http://www.beritateratas.com/2016/11/makin-melebar-kalimantan-kupang-blitar.html

Makin Melebar, Kalimantan-Kupang-Blitar-Manado Tuntut Pemerintah Segera 
Bubarkan FPI 
Berita Teratas Saturday, November 12, 2016 berita daerah, fpi, Nasional 

Foto Sumber: Ist, demo penolakan FPI di kalteng


Beritateratas.com - Terkait dengan aksi damai yang digelar Jumat 4 November 
lalu yang dilakukan sebagian organisasi masyarakat (ormas) dan warga, tuai 
beragam kecaman. Salah satunya datang dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik 
Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Manado.

Mereka menilai aksi ini sudah meresahkan seluruh masyarakat Indonesia dengan 
isu-isu yang memecah-belah persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 
dan Bhineka Tunggal Ika.

Ketua PMKRI Cabang Manado, Andreas Sasuang menjelaskan, Indonesia yang dikenal 
sebagai negara kesatuan dan negara hukum, kini sudah tidak dikenal lagi karena 
adanya oknum-oknum yang menjadi provokator dan ingin memecah-belah keutuhan 
NKRI.

“Dengan peristiwa tersebut kami PMKRI Cabang Manado menyerukan suara kami. Guna 
mempertahankan NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, kita yang sementara ini sedang 
digoncang oleh bentuk-bentuk provokasi dari pihak-pihak yang tidak 
bertanggung-jawab.

Juga sebagai bentuk peringatan bagi seluruh warga Negara Indonesia, dimana saja 
untuk tidak terprovokasi oleh hal-hal yang sementara mengguncang NKRI sebagai 
negara kesatuan,” ungkapnya, Rabu (9/11) kemarin.

SEMUA ANAK BANGSA PUNYA HAK POLITIK SAMA 

Dalam tuntutannya yang termuat dalam seruan moral dari anak bangsa demi 
keutuhan NKRI dan Pancasila, PMKRI Cabang Manado menyerukan, seluruh anak 
bangsa memiliki hak politik yang sama. Sesuai dengan cita-cita reformasi, isu 
suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) bukanlah alasan mendasar untuk 
menghalangi calon non-muslim berpartisipasi mencalonkan diri dalam pesta 
demokrasi.

“Seruan moral anak bangsa dalam menjamin kesadaran hidup berbangsa dan 
bernegara yang multicultural, memajukan toleransi antar suku agama dan ras 
maupun golongan lainnya. Serta, menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan 
Undang-Undang Dasar 1945 serta Bhineka Tunggal Ika,” tuturnya.

Dalam seruan moral yang disampaikan, PMKRI Cabang Manado juga mendesak 
pemerintah untuk membubarkan organisasi-organisasi yang mengarah kepada 
radikalisme. “Bubarkan Front Pembela Islam (FPI) yang telah melakukan 
pergerakan-pergerakan yang memancing terjadinya perpecahan NKRI serta tangkap 
dan adili Habieb Riezik Shihab yang telah menginjak-injak dasar negara dan 
bertujuan menghancurkan keutuhan NKRI,” ujar Sasuang.

TNI DAN POLRI DIMINTA USUT PROVOKATOR

Selanjutnya PMKRI Cabang Manado meminta, pemerintah untuk menjalankan 
undang-undang Pemilu guna mengawasi jalannya demokrasi di seluruh nusantara. 
Serta, mendukung Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Tentara Nasional 
Indonesia (TNI) dalam upaya penegakkan hukum terkait peristiwa 4 November 2016. 
Termasuk mengusut tuntas kasus pengedit video pidato Ahok serta oknum-oknum 
yang telah menjadi provokator dalam peristiwa tersebut.

Tuntutan PMKRI Cabang Manado ini menurut Sasuang, dilandaskan dari Pasal 43 
Ayat 1 UU Nomor 39 tahun 1999. Dimana setiap warga Negara berhak untuk dipilih 
dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan 
suara yang langsung umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Sesuai dengan 
ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Selain itu terdapat pula UU Nomor 10 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas 
UU Nomor 1 tahun 2015 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti 
undang-undang. Tentang pemilihan gubernur, bupati dan walikota menjadi 
undang-undang. Dimana pada pasal 7 ayat 1, setiap warga Negara berhak 
memperoleh kesempatan yang sama untuk mencalonkan diri dan dicalonkan sebagai 
calon gubernur dan calon wakil gubernur, calon bupati dan calon wakil bupati 
serta calon walikota dan calon wakil walikota,” katanya.

