Satu Tahun MEA di Kota Tangerang


Jurnalis Warga | Rabu, 16 November 2016 | 15:00

 | Dibaca : 463

  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Satu Tahun MEA di Kota Tangerang
 Belakangan ini masyarakat Indonesia terutama masyarakat Kota Tangerang 
dihadapkan dengan MEA, atau biasa disebut...  |   |

  |

  |

 

Giolia Arsy Robbiyah (Istimewa / Istimewa)
Oleh : Giolia Arsy RobbiyahPenulis adalah mahasiswi mata kuliah Pengantar Ilmu 
Politik, Ilmu Komunikasi FISIP UNTIRTA Belakangan ini masyarakat Indonesia 
terutama masyarakat Kota Tangerang dihadapkan dengan MEA, atau biasa disebut 
Masyarakat Ekonomi ASEAN. Ketidaksiapan, serta ketidak tanggapan pemerintah dan 
masyarakat salah satu pemicunya, bahkan di Kota Tangerang sebanyak 30 ribu 
orang di PHK selama 2015 lalu,sebanyak 79 ribu pengangguran terbuka memenuhi 
Kota Tangerang.  Sehingga membuat tugas baru untuk pemerintah saat ini dan 
kedepannya.Menjelang satu tahun diberlakukannya MEA, kondisi Kota Tangerang 
yang dipandang lebih unggul dibandingkan kota-kota lain pada provinsinya 
dianggap belum siap. Dengan memiliki Bandara Internasional Soekarno-Hatta, 
dapat memudahkan masyarakat Kota Tangerang untuk mengakses dan memulai 
bisnisnya. Dari sisi positif adanya MEA untuk masyarakat, dapat dilihat 
Indonesia mampu memasarkan produk di seluruh ASEAN, dengan begitu jangkauan 
pemasaran kita semakin luas dan terbuka, kita semakin kreatif dan inovatif 
serta lebih bersemangat lagi dalam kompetisi ekonomi.  Namun, apabila dipandang 
dari sisi negatifnya bahwa masyarakat tidak memiliki modal, kemampuan dan bekal 
akan sulit untuk menciptakan daya saing yang mumpuni dengan produk-produk yang 
ada dilokal bahkan negara-negara ASEAN lainnya. Dengan keberadaan Bandara 
Internasional tersebut pula lebih memudahkan masyarakat asing untuk datang dan 
mengakses Kota Tangerang dalam melancarkan aksi bisnisnya. Pemerintah Kota 
Tangerang pun belum begitu siap akan menghadapi MEA, masih banyaknya 
pengangguran, kemiskinan bahkan kejahatan.  Walikota Tangerang, Arief R. 
Wismansyah dipandang hanya memberikan bekal motivasi kepada masyarakat, masi 
sedikitnya pelatihan dan bantuan modal untuk masyarakat dalam persaingan global 
ini, padahal yang masyarakat butuhkan salah satunya ialah bantuan modal untuk 
memulai dan mengembangkan bisnisnya. Kompetensi masyarakat pun belum begitu 
baik, tidak banyaknya perkembangan dan pergerakan yang berarti, masyarakat 
harusnya sudah dalam kondisi mandiri untuk meningkatkan kualitas daya saingnya, 
memanfaatkan teknologi diera seperti ini dengan sebaik mungkin, dan tetap 
dituntut menjaga nilai budaya, masyarakat harus kreatif, tidak bisa sepenuhnya 
mengharapkan kinerja pemerintah, begitu pula denganpemerintah, seharusnya lebih 
giat dan siap dalam memperhatikan kehidupan masyarakat kedepannya. Kota 
Tangerang menghadapi kehadiran MEA yang menciptakan pasar internasional yang  
luas, dengan peningkatan promosi di dalambahkan luar negeri oleh pemerintah 
pusat pun masih sangat lemah. Indonesia dirasa hanya dimanfaatkan oleh Negara 
lain dalam era MEA ini.Pada era MEA saat ini UMKM sangat penting karena 
memiliki peran yang cukup besar dalam perkembangan perekonomian setelah peran 
pemerintah dan perusahaan-perusahaan yang ada, besarnya potensi dalam 
menyediakan lapangan kerja bisa membantu mengatasi tingkat pengangguran dan 
stabilitas ekonomi daerah. Namun, pada kenyataannya perusahaan-perusahaan di 
Kota Tangerang masih mengandalkan tenaga asing untuk membangun perusahaannya.   
Padahal masyarakat kita kini banyak yang mampu menjadi tenaga ahli didalam 
perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Tangerang, begitu pula dengan koperasi, 
harus diandalkan dengan maksimal,peran pemerintah pusat dengan merubah koperasi 
tradisional menjadi koperasi modern, pengembangan dan pembenahan tatakelola 
koperasi, badan usaha dan lain sebagainya. Namun, dirasa hal itu belum cukup, 
ketidak merataan pembangunan infrastruktur menciptakan ketimpangan antara area 
