusan DK PBB atau NATO, serta mengambil 
jalur bilateral, atau bahkan unilateral, untuk mengatasi konflik Suriah. 
(Reuters/Mike Segar) 

New York City, CNN Indonesia -- Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump 
tidak memiliki agenda yang jelas soal mengatasi konflik di Suriah. Ada beberapa 
skenario dalam hal ini, termasuk bergabung dengan Vladimir Putin dan Bashar 
al-Assad dalam menghancurkan Suriah.

Menurut pengamat dari lembaga think tank World Policy Institute, Jonathan 
Cristol, Trump dengan kepribadiannya berpotensi bertindak di luar keputusan 
Dewan Keamanan PBB atau NATO. Trump, kata Cristol, akan mengambil jalur 
bilateral untuk mengatasi konflik Suriah, atau bahkan unilateral.

      Pilihan Redaksi
        a.. Tak Mau Dipimpin Trump, Warga California Usung #Calexit
        b.. Trump Menang, Duterte Tetap Jaga Pakta Pertahanan Filipina-AS
        c.. Demonstran AS: Donald Trump Seonggok Kotoran
        d.. Diprotes, Trump Merasa Diperlakukan Tak Adil
        e.. Trump Terpilih, Banyak Negara Diduga akan Buat Senjata Nuklir 
"Untuk Suriah saya kira Trump akan meninggalkannya, atau membiarkannya jatuh ke 
tangan Rusia. Trump bisa jadi akan mendukung kebijakan Rusia di Suriah dan 
berpihak kepada Assad," kata Cristol saat ditemui CNN Indonesia.com di New 
York, Kamis (10/11).

Trump beberapa kali membantah kedekatannya dengan Putin. Meski demikian, 
presiden Rusia itu merupakan salah satu dari beberapa pemimpin dunia pertama 
yang mengucapkan selamat atas kemenangan Trump pada pemilu 8 November lalu, 
mengalahkan Hillary Clinton.

Soal keterlibatan Rusia dalam konflik internasional, termasuk di Suriah dan 
Ukraina, Trump tidak pernah tegas mengecamnya seperti halnya pemerintahan 
Barack Obama. Menurut Cristol, bisa jadi Trump nanti akan mengabaikan 
pencaplokan Crimea oleh Rusia atau membiarkan pembantaian warga Suriah.

Trump dalam kampanye sebelumnya pernah dikutip mengatakan, "Bukankah baik jika 
kita bersama dengan Rusia dan menghancurkan ISIS?" 

Cristol mengatakan, jika demikian Trump berpotensi "meratakan Suriah dengan 
tanah" dengan bergabung dengan Rusia dan meningkatkan serangan udara. Dengan 
berada di pihak Rusia, lanjut Cristol, penyerangan udara yang tidak terukur 
akan terus terjadi dan membuat penderitaan di negara itu semakin meningkat.

Rusia dikritik karena membantai ribuan orang dalam operasi udara mereka di 
Suriah. Jika mendukung Rusia, Trump berarti akan membantu Putin dalam 
menjalankan agendanya di Suriah.

"Rusia punya kepentingan untuk melanjutkan konflik Suriah, dengan memicu 
gelombang pengungsi ke Eropa. Hal ini kemudian membuat Eropa tidak stabil. Ini 
strategi Rusia, saat ini sudah terjadi Brexit dan masalah pengungsi yang 
membuat negara-negara Eropa mengarah ke sayap kanan radikal," ujar Cristol. 
(ama)

Kirim email ke