https://www.arrahmah.com/rubrik/al-quran-jauh-lebih-kuat-dari-ahok-pendukungnya-dan-orang-orang-yang-terbius.html



Al-Qur'an jauh lebih kuat dari Ahok, pendukungnya dan orang-orang yang terbius
A. Z. Muttaqin Kamis, 10 Safar 1438 H / 10 November 2016 09:03



Peserta Aksi Bela Islam II 411, Jumat (4/11/2016). Foto; AZM Arrahmah.com

(Arrahmah.com) – Rangkaian aksi damai telah berlangsung secara stimultan 
mengutuk pelecehan al Qur’an dan menuntut agar pemerintah berpihak pada 
aspirasi umat. Aksi-aksi itu total jumlah pesertanya mencapai ratusan ribu dan 
memperkokoh kekuatan tuntutan umat Islam di negeri ini. Aksi damai umat Islam 
disalahpahami oleh sebagian pihak kaum liberal dengan tuduhan tendensius 
sebagai aksi yang mengkhawatirkan, ancaman keamanan, kudeta, memicu fitnah dan 
membangkitkan perpecahan. Lalu diikuti berbagai seruan-seruan untuk 
‘menggembosi’ aksi-aksi tersebut. Lalu bagaimana dengan keberpihakan media 
massa mainstream dan para wartawannya? Sebagian Masyarakat menilai media-media 
pragmatis melancarkan pemalsuan bahkan penyesatan kepada publik.

Tindakan kekerasan verbal Ahok terjadi dengan semua konsekuensi negatif yang 
menyertainya. Ini adalah realitas masalah yang harus kita selesaikan secara 
Islami. Ketidakberpihakan pada Islam dan kaum muslim secara samar dan 
ketidaktegasan mencolok yang dilakukan pemerintah dalam mengentaskan kasus 
penistaan Al Qur’an yang dilakukan Ahok melukai perasaan religius warga 
negaranya, sungguh merupakan kebijakan yang menyesakkan dada, mengingat bahwa 
Indonesia adalah negara yang mempunyai sejarah panjang dalam kebijakan represif 
otoriter rejim-rejim Penjajah terhadap mayoritas Muslim.

Kita mengecam kericuhan di malam hari yang dilakukan pihak-pihak tak 
bertanggung jawab dalam aksi 411, namun tidak akan mengurangi esensi dari Aksi 
sejuta Umat II adalah aksi damai. Mengingat peserta aksi damai mampu berpikir 
jernih, tidak mentolerir tindakan fisik. Oleh karenanya, meskipun di provokasi 
oleh langkah represif tersebut, peserta memilih untuk membubarkan diri secara 
damai tanpa melakukan perlawanan fisik.

Rezim selalu mengklaim sebagai negara toleransi dan multikulturalisme, negara 
yang menjunjung kebebasan, menghormati semua agama dan budaya, justru 
menghasilkan gubernur yang mengkriminalisasi mayoritas dengan provokasi 
langsung dan terang-terangan menunjukkan kebencian dan permusuhannya terhadap 
al Qur’an.

Sementara itu jika berbicara tentang rasa hormat terhadap keyakinan religius, 
sesungguhnya pemerintah di negeri ini secara simultan mengokohkan sekulerisme 
di Indonesia. Dia mengekspresikan pondasi sekuler, sementara pondasi 
sekulerisme adalah sebuah ideologi yang berulang kali menunjukkan intoleransi 
terhadap Islam, juga menunjukkan ketidakmampuan dalam mengakomodasi hak-hak 
umat Islam, diilustrasikan oleh berbagai problem keagamaan umat Islam yang 
tidak pernah tuntas.

Sungguh semua teori, rencana dan praktek represif untuk meredam suara umat 
pasti akan mendapatkan aksi balasan dari umat, mengingatkan umat pada sejarah 
imperialis, dimana kaum Muslim diperintah dengan besi dan api, namun demikian 
semua itu tidak membuat kaum Muslim menyerah. Hendaklah para rezim sekuler 
otoriter belajar dari sejarah jika mereka berakal.

Dalam hal keberagamaan, rezim sekuler mengembangkan pluralisme atau sinkretisme 
sebagai turunan dari sekularisme, dimana pandangan ini menyatakan pluralitas 
manusia, pendapat atau agama adalah suatu fakta yang tidak dapat ditawar-tawar 
lagi sehingga agar tidak menimbulkan konflik dan masalah di dalam kehidupan 
bermasyarakat, maka tidak boleh ada manipulasi nilai-nilai kebenaran oleh suatu 
kelompok, agama atau individu manapun. Kebenaran itu relatif dari mana kita 
memandang. Dengan kata lain semua agama adalah sama.

Secara historis kemunculan sekularisme ini sendiri adalah dikarenakan oleh 
pemikir dan cendekiawan serta rakyat jelata yang dikecewakan oleh sistem 
pemerintahan agama, dan pemikiran derivatnya yaitu liberalisme dan pluralisme, 
termasuk kapitalisme dan demokrasi adalah produk yang sengaja disiapkan untuk 
menjadi tameng agar masyarakat eropa tidak lagi terjerumus pada trauma masa 
lalu, bersatunya negara dan agama.

Mengingat dari apa yang kita ketahui dengan baik tentang penggambaran media 
negeri-negeri sekuler, khususnya di Barat tentang Islam dan kaum Muslim di satu 
sisi, efek media dan teorinya di sisi lain, adalah tidak bisa diabaikan 
representasi media sebagai faktor penyebab sentimen dan kejahatan anti-Muslim 
dan penerapan syariah Islam yang potensial. Bahkan, ada kemungkinan bahwa 
sentimen dan kejahatan anti-Muslim, setidaknya sebagian, didorong oleh 
penggambaran sepihak, sempit, sensasional, dan bisa dibilang fanatik atas Islam 
dan kaum Muslim oleh media-media liberal itu sendiri.

Sangat penting bagi umat Islam pada umumnya, dan terutama bagi mereka yang 
telah mengambil atas dirinya untuk melanjutkan cara hidup Islam, agar memahami 
hubungan ini, mekanisme dan peran kita. Kita perlu mengungkapkan motivasi yang 
nyata dan akibat-akibat yang menghancurkan dari perang melawan Islam dan juga 
akibatnya di negeri-negeri Muslim.

Ini adalah paradoks, kebebasan berbicara yang dianggap sebagai hak 
konstitusional rakyat, bahkan dijatuhkan terhadap kaum oposan yang kritis (yang 
berpikir di luar norma-norma demokrasi) untuk membungkam mereka melalui 
kebijakan yang preventif dan represif. Dan jika perlu mereka dibungkam dengan 
kekerasan. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan kaum liberal tidak yakin atas ide 
ini dan ini hanya digunakan untuk melayani agenda mereka sendiri untuk 
membungkam kaum muslimin.

Akhirnya, kami umat Islam hanya percaya kepada cara Nabi Muhammad Saw. dalam 
menyelesaikan kasus penistaan al Qur’an, kami mencintainya, kami mengikutinya 
dan kami akan selalu berdiri untuk membela kehormatannya. Apa yang disebut 
sebagai kebebasan berbicara atau apapun tidak dapat meyakinkan kami sama sekali 
dan sebaliknya, bahkan kami tidak yakin sedetikpun.

Umar Syarifudin – Syabab Hizbut Tahrir Indonesia, (Direktur Pusat Kajian Data 
dan Analisis)

(*/arrahmah.com)

Topik: ahok harus dihukum, cinta Qur'an
-

Kirim email ke