satu dan lainnya. Padahal dalam era MEA ini semua masyarakat harus ikut serta 
dan antusias dalam persaingan bebas dengan kondisi infrastruktur yang lebih 
baik dan merata, diperburuk dengan keadaan pendidikan yang minim di tiap SDM, 
sebagai salah satu penghambat masyarakat dalam menghadapi MEA. Dengan 
berlakunya MEA pada akhir Desember 2015 lalu, diprediksi akan menambah jumlah 
tenaga kerja asing yang masuk ke Kota Tangerang sebanyak 30 persen, dari jumlah 
awal seiktar 200-300 orang, factor tersebut tidak terlepas dari keberadaan 
bandara internasional di Kota Tangerang. Dengan jumlah industri yang cukup 
beragam jelas akan menjadi dayatarik bagi pekerja maupun investor asing untuk 
datang dan berinvestasi, terutama dalam bidang jasa jelas akan membuat warga 
asing semakin mudah dan tertarik kepada Kota Tangerang. Mirisnya kebanyakan 
dari pekerja asing yang mendiami Kota Tangerang dan perusahaan perusahaan 
menjabat sebagai tenaga ahli, bahkan memegang jabatan lebih tinggi dari 
rata-rata pekerja dalam negeri, dan ini salah satu factor penghambat 
kesejahteraan masyarakat Kota Tangerang sendiri. Ini menjadi gambaran bagaimana 
keadaan tenaga kerja di Kota Tangerang yang hanya masuk kelas menegah kebawah 
sungguh jauh apabila di bandingkan dengan tenaga kerja asing, danharus 
diperhatikan pula dalam kacamata kebudayaan pemerintah yang selama ini menuntut 
masyarakat untuk mencintai Indonesia dan produknya harus dihadapkan pada 
kenyataan yang mana warga asing dipermudah aksesnya untuk berkerja dan tinggal 
di Indonesia.  Dengan begitu terkikisnya sistem budaya masyarakat lokal, 
banyaknya jumlah warga asing akan membawa budaya dan kebiasaannya dari daerah 
asal masing-masing. Sebelum munculnya MEA saja masyarakat harus berhadapan 
dengan modernisasi dan westernisasi karena dampak global melalui perkembangan 
teknologi dan internet,kedepannya dikhawatirkan keadaan ini akan menimbulkan 
dampak buruk kepada perubahan lingkungan sosial masyarakat. Faktor ekonomi 
yaitu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) juga 
menjadi hal yang harus diperhatikan dalam menghadapi keadaan MEA saat ini.  
Sektor indsustri di Kota Tangerang masih ketergantungan terhadap impor bahan 
baku dan barang setengah jadi menjadikan Indonesia khususnya Kota Tangerang 
menjadi incaran para produsenasing, bukti lemahnya daya saing kita adalah 
ongkos ekspor perkontainer produk-produk dalam negeri Indonesia merupakan yang 
termahal ketiga di ASEAN setelah Brunei dan Kamboja. Sebaliknya, ongkos impor 
justru merupakan yang termurah ketiga di ASEAN, kondisi ini menggambarkan 
pelaku usaha akan sulit menjual produknya diluar negeri karena harga yang tidak 
kompetitif. Namun, pembeli di dalam negeri justru akan dapat menikmati barang 
impor yang cukup murah dari pasar ASEAN. Satu-satunya keunggulan yang dimiliki 
Indonesia ialah segi penguasaan bahan baku berbasis sumber daya alam. 
Denganbegitu Indonesia akan semakin kehilangan nilai tambah dari sumber daya 
alam yang dimiliki dan akan meningkatan eksploitasi alam Indonesia, keadaan 
objektif buruknya kinerja pemerintah serta kerjasama masyarakat, lemahnya suku 
bunga bank, produktivitas tenaga kerja yang rendah, dan kelemahan yang buruk 
pula seperti pungli yang banyak tersebar dimana-mana,ketimpangan izin usaha 
yang lebih banyak mengutamakan percepatan perizinan bagi pemodal-pemodal asing 
dan besar jelas menjadi factor yang membatasi masyarakat kotaTangerang dalam 
membangun dan memulai usahanya. Seharusnya kelemahan-kelemahan tersebut menjadi 
pemicu agar pemerintah lebih menyadari akan ketertinggalan dan kelemahan 
masyarakatnya. Sehingga masyarakat lebih bersemangat bangkit menghadapi era MEA 
ini.Pemerintah lebih mempersiapkan dan memperbaiki keadaan mulai dari sekarang 
untuk kedepannya jika tidak besar kemungkinan Indonesia khususnya Kota 
Tangerang sendiri akan kalah dalam kompetisi liberal ini bahkan mungkin menjadi 
terjajah kembali dalam segi sistem dan ekonomi.

Kirim email ke