Liarnya Lidah Ahok dan Pintu Masuk
Selasa, 15 November 2016, 06:00 WIB

Red: Maman Sudiaman

Republika/Daan

http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/16/11/14/ogmvuy319-liarnya-lidah-ahok-dan-pintu-masuk
 



Professor Ahmad Syafii Maarif

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Sekalipun saya berseberangan dengan pendapat MUI tentang 
masalah penghinaan terhadap Alquran oleh Ahok, dalam satu hal kita mungkin bisa 
sefaham: lidah Ahok itu liar. Sekiranya dalam kunjungan kerjanya ke Pulau 
Pramuka di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 itu, Gubernur DKI itu lebih 
memusatkan pembicaraannya pada masalah pembudidayaan ikan, geger besar yang 
menguras energi bangsa secara sia-sia ini belum tentu akan terjadi.

Saya melalui seseorang telah menyampaikan pesan kepada Ahok agar pandai menjaga 
lidah, jangan biarkan lidah itu berkeliaran  secara jalang. Tetapi dasar 
karakter seorang Ahok yang umudah meledak, masalah budi daya ikan menyerempet 
ke surat al-Maidah ayat 51, sebuah ranah yang dia tidak faham. Akibatnya 
muncullah prahara besar yang menggoncangkan sendi-sendi kebangsaan kita, 
sesuatu yang bisa berakibat fatal, jika tidak ditangani secara bijak, tetapi 
tegas, demi tegaknya hukum. Sekarang Bareskrim Polri sedang dalam proses 
penegakan hukum itu yang wajib dihormati oleh semua pihak, apa pun hasilnya 
nanti.

Jika perbuatan Ahok ternyata memang memenuhi unsur pidana, maka prosesnya akan 
meningkat ke penyidikan, dan seterusnya. Semua pihak tidak punya pilihan dan 
sikap lain,  kecuali menghormati proses hukum itu, tidak terkecuali Ahok yang 
dinilai sebagian orang telah memicu kehebohan ini. Sebaliknya, jika ternyata 
unsur pidana itu tidak ditemukan dalam gelar perkara yang jujur, profesional, 
dan bertanggung jawab, maka semua pihak tidak boleh pasang kuda-kuda lagi 
dengan memberikan tafsiran liar: polisi bekerja di bawah tekanan penguasa. 
Lalu, diteriakkan lagi perlunya gerakan massa untuk menekan penguasa yang 
dibayangkan itu. Jika ini yang kemudian berlaku, saya khawatir bahwa bangsa dan 
negara kita ini bisa jadi sedang menggali kuburan masa depannya.

Alangkah bodoh dan pandirnya kita gara-gara seorang Ahok dan penentangnya, kita 
tega mengorbankan kepentingan yang lebih besar: bangsa, negara, dan rakyat 
Indonesia yang lagi susah. Hanya mereka yang bersumbu pendek sajalah yang mau 
bergerak ke arah perbuatan makar dan anarkis ini. Dan secara tidak sadar, 
akibat perbelahan ini, Ahok telah muncul sebagai sosok yang digunjingkan secara 
luas dan masif. Saya tidak berkepentingan apakah Ahok bersalah atau tidak 
bersalah yang bisa mempengaruhi pencalonannya sebagai calon gubernur DKI, 
sebagaimana banyak suara miring dan brutal melalui medsos yang ditembakkan 
kepada saya.

Semestinya, dalam iklim demokrasi yang belum sehat ini, masing-masing pihak 
sama-sama siap untuk berlapang dada dalam menyikapi perbedaan tafsiran dan 
pendapat. Sikap yang serba mutlak dalam membela pendirian adalah pertanda dari 
mental yang sedang kalah atau pertanda dari nafsu autoritarian yang bersembunyi 
di balik pakaian kita masing-masing. Alangkah buruknya perangai sebagian kita 
manakala perbedaan pendapat disikapi dengan cara-cara di luar keadaban dan 
kesopanan.

Kemudian tentang pintu masuk. Ada sementara pengamat yang berspekulasi bahwa 
masalah Ahok dan surat al-Maidah digunakan oleh pihak tertentu hanyalah sebagai 
pintu masuk untuk meraih tujuan politik yang lebih besar yang belum jelas 
ujudnya. Denny Siregar bahkan membandingkan iklim politik Indonesia dengan 
tragedi Suria yang kini sedang berantakan akibat perpecahan politik melalui isu 
agama yang teramat parah. Peringatan Denny ini tentu tidak perlu terlalu 
dicemaskan, karena situasi Indonesia tidak seburuk di Suria.

Di negeri ini kita punya modal sosial yang kuat berupa  akar tunggang sebuah 
masyarakat sipil  Muslim yang cukup besar yang diwakili Muhammadiyah dan NU 
yang tidak mudah diprovokasi oleh godaan-godaan palsu ISIS, sekalipun memang 
ada sejumlah sangat kecil warga negara Indonesia yang terbius. Mereka ini 
memang harus diwaspadai dengan ketat tidak saja oleh aparat keamanan kita, 
tetapi juga oleh masyarakat secara keseluruhan. Kelengahan sistem pengawasan 
ini bisa menggiring Indonesia menjadi bangsa dan negara yang tidak aman untuk 
dihuni.

Bukti tentang ini bukan mengada-ada. Sudah berapa bom yang diledakkan oleh 
penganut teologi maut ini dengan korban yang bergelimpangan. Oleh sebab itu, 
aparat keamanan tidak boleh lengah sedetik pun, sebab bahaya makar itu sudah di 
depan mata. Sekalipun Indonesia bukan Suria atau Iraq, negara ini jangan sampai 
kalah berhadapan dengan pecundang-pecundang politik yang haus kekuasaan. Dalam 
perspektif ini, spekulasi Denny menjadi relevan.

Untuk ke depan, mari kita budayakan prinsip bahwa perbedaan pendapat bukanlah 
tanda permusuhan yang sering disikapi melalui cara-cara brutal dan biadab. Dan 
Ahok harus pandai menjaga lidahnya agar tidak terkesan main api yang bisa 
membakar Indonesia tercinta ini.


Kirim email ke