Sekretaris PMKRI Cabang Manado, Michelle Rompis menambahkan, pernyataan ini 
dibuat sebagai bentuk kepedulian PMKRI terhadap Bhineka Tunggal Ika dan sebagai 
wujud keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara. “Kami juga menghimbau 
seluruh masyarakat Indonesia agar mampu melalui problema ini dengan dewasa dan 
mampu bertahan dalam multikultural kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa 
dipengaruhi oleh bentuk-bentuk provokasi yang berlebihan. Roh Kudus, Roh NKRI, 
Pro Ecclesia et Patria,” tutup Rompis.

Selain di Manado, Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Nahdlatul Ulama Kabupaten 
Blitar, Jawa Timur, mendukung penuh wacana pembubaran Front Pembela Islam (FPI) 
di Indonesia. Organisasi massa Islam itu dinilai menjadi ancaman kesatuan 
bangsa dan azas Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini dipertahankan mati-matian.

Komandan Banser Kabupaten Blitar Kabupaten Blitar Imron Rosadi mengatakan 
keberadaan FPI sudah sepatutnya ditinjau oleh pemerintah. Dalam berbagai 
peristiwa, FPI dituding selalu menebar kebencian yang mengancam kesatuan 
bangsa. “Saya mendukung penuh pembubaran FPI,” kata Imron yang juga aktivis NU 
kepada Tempo, Rabu 8 November 2016.

  Menurut Imron, yang akrab disapa Baron, itu FPI selalu menganggap orang yang 
berbeda pandangan sebagai musuh. Termasuk dalam kasus dugaan penistaan agama 
yang dilakukan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

  Baron mengatakan, sebagai organisasi yang mengaku berlabel Islam, seharusnya 
FPI memberi tauladan dalam menyelesaikan masalah secara etis dan tak 
mengandalkan pengerahan massa. Sebab aksi-aksi seperti itu justru memantik 
reaksi minor dari umat Islam sendiri, serta menimbulkan ketakutan dan kecemasan 
bagi penganut agama lain.

  Baron menegaskan, cara-cara yang dipakai FPI dalam menyelesaikan masalah sama 
sekali tidak merepresentasi umat Islam di Indonesia. FPI hanyalah ormas yang 
digerakkan oleh kepentingan dengan cara-cara yang jauh dari ajaran Islam yang 
penuh kedamaian. “Memangnya negara ini milik mbahe FPI sehingga semua orang 
harus tunduk,” ujarnya dengan nada mengecam.


Kemerdekaan Indonesia, lanjut Baron, adalah kristalisasi perjuangan seluruh 
rakyat Indonesia dari semua golongan. Mereka bahu membahu berjuang mengusir 
penjajah tanpa melihat latar belakang suku dan agama. Karena itu jika kemudian 
ada yang berusaha mengklaim sebagai kelompok mayoritas dan berkuasa atas 
kelompok lain, sudah jelas menjadi ancaman bagi kesatuan bangsa.

Dalam situasi karut marut seperti ini, kata Baron, semakin parah karena peran 
partai politik yang mengaku sebagai nasionalis justru tak banyak bicara. Mereka 
terkesan diam dan cuci tangan saat melihat gejala ancaman disintegrasi bangsa 
tengah berlangsung.

“Saya harus sampaikan jika NU adalah satu-satunya organisasi yang istiqomah 
mengawal Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia,” ucap Baron.

Sebagai badan otonom NU, kata Baron, Banser siap mengawal NKRI dan memberangus 
kelompok radikal yang ingin membuat aturan sendiri di Indonesia.

Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kota Blitar Hartono justru bersikap sebaliknya. 
Menurut dia karakter aktivis FPI di tiap-tiap daerah berbeda sesuai kultur 
setempat. Di Kota Blitar, Hartono mengklaim telah membangun komunikasi baik 
dengan FPI Blitar.

Bahkan FPI dan Ansor selalu bergerak bersama-sama saat terjadi persoalan yang 
menyangkut agama. “Terakhir saat terjadi penistaan agama oleh salah satu 
pendeta gereja di Kota Blitar, kami berkoodinasi dan bergerak bersama,” tutur 
Hartono.

Sebelumnya Forum Adat Dayak dan sekelompok warga Kupang menuntut hal yang sama 
yaitu pembubaran FPI.([email protected])

Baca disini: 

Kompak...!! Majelis Adat Dayak dan Warga Kupang Tuntut Bubarkan FPI, Tangkap 
Ahmad Dhani dan Rizieq

Kirim email ke