From: Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 
Sent: Wednesday, November 16, 2016 4:39 AM



"Rumah itu saya bangun dengan susah payah dan dalam waktu sekejap rata jadi 
tanah oleh Beckho. Dapat gantinya hanya Rusunawa ini, tapi kalau saya bilang 
ini bukan pengganti tapi ini kontrakan," paparnya.

...
Rabu 19 Oct 2016, 14:38 WIB
Melihat Rusun Jatinegara Barat 
Cerita Warga yang Direlokasi ke Rusun Jatinegara Barat: Jujur Saya Sedih

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews




Jakarta - Denli Nirwana penghuni Rusunawa Jatinegara Barat harus menelan pil 
pahit semenjak kepindahannya dari Kampung Pulo. Pasalnya salah satu anaknya 
kini putus sekolah akibat biaya hidup yang tinggi.

Lelaki yang memiliki empat anak itu sudah pensiun dari pekerjaanya sebagai 
bunker service Pertamina di Tanjung Priok. Sudah hampir setahun ini dirinya 
tinggal di Rusunawa tersebut. "Foto rumah saya menjadi kenangan yang selalu 
saya simpan," kata Denli dalam perbincangan Selasa (18/10/2016).

Dulu dia mengaku memiliki rumah seluas 200 meter persegi di Kampung Pulo dengan 
luas bangunan 13 x 13 meter persegi. Denli tinggal bersama empat anaknya, dua 
di antaranya telah menikah.

"Rumah itu saya bangun dengan susah payah dan dalam waktu sekejap rata jadi 
tanah oleh Beckho. Dapat gantinya hanya Rusunawa ini, tapi kalau saya bilang 
ini bukan pengganti tapi ini kontrakan," paparnya.

Setelah pensiun, kini untuk menutupi biaya hidup dia berdagang es kelapa di 
Rusun. "Saya pikir kok seperti ini nasib, pensiun kerja dapat rumah kecil dan 
harus tinggal bertumpuk. Yang seharusnya tinggal nyantai di usia senja. Waktu 
itu (setelah digusur) bicara dengan istri kita ha rus jalankan saja dulu walau 
pun dengan sangat terpaksa karena tidak ada pilihan," bebernya.

Tidak terpikir dalam benak Denli setiap bangun tidur harus memikirkan sisihkan 
uang Rp 10 ribu perhari di masa tuanya. Uang itu pun digunakan untuk bayar sewa 
Rusun.

"Sekarang begitu melek mata, ini selalu berpikir bagaimana car a dapat duit 
untuk sewa, belum lagi bayar listrik dan air," kata Denli. 

Hingga satu peristiwa yang tidak dibayangkan terjadi, anak bungsunya Irgi yang 
sekarang kelas 2 SMP harus putus sekolah. Hal itu dikarenakan tidak ada 
kesanggupan untuk mencari uang dari mana.

"Jujur saya sedih, anak saya putus sekolah semenja k pindah ke sini, sedangkan 
kakaknya yang kelas 1 SMA harus jadi buruh di toko. Yang membuat saya sedih 
ketika anak saya yang bungsu minta bilang ke saya 'Papa udah tua harus nyari 
duit dengan dagang es kelapa, sekarang biar Irgi berhenti dulu, Irgi kerja aja 
di warnet'. Batin nggak bisa dibohongi, Gimana rasanya selaku orang tua. Saya 
ini memang tidak gampang menangis tapi hati meringis dengar omongan anak 
seperti itu," paparnya.

Ketika disinggung soal KJP sebagai kompensasi, Denli mengaku tidak pernah 
membuat. Lantaran ketika pembagian KJP di Kampung Pulo dirinya masih sanggup 
untuk nafkahi anak dan istrinya.

"Waktu itu saya masih kerja. Saya juga tidak ngajuin karena sadar kalau 
peruntukan KJP untuk masyarakat tidak mampu, Cuma saya tidak nyangka kalau 
kondisi saya menjadi seperti ini setelah digusur. Saya sendiri sebetulnya 
sepakat dengan program gubernur karena sangat membantu khususnya bagi 
masyarakat tidak mampu demi jenjang pendidikan," pungkasnya. 
(edo/erd)





Kirim email